[Family Corner] Harusnya Marah

Dian Nugraheni


Harusnya marah, atau paling nggak ya jengkel.., gondik (saking gondoknya)…he2..

Bagaimana enggak.., menjelang Fall, musim Gugur yang dingin karena banyak angin keras dan beku, aku sudah mengumpulkan uang, kemudian  membeli sepatu boot dan  jaket hangat buat aku dan anak-anakku…, terutama karena sepatu boot tahun lalu ternyata sudah nggak muat di kaki anak-anak.

Kali ini yang istimewa adalah jaketnya, aku membeli jaket yang bagi aku sih, cukup keren. Harganya juga lumayan menguras dompet. Tapi aku pikir, tak apalah, setahun sekali ini… Warna Ungu untuk si Adek, warna Pink untuk si Kakak, dan warna Merah Bata buat aku…hmm…, besoknya langsung dipake ke sekolah oleh si Kakak dan si Adek, aku juga, aku pake berangkat dan pulang kerja…, serasa…, serasa ikutan keren…he2…

Nah, ceritanya, Flores, teman sekolah si Kakak, main ke rumah kami, dan pulangnya sudah agak sore, udara tentu saja semakin dingin, dan dia bilang, “pinjam jaket dong…” Dan entah gimana, akhirnya si Flores pinjam si Pink, jaket baru punya si Kakak.

Beberapa hari kemudian, aku tanyakan tentang jaket itu, “Kak, jaketnya sudah dikembalikan, belum..?”

“Belum, Mah.., dia lupa bawa ke sekolah katanya..” gitu jawab si Kakak.

Besok-besoknya aku tanya lagi, jawabnya selalu sama, terus aku bilang, “Lupa apa gimana sih Kak..? Itu jaket mahal lho.., Mamah belinya aja pake ngumpulin uang dulu…”

“Iya sihh.., tapi dia bilang lupa mlulu…” kata si Kakak kehabisan ide untuk menjawab desakanku.

Lalu pelan-pelan aku tanyakan, tentang kondisi kehidupan keluarga temannya itu (karena si Kakak juga pernah mampir ke apartemen si Flores).., dan seperti sudah aku duga, temannya itu termasuk imigran yang hidup cukup pas-pasan, hidup dalam satu apartemen, berjubel-jubel dengan banyak saudara-saudara yang berasal dari negara yang sama dengan negara asal si Flores, sekitar Amerika Tengah.

Dan sebagai catatan, imigran dari beberapa negara di Amerika Tengah dan Amerik Selatan, biasanya adalah orang-orang yang sangat miskin dan sangat susah bahkan hanya untuk mencari makan, makanya mereka berbondong-bondong menjadi imigran (dan kebanyakan adalah  imigran gelap) ke Amerika, untuk mencari makan dan hidup yang lebih layak.

Kerongkonganku jadi tersekat, pengen nangis rasanya. Aku membayangkan, kalau si Kakak yang mulai remaja sedang punya keinginan, biasanya dia akan terus merayuku, misalnya, “Mah, besok ke Wet Seal yaa, ada baju kotak-kotak baguuuussss…banget..” kalau belum dibelikan, biasanya dia akan cerita, bahwa teman-temannya banyak yang pakai baju kotak-kotak, karena sedang ngetrend, dan “Aku juga pengen dong, Mah…” he2..mana tega dengar rayuan anak begitu, kan..? Dan biasanya, sepanjang itu masih wajar, aku akan berusaha memenuhi keinginannya.

Pastinya, si Flores ini juga demikian, mungkin dia suka, dan pengen banget jaket seperti punya si Kakak, makanya ketika main ke rumah, pulangnya dia sengaja pinjam jaket yang Pink itu (di ruang tamu, kami punya gantungan jaket terbuka, yang di situ tergantung lebih dari 15 aneka macam jaket dan sweater, dari yang paling tipis, sampai yang paling tebal dalam berbagai warna, tapi hanya si Pink yang paling baru…).

Sekarang, bukan hanya kerongkonganku yang tersekat, hatiku pun menangis membayangkan si Flores…

“Kak, kalau Flores lupa melulu mulangin jaket, ya sudah deh, biarin dulu, mau sampai kapan dia akan kembalikan.., atau, kamu ngobrol deh sama dia, kali aja dia pengen jaket itu..?” kataku pada si Kakak.

“Lah, kalau Flores  pengen, trus jaket itu mau Mamah kasihkan dia, gitu..? Trus aku gimana dong..?” si kakak mulai protes.

“Kakak pake punya mamah..”

“Halah emohh, kepanjangan, kegedean, Mah…!!” sergah si Kakak.

“He2.., ya udah, kalau memang nggak dikembalikan sampai Winter nanti, bilang aja ke Flores, “Mamahku senang kalau kamu mau pake jaket itu.., gitu..”

“Hmm…”  gumam si Kakak, nggak jelas makna gumamannya.

Gusti Allah, Tuhanku…, aku bersyukur bahwa Kau selau menjaga kami dalam kecukupan (karena kami juga tidak menginginkan berlebihan..), tentu saja kami tak akan kekurangan hanya karena memberikan sebuah jaket yang cukup mahal buat seorang gadis remaja yang begitu menginginkannya…, apalagi kalau memang benar si Flores sangat mengharapkan punya jaket itu…, aku ikhlas…, karena aku menyayangi semua anak di dunia ini.., entah anak-anak siapa pun.., karena mereka adalah sumber dari rasa CINTA…

Aku ingin membuat semua anak, anak siapa pun, di mana pun, tersenyum dalam dunianya…, dunia anak-anak, dunia yang harusnya tetap ceria…

Ayo teman-temanku semua, buka hati kita masing-masing, sayangi anak-anak kita, dan anak-anak lain, terutama yang memang membutuhkan uluran  kasih sayang kita. Begitu banyak cara dan jalan agar kita bisa mengekspresikan Cinta kita pada mereka….

Sayangi anak-anak dengan mengajarkan kata-kata yang indah dan sopan, ajari mereka untuk berkata dan bersikap jujur, teladani mereka bagaimana saling peduli dengan sesama, ingatkan mereka untuk selalu bersyukur dan berterimakasih, ajak mereka untuk bisa merasakan, bahwa saling mencintai adalah keindahan yang luar biasa…dan seterusnya…!!

Salam dunia ceria anak-anak….

Virginia,

NH Dian

Hari kamis, 28 Oktober 2010, jam 6.19 sore…

(daun-daun menguning, memerah, mulai berjatuhan…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.