Bermain Lahar Dingin

Taufikul


Warga Jogja punya ikatan dengan Merapi, termasuk orang Code dengan dinamika sungai pembelah kota Jogja itu. Kali Code melintasi 14 kelurahan di delapan kecamatan. Ada 13.000 jiwa yang tinggal di kanan-kiri Kali Code. Di sanalah sebuah kampung Girli tempat saya tinggal dulu.

Sebelum terkena lahar dingin

Kali Code berhulu di Merapi, tepatnya Kali Boyong. Karena itu, Code beberapa kali terkena imbas dari letusan Merapi, termasuk beberapa hari belakangan. Memang, bukan dampak yang sedestruktif wedhus gembel, namun cukup untuk membuat kalang kabut warga Code. Sebagian sempat mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti di balai bahasa Yogyakarta dan Masjid Darusalam, Jogoyudan.

Akibat dari lahar dingin itu adalah pendangkalan sungai dan banjir manakala hujan datang. Banjir besar terakhir yang kami alami adalah pada 2004 lalu, namun hanya berupa banjir air dan lumpur biasa. Waktu itu hujan deras di hulu, di sekitar Sleman, membuat air sungai meluap dan merendam beberapa kampung. Banjir kala itu sempat menggeser jembatan Kewek, penghubung Jogoyudan dengan Kotabaru. Untunglah, jembatan tersebut tidak rusak parah sehingga masih bisa digunakan hingga sekarang.

Code dan pasir

Bukan hanya pesoalan pendangkalan dan banjir yang sewaktu-waktu mengancam warga pinggiran, tapi hilangnya ikan-ikan baik yang dibudidayakan warga di tepi sungai maupun ikan-ikan endemik kali Code. Kami terancam tidak bisa mancing di Code dalam waktu yang lama. namun, ini risiko yang bisa dikesampingkan, mengingat masih banyak risiko lain yang perlu antisipasi dan kesiapan lebih dari semua warga di bantaran Code.

Peta zona ancaman banjir lahar dingin Merapi

Peta di atas menunjukkan bahwa Kali Code menjadi salah satu sungai yang dilewati lahar dingin Merapi. Kali Code, Kali Gajahwong, dan Kali Winongo merupakan tiga sungai yang melewati Jogja dan perlu diwaspadai saat hujan turun. Kali Code sendiri membelah Kota Jogja. Ledok Code, sekitar bantaran sungai, telah lama jadi wilayah hunian warga. Secara umum, di Jogja, sudah tidak ada perdebatan mengenai eksistensi warga Girli ini sebab pemerintah kota dan kabupaten telah mengakui. Bahkan, kampung Code merupakan bagian dari eksistensi wisata di Jogja. Konsep kampung wisata telah digodok sejak lama. Beberapa kampung telah menjadi tujuan wisatawan mancanegara, seperti di Code Utara yang memiliki hubungan historis dengan perjuangan Y.B Mangunwijaya, arsitek, sastrawan, aktivis, dus rohaniawan.

Sebelum banjir lahar dingin

Setelah beberapa kali dilanda banjir besar, pemerintah telah membuat talud sebagai pembatas antara sungai dengan pemukiman. Bahkan, pascabanjir 2004, talud di beberapa wilayah ditinggikan. Maka, sejak 2004 itu tidak lagi terjadi banjir yang membahayakan pemukiman. Namun, datangnya banjir lahar tahun ini membuat ceritanya berubah.

Saat banjir

Ini adalah tempat pemandian umum yang digunakan setiap hari oleh seluruh warga Code Utara. Jadi, apakah setelah ini mereka harus mandi di kali?

Mbelik/tempat mandi dan cuci yang dipenuhi pasir

Kondisi sebelum terkena banjir lahar dingin (material dari merapi). Untung para perempuans itu tidak turut tersapu banjir, hehehehehe.

Sebelum kena lahar dingin

Kini mereka tak akan kehabisan pasir kualitas Merapi, Pak Margono entah melakukan apa

Hore, Jordan pun bisa menggapai atap

Ada yang memanfaatkan kondisi sungai yang dangkal, coba menyeburkan motor

Yang penting menyenangkan

Usai bersih-bersih rumah dan menaikkan pasir adalah makan bersama

Bahkan bisa berjalan di atas air

Foto-foto di ata hasil jepretan teman seperjuangan di Code dulu, N

28 Comments to "Bermain Lahar Dingin"

  1. Neni  6 June, 2011 at 13:57

    Mas Taufikul,

    Artikel dan images yang informatif. Sangat membantu saya untuk lebih paham efek sekunder dari bencana Merapi (lahar dingin).
    Ada satu pertanyaan saya mas, ada kesan bahwa masyarakat seputar bantaran sungai di artikel mas tidak terlalu ‘terganggu’ dengan banjir lahar dingin ini, apakah memang demikian mas?
    Mohon responsenya, terimakasih.
    Salam

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.