[Exclusive] Obama: “Saya pulang kampung…”

JC & Elnino


H-7 to H-1

Sebuah pesan masuk ke handheld: “mau nggak ikutan hadir di Obama speech di UI?”

Sempat agak terpana membacanya. Pesan dikirimkan oleh seorang teman baik di H-7 jelang kedatangan Obama yang sudah 2x sebelumnya dibatalkan.

Langsung bersambut, saya pastikan ikut dan malah sekalian mengajukan diri untuk membantu dalam acara tsb.

Mulailah hari-hari penuh dengan e-mails, sms, dan messages berseliweran tak mengenal waktu ke handheld saya. Koordinasi demi koordinasi mengalir terus tak mengenal jeda. Perubahan demi perubahan seakan berlangsung setiap jam.

Akhirnya hari Minggu di H-3 tiba. Hari itulah tiket masuk untuk acara Obama Speech di Universitas Indonesia dibagikan.

Hari Senin, H-2 (dua hari menjelang Obama Speech, bukan kedatangan Obama) berlalu dengan tenang, hanya sedikit komunikasi intensif di antara para undangan.


H-1 (09 November 2010)

Sejak pagi seluruh channel TV sudah mulai menyiarkan ini itu seputar kedatangan Obama.

Sore hari sekitar jam 16:00. Dua news-TV utama menyiarkan secara live dari lapangan, menit demi menit kedatangan Obama. Nampak dari foto-foto kiriman Elnino ini betapa lengang dan kosong jalanan utama, Jl. Sudirman di sore hari itu.

Demikian juga seluruh kendaraan dari seputaran Jl. Sudirman dihentikan oleh aparat selama beberapa menit. Tentu saja kemacetan tak terhindarkan. Sebagian masyarakat protes. Yang jelas tak dapat dipungkiri dan dikesampingkan adalah itulah standard pengamanan kunjungan kepala negara di negara manapun juga. Untuk POTUS (President Of The United States) memang berbeda, standard yang lebih tinggi mengingat sosok high-profile dari seorang POTUS, siapa saja itu.

Jl. Sudirman steril dan pengendara yang menuju ke Jl. Sudirman dihentikan beberapa menit

Bahkan jika SBY berkunjung ke negara lain juga akan diperlakukan secara istimewa, terutama dalam hal traffic, voorijder jelas, jalanan steril jelas, yang membedakan hanyalah skala steril dan radius steril jalanan yang akan dilewati seorang kepala negara.

Air Force One touched down bumi Jakarta tepat jam 16:22. Penyambutan oleh rombongan pemerintah Indonesia. Duta Besar Indonesia Untuk Amerika Serikat, Dino Patti Jalal dan istri termasuk dalam rombongan penyambut. Termasuk Menlu Marty Natalegawa, Gubernur DKI Jakarta dan beberapa pejabat lain.

(http://www.hurriyetdailynews.com/n.php?n=obama-makes-long-awaited-return-to-indonesia-2010-11-09)

Dalam waktu sekitar 30 menit, rombongan POTUS sampai ke Istana Negara, di mana SBY dan seluruh jajaran pemerintahnya sudah siap menyambut dengan upacara kenegaraan. Karena hujan yang mengguyur Jakarta sore itu, upacara diadakan di pelataran Istana Negara.

(http://www.guardian.co.uk/world/2010/nov/09/barack-obama-visits-indonesia)

Dalam upacara kenegaraan ini remark yang saya perhatikan ada 2 kejadian, yaitu, Dino Patti Jalal sempat menggeret istrinya dengan cepat melintas di depan SBY yang berjalan bersama Obama menaiki tangga Istana dengan diikuti di belakang mereka adalah dua First Ladies dari kedua negara.

Dan yang kedua dan kemudian menjadi pemberitaan seluruh dunia adalah ‘ulah’ Tifatul Sembiring yang menyalami Michelle Obama. Dalam beberapa kesempatan Tifatul mengatakan bahwa First Lady yang mengulurkan tangan lebih dulu, sehingga dia tidak kuasa menolaknya. Sementara dari TV kelihatan jelas bahwa dialah yang lebih dulu mengulurkan tangan hendak menyalami First Lady Amerika Serikat.

‘Ulah’ Tifatul menjadi pembicaraan internasional dikarenakan adalah sikap dan pandangan dia selama ini yang menolak bersalaman dengan wanita yang bukan muhrimnya.


Hari H: 10 November 2010

Pagi-pagi sekali saya sudah bangun untuk bersiap. Diinformasikan para peserta harus kumpul di Parkir Timur Senayan sepagi mungkin, tidak lebih dari jam 05:15. Untuk mengantisipasi panjangnya security procedures di tempat acara.

Jam 4 kurang saya sudah melaju di jalan tol dan sampailah ke Senayan dalam beberapa menit saja, mengingat masih pagi. Setelah sampai di sana, terjadi kerancuan dan kebingungan karena ada 2 rombongan bus yang terparkir di sana. Yang satu terparkir di depan JCC, yang satu lagi di depan Hotel Sultan. Informasi sejak semula adalah rombongan kami akan diangkut dengan bus yang terparkir di Parkir Timur Senayan alias di depan Hotel Sultan.

Koordinasi dengan beberapa teman rombongan, akhirnya terkumpul di depan Hotel Sultan. Saya berusaha mengumpulkan teman-teman satu group kalau dimungkinkan dalam satu bus, walaupun diperbolehkan untuk bus mana saja.

Koordinator bus melakukan pengecekan akhir sebelum masing-masing naik ke bus, mencocokkan nomer tiket dengan nama dalam list yang ada di tangan dia. Setelah cocok, koordinator membagikan gelang Power Balance untuk dikenakan di tangan masing-masing.

Terus terang kami semua sempat kaget: “wow, hanya untuk acara seperti ini, tanda pengenalnya keren bener”. Ada yang bertanya malah: “ini asli ya?” sampai yang mendengar semua tertawa dan ada yang menyeletuk: “asli lah, yang punya gawe Amerika gitu lho, mosok sih palsu” yang membuat semua lagi-lagi tertawa.

Sungguh berbeda suasananya dibandingkan waktu tahun 2006 kedatangan Bush. Di waktu itu semua nampak tegang, baik panitianya, koordinatornya, Secret Service’nya semuanya nampak tegang dan seram. Berbeda sekali dengan yang sekarang, suasana akrab dan hangat terasa walaupun sebagian dari peserta baru bertemu satu sama lain di hari itu.

Setelah bus terisi penuh, langsung koordinator minta pengemudi bus segera berangkat. Jam masih 05:39 dan di luar masih gelap. Bus melaju membelah kota Jakarta yang masih relatif sepi dan masih berhawa sejuk. Dalam bus saya ternyata ada beberapa sosok yang cukup dikenal publik. Penyiar TV Desi Anwar sempat mengobrol dengan saya. Dan juga ternyata ada sang pendiri dan pemilik KasKus dalam bus saya.

Kurang dari 1 jam kami sampai ke Kampus UI di Depok. Di sepanjang perjalanan sudah banyak sekali aparat keamanan di kanan dan kiri jalan. Again, tidaklah sesangar dan setegang ketika kunjungan Bush 2006. Rombongan beberapa bus melaju pelahan menyusuri jalanan kampus. Titik keamanan satu per satu dilalui, pengecekan ketat oleh aparat keamanan di beberapa titik. Keamanan di sini sepertinya dikoordinasikan oleh Paspampres yang kelihatan dari pakaian khas mereka baju safari berwarna hitam.

Sampailah ke depan pintu gedung di mana acara akan dilangsungkan. Satu per satu bus menurunkan penumpang. Jam 06:40, tepat 1 jam sejak keberangkatan dari Senayan, sampailah saya di tempat acara. Di sana sini nampak terlihat mahasiswa yang berjalan dalam rombongan-rombongan kecil menuju ke lokasi acara. Kendaraan pribadi di hari itu tidak diperbolehkan. Seluruh perkuliahan diliburkan, seluruh pedagang di sekitaran kampus UI diminta tutup. Steril!

Antrean segera mengular. Masuklah kami semua ke dalam gedung tsb. Di sana sini gabungan Paspampres dan Secret Service terlihat sibuk mondar-mandir dan berbicara dengan alat komunikasi mereka. Lagi-lagi, walaupun ketat, tetap kelihatan santai dan tidak tegang sama sekali.

Di dalam sudah berjajar rapi pagar betis keamanan yang mengarahkan tamu menjadi 2 tempat terpisah. Tamu pria ke sebelah kiri dan tamu wanita ke sebelah kanan untuk pemeriksaan langsung ke tubuh. Tas, purse, tidak diperbolehkan, hanya camera dan handphone yang diijinkan dibawa ke tempat acara. Pemeriksaan tahap pertama dengan metal detector ke badan setiap tamu.

Dari titik ini berjalan ke pemeriksaan seperti di airport, semua barang bawaan, termasuk dompet, handphone, kunci mobil, camera semua harus di’scan. Kembali dirasakan bahwa pengamanan memang ketat, tapi tidak tegang sama sekali. Dua Secret Service mengajak berbincang tamu di belakang saya. Tamu ini membawa alat komunikasi canggih terbaru dari perusahaan IT ternama Amerika. Bentuknya mirip dengan iPad tapi sedikit lebih kecil, dengan fitur touch screen juga.

Dua SS tsb menanyakan gadget apakah itu. Kelihatan heran, curious sekaligus cautious. Cukup salut dengan cara pendekatan mereka dalam menanyakan sesuatu yang menjadi perhatian khusus mereka. Ternyata menurut tamu yang di belakang saya gadget tsb baru, sama sekali baru dan belum banyak memang di pasaran.

Rombongan terus maju ke alat scanner. Melewati titik ini, berarti semua clear. Kami terus berjalan memasuki balairung. Di dekat pintu masuk sudah nampak antrean orang di depan toilet portable warna biru. Banyak petugas di sana mengingatkan jika ingin kencing supaya segera karena nanti setelah di dalam dan ruangan terisi penuh, akan susah sekali dan antran kencing makin lama makin panjang. Sebelum pintu masuk juga tersedia dispenser dengan gelas plastik untuk minum para tamu.

Rombongan kami adalah yang paling pagi memasuki ruangan. Jam masih kurang dari jam 7. Wah, alamat menunggu berjam-jam. Posisi duduk paling strategis sayangnya sudah terisi penuh. Saya mendapatkan baris ke 4, baris paling belakang di tempat terdepan.

Menit demi menit berlalu. AC di dalam situ seakan tak bekerja sempurna, saking banyaknya manusia yang terus mengalir masuk. Di sela-sela menunggu, saya mengikuti terus menit demi menit acara Obama dan rombongan. Dari hotelnya, kemudian ke Istiqlal, teman-teman terus meng’update termasuk foto-foto dari Elnino dalam artikel ini. Akhirnya malah disepakati ‘kolaborasi dadakan’…haha…

Parkiran salah satu kantor yang kosong tanggal 10 November 2010 dan jalan di depan kantor tsb


The Beast – Limousine Kepresidenan saat melintas di depan salah satu kantor


Waktu terus merambat. Tamu terus mengalir memenuhi seluruh tribun, baik di belakang maupun kanan dan kiri. SS dan beberapa petugas terlihat sibuk mondar mandir selain mengawasi ke sekeliling ruangan, ada juga yang menyiapkan podium pidato, sound-check, mencoba menggantungkan lambang kepresidenan di podium, dsb.

Mendekati jam 9 tampak rombongan menteri dan public figures memasuki ruangan dan duduk di belakang kami semua. Ada Andi Mallarangeng yang selalu menjadi idola di mana beliau hadir, nampak beberapa wanita mengajaknya berfoto. Nampak pula mantan Menteri Kesehatan Fadillah Supari, kemudian Menteri Pendidikan Nasional M. Nuh, menyusul kemudian adalah Din Syamsuddin.

Tiba-tiba terjadi keriuhan semua orang di dalam ruangan. Ruangan seakan meledak dengan tepuk tangan meriah dan teriakan. Jam menunjukkan 09:20 ketika mantan presiden BJ. Habibie yang berjas lengkap memasuki ruangan. Beliau membawa handycam sambil mengarahkannya ke sekeliling ruangan, baik yang di lantai satu maupun yang di tribun. Tepuk tangan dan sorak sorai membahana, Habibie masih dicintai rakyatnya. Spontan tamu yang di sekeliling beliau berdiri, ada yang menyalami ada yang mengajak foto bersama dan juga ada yang sekedar memfoto beliau.

Tepat jam 09:30 terdengar: “Hadirin sekalian, Presiden Amerika Serikat (jeda sejenak), Ladies and Gentlemen, President of the United States of America, Barack Obama”

Pecahlah ruangan dengan gemuruh tepuk tangan, sorak sorai, bahkan suara suit-suit di sana sini terdengar membahana. Seluruh hadirin tanpa diminta berdiri menyambut Obama memasuki ruangan, sendirian tanpa First Lady. Berjalan menaiki panggung di depan, berhenti sejenak, melambaikan tangan berkeliling, melihat ke atas sekeliling tribun, dengan terus diiringi tepuk tangan panjang.

Sambil berjalan Obama berkata: “Terima kasih.  Terima kasih, thank you so much, thank you, everybody. Selamat pagi.”

Setelah sampai di podium: Obama mulai berpidato pertama-tama menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh jajaran civitas academica Universitas Indonesia.

Dan kemudian mengucapkan salam kepada hadirin semua.

“Assalamualaikum dan salam sejahteraThank you for this wonderful welcome. Thank you to the people of Jakarta and thank you to the people of Indonesia. Saya pulang kampung nih”. Yang tentu saja disambut dengan gemuruh tepuk tangan yang cukup panjang.

Pada intinya, pidato Obama terbagi menjadi 4 bagian:

  • Masa kecil Obama di Indonesia
  • Pencapaian Indonesia
  • Comprehensive partnership antara Indonesia dan Amerika
  • Remark tentang dunia Islam

Beberapa remark menarik dan menyentuh dari pidato Obama tentang masa kecilnya di Jakarta:

“Let me begin with a simple statement:  Indonesia bagian dari diri saya. (tepuk tangan yang gemuruh dan lama). I first came to this country when my mother married an Indonesian named Lolo Soetoro.  And as a young boy I was — as a young boy I was coming to a different world.  But the people of Indonesia quickly made me feel at home.”


Remark menarik dari Obama adalah bahwa Hotel Indonesia adalah salah satu bangunan tertinggi di Jakarta dan Sarinah adalah satu-satunya mall yang ada ketika itu, dan juga jumlah becak dan bemo yang jauh melebihi jumlah mobil ketika itu.

Gemuruh tawa terjadi lagi ketika Obama menirukan ucapan tukang sate yang sering lewat di depan rumahnya: “teee satee…” dengan fasih dan mirip sekali dengan tukang sate. Sate dan bakso adalah Obama remarkable favorite food semasa kecilnya.

Berikutnya: And while my stepfather, like most Indonesians, was raised a Muslim, he firmly believed that all religions were worthy of respect.  And in this way he reflected the spirit of religious tolerance that is enshrined in Indonesia’s Constitution, and that remains one of this country’s defining and inspiring characteristics.”


Remark untuk mendiang ibunda Obama: “….a time that made such an impression on my mother that she kept returning to Indonesia over the next 20 years to live and to work and to travel — and to pursue her passion of promoting opportunity in Indonesia’s villages, especially opportunity for women and for girls. And I was so honored, I was so honored when President Yudhoyono last night at the state dinner presented an award on behalf of my mother, recognizing the work that she did.  And she would have been so proud, because my mother held Indonesia and its people very close to her heart for her entire life”.


Pujian untuk demokrasi Indonesia: In recent years, the world has watched with hope and admiration as Indonesians embraced the peaceful transfer of power and the direct election of leaders.  And just as your democracy is symbolized by your elected President and legislature, your democracy is sustained and fortified by its checks and balances:  a dynamic civil society; political parties and unions; a vibrant media and engaged citizens who have ensured that — in Indonesia — there will be no turning back from democracy.”


Remark Obama untuk diversity di Indonesia: that spirit of tolerance that is written into your Constitution; symbolized in mosques and churches and temples standing alongside each other; that spirit that’s embodied in your people — that still lives on. Bhinneka Tunggal Ika — unity in diversity. This is the foundation of Indonesia’s example to the world, and this is why Indonesia will play such an important part in the 21st century”.

Dan seterusnya berkali-kali Obama menyebutkan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila, keberagaman, kerukunan umat beragama, kebebasan beragama, freedom, partnership antara Indonesia dan Amerika yang saling terkait dan menguntungkan.

Keterkaitan perekonomian 2 negara juga disampaikan dalam pidatonya ini. Pengembangan export masing-masing negara, kerjasama yang lebih luas dalam bidang pendidikan, berharap makin banyak orang Indonesia yang belajar ke Amerika dan sebaliknya.

Yang penting juga adalah prioritas Obama untuk memerbaiki hubungan dengan dunia Islam, yang disebutkan Obama bahwa tidak mungkin akan dapat diperbaiki hanya beberapa kali pidato darinya.

Selengkapnya dapat dibaca di: http://www.america.gov/st/texttrans-english/2010/November/20101109213225su0.4249035.html dan sebagian dapat dilihat di:

Di penghujung dan penutup pidatonya:

The stories of Indonesia and America should make us optimistic, because it tells us that history is on the side of human progress; that unity is more powerful than division; and that the people of this world can live together in peace.  May our two nations, working together, with faith and determination, share these truths with all mankind.

Sebagai penutup, saya mengucapkan kepada seluruh rakyat Indonesia:  terima kasih. Terima kasih.  Assalamualaikum.  Thank you.”

Pidato selama kurang lebih 30 menit disampaikan dengan penuh semangat, kehangatan yang tulus, uluran persahabatan dan kenangan mendalam akan negeri ini dan rakyatnya di mana Obama pernah tinggal selama 4 tahun.

Kemudian Obama menuruni panggung berjalan ke barisan terdepan untuk bersalaman. Seketika histeria massa pecah, semua urusan protokoler ditabrak, hadirin yang duduk di baris ke 2 dan 3 spontan berdiri di kursi dan melompat ke baris depannya, berusaha berjabat tangan. Nampak dalam foto-foto ini, bahkan SS pun ikut tersenyum hangat dan tidak tegang sama sekali.

Setelah berjabat tangan, Obama kembali menaiki panggung dari arah berlawanan, melambaikan tangan dan tersenyum lebar dan hangat ke seluruh hadirin, menengadah melambai ke hadirin di tribun. Dan usailah sudah kunjungan POTUS hari itu. Semua kelelahan, kerepotan menjelang kedatangan Obama terbayar lunas.

Walaupun banyak media yang menyebutkan bahwa isi pidato Obama biasa-biasa saja dan tidak ada yang istimewa, tapi saya yang hadir di hari bersejarah itu mengatakan sebaliknya. Suasana, kehangatan, uluran persahabatan, ketulusan, kenangan mendalam akan masa kecil Obama, yang dilengkapi dengan eye contact, gesture, body language, penekanan dan jeda yang tepat dan piawai, menjadikan pidato Obama menurut saya memang luar biasa. Dan saya bersyukur menjadi bagian dari hari bersejarah tsb.

Tidak ada satu negara pun di dunia ini selain Indonesia yang memiliki pertalian emosional begitu kuat dengan seorang POTUS, kapanpun juga dan ini bukan hanya sekedar euphoria sesaat atau euphoria semata.

Antrean lebih panjang daripada waktu masuknya terjadilah. Di sana sini saya melihat celebrity politik dan satu celebrity socialites yaitu Nadine Chandrawinata. Saya melihat OC. Kaligis, Wimar Witoelar, Jaya Suprana (sempat berbincang sejenak), CEO media, peneliti senior kawakan LIPI dan juga Yohanes Surya – tamu kita di Baltyra beberapa waktu yang lalu.

Di dekat pintu masuk sudah menanti kejutan kecil lainnya. Kaos yang bertuliskan “Welcome back Mas Obama to Remarkable Indonesia” dan bergambar Obama dibagikan. Satu lagi tanda mata dan kenangan untuk hari bersejarah ini.


Saya menutup hari yang mengesankan dan bersejarah itu dengan mengemudi pulang dari Senayan…

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

2 Comments to "[Exclusive] Obama: “Saya pulang kampung…”"

  1. Benny Christiono  12 November, 2017 at 21:09

    30 menit pidato……
    Pulang kampung!

  2. Adhe  20 January, 2011 at 20:11

    walo telat tetep suka sama tulisan JC tandem dg Elnino, thanks ya sudah sharing kisah ini berasa ikut hadir di Balairung UI hehe….trus kagum sama orang Indonesia yg pake gadget keluaran terakhir SS aja malah blum tau hehe…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.