Berkah Menonton “Emak Ingin Naik Haji”

Galuh Chrysanti


Kubimbing lengan Ibu mertuaku ke arah kamar kecil Bioskop 21 di Bogor itu. Sekilas pandanganku beradu dengan mata  Pak Satpam yang menyorotiku penuh tanda tanya.  Kuanggukkan kepalaku, seakan mohon pengertiannya.

Maklum, aku dan Ibu mertuaku tersayang baru keluar dari studio, lima menit setelah penonton terakhir meninggalkan ruangan itu. Sebelumnya, kami berdua berpelukan lama. Kusediakan pundakku untuk air mata beliau. Air mata yang tak juga surut ketika kami akhirnya tiba di kamar kecil. “Terimakasih, Mbak… terimakasih,” ucap beliau berkali-kali seraya erat memelukku.

Kami berdua baru saja menyaksikan film “Emak Ingin Naik Haji” yang diangkat dari cerpen karya Asma Nadia. Memahami hati Ibuku yang teramat lembut, dari rumah aku sudah mengingatkan, “Bu, dari resensinya, film ini sepertinya bakalan mengharukan, deh. Lebih baik Ibu siap-siap saja bawa saputangan, Bu.”

Walaupun sudah mempersiapkan sedemikian rupa, aku sungguh tak mengira bahwa film “Emak Naik Haji” ternyata jauh lebih syahdu  dari yang kubayangkan sebelumnya. Sangat inspiratif, sangat menggugah dan menggerakkan, Subhanallah. Dan amat tak kusangka, bahwa film indah ini adalah jalan bagi cahayaNya  menerobos temaramnya hati dan pikiranku. Benderang yang membuatku mampu memantik visi baru untuk hidupku, terpatri kuat hingga kini dalam sanubariku.

Waktu itu kondisi keuanganku sangat terbatas. Allah sedang berkehendak menguji keluarga kami dengan sempitnya rizki, bisnis yang terpuruk sampai nadir. Ujian yang penuh hikmah dan justru semakin membuatku bertambah yakin, Allah-ku itu Maha Pemurah, Subhanallah.

Tapi surga pastilah bukan gratis. Jika iman bisa ‘dibeli’,  membaca resensi film ini di surat kabar membuatku percaya bahwa  memaksakan diri untuk membayar  tiket “Emak Ingin Naik Haji” ini pastilah terhitung investasi akhirat. Begitu logikaku meraba.

Sungguh teman,  bagiku, film  ini adalah film yang luar biasa penuh manfaat dalam kesederhanaannya.

Air mata bercucuran di depan layar lebar itu. Bukan cuma milikku dan Ibu. Tapi kusepertinya  juga dari hampir seluruh penonton kala itu. Bunyi sedu sedan serta sesenggukan tertahan seakan menjadi soundtrack film tersendiri, terutama pada saat-saat klimaks yang ditata apik oleh sang sutradara dan penulis skenario.

Namun walau mataku bekerjapan menonton adegan-adegan mengharukan di layar, hatiku sibuk berdialog dengan Sang Kuasa.

“Allah, Rabb, sungguh aku iri.. sungguh aku cemburu dengan hambaMu yang menulis cerita ini, Asma Nadia. Lewat tulisannya, hadirlah hidayahMu pada mereka yang menyaksikan film ini, insya Allah. Tercekat kami oleh kerinduan padaMu, lewat indahnya film ini, Rabb.”

Teman, bioskop itu menjadi saksi pikiranku ketika ia menalar, bahwa jika ada kesempatan untuk menjadi jalan hidayah untuk orang lain dengan cara yang seindah ini, maka kesempatan itu sangat layak untuk kuperjuangkan. Bukankah sabda Rasul kita saw, seseorang mendapat hidayah karenamu, sungguh lebih baik daripada dunia seisinya?

CahayaNya kurasakan benderang di bioskop yang gelap itu. Bisakah Engkau bayangkan, teman, berapa orang yang hatinya jadi merindu Allah lewat film ini? Dan ini baru satu bioskop, satu kali pemutaran. Sedang film ini pasti diputar di seluruh penjuru Indonesia, belum lagi versi DVD-nya. Lalu berapa ‘dunia dan seisinya’ yang dijanjikan Allah pada seorang Asma Nadia dan semua yang terlibat pada pembuatan film ini, insya Allah ? Allahu Akbar.

Inilah apa adanya jalan berpikir seorang hamba Allah yang lemah. Bukan bermaksud semata-mata menghitung-hitung amal pada Allah yang tak terkira kebaikanNya itu. Tapi bagi diriku yang kala itu sedang merasakan sempitnya rizki dunia, rasanya tak ingin juga mengalami sempitnya rizki akhirat kelak, naudzubillah min dzalik.

Jika dengan menulis  ternyata  terbuka kemungkinan bahwa  Allah akan memberikan  sesuatu yang lebih baik dari pada dunia dan seisinya,  maka kupercaya, kemampuan menulis itu harus kuperjuangkan, dengan segenap hati  dan ikhtiar raga, insya Allah.

“Menulis, semata-mata untuk jadi jalan cahayaNya,” begitu tekadku. Maka menulis untukku bukan sekedar indah, tapi harus menggerakkan, harus mengajak ke arah kebaikan. Aku berusaha, tulisanku membuat pembacanya insya Allah menjadi semakin yakin pada kebesaran Allah, pada kebaikan Allah yang tak terperi. Dan karena kuanggap menulis adalah cara seorang hamba bekerja untuk Tuannya, Allah SWT, maka jelas ini adalah bukan permainan belaka. Harus kubuktikan dengan kerja keras, alokasi waktu yang cukup, bukan lagi sekedar hobi pengisi waktu, insya Allah.

Seumur hidup, belum pernah aku menulis fiksi religius. Membayangkannya pun tidak pernah. Tapi sepulangku dari menonton film itu, Alhamdulillah Allah memudahkanku untuk menulis seperti yang kujanjikan pada diriku sendiri di bioskop itu.

Satu minggu, satu fiksi religius. Lima minggu, lima fiksi religius berturut-turut. Dan sedikit pun tak kusangka, tulisanku mendapat respon yang mengharubiru hatiku dari teman-teman di jejaring sosial facebook. Sungguh tak ada yang luput dari pelingkupanNya. Dia pastilah mendengar jerit hatiku sewaktu kutonton film “Emak Naik Haji” kala itu.

Akhir Agustus 2010, aku ikut pelatihan menulis. Pulang dari pelatihan,  aku ‘menggila’. Tak sampai dua bulan usai pelatihan, notesku di facebook bertambah 27 notes. Itu berarti paling tidak satu note baru setiap dua hari sekali, Alhamdulillah.

Teman fb-ku yang tadinya hanya tiga ratus, kini telah melewati angka 2500. Dan 90% aku yang dengan sengaja meng-add, demi belajar menjadi penulis. Seorang teman via chatting fb pernah bertanya,”Mbak Galuh, banyak kenal sama penulis ya? Tahu jalur ke penerbitan jugakah? Ajarin, dong!”

Tersenyum aku membaca pertanyaannya. Andai dia tahu, aku sungguh bukan siapa-siapa. Hanya seorang yang ingin mendapat ridho-Nya dengan menulis, pembelajar yang sengaja menambah teman-teman dari lingkungan kepenulisan agar dapat terus belajar.

Pada teman-teman yang baru mulai sepertiku, sedapat mungkin kusempatkan mampir ke wall fb mereka untuk saling menyuntikkan semangat menulis. Karena kupercaya, memotivasi teman untuk menulis adalah sama pentingnya dengan menulis itu sendiri.

Kadang ada juga rasa minder yang menyelinap ke celah hatiku ketika membaca notes seorang penulis terkenal dengan jalinan katanya yang amat indah. “Allah, kapan aku bisa membuat tulisan sebagus ini?”

Tapi lalu kuingat lagi niatku. Menulis  adalah untuk mengabarkan kabar gembira dari-Nya, yang terpenting adalah hikmah yang terajut didalamnya. Keindahan adalah bonus dan bukan yang utama. Mengingat hal ini, melesat lagi semangatku ke angkasa.

Kini kunikmati, menulis sebagai kerjaku sebagai hambaNya. Disela-sela berjualan tiket pesawat terbang online, kutarikan jemari di atas keyboard, demi berbagi hikmah, berbagi hidayah, Insya Allah.

Bahkan aku sungguh tak tahu, apakah dari dulu aku bisa menulis, ataukah sebuah kekuatan niat  atas ijin Allah membuatku jadi mampu menulis?

Tak sampai dua bulan setelah pelatihan, dua buah portal meminta beberapa tulisanku untuk di-share di portal tersebut. Sebuah group motivasi di fb pun mengajakku jadi pengisi tulisan di sana. Beberapa teman mulai mengunjungi inbox fb-ku, bertanya bagaimana caraku menulis. Semua ini sangat kusyukuri, dan kuhikmati sebagai cara Allah membisiki hatiku, bahwa jalan yang kupilih untuk berjuang di jalanNya ini sudah benar, insya Allah.


Kuingat sebuah pertanyaan dari seorang motivator yang kubaca dari sebuah buku setahun lampau, ”Sebagai apa Anda ingin dikenang  jika Anda meninggal dunia nanti? “

Pertanyaan yang baru bisa kujawab sekarang, terimakasihku pada Mbak Asma Nadia.

Teman, doakan aku, insya Allah aku ingin dikenang sebagai penulis inspiratif,  jika tiba waktu Allah menjemputku nanti.

Kabulkan doa ini, Ya Mujiib

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.