Sekali lagi tentang Norma, Nilai dan Diskriminasi

Nunuk Pulandari – Holland


Tambahan artikel tentang: Is het een gebrek aan de  Normen en Waarden of is het gewoon een Rasdiscriminatie

Teman-teman semuanya: “Hartelijk dank”. Maafkan saya karena tidak sempat membalas commentar anda satu persatu. Melalui artikel tambahan ini saya harap artikel sebelumnya menjadi semakin lengkap. Karena sebetulnya artikel aslinya merangkup artikel tambahan ini, tentunya dalam bahasa Belanda. Untuk anda dan agar tidak merepotkan suhu Josh kita, sudah saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia sekalian. Tetapi karena terlalu panjang harus dipotong sebagian. Saya hanya boleh menulis sebanyak plus minus antara 600 s/d 950 kata, yang kalau untuk ukuran artikel koran sebetulnya sudah jauh lebih dari cukup.

Dalam artikel tambahan ini saya menulis sedikit tentang “ruang lingkup/ ruang main/ pengotakan” ketiga pengertian yang ada dalam artikel  saya tentang “Norma, nilai dan  Discriminatie”. Mengapa?? Karena dalam kehidupan sehari-hari, dalam pemakaiannya  sering terjadi tumpang tindih dan kerancuan antara ketiga pengertian tersebut di atas. Hal ini menimbulkan kesukaran untuk menetapkan apakah suatu perlakuan negatief seseorang itu murni discriminatie atau hanya karena miskinnya pengetahuan seseorang tentang nilai dan norma yang dimilikinya.

Dalam artikel saya yang lalu, sebetulnya bisa dilihat tentang contoh kerancuan antara ketiganya. Dan karena sukarnya untuk memberikan jawabannya yang pas maka saya tuliskan artikel tersebut..

Berbicara tentang disciminatie biasanya mengacu pada seseorang atau sekelompok orang  yang diperlakukan tidak sama dengan yang lainnya.Perlakuan ini seringkali bersifat negatief. Dalam membicarakan tentang discriminatie terutama kita bisa memenemukan adanya tiga (3) hal yang menjadi pokok bahasan dan mendasari pengertian itu.. Pertama: Tentang bagaimana seseorang diperlakukan tidak adil oleh yang lainnya. Kedua: Tentang HAK-HAK seseorang. Dan yang ketiga: Tentang KEWAJIBAN seseorang.

Dan bila kita berbicara tentang nilai dan norma maka yang dibahas didalamnya adalah mengenai “ATURAN dan KETENTUAN”  yang menetapkan tingkah laku yang baik dalam pergaulan atau dalam berhubungan dengan sesamanya. Norma dan nilai biasanya berhubungan erat dengan etiket dan sopan santun. Sopan santun dan etiket ini seharusnya menjadi atribut seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Dan kedua hal ini sudah seharusnya dimulai / dimiliki dari rumah dan dilanjutkan/ diterapkan  dalam bermasyarakat. Seseorang yang membawa bekal norma dan nilai dari “rumah” dengan cukup kuat, akan mudah terhindar dari hal-hal yang berkaitan dengan discriminatie. Tetapi dalam prakteknya memang tidak semudah seperti dalam kata-kata yang tertulis.

Banyak sekali perbedaan latar belakang kehidupan seseorang yang dapat memicu terjadinya  baik proses discriminatie maupun proses pembekalan norma dan nilai pada seseorang. Walaupun ada beberapa point yang mungkin lebih dititik beratkan. Misalnya tentang faktor-faktor:

–         Keturunan
–         Suku bangsa
–         Nationaliteit
–         Tempat kelahiran
–         Kekayaan
–         Jenis kelamin
–         Agama
–         Konditie tubuh
–         Warna kulit
–         Intelligentie
–         “Kelas” seseorang dalam masyarakat
–         Umur
–         Politik yang dianut
–         Tingkat pendidikan
–         Pekerjaan
–         Sopan santun
–         Perilaku kehidupan seksual
–         Bahasa
–         Wajah / penampilan
–         Perilaku sosial lainnya, dll, dll


Saya kira ilmu “tepo sliro” dari para leluhur kita memang dapat dijadikan sebagai salah satu “rem” yang pakem sekali untuk menangkal terjadinya discriminatie. Karena dalam ilmu “tepo sliro” salah satu hal yang harus kita pelajari sejak kecil adalah  untuk menerapkan segala sesuatunya terlebih dahulu  pada diri kita sendiri sebelum kita melakukannya pada orang lain.

Jadi kalau kita tidak mau diperlakukan tidak adil ya harus  memperlakukan orang lain dengan adil. Tentang ilmu “Tepo sliro” dalam prakteknya akan mudah kita terapkan dalam satu masyarakat dan budaya yang sama. Dan memang lain halnya kalau kita hidup dalam masyarakat dan budaya yang berbeda. Anda bisa bayangkan kalau anda sebagai orang Indonesia yang dibekali dengan banyak sekali nilai dan norma serta etiket kehidupan (belajar sejak kecil baik secara langsung maupun tidak langsung) tinggal menetap di negara yang super multinationaliteit. Apa yang akan terjadi? Kalau tidak hati-hati dan tidak dapat memilah-milah mana yang bisa dan tidak bisa diterapkan pasti akan terjadi benturan-benturan dalam bermasyarakat. Perbedaan norma dan nilai yang ada justru akan dapat (tetapi TIDAK HARUS) merembet menjadi hal yang berbau discriminatie.

Saya pernah menulis tentang pengalaman saya dengan “werkster” pembantu saya di Belanda pada awal-awal saya tinggal di Belanda dengan dua anak saya yang saat itu masih kecil-kecil.

Biasanya seorang werkster datang sekali seminggu, untuk bekerja 3 jam saja. Dari Jam 09.00 s/d jam 12.00. Setelah bekerja 1 ½ jam dia berhak untuk istirahat dan minum kopi atau teh selama ¼ jam. Dalam proses ini dia tahu dan mengikuti sekali pasal-pasal tentang hak-hak dan kewajiban seperti yang tertera dalam undang-undang bagi seorang werkster. Yang tidak dia ikuti adalah aturan pendapatan dan perpajakan yang berlaku. Bagaimana tidak,  lha wong seringkali werkster bekerja secara gelap.

Artinya dia dapat gaji seperti yang wajib diterima oleh werkster resmi untuk tiap jamnya,  tetapi dia tidak mematuhi untuk membayar pajaknya…Ya, semacam korupsi kecil-kecilan laahhh.  Hanya pada akhir-akhir ini pekerja gelap semakin kekurangan ruang lingkup pekerjaan. Hal ini terjadi karena kantor sosial atau gemeentes dan bureau pencari kerja kebanjiran orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan. Dan bahkan pekerjaan jenis inipun banyak dilakukan oleh mereka dan saat ini hampir semuanya terkoordineer secara resmi… Sorry ngelantur sebentar. Kembali ke cerita di atas.

Biasanya baik pada saat bekerja maupun pada saat minum kopi, sang nyonya rumah secara tidak langsung turut “menemaninya”. Jadi kalau sang werkster sedang bersih-bersih WC dan Kamar Mandi, sang nyonya rumah ya ikutan sibuk beres-beres dan mengelap misalnya lemari bukunya. Dalam hal saya pribadi, saya tidak pernah ikutan beberes atau bersih-bersih.

Lha wong saya memperkerjakan  werkster khan maksudnya supaya saya ada waktu luang yang lebih banyak lagi untuk menulis atau mengerjakan hobby saya…. Yang jelas bukan hobby bersih-bersih rumah…Ha, ha, haaa, betuuuuul khan??. Jadi saya hanya membuatkan kopi dan menemaninya ngobrol sebentar saja….. Kalau perlu .. Erg ben ik wat dat betreft  en dat weet ik best…Ini hal lain lagi dan bukan pokok pembicaraan.

Kembali ke cerita werkster pertama saya. Pada kedatangannya yang kedua, baru masuk ke ruang duduk dia memberi tahu kalau dia mau bicara dengan saya. Waduuuuh, saya langsung berpikir: ”Wat nog meer? Ada apa lagi?”. Eeeh tanpa sungkan-sungkan dia langsung mengatakan: ”Mevrouw, volgende week kom ik niet meer bij u? Minggu depan saya tidak lagi datang” .

Sesaat saya tentu terkejut dan membatin: ”Ada apa siih” lalu saya tanyakan alasannya. Anda tahu apa alasannya? Katanya: ”Ik wil stoppen omdat u altijd voor de computer zit als ik aan het werk ben.  Saya mau stoppen karena anda selalu ada di depan komputer kalau saya datang bekerja”. Wheleeh, wheleeeeh….”Rebet amat sih punya werkster di Belanda”: Batin saya berbisik…  Sebuah contoh tentang perseptie nilai dan norma yang berbeda tentang werkster…

Tentang perbedaan norma dan nilai yang lainnya tertuliskan dalam salah satu buku saya yang berjudul “Sambal bij de Spruitjes”. Ini sama sekali BUKAN untuk reklame lho yaaa!!!! Karena cetakan keduanya sudah terjual habis (1997) dan tidak ada lagi persediaan di toko bukunya.


Untuk teman-teman yang bisa berbahasa Belanda, bisa membaca tentang sebagian besar  perbedaan antara budaya Indonesia dan Belanda…Juga tentang sopan santun, respect, etiket, hal sapa menyapa. Dan kalau kita kurang cermat karena perbedaan budaya ini akan bisa dianggap sebagai discriminatie, hypocriet, penjilat, dll, dll. …Lihat: Sambal bij de Spruitjes,  a.l. halaman 10 s/d 16.

Dalam hal sapa menyapa misalnya. Dalam budaya Indonesia tetap digunakan,  untuk memberikan respect pada orang yang lebih tua / muda.  Tetapi dalam budaya Belanda rasa respect KELIHATANNYA tidak perlu untuk diperlihatkan melalui bentuk sapaan seperti: Pak/bu Guru atau  Oom/tante  dalam menyapa orang yang bukan adik orang tua kita. Dan jangan kaget kalau anda di Belanda mendengar seorang anak kecil yang menyapa opanya dengan bentuk sapaan “Jij” KAMU… “TIDAK” adanya discriminatie misalnya diperlihatkan dalam acara  minum kopi bersama dalam satu meja, di garasi antara istri seorang Komisaris Ratu (yang kebetulan jadi teman saya)dengan supirnya…. Ach, budaya dan adat istiadat Indonesia memang  berbeda dengan Belanda.

Suatu pengalaman yang sangat menyenangkan kalau masyarakat dalam budaya yang baru dapat dan mau menerima kita dengan tangan terbuka dan tanpa ada rasa permusuhan… Dan memang semuanya ada harganya tersendiri… Dan dari pengalaman yang ada, saya yang sampai saat ini masih terus belajar, boleh mengatakan: “Leren wennen gaat van AUUUU” . Belajar membiasakan diri dimulai dengan Auuu -karena kesakitan. Dan tidak seorangpun akan terhindar dari rasa sakit itu. Auuuuuuuuuuuuuuuuuu…..


Werkt ze en tot weer schrijven.

Nu2k


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.