Nixon ke Gambir, Obama di Menteng Dalam

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta


BAGI seorang presiden Amerika Serikat (AS), Indonesia adalah negara yang wajib dikunjungi selama dia menjabat, bahkan sebelum atau sesudah tidak jadi presiden lagi. Dibanding negara-negara lain di Asia, Indonesia termasuk negara paling sering didatangi seorang presiden AS.

Banyak alasan mengapa mereka senang datang ke sini. Dari segi strategi politik, ekonomi dan sosial, Indonesia di mata seorang pemimpin AS bagaikan sebuah real estate yang menawan. Harus dijaga, dirawat dan sering didatangi. Agar tidak terkesan seperti rumah kosong dan banyak hantunya.

Mungkin hanya Filipina yang bisa menyaingi Indonesia dalam frekuensi kedatangan tamu seorang presiden AS. Secara historis Filipina memang memiliki kaitan masa silam yang kental dengan AS. Presiden AS ke 27 William Taft (menjabat dari 1909 sampai 1913), sebelumnya pernah menjadi gubernur jenderal Filipina (1901-1904). Indonesia tidak punya kaitan historis apapun dengan AS sebelum merdeka tahun 1945.

Kedatangan seorang presiden AS ke Indonesia bisa dilihat sejak tahun 1945, saat Indonesia merdeka. Ketika itu yang berkuasa di Ruang Oval, kantor resmi presiden AS, adalah Harry Truman, presiden AS ke 33 dan Obama yang sekarang adalah yang ke 44. Berikut sekelumit kisah tentang keinginan berkunjungan atau kedatangan seorang presiden AS ke Indonesia.


FRANKLIN ROOSEVELT ‘KIRIM’ ISTRI

Bulan April 1945 terjadi pergantian bos di AS. Tiba-tiba Presiden Franklin Delano Roosevelt (lebih populer disebut FDR) meninggal mendadak saat negara sedang berperang melawan Jerman dan teman-temannya. Selama FDR berkuasa 12 tahun antara 1933-1945 (terlama sebagai presiden AS) dia tak pernah ke Indonesia, karena Indonesia belum lahir. Fokus utamanya adalah mengalahkan Hitler sehingga agenda mengurusi Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda terlewatkan sama sekali.

FDR digantikan wakilnya Harry Truman yang tak pernah tamat sekolahnya dan harus memimpin AS berperang dalam Perang Dunia II. Meskipun FDR tak pernah ke Indonesia, istrinya Eleanor Roosevelt pernah datang ke Jakarts tahun 1952 sebagai utusan sebuah badan sosial Perserikatan Bangsa Bangsa. Dia dijamu ramah oleh Presiden Soekarno di Istana Merdeka. Inilah kunjungan pertama kali seorang The First Family dari Gedung Putih ke Indonesia sejak merdeka, meski saat itu suaminya bukan lagi sebagai presiden AS.

Eleanor bersahabat baik dengan Soekarno secara pribadi. Sewaktu Soekarno datang pertama kali ke AS tahun 1956, mereka bertemu kembali dalam jamuan makan malam yang diadakan Presiden Dwight Eisenhower untuk tamunya. “Saya mengenalnya 4 tahun silam”, kata Eleanor yang digandeng tangannya oleh Soekarno.

Ketika Presiden Megawati Soekarnoputri berkunjung ke AS pada September 2001, dia sempat mengenang persahabatan ayahnya dengan istri Presiden FDR itu dengan mengunjungi The Eleanor Roosevelt Foundation untuk menerima patung ayahnya dari yayasan tersebut.


HARRY TRUMAN KIRIM UCAPAN

Presiden Harry Truman adalah presiden AS pertama yang mengadakan kontak dengan seorang presiden Indonesia. Sewaktu Belanda mengakui kedaulatan Indonesia dalam bentuk serikat pada 27 Desember 1949, Truman mengirimkan ucapan selamat pada hari berikutnya kepada Presiden Soekarno (waktu itu presiden RIS) atas “kemerdekaan RIS”. Truman-lah yang memaksa Belanda harus mengakui kemerdekaan Indonesia.

Meski tidak pernah datang ke Indonesia, bahkan wakilnya pun belum sempat ke Jakarta, dalam masa pemerintahan Presiden Truman, AS pertama kali menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia dengan mengirimkan Merle Cochran sebagai duta besar AS pertama di Indonesia. Cochran adalah diplomat yang banyak membantu sebagai penengah saat Indonesia berunding dengan Belanda di masa perang kemerdekaan.

Tak banyak yang terjadi kunjung mengunjungi antara kedua pemimpin, karena tahun 1953 Truman digantikan oleh Dwight Eisenhower dan pada tahun-tahun itu, Presiden Soekarno juga tidak pernah ke luar negeri, karena masih berbenah dengan urusan dalam negeri.


IKE TAK MAU KE JAKARTA

Sewaktu AS dipimpin Presiden Dwight Eisenhower, banyak terjadi kemajuan dalam hubungan Indonesia dan AS dan juga perselisihan serius. Untuk pertama kalinya seorang pejabat paling tinggi dari AS datang ke Jakarta sejak kedua negara menjalin hubungan diplomatik. Presiden Eisenhower yang dikenal dengan sapaan Ike, mengirimkan Wakil Presiden Richard Nixon datang ke Indonesia pada 1954. Nixon yang saat itu masih mudah, 40 tahun, mengunjungi Indonesia sebagai negara Asia pertama kali dia datangi.

Soekarno sebagai tuan rumah mengajak Nixon jalan-jalan sekaligus menjadi tour guide. Nixon dan istrinya Pat, sempat ke Candi Borobudur dan diajak jalan-jalan ke Puncak serta dikenalkan dengan anak-anak Soekarno yang masih kecil-kecil, seperti Megawati, Rachmawati dan Guntur. Lima belas tahun kemudian, yaitu pada tahun 1969, Nixon datang lagi ke Jakarta. Dia bukan lagi sebagai wakil presiden, tetapi sebagai presiden AS pertama yang berkunjung ke Indonesia.

Ike tak sempat Jakarta, karena Soekarno rajin datang ke AS untuk menemuinya. Waktu pertama kali injak kaki di AS tahun 1956, Soekarno disambut meriah di setiap kota yang dikunjungi selama 18 hari. Dua tahun kemudian Ike banyak membantu pemberontakan separatis Permesta dengan kekuatan senjata dan uang untuk menggulingkan Soekarno. Namun anehnya, Soekarno biasa-biasa saja dan tak marah seperti cacing kepanasan. Buktinya dia datang lagi mampir ke Gedung Putih pada Oktober 1960 setelah pidato memukau di Majelis Umum PBB dengan judul pidatonya, ‘Membangun Dunia Kembali’.

Waktu di Ruang Oval, Soekarno dibiarkan menunggu selama satu jam oleh tuan rumah. Ini membuat sang tamu marah dan siap meninggalkan ruangan. “Apakah saya harus menunggu lebih lama lagi?”, tanya Soekarno kesal kepada staf Gedung Putih. Untung Ike langsung datang dalam hitungan menit dan tidak minta maaf. Dalam etika diplomatik tindakan presiden AS ini sangat tidak sopan dan memalukan.

Pernah ketika Ike mengadakan kunjungan ke Asia Tenggara tahun 1960, dia hanya mau ke Manila dan tidak mau ke Jakarta. “Dia sudah ada di depan pagar rumahku, dan dia tak mau mampir ke Jakarta”, kritik Soekarno. Padahal haknya Ike sebagai tamu mau datang atau tidak ke sebuah negara. Apalagi Ike sering bertemu Soekarno, jadi dianggap kurang penting untuk bertemu lagi.


KENNEDY BANGUN WISMA NEGARA

Berbeda dengan pendahulunya, Presiden John Kennedy lebih bersahabat dengan Soekarno, meski cuma 3 tahun jadi presiden. Soekarno rajin ke mengunjunginya sebanyak 2 kali pada 1961 (April dan September) dan sempat memberi hadiah wayang golek kepada Caroline, putri Kennedy yang masih kecil saat itu, yang 45 tahun kemudian wayang golek itu dipamerkan Caroline dalam sebuah pameran selama 6 bulan. Namun Kennedy tak sempat membalas dua kunjungan Soekarno itu.

Kennedy hanya sempat mengirim adiknya, Jaksa Agung Bob Kennedy ke Indonesia pada 1962. Pada masa Kennedy ini tidak ada presiden ataupun wakil presiden AS yang datang ke Indonesia. Biasanya, kalau presidennya tak datang, wakilnya diutus atau sebaliknya.

Menurut rencana waktu itu, Presiden Kennedy akan ke Indonesia pada musim semi 1964. Begitu senangnya dengan rencana itu, karena ini pertama kali seorang presiden AS datang ke Indonesia, Soekarno membangun sebuah wisma untuk menampung rombongan Kennedy bila ke Jakarta. Dibangunlah sebuah gedung di samping barat Istana Merdeka. Tapi sayang, gedung itu tak pernah digunakan, karena Kennedy ditembak mati November 1963. Gedung tersebut kini disebut Wisma Negara untuk menginap kepala negara yang datang ke Jakarta, bila sang tamu mau.

Anehnya, bagi Bob Kennedy, kakaknya sebagai presiden AS paling tidak suka dengan dua orang, yaitu PM Kanada John Diefenbaker dan satu lagi Soekarno. Mungkin saja karena Soekarno terlalu dominan dan ‘sok tahu’, jadi Kennedy merasa kurang nyaman bila bertemu dengannya. Padahal dalam sorotan publik, justru terlihat kedua pria gemini ini sangat akrab dan dekat, seperti pengakuan dari Soekarno.


JOHNSON ANTARA BENCI DAN SUKA INDONESIA

Ketika Soekarno jatuh dari kekuasaan, AS sangat mendukung penggantinya yaitu Soeharto. Diakhir kekuasaannya, Soekarno sangat memperlihatkan hubungannya yang renggang dan tidak harmonis dengan AS. Jargon terkenal saat itu, “Go To Hell With Your Aids”, adalah sebuah bukti ketidaksukaan Soekarno pada kebijaksanaan AS dibawah Presiden Lyndon Johnson, pengganti Kennedy yang tewas dibunuh.

Johnson yang dikenal sengan sebutan LBJ, tentu saja tidak pernah ke Indonesia pada saat-saat peralihan kekuasaan di Indonesia di tahun 1966-1967. Tak satu pun presiden AS yang pernah datang ke Indonesia sejak 1945, dan keadaan itu makin panjang semasa Johnson. Dia hanya mengirimkan wakilnya Hubert Humphrey ke Indonesia tahun 1968. Humprey yang populer di AS dengan sebutan HHH (Hubert Horatio Humphrey) adalah pejabat tertinggi AS yang pertama kali menemui Presiden Soeharto.

Pada masa Presiden Johnson ini, AS mulai meletakkan dasar sebuah dukungan penuh kepada pemerintahanan Soeharto hingga kuat dalam bidang ekonomi dan politik selama lebih 30 tahun. Di saat-saat terakhir kekuasaan Presiden Soekarno, Johnson pernah berkunjung ke Asia Tenggara tahun 1966. Tetapi dia tidak mengunjungi Indonesia dan Soekarno juga tidak mempermasalahkannya. Mau datang atau tidak ke Indonesia, terserah!. Berbeda waktu Presiden Eisenhower ke Manila tahun 1960 tanpa ke Jakarta yang membuat Soekarno merasa dihina.


NIXON MAKAN DI WARUNG

Satu-satunya presiden AS yang paling dekat dan akrab dengan Indonesia adalah Richard Nixon. Indonesia adalah negara Asia pertama yang pernah dia kunjungi sewaktu menjadi wakil presiden AS (1953-1961). Nixon datang ke Jakarta, Bogor, Jogjakarta dan Cipanas.

Hubungannya dengan Soekarno dan juga Soeharto sangat dekat dan ramah. Soekarno pernah menemani Nixon jalan-jalan naik mobil ke Cipanas. Ketika sampai di sebuah daerah puncak, Soekarno mengajaknya mampir di sebuah warung di tepi kebun teh. Gemparlah berita ini di media massa AS, dengan berita besar-besar, “Nixon makan di warung”.

Ketika dia tidak lagi menjadi wakil presiden dan gagal menjadi presiden AS karena dikalahkan oleh John Kennedy pada pemilu 1960, Nixon dan istrinya sempat jalan-jalan ke Jakarta pada 1967 sebagai warga negara biasa. Namun perlakuan terhadap dirinya tetap sangat istimewa. Dia bertemu Presiden Soeharto yang ketika itu baru beberapa bulan menjadi presiden. Serta diajak makan di rumah Menteri Luar Negeri Adam Malik di Jalan Diponegoro 29, Menteng.

Dua tahun setelah kedatangannya ke Jakarta, yaitu 1969, Nixon datang kembali ke Indonesia. Kali ini bukan sebagai warga negara biasa, tetapi sebagai presiden AS. Nixon-lah presiden pertama yang datang ke Indonesia pada Juli 1969, tepat seminggu setelah Nixon menelepon dari Ruang Oval ke Neil Armstrong yang sedang ada di bulan.

Tidak terdengar berita Presiden Soeharto mengirimkan ucapan belasungkawa ketika Nixon wafat tahun 1994. Padahal Nixon adalah presiden paling dekat Indonesia. Juga dengan Suharto dan pendahulunya, Soekarno. Tidak ada kata-kata negatif atau kesan sumbang yang ditulis Nixon pada buku memoarnya tentang kedua presiden Indonesia itu.


FORD PAKAI BATIK

Inilah kedatangan seorang presiden AS ke Indonesia paling heboh dan ketat serta menyolok keamanannya. Mobil yang membawa Presiden Gerald Ford dari Halim Perdanakusumah ke Istana Merdeka, dikawal ketat oleh secret service seperti kenek metro mini berdiri di pintu. Beberapa minggu sebelum datang ke sini, Ford lolos dua kali dari pembunuhan di California dalam rentang waktu yang tidak lama. Pelakunya adalah dua wanita yang kurang kerjaan.

Ford datang pada awal Desember 1975 hanya 20 jam dan cuma memberikan sebuah persetujuan kepada Soeharto untuk menyerbu Timor Portugis (kemudian menjadi Timor Timor), agar tidak jatuh ke tangan komunis. Ibu Tien sempat menghadiahkan tas tangan berlapis emas kepada istri Presiden Ford, Betty, yang kemudian terkenal dengan kliniknya bagi selebritis yang ketergantungan alkohol.

Banyak orang menganggap kedatangan Presiden Ford ke Indonesia yang cuma sebentar, telah membawa nasib buruk bagi Indonesia yang berkepanjangan di kemudian hari karena masalah Timor Timur. Setelah tidak menjadi presiden, Gerald Ford dan istrinya datang kembali ke Indonesia pada Maret 1981. Tidak seperti waktu menjadi presiden yang padat acara, kali ini Ford sempat berleha-leha menghadiri banyak acara sosial di Jakarta dengan memakai baju batik. Ford adalah orang pernah menjabat presiden AS yang pertama kali memakai baju batik Indonesia di muka umum.


CARTER SUKA TAPOL PKI

Indonesia di masa pemerintahan Presiden Jimmy Carter kurang diperhatikan. Carter yang menggantikan Presiden Ford, lebih melihat segala sesuatunya dari kacamata hak-hak asasi manusia. Ketika Carter menjadi presiden pada awal 1977, Indonesia punya simpanan ribuan tahanan politik dan ini membuat AS kurang sreg. Apalagi para tapol itu tidak diadili sama sekali dan mendekam tersiksa lebih dari 10 tahun!

Gaya Carter memerintah yang terlalu humanis dan religius, tidak sejalan dengan cara pandang Presiden Soeharto. Baik Carter dan Soeharto, enggan saling berkunjung. Untuk pertama kalinya selama Carter menjadi presiden AS, Soeharto tidak pernah ke AS. Ini diluar kebiasaan. Carter hanya mengirimkan Wakil Presiden Walter Mondale datang ke Jakarta pada 1978. Anehnya, 20 tahun kemudian Mondale datang lagi sebagai utusan pribadi Presiden Bill Clinton, untuk membujuk Presiden Soeharto untuk “turun tahta” sejak mulai tidak disukai rakyat di awal 1998.

Sebagian orang menganggap pembebasan tapol PKI oleh Soeharto tahun 1977 adalah hasil tekanan Presiden Carter. Diantara tapol yang dibebaskan adalah sastrawan Pramoedya Ananta Toer, redaktur harian Bintang Timur Tom Anwar dan Joesoef Isak (penerbit yang berani menerbitkan karya-karya Pram).

Begitu banyaknya tekanan dari Carter, pernah suatu saat dubes AS di Jakarta, Edward Masters dimarahi oleh anak buah Soeharto, Widjojo Nitisastro, karena banyak mendikte apa yang harus dilakukan Indonesia dalam bidang ekonomi. “Ed, kamu boleh memotong bantuanmu, tapi jangan melarang kami membeli makanan yang kami suka”, ujar Widjojo serius.

Setelah tak menjadi presiden, Carter sering ke Indonesia menemui Presiden BJ Habibir untuk mengawai pemilu 1999 dan bertemu Presiden Megawati Soekarnoputri menjadi pengamat pemilu 2004.


REAGAN JUNIOR, SUHARTO SENIOR

Ronald Reagan yang usianya 10 tahun lebih tua dari Presiden Soeharto, menganggap Soeharto sebagai negarawan Asia yang sangat senior. Memang dari sejak Reagan masih gubernur Calfornia, lalu jadi pengangguran, kemudian jadi presiden AS dan pensiun lalu sakit-sakitan, Soeharto tetap sebagai seorang presiden.

Ketika menjadi gubernur California, Reagan sempat datang menemui Presiden Soeharto pada Desember 1973. Inilah pengalaman diplomatik pertamanya yang dia kenang dengan manis. Makanya ketika Soeharto datang ke AS tahun 1982, Reagan menyambutnya dengan meriah. Sebaliknya, Soeharto menyambut kedatangan Presiden Reagan ke Bali pada 1986 dengan ramah.

Reagan sempat bersantai-santai di Nusa Dua berhari-hari tanpa banyak kegiatan kenegaraan. Inilah kunjungan presiden AS terlama ke Indonesia. Reagan berada 4 hari di Bali sebelum terbang ke Jepang. Selama menjadi presiden, hanya Indonesia, Cina, Jepang dan Korea Selatan yang didatanginya di Asia. Reagan ke Bali setelah beberapa hari membom Libya. Bisa dibayangkan betapa repotnya menjaga keselamatannya selama di Bali, takut ada pembalasan.


BUSH KIRIM WAKIL DUA KALI TANPA DATANG

Masa pemerintahan George Bush yang singkat setelah menggantikan Reagan, membuat Bush tua (Bush muda adalah anaknya yang kemudian menjadi presiden tahun 2001) tak sempat ke Indonesia. Dia sibuk dengan perang melawan invasi Irak ke Kuwait serta perang-perangan menjatuhkan diktator Panama bermuka parutan kelapa, Manuel Norriega tahun 1989.

Sebagai wakil presiden Bush tua pernah datang ke Jakarta tahun 1984 mewakili bosnya, Ronald Reagan. Karena tak sempat ke Indonesia, dia hanya mengirimkan wakil presiden Dan Quayle dua kali ke Indonesia pada 1989 dan 1990. Quayle terkenal dengan blo’onnya, karena tidak bisa mengeja kata ‘potato’ ketika mendatangi sebuah kelas anak-anak.

Setelah tidak jadi presiden, Bush malah sering datang ke Indonesia. Tahun 1995 dia ke Jakarta untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar oleh bank besar dan ke Aceh bersama Bill Clinton untuk melihat bencana akibat tsunami tahun 2005. Meski dia sebagai warga negara biasa, tetap saja Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono harus menemuinya.


CLINTON KE JALAN SURABAYA

Bill Clinton adalah presiden AS paling santai ke Indonesia. Dia datang menghadiri KTT APEC di Bogor pada November 1994. Cukup lama Clinton di Indonesia. Dia sempat lari pagi di Senayan, belanja di Jalan Surabaya, Menteng, makan di sebuah restoran di Jalan Raden Saleh, yang sempit buat mobil kepresidenan AS yang panjang serta datang selama 35 menit ke Masjid Istiqlal.

Clinton juga menjadi presiden AS terakhir yang ditemui Soeharto sebelum dia mundur tahun 1998 saat reformasi. Sejak Clinton menjadi presiden, dimulailah freksuensi pertemuan antara presiden AS dan Indonesia yang semakin sering. Hampir 5 kali Soeharto menemui dalam waktu yang berbed-beda.

Bahkan setelah tidak menjadi presiden, Clinton sudah 4 kali datang ke Aceh pengurusi yayasannya, William J. Clinton Foundation, membantu penderitaan rakyat Aceh pasca tsunami. Nah, kedatangannya yang sering ini tidak disambut lagi oleh presiden Indonesia.


BUSH DUA KALI DATANG TANPA WAKIL

Satu-satunya presiden AS yang paling tak sukai datang ke Indonesia adalah George Bush. Kedatangannya selalu ditolak dimana-mana, termasuk waktu dia datang ke Bogor pada November 2006 menjadi tamu Presiden Yudhoyono. Sampai seorang paranormal Ki Gendeng Pamungkas yang tinggal di Bogor, melakukan atraksi publik untuk menyantetnya dan gagal.

Sebelumnya Bush pernah ke Pantai Kuta, Bali, memenuhi undangan Presiden Megawati Soekarnoputri. Bush muda adalah presiden AS yang paling banyak datang ke Indonesia, dua kali, meski tak sempat bermalam di Indonesia. Begitu seringnya ke Indonesia, tak pernah dia mengutus Wakil Presiden Dick Cheney ke Indonesia.


OBAMA DI MENTENG, NIXON DATANG

Meskipun Indonesia sering kedatangan presiden AS, jarang ada yang berlama-lama tinggal sejak kedatangan Presiden Clinton tahun 1994. Barack Obama akan datang ke sebuah negeri yang pernah dia tempati selama 4 tahun waktu kecil, pada November 2010 ini, setelah ditunda dua kali pada November 2009 dan Maret 2010.

Obama adalah presiden AS yang paling memiliki kedekatan emosional dengan Indonesia. Ayah tirinya adalah orang Indonesia yang sempat menyekolahkan Obama di Jakarta. Uniknya, ketika Presiden Richard Nixon sebagai presiden AS pertama yang berkunjung ke Indonesia, ketika itu Obama menjadi warga Jakarta dan sedang bersekolah di Menteng.

Kedatangan Obama kali ini sangat singkat. Seharusnya dia bisa berlama-lama dan mengunjungi sekolahnya serta rumah yang pernah ditempatinya di daerah Taman Amir Hamzah, di daerah Matraman. Bila dia kelak terpilih kembali pada pemilu 2012, Obama sangat mungkin akan datang ke Indonesia menghadiri KTT APEC di Indonesia pada 2013. Syukur-syukur KTT APEC diadakan di Jogjakarta dan Obama dan keluarganya bisa sowan ke keluarga besar Mintodiharjo, kakek tirinya. (*)

185 Comments to "Nixon ke Gambir, Obama di Menteng Dalam"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  25 March, 2011 at 06:39

    Sdr (tak jelas namanya), artikel ini bukan membahas tentang Soeharto. Jadi komentar Anda tak pantas di sini. Optik Melawai ada diskok kacamata, coba Anda ke sana untuk konsultasi optis. Mungkin ada gangguan.

    Tulisan tentang kronologis pertalian AS-RI yang kebetulan ada Soeharto di dalamnya. Kalau tidak suka dia, saya bisa ganti dengan bapak kamu. Jadi biar bapak kamu yang presiden dan akan saya ganti dengan nama Soeharto.

    Soal Soeharto, kamu sekeluarga sudah banyak menderita di bawah kekuasaan mereka. Jangan coba-coba mengajari saya bagaimana membenci dia. Mungkin bisa jadi saya lebih Anda dari pada dia.

    Menulis kometar harus dipikir dulu masak-masak. Ini dunia maya, yang hasilnya bisa dilihat oleh jutaan orang.

    Think before you’re posting.

  2. anti soeharto cloeb  24 March, 2011 at 15:20

    soeharto lebih mencintai bangsa asing dan dirinya sendiri.kalau bukan ,soeharto adalah raja moderen yang kastanya lebih tinggi dari rakyat jelata kebanyakkan.menghancurkan impian indonesia sampai ke akar-akar-nya,jangan sekali-kali kamu memperjuangankan bangsa karena akibatnya akan fatal.tengoklah selintas kisah ini:

    http://www.geocities.ws/konferensinasionalsejarah/zeffry_alkatiri_backmemoarburu01.pdf

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *