Selamat Jalan Nenek dan “Ende”ku

Tarsisius Sutomonaio


Terima kasih karena tetesan darah kami mengalir dari tubuhmu. Kau sudah menemani dua generasi bahkan ada generasi berikut yang sulit kau kenali. Kau menjadi orang tua bagi anak2mu dan kami, cucu-cucumu. Kami menyapamu “ENDE” seperti kami memanggil ibu yang melahirkan kami. Kau begitu dekat dan kami pun begitu mencintaimu.

Pelukan hangatmu tak pernah alpa saat menjemput kehadiran kami. Belainmu begitu lembut menyusuri rambut di kepala kami saat menemani kami bicara. Segera kau selesaikan urusan dapur untuk kembali menemani kami. Pelukan hangatmu kembali kami rasakan saat berpamitan pulang. Begitulah kau bumbui masa kanak-kanak kami.

Saat kami tumbuh dewasa, kau merestui perjalanan jauh kami dengan senyum dan doamu. Kau doakan kami dengan telapak tanganmu yang menopang dagu kami agar tetap tegak menatap. Ibu jari menyilang di dahi kami, tanda untuk mengingatkan kami pada yang Kuasa. Tak lelah kau lambaikan tangan sampai hilang oleh jarak batas penglihatan.

Kemarin, ketika sekali lagi kau kutemui, kau sudah hampir melupakanku dan lainnya namun kusadari, waktu telah mengelindingi kita sejauh itu. Cinta yang sama tetap hidup untukmu dan saat itulah pertama kalinya aku mengelus rambutmu dan membelai wajahmu.

Namun, tak kusangka hal itu sekaligus menjadi yang terakhir yang kulakukan padamu. Kau pergi menghadap Sang pemilik hidup. Kutahu itu hanya melalui sepotong sms di handphone-ku. Sayang, aku tak bisa hadir di hari terakhirmu. Tapi kuyakin kau tahu bahwa cinta dan doa kami selalu menemanimu setiap saat.

Selamat jalan nenek dan “Ende”ku. Cinta dan doa kami selalu menemanimu. Kau akan selalu hidup dalam sanubari kami bahkan saat waktu berusaha merenggutnya.

Thanks God for her presence in our life

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.