Makan dan Saya

Hariatni Novitasari


Di saat saya menuliskan catatan ini, saya sedang ingin sekali makan-makanan yang ENAK. Makanan apa saja. Mulai dari klepon, lapis legit, bika ambon, klaapert taart, nogosari, ote-ote, ketan dengan taburan kedelai bubuk, dadar gulung, bakso, soto Banjar, soto Jawa, soto Betawi, rujak cingur, tempe penyet, sop buntut, semanggi, gudheg, nasi goreng babat, nasi pecel…. dan semuanya dehhh… Tidak ketinggalan cotto, kappurung, songkolo, ikan bakar, ikan asam pedas, nasi bambu, es degan jahe, es buah, es teler, es monyet dan lain-lainnya itu. Duuuhh… PENGEN MAKAN….

Bagi saya, makan lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan kalori dalam tubuh. Makan lebih memiliki makna sosial. Kita berkumpul dengan teman dan keluarga, pasti ada makan. Karena makan pula, kita jadi berkumpul dengan mereka. Kita mengobrol. Kita bertukar cerita. Saling mengenal. Berbagi kesedihan dan mendapatkan kembali kebahagian. Begitu dalam arti MAKAN bagi saya.

Bukan mangan ora mangan kumpul, seperti prinsip orang Jawa. Tapi, kumpul dan makan-makan. Tidak saja dengan keluarga saja makan-makan menjadi sebuah perekat, tapi juga dengan teman-teman saya. Dimana saya kumpul dengan teman-teman saya, pasti diakhiri dengan makan. Atau, makan menjadi alasan untuk berkumpul. Misalnya saja ada yang ulang tahun. Untung, jaman kuliah dulu, kita kalau ulang tahun rombongan, jadi yang ulang tahun beberapa orang markipatan (mari kita patungan) buat traktir yang tidak ulang tahun. Sedangkan yang tidak ulang tahun, patungan beli hadiah. Halah, mbulet, pada akhirnya sama-sama keluar duit. Meskipun demikian, kita mendapatkan kebahagiaan yang LUAR BIASA.

Jaman ketika di Surabaya, saya sampai punya kelompok yang dinamakan “Lekker Praten en Eten” Acaranya tidak lain dan tidak bukan adalah berburu makanan. Biasanya dijalankan di malam minggu. Sambil makan, sambil mengobrol sampai warungnya tutup. Tidak jarang, kami sampai “diusir” penjualnya karena mereka mau tutup. Kalau mereka tutup, biasanya kami geser ke tempat parkir. Nah, pernah juga di tempat parkir sampai tukang parkir minta dibayar duluan ongkosnya “Kami mau pulang, Mas..” Di lain kesempatan, kami pernah duduk di satu warung yang sangking lamanya lagu “Isabella” sampai diputar 5 kali. Hahahaha.

Selain membawa kebahagiaan karena teman, makanan juga bisa mengembalikan mood yang sangat sedih. Pernah dalam satu fase hidupku, saya sangat sedih karena suatu berita agak buruk yang sebenarnya sudah saya prediksikan. Ketika hal itu benar-benar menjadi nyata. Saya menelpon seorang teman. Dia kemudian bilang.. “Okay, hari ini kamu traktir. Terserah mau makan di manapun. Kamu makan sepuasnya…” Lalu, di hari itu, saya mengajak teman itu makan di sebuah cafe. Gila, karena saya sedang sangat sedih, saya bisa makan: appetizer, steak, dan dessert yang berupa hot chocolate cake yang sangat sedap yang coklatnya bisa meleleh di mulut. Ajaib, setelah makan begitu banyak semua kesedihan hilang dan berlalu begitu saja.

Kalau Anda sedang jalan sama saya, jangan ajak saya berdiet. Karena saya tidak akan pernah suka melakukan itu di saat traveling. Atau, sehari-hari juga. Lebih baik olahraga lebih keras daripada harus diet. Bagi saya, ada jalan, ada makan. Diet ketika traveling hukumnya dilarang, hehe. Pernah gara-gara traveling, diet teman saya hancur, malahan dia yang makannya paling banyak dan paling gawat. Di mana-mana dia makan, pasti makannya jerohan dan usus. Maka tidak jarang, kalau lagi jalan dengan teman-teman selama tiga hari, tiga kilo pula bisa didapatkan. Seperti pengalaman kemarin ke Semarang-Ambarawa-Dieng. Benar-benar traveling yang sangat efektif menaikkan berat badan. Kotanya Buto memang banyak makanan enak.

Entahlah, makanan bisa membuat orang menjadi sangat HAPPY. Kalau saya kelaparan, pasti mood-nya akan menjadi jelek dan ngamuk-ngamuk. Teman-teman kuliah saya sudah hapal dengan kebiasaan buruk saya ini. Makanya, kalau kemana-mana, pasti ditanya dulu, “Luwe ora (Lapar ga)?” Kalau saya bilang, lapar. Maka segeralah mereka mencari warung terdekat. Sebelum saya mengomel tidak karuan karena teman-teman kuliah saya dikenal ruwet dan mbulet semua. Sukanya muter-muter tidak jelas. Hahaha.

Makanan bagi saya, tidak saja membuat kita memenuhi kebutuhan kalori. Tetapi, dia adalah alat pengikat untuk semua orang. Dia bisa menjadi alat perekat untuk semua budaya tanpa mengenal batas usia.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.