Hanya Berusaha Menyelami

Mutaminah


Nak, malam ini entah mengapa Ayah ingin menitikkan airmata.

Ayah tak peduli lagi orang menganggap Ayah cengeng atau apa, tapi tahukah kau, Nak? Ayah sangat menyayangimu.

Kini peri kecilku sudah tumbuh dewasa.

Tak bisa lagi aku mendongengimu seperti dulu, saat kau masih memanggilku dengan manja.

Semuanya memang telah banyak berubah.

Kau, putriku yang paling cantik, kini sudah pandai mengambil keputusan. Tapi maafkan Ayah karena Ayah sibuk dengan benda bernama rupiah hingga Ayah lalai mengajarimu tentang mengambil keputusan yang terbaik di antara banyak sekali keputusan yang terindah namun memperdaya.

Ayah memang tak sepandai ibumu, Nak. Ayah tak bisa menyentuh sisi wanitamu yang sesungguhnya begitu rapuh (bahkan Ayah baru menyadarinya), Ayah hanya mempercayaimu semua yang mestinya Ayah limpahkan kepadamu, seolah kau ksatria dengan segala keahlian, padahal hatimu ompong, jiwamu kesepian, hingga kau tersesat dalam kepercayaan yang dengan angkuh kuwariskan padamu.

Lalu kau hidup Nak, dengan duka nestapa yang menjadi bagian dari nadimu, sedang Ayah lupa mengajarimu menjadi gadis yang tegar.

Aku tersenyum Nak melihatmu telah menjadi seorang remaja dengan elok rupa, bangga rasanya, tapi maaf Ayah lalai mengajarimu untuk menjaga dengan baik kecantikan jiwamu yang akan semakin menambah pesonamu.

Selama ini Ayah hanya berpikir kau gadis yang hebat, nyatanya Ayah lalai menerangkan padamu arti dari kata “hebat”.

Ayah hanya membingungkan dalam setiap detik Ayah bagaimana caranya mendapat nafkah yang halal lagi melimpah, Ayah lupa kau kesepian. Bahkan dalam usiamu itu, kau mungkin masih merindukan Ayah membacakan dongeng-dongeng sebelum kau tidur.

Hingga beruban rambut Ayah, akhirnya Ayah sadar kau telah begitu jauh dari Ayah. Kau terlalu jauh mencari “keayahan” yang mestinya kau dapat dariku.

Ayah mulai sadar, selama ini, kebahagiaanmu tergadaikan.

Ayah sedih Nak kau berubah, tapi sekali lagi Ayah hanya mampu memberimu kepercayaan untuk mencari kebahagiaanmu sendiri, karena Ayah tahu Ayah tak bisa memberikannya. Ayah berusaha menentang kata hati Ayah saat kau salah melangkah, tetap kuberikan kepercayaan itu meski setiap malam Ayah gelisah.

Nak, kini tidurku tak tenang. Terbayang dirimu bidadari kecilku, Ayah takut Ayah lupa mengajarimu cara menjaga diri.

Nak, biarkan Ayah menangis ya malam ini, Ayah sudah tak kuasa pura-pura kuat melihatmu begini…

Tapi pelangiku, ketahuilah, Ayah selalu mencintaimu…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.