Pertanyaan Dan Harapan Untuk Rama Dira J

Fahri Asiz


Dalam jagat sastra, nama Bamby Cahyadi, Benny Arnas, Sungging Raga, Khrisna Pabichara, dan Guntur Alam , rasanya mulai cukup dikenal publik sebagai “golongan” baru atau mengutip istilah Ayid Suyitno PS (dalam komen di status FB saya), pendatang baru dalam jagat sastra Indonesia (baru di sini sangat relatif, tergantung bagaimana kita menyikapinya).

Intensitas dan produktifitas masing-masing cerpenis ini rasanya sulit diukur dan ditakar. Masing-masing jelas—punya gaya (style) dalam menorehkan goresan-goresan pena mereka. Entah berada dalam kedalaman atau hanya (masih) mengapung di permukaan, jelas itu adalah bagian lain dari penulisan catatan ini.

Satu hal yang tak bisa diluruhkan, kemunculan para cerpenis muda ini semakin membawa warna dan aroma yang indah dalam jagat sastra Indonesia. Semakin banyaknya ide yang bertebaran, dari mulai hanya ingin bercerita, mengusung misi, maupun membawa lokalitas benar-benar menjadikan khazanah dan sebuah wacana yang tak bisa disingkirkan.

Di antara nama-nama itu, tak bisa pula dikesampingkan tentang seorang cerpenis kelahiran Tarakan, 4 Februari 1980, Muhammad Raharja atau yang lebih dikenal dengan nama Rama Dira J. Sarjana Hubungan Internasional dari UGM ini pun cukup mencuat di antara nama-nama di atas. Cerpen-cerpennya banyak bertumbuhan di koran nasional atau pun lokal. Namanya pun lekat melekat di benak para pembaca cerpen.

Saya pribadi, jauh sebelum bertemu muka dengan Rama Dira, sudah lama membaca torehan penanya, terutama di Media Indonesia. Sebut saja cerpen Mimpi Berwarna Kelabu – Minggu, 6 Mei 2007 dan Dua Penari (Untuk Tuan Kawabata) – Minggu 15 Juli 2007, cerpen yang sudah menunjukkan siapa Rama Dira sebenarnya, dengan kekuatan pembuka cerpen dalam bentuk deskripsi yang mengesankan.

Sebuah cerpennya yang berjudul Kucing Kiyoko mendapat kehormatan untuk bisa tampil dalam Cerpen Kompas Pilihan 2009, bersanding dengan nama-nama besar lainnya dalam dunia sastra.

Penggiat sastra yang satu ini (mungkin) boleh dikatakan tak cukup produktif pada saat sekarang, sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya di mana boleh dikatakan, masa-masa produktifnya sangat kencang. Atau barangkali, Rama sedang menunggu saat yang tepat untuk muncul lagi ke permukaan.

Hal ini yang membuat saya ingin sejenak menulis catatan kecil tentang Rama Dira. Terakhir, kalau tak salah, sempat muncul bersanding dengan Benny Arnas. Kolaborasi yang menarik, tapi akan sangat lebih menarik bila muncul sendiri-sendiri dengan kekuatan masing-masing.

Bamby Cahyadi telah muncul dengan kumcer “Tangan Untuk Utik”. Benny Arnas telah muncul dengan “Bulan Celurit Api”. Sungging Raga telah muncul dengan “Ketenangan Merentang Kenangan”. Khrisna Pabichara telah muncul dengan “Mengawini Ibu”. Lantas pertanyaan untuk Rama Dira, kapankah akan muncul dengan kumcer teranyarnya? Jelas hal ini hanya Rama yang bisa menjawab. Tetapi sebagai pengagum dan penyuka karya-karyanya, saya sungguh tidak sabar dan berharap Rama akan selekasnya menerbitkan kumcernya yang pertama.

Rasanya tak perlu saya ungkapkan, perihal cerpen-cerpen Rama yang jelas menunjukkan kwalitas yang mumpuni. Malam Kunang-Kunang yang mampir di Kompas dan Kucing Kiyoko yang masuk Cerpen Kompas Pilihan 2009, adalah cerpen-cerpen yang gurih. Sungguh, saya geregetan sekali menunggu kehadiran kumcer Rama. Para penerbit pasti siap menampung dan menerbitkan kumcer Rama ini.

Ayo, Rama… kapan kau akan menerbitkan kumcermu? Kapan? Kenapa akhir-akhir ini jarang sekali kubaca cerpen-cerpenmu? Ah, barangkali kau lupa, koran nasional maupun lokal telah tak sabar menanti kiriman cerpen-cerpenmu yang penuh gizi itu.

Ini hanya sekadar catatan kecil saja untuk pertanyaan dan harapan kepada Rama Dira. Karena saya yakin, bukan hanya saya yang menunggu kumpulan cerpen Rama Dira J.


Salamku,

Fahri Asiza


Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Fahri Asiza. Make yourself at home. Terima kasih Dewi Aichi yang memerkenalkan satu lagi kontributor di sini. Wah, rupanya terjadi ‘penggeretan berjamaah’…Dewi Aichi menggeret Fahri Asiza, sementara Fahri Asiza dengan tulisan ini menggeret Rama Dira…terima kasih Fahri Asiza…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.