Jalan-jalan di Perantauan (2 – habis)

R. Wahyu


Setelah ayah dan anak puas mandi, Ishoma, makan Lontong pecel Rp 5000, kami melanjutkan perjalanan.

Berbekal info tukang jual rambutan, ada jalan menuju Bandar Lampung melewati pinggiran laut, jalannya beraspal, lebih cepat lebih hemat, begitu katanya. Asyik… tertawa girang kami kontan setuju mengambil jalan itu.

Benar juga…selepas Pantai Terbaya, aneka bentuk gugusan karang-karang berserakan indah, satu dua kokoh berpenghuni pohon yang renta sendiri, akarnya mencengkeram kuat seolah ingin berkuasa atas pulau mungilnya, jarang yang lebat daunnya, memang benar-benar pohon tua …

Batu-batunya banyak bertebaran sepanjang pantai, aneka ragam bentuknya, besar kecil, bulat lonjong seukuran bola, dari bola kasti sampai bola sepak, lebih besar lagi adalah batuan gunung yang mengkilat terterpa air dan panas saban harinya…kurang lebihnya seindah pantai Pulau Belitung di film Laskar Pelangi.

Terkesima indahnya laut dan pantainya, tak sadar kami sudah jauh masuk ke pelosok hutan, tak ada sinyal Hp, ditambah memang batre Hp kami bertiga sudah tinggal menunggu wafatnya.

Pengambilan gambar hanya kami lakukan dari dalam mobil ( ngeri tau…di tengah hutan, jarang orang yang lewat sepanjang kami memutuskan melewati arah ini, kalaupun ada, pasti mereka menyarankan untuk kembali lewat jalan Tol Kota ).

Memori  foto sudah benar-benar  tak mau kompromi, sudah full, Hp yang lainnya sudah tak ada powernya. Apa boleh buat, kami hanya berdecak kagum sepanjang jalanan. Daya tarik pantai mengikat kami meneruskan arah, Banyak juga kok kampong-kampung kecil kami lewati, rumah-rumah dari bambu dan ilalang yang sepi ditinggal penghuninya melaut dan memancing. Kerbau yang makan rumput tanpa penunggu, dan sesekali kampung lumayan agak ramai juga ada.

Sempat juga sih kami berpapasan dengan sejumlah turis asing, membawa papan surfing dan tenda, pasti mereka menuju Liwa.  Berarti ada benarnya kami menggunakan alternative jalan ini.

Sudah mendekati jam 5 sore, tak juga kutemui keramaian yang berarti, yang ada setelah kampung adalah jalan rusak berbatu , setelah itu masuk hutan, naik gunung, turun gunung, kampung lagi, naik turun gunung dan keluar masuk hutan lagi….hadooh…gelap sudah di depan mata, solar tinggal 50 km lagi.

Anakku sudah mulai merapat duduknya, kulihat mukanya sedikit cemas, antara takut, penasaran, ngantuk dan tentu saja lapaar…Ayah sesekali bercanda, namun tawa kami tak lagi segar, sama-sama tertawa kecut…kapan nyampainya…

Di pertigaan Padukuhan Limau kalo gak salah, ada bapak-bapak menyarankan kami kembali, waduuh, melewati jalan tadi dalam gelap, tidak lah yau….kami ingin terus, disarankan jalan lurus, mengikuti arah kedung tataan, nanti akan ketemu jalan simpang menuju Pring Sewu dan Pesawaran.

Haaah?? Pring sewu?? sudah sejauh itu masih aja mau arah pring sewu?? jadi critanya bukan lagi arah melintas tapi justru memutar yang kami ambil……memang sih, dari peta sudah terlihat arahnya memutar, tapi tak terbayang kalau sejauh ini…sedikit menyesal juga rasanya..

Sudahlah, yang penting nyampai aja, kami terus mengikuti jalan beraspal (tepatnya bekas jalan di aspal,,) rutenya tetap, naik turun gunung, keluar masuk hutan dan kampung, bedanya, sekarang Hp sudah mati semua, dan gelaaaaap…hiiiii.

Di peta tertulis deretan pegunungan yang mengelilingi kami, Pegunungan Kukusan,Peg. Sekala berak, dan  Peg. Pesawaran…yang terakhir sudah lumayan ramai penduduk.

Dua jam lebih akhirnya jalanan mulai agak ramai dan terang, sudah ada Indomaret, Alfamart , berarti sudah berbau kota….kami istirahat sejenak sambil mengisi solar di kios bensin di pinggir jalan, penjual solar tertawa terpingkal-pingkal mendengar ceita kami mengambil arah jalan tadi, kok mau-maunya…padahal di situ ada daerah berjulukan Kurungan Mayit, siapa yang tersesat ke situ jarang yang bisa kembali, ada juga daerah angker, tertulis ‘dilarang ambil Wudhu ” sempat terpikir pasti akses ke bawah jurangnya ada tempat bagus, minimal ada tempat untuk sholatnya, tapi  melihat rimbunnya area air terjun kecilnya, nyali kami ciut, mirip jalan masuk goa…ternyata itu adalah tempat angker…

Yeee…telat pak, sudah berbau kota kok..

Katanya masih sejam lebih kami akan sampai Pesawaran, berarti sejam lagi baru nyampai Bandar Lampung. total 2 jam lageee….

Tepat molor sejam dari perkiraan awal, akhirnya kami sampai di jalan utama, lho ?? Kok sampai di pos polisi optik modern ?? he he…pos polisi yang tadi kami ketawain karena papan namanya nyambung dengan Optik Modern, daerah Pesawaran….

Tertawa kami lepas lagi, lega rasanya bisa menemukan jalan pulang. Mampir ngebakso dan Soto  dulu yuks… Aku  neg mau muntah sebenarnya…..antara laper, cemas dan mabuk darat .Mau molor berapa jam lagi gak apa-apa kalau sekarang…sudah aman..

Kapan-kapan harus dijelajahi dari arah lampung, bener nggak ya bisa tembus Kota Agung.. Bener kok, hanya waktunya sehari penuh  baru bisa…enggak percaya?? Silahkan coba….seru banget kok…

Potensi wisata daerah Lampung memang aduhai, hanya kurang perhatian dari pemerintah daerah dalam pengembangannya. Namun saat ini Lampung sedang giat membangun terutama tempat pariwisata berikut penunjangnya.

Kalau mau berpetualang,  jangan lupa membawa bekal, peta dan sepanjang jalan harap mengunci pintu rapat-rapat.

Oh iya, banyak oleh-oleh dari Lampung lho, ada Keripik Pisang, Dodol Duren dan Kopi Lampung. Kopi Lampung terkenal sangat istimewa, karena cara pengolahannya yang masih alami. Ada juga Kopi Luwak khas Lampung.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.