Pada Suatu Hari

Dewi Aichi – Brazil


Di pagi hari jam 6;00 aku sudah berjalan cepat menuju jalan raya Jakarta-Bogor. Waktu itu aku menginap di rumah tanteku di jalan raya PKP Jakarta Timur. Menunggu angkot T-16 jurusan taman bunga Wiladatika-Pasar Rebo, tetapi sial ..selalu penuh. Memang angkot satu ini tak gampang mendapatkan, pada jam berangkat dan jam pulang kerja, jangan harap bisa mendapatkan tempat. Maka terpaksa aku jalan kaki menuju jalan raya Jakarta-Bogor, padahal jarak tempuh dari rumah tanteku sekitar 4 kilometer..pegel juga. mana aku pakai gaun pendek dan sepatu high heels. Kram deh….!

Sialnya lagi, setiap ada mobil lewat, gaunku melambai-lambai, waduhhh cilaka duabelas..aku terpaksa harus mengamankan dengan cara memegangnya, atau setengah kuselipkan diantara paha. Ini sangat mengganggu dan tidak nyaman.Yang kebetulan melihatku pasti ngetawain. Ya sudah, mau gimana lagi, sudah terlanjur jalan. Tadinya aku memang mau numpang omku sekalian nganter adik sepupuku ke sekolah,ndilalah ada saja gangguan mendadak.

Biasanya juga aku tak pernah jalan kaki sampai jalan raya, hanya jalan sampai ujung gang, lalu naik taksi, karena kebetulan diujung gang adalah pangkalan taksi blue bird, yaitu di gang Vini Vidi Vici. Waktu itu aku kepikiran untuk irit sedikitlah..karena aku harus mondar mandir urusan banyak sekali.

Begitu sampai di portal (dekat pabrik Yakult), aku mengikuti abang tukang ketoprak yang sedang berjalan mendorong gerobak ketoprak yang masih utuh, baru keluar dari salah satu gang deket Yakult. Ya..memang baru akan mulai jualan, mengingat waktunya masih pagi sekali.

Kuperhatikan, dagangannya yang masih utuh, aroma bumbu ketoprak yang menggugah selera, bikin aku ingin membelinya. Tapi niat itu tak kulakukan, wah gimana ya..udah dandan begitu masak harus membeli ketoprak di pinggir jalan, dan nenteng-nenteng ketoprak sampai kubawa ke Menara Mulia. Kalau untuk bekal masuk kerja sih oke saja…lha aku kan mau urus segala macam yang ngejar waktu juga.

Tiba-tiba dari belakang aku mendengar suara mobil truk menderu dan teriakan beberapa lelaki yang numpang diatas truk. Spontan aku berteriak, “inalillahi..!” Dengan cepat truk itu menyambar sisi kanan gerobak ketoprak yang ada di depanku. Gerobak ketoprak itu ambruk beserta isinya, tumpah semua dan sebagian kelindes truk. Sebuah toples kerupuk juga ambyar. Ketupat dan bumbu ketoprak juga sudah berceceran ke mana-mana.

Aku hanya bisa terbengong-bengong, bingung mau berbuat apa. Si abang penjual ketoprak berusaha membalikkan posisi gerobaknya yang terbalik. Wajahnya kelihatan gundah dengan apa yang dialaminya pagi itu. Dagangan untuk penghasilan sehari itu musnah sudah. Ada beberapa orang yang berusaha membantu membalikkan gerobaknya. Ada juga yang membantu memungut ketupat yang dianggap masih layak untuk di makan. Si abang hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah menyempatkan waktunya untuk membantu.

Akupun meneruskan perjalananku. Aku masih berjalan sambil membayangkan kejadian yang barusan aku alami. Tiba-tiba aku balik ke arah si abang penjual ketoprak. Hatiku berontak berlalu begitu saja.

“Maaf ya bang, aku ngga bisa bantu apa-apa untuk abang, ini aku ada sedikit uang untuk bekal abang kembali!”

“Terimalah bang, anggap saja ini adalah rejeki abang hari ini!”

Aku meraih tangan abang penjual ketoprak setengah memaksa agar tidak sungkan-sungkan menerima sedikit rejeki. Aku sendiri sebenarnya merasa pekewuh atau sungkan, takutnya si abang malah tersinggung. Tapi ternyata tidak. Si abang mengucapkan terima kasih dengan penuh rasa syukur dan santun. Hanya itu yang bisa aku lakukan pada saat itu.

Akhirnya aku meluncur ke Menara Mulia untuk membereskan urusanku dengan tanpa dibebani rasa berdosa karena cuek bebek dengan yang aku saksikan pagi itu. Padahal tak sepeserpun tersisa uang dalam dompetku, berharap bank capek antri di lantai dasar Menara Mulia sudah buka, sehingga aku bisa bayar ongkos taksi.

Setelah urusan selesai aku segera menuju bandara Soetta untuk terbang ke Jogja. Sudah ketinggalan pesawat yang jam 3 sore, terpaksa aku ikut penerbangan yang jam 7 malam. Ya sudah, waktu kugunakan untuk duduk-duduk sambil mengamati orang-orang yang lalu lalang dengan segala gayanya masing-masing.

Sebelum jam 9 malam aku sudah berada di Jogja, dijemput oleh adikku bersama anakku. Karena ingin juga sekalian menikmati suasana Jogja di malam hari, aku minta adikku untuk muter-muter kota Jogja sebentar. Sampai akhirnya kepikir untuk makan gado-gado di Muja-Muju, eh..lotek ding , bukan gado-gado. Lotek ini sangat terkenal enaknya. Sayangnya, sudah tutup, lupa kalau malam hari tutup hi hi..

Kemudian ingat sebuah lesehan deket lapangan di Kotagede…makan sate di situ..! ! Wah ngga nyangka..rame sekali, sampai di trotoar aja penuh pengunjung. Di lapangan itu berjajar-jajar warung tenda dengan berbagai menu yang menggoda. Tetap pilihan kami adalah makan sate.., saking enaknya kali ya…anakku menjilati bumbu-bumbu sate yang masih tersisa sampai bersih. Sampai aku bilang sama anakku,

” Le..mbok kalau masih kurang ya minta lagi, mosok sampai jilatin jari-jari gitu, mau lagi? Aku pesenin ya..!

Eh tiba-tiba si mbak yang bantu melayani menyahut,

“Mboten menopo-menopo bu, sae niku, sunah rosul.. anak kula nek bar mangan nggih kula kengken ngoten..!” (tidak apa, bagus itu, sunah rosul, anak saya kalau habis makan juga saya suruh begitu).

Aku sak brayat ngakak….! (kami ketawa ngakak).

Di situlah aku menilai dari sebuah ketulusan dalam bertegur sapa. Ramah, jujur, dan tidak dibuat-buat. tidak ada batas, siapa lo siapa gue.

Satu cerita lagi yang sangat melekat di hatiku. Dari aku masih kecil dulu, ada wanita bersepeda, dan pakai caping(topi dari bahan bambu, berbentuk kerucut), menjual tahu keliling antar kampung. Sampai satu tahun yang lalu, aku masih melihatnya berjualan tahu keliling kampung, termasuk ke kampungku. Saking sudah lamanya berinteraksi dengan warga di kampungku, tentu sudah sangat akrab, dan hampir semuanya berlangganan.

Semua warga memanggil “Lik” kepadanya. yang membuat aku kagum luar biasa yaitu kegigihannya mencari rejeki. Sebut saja Lik Tahu. Lik Tahu berjualan dengan sepeda onthelnya dari rumahnya di wilayah Godean sampai Sleman. Membayangkan panasnya kota Jogja di siang hari, aku sudah ngelu duluan. Tetapi Lik Tahu ini sangat tabah dan kuat menjalani hidup berat seperti itu. Bersepeda dari Godean ke Sleman berarti jalannya menanjak, tentu mengayuh sepeda dengan sekuat tenaga. Tubuhnya langsing, tangan dan wajahnya menghitam akibat sering berada di bawah terik matahari.

Penghasilannya tak seberapa, paling bisa bawa 10-15 kilo tahu per hari. Dan satu kilonya harganya berapa ya, ngga sampai rp,3.000 mungkin ya untuk saat ini. Pernah sekali waktu Lik Tahu sedang istirahat di bawah pohon deket rumah. Aku trenyuh dan menghampiri.

“Lik..kok cuma makan seiris ketupat sama tempe bacem, apa bisa kenyang?” tanyaku.

“Duwite mboten cekap!” jawab Lik Tahu. (uangnya ngga cukup).

Duh gusti…seperti ditampar mukaku. Sementara aku sering belanja hanya untuk beli sesuatu yang tidak penting. Aku memandang badannya yang letih, mengambil sepedanya. Tanpa sadar aku mbrebes mili(berkaca-kaca). Tahu yang masih tersisa kubeli semua dan kubayar dengan uang lebih.

Lik Tahu, “Bu, niku tahune mboten wonten 3 kilo! “(bu, ini tahunya kurang dari 3 kilo). “Taksih jujul!” (masih ada kembalian).

Gubrakkk..!

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

58 Comments to "Pada Suatu Hari"

  1. Dewi Aichi  23 February, 2011 at 04:50

    Eko….aduhhh…malah ngetawain..! Eh…ngetawain Lani kok yaaa…iya kan? Iyaaaa kannnn….(maksa mode ON)

  2. eko g.bastian  22 February, 2011 at 20:23

    hahaha6000x

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *