Breaaakkk…Papa Alpha Charlie Alpha Romeo…masuuukkk !!

Beny Akumo


Ya, itu code sandi untuk kata-kata “PACAR” … biasa (dulu) code sandi seperti itu saya pakai dengan teman-teman se-hobby bermain “pesawat” 2 meter-an (saya juga kurang paham, kenapa ya disebut pesawat 2Met) … nge-BREAK, istilahnya begitu.

Sebagai pemuda sekolahan (pada saat itu) sedang nge-trend “bermain pesawat di udara“, dengan memakai alat komunikasi berupa Handy Talkie (kebanyakan merk-nya “Motorola” ya). Asal kita tahu di kanal berapa temen-temen “ngobrol di udara” maka kita bisa nimbrung dengan cara menunggu seseorang berhenti berbicara (karena ini adalah cara berkomunikasi dalam 1 arah – one way traffic), dan di sela-sela nya kita langsung pencet tuts bicara di “pesawat” kita, sembari berkata “breaaakkkkkkk …” nanti akan dijawab oleh “koordinator” kanal atau frekwensi akan menghentikan arus pembicaraan dan mempersilahkan yang tadi “breaaaakkkkk” untuk masuk dan memperkenalkan dirinya.

Ada berbagai ragam “pesawat” komunikasi yang dijual bebas di pasaran pada saat itu, ada yang kecil-kecilan saja (1 pesawat Handy Talkie / HT dengan adaptor, dan antenna khusus buat berbentuk seperti pipa panjang keatas), sampai yang sedang-sedang saja, hingga yang bermodal besar (satu pesawat “rig”, adaptor ukuran besar, alat untuk nge-jam atau “jim” – fungsi buat “nimpah” lalulintas pembicaraan di kanal, ditambah dengan antenna khusus yang berbentuk seperti robot – seperti antenna televisi namun ukuran besar bisa sampai 4 buah di bentang disebut juga antenna YAGI – dan ini juga saya nggak tau kenapa dinamakan antenna YAGI – tapi bukan YA GItu deh) … agak susah ya menggambarkan seperti apa antenna itu .. :(

Pesawat komunikasi ini juga bisa ditenteng ke mana-mana (khususnya HT – ya mirip-mirip seperti HT yang sekarang sering kita temuin dipakai oleh temen-temen di Kepolisian atau Satuan Pengaman gitu deh). Kecuali bagi pesawat “rig” yang hanya bisa dicopot-pasang antara rumah dan kendaraan roda empat saja.

Sebenarnya setiap orang yang menggunakan pesawat komunikasi tersebut wajib mendapatkan “ijin ber-udara” dari pihak yang berwenang, yaitu wadah tunggal ORARI (Organisasi Radio AmatiR Indonesia) dengan terlebih dahulu mengikuti semacam “kursus” dan dilanjutkan dengan mengikuti ujian untuk bisa mendapatkan lisensi ber-udara (Call Sign) dengan nomor sandi khusus yang wajib di pasang di halaman rumah pemilik Call-Sign itu … contoh Call-Sign ini “YB 03 DI” … dan Call-Sign ini bisa di”beli” setelah ujian dinyatakan lulus, dengan asumsi bisa mendapatkan nomor Call-Sign yang “cantik” alias nomornya bisa mencirikan si pemilik – ya nggak jauh seperti kalau kita memilih nomor polisi kendaraan kita gitu – contoh nya BE 60 LU atau BE 60 OD hehehe …

Namun tidak bagi kita-kita yang malas untuk mendapatkan ijin tersebut – karena untuk mendapatkan ijin tersebut harus “banyak” mengeluarkan uang. Bayangkan saja untuk pendaftaran sekian puluh ribu, untuk mengikuti ujian sekian puluh ribu lagi, dan untuk mendapatkan Call-Sign harus membayar sekian puluh ribu lagi, dan jika hendak memilih “nomor cantik” ya bayar lagi dong … bahkan ada Call-Sign dengan nomor cantik yang di hargai jutaan rupiah (bayangkan pada tahun tersebut – tahun 80-an, puluhan ribu saja bagi saya sudah buesarrrr sekali, apalagi ratusan bahkan jutaan).

Hanya sedikit saja kendala yang harus dihadapi para “breakers gelap” alias breaker tanpa Call-Sign, antara lainnya adalah jika pihak ORARI hendak melakukan Sweeping, bagi yang tidak memiliki Call-Sign dan terkena sweeping maka pesawat bisa diambil dan wajib membayar denda, serta wajib mendaftar di ORARI setempat. Namun berkat “kerjasama” teman-teman di “udara” itu, jika satu hari akan dilakukan sweeping, maka teman-teman yang memiliki akses ke ORARI akan memberitahukan kami-kami, “jangan NAEK ya besok ..” maka dengan senang hati kami akan “membongkar” antenna yang bisa terlihat dari jalanan, menyembunyikannya di gudang dan berhenti “cuap-cuap” seharian … biasanya sih “tangan dan mulut” kena penyakit gatel-gatel kalo sampe seharian nggak nge-break hihihi …

Kebiasaan bermain “di udara” itu menjadikan kita bisa mencirikan atau membedakan siapa-siapa yang sedang ngobrol di kanal itu, siapa-siapa yang mau masuk, karena dari ciri khas background sound pesawat komunikasi itu kita sudah bisa mengetahui siapa dia, atau ciri-ciri bunyi bawaan pabrik pesawat komunikasi tersebut, dan ciri-ciri berbicara juga menjadi sangat berperan untuk mengetahui siapa orang yang bicara.

Breaakkkkk …

stand by, semua … break masssuuuuuuuuuukkk …

di copy, YB 03 DI apa bisa joint gitu gaaaannttttttiiiii …

86, silahkan begitu buat YB 03 DI … ada si ini, si itu, si dia, si diu, silahkan di sapa begitu gaaannttiiiii

ceck modulasi, diterima berapa gantiiii …

86, bagus disini begitu YB 03 DI, berkisaran 50-60 db begitu gantii

Begitu ya kira-kira ngobrol awal-nya, selanjutnya semua pembicaraan diatur oleh si koordinator kanal, siapa yang boleh berbicara, siapa yang harus diem dulu, siapa yang minta ijin keluar dari kanal dan sebagainya. Pemilihan koordinator kanal bukan berdasarkan “umur” atau besar pesawat, tapi diputuskan oleh para anggota saat kanal mulai ramai, siapa yang lebih dulu masuk ke kanal, maka dialah koordinator kanal tersebut, simpel saja – koordinator kanal biasa disebut PAK NET – bagi laki-laki, danBU NET – bagi perempuan …. hihihi kok jadi pengen ketawa sendiri ya … :) …. istilah-istilah lain macem-macem: “nyangkul” artinya “sekolah” kalau “nyawah” artinya “kerja” … huehehehehe …. banyaaakkkk deh istilah lain nya …

Tidak jarang PAK NET atau BU NET kewalahan mengkoordinir anggota-anggota di kanal itu, karena semakin ramai, maka si koordinator tersebut harus bisa memberikan “jalur” pembicaraan kepada masing-masing anggota nya dan harus adil, dan juga harus selalu diabsen, dipanggil rutin setiap beberapa waktu, jangan-jangan anggota kanal “cabut” tanpa permisi … dan tidak jarang juga anggota kanal cuma masuk, ketok pintu, kulonuwun kepada koordinator hanya stand-by monitor – hanya mendengarkan pembicaraan orang-orang saja, dan ada kalanya anggota kanal hanya mencari seseorang (teman, pacar, atau selingkuhan …) dan diminta untuk pindah kanal atau frekwensi, istilahnya?

Diajak mojok hahahaha … tinggal manggil seperti ini  “dewi dew kalo monitor naek yaaaa …” – maksudnya si Dewi diajak mojok ke frekwensi diatas frekwensi tersebut di mana frekwensi itu hanya si pemanggil dan yang dipanggil yang tahu … hihihi … dan nggak jarang hasil dari maen “di udara” seperti itu mendapatkan pacar, atau suami, atau istri, atau musuh, atau selingkuhan … bwaahhhhh …. saya? Dulu masih anak kecilll ….

Papa Alpha Charlie Alpha Romeo … mengajakku gombal di udara … gombal cinta asyik di mana saja … walau di angkasaaaaaa ….” —– lagunya Farid Hardja (alm) …

breaaaakkkkkk ….

silahkan breaaakkk …

86, ijin mau tidur dulu … 73-88 cerioooooooooooooooooooo ….


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.