Menunggu Kepak Sayap Garuda

Sumonggo – Sleman


Belum sampai seminggu almarhum Mbah Maridjan disemayamkan, sudah muncul berbagai polemik mengenai siapa yang bakal menjadi penggantinya untuk meneruskan sebagai juru kunci Merapi. Sempat beredar sejumlah nama seperti Ponimin, ataupun anak-anak dari Mbah Maridjan sendiri.  Yang menarik adalah, sebuah joke di internet yang menyatakan bahwa pengganti Mbah Maridjan sudah ditetapkan, yaitu Ketua Umum PSSI.

Lho, apa hubungannya? Ketua Umum PSSI dinilai paling cocok menjadi juru kunci, karena selama ini telah membuktikan “prestasinya” dengan menjadikan sepakbola Indonesia sebagai juru kunci dalam berbagai even internasional. Tentu saja ini cuma sindiran belaka, karena dipastikan Merapi pun tak bakal rela, mengingat berbeda jauh antara besarnya pengabdian Mbah Maridjan dengan “pengabdian” Ketua Umum PSSI. Seandainya saja Ketua Umum PSSI sempat mendengar joke tersebut tentu bagaikan tersiram wedhus gembel.

Sempat ada guyonan, mengapa Presiden membatalkan kunjungan ke Belanda? Sama sekali tak ada hubungannya dengan masalah RMS. Tetapi beliau lebih ngebet menyaksikan pertandingan antara timnas Indonesia vs Uruguay, ketimbang bertemu Ratu Beatrix  ha ha …. Sayangnya dalam pertandingan ujicoba itu benar-benar timnas Uruguay mengurug Bambang Pamungkas cs, meski sontekan Boaz Solossa sempat menggoyang jala gawang Uruguay lebih dulu. Pelajaran berharga dari semifinalis Piala Dunia, dari stamina, konsentrasi pertahanan, sampai organisasi permainan. Walau tanpa kehadiran Diego Forlan, tujuh lesakan gol dari tim kelas dunia semoga mampu membuat timnas banyak berbenah.

Mungkin para pemain Uruguay yang mayoritas (atau malah seluruhnya) tidak memahami bahasa Indonesia, sempat bertanya-tanya, mengapa selama pertandingan para penonton mengelu-elukan seorang pemain Indonesia terus menerus, kira-kira begini yang terpikir di benak Luis Suarez cs, “Yang mana pemain bernama Nurdin?” Karena seringkali para supporter Indonesia meneriakkan yel-yel, “Nurdin … turun …. Nurdin …. turun ….” Sambil diseling lagu, “Buat apa Nurdin, buat apa Nurdin? Nurdin itu tak ada gunanya …..”

Tak mau kalah PSSI bersaing dengan DPR. Dalam hal apa? Yang jelas bukan dalam prestasi, karena kinerja keduanya sama-sama jeblok. Jika DPR bisa mengajukan gedung baru senilai 1,8 trilyun, maka PSSI tak mau ketinggalan, mengajukan anggaran 1,4 trilyun. Ada satu kesamaan, yaitu janji bahwa gelontoran uang itu bakal membuat mereka lebih berprestasi.

DPR sendiri mempertanyakan nilai anggaran sebesar itu, entah mungkin takut tersaingi “popularitasnya” dalam hal pengajuan anggaran fantastis bin aeng-aeng (aneh). Boro-boro untuk memperbaiki kualitas pemain, mungkin yang perlu diprioritaskan untuk diperbaiki adalah kualitas pengurus PSSI. Bagaimana jaminan prestasi yang bakal diperoleh jika sampai gagal mencapai target? Mempercayakan dana sebesar itu mestinya haruslah di tangan orang-orang yang track rekordnya bisa dipercaya, bukan sekedar yang berstatus terdengar apalagi tercemar.

Ada juga suara iseng di luaran menyatakan, ketimbang susah-susah membina dan melatih pemain dari bawah, lebih baik duitnya dipakai untuk ongkos menaturalisasi para pemain top yang sudah jadi biar mau jadi anggota timnas. Sebagian pendapat bersikap moderat, dengan tidak menutup peluang naturalisasi bagi pemain yang benar-benar berkualitas, tetapi tidak boleh melupakan pembinaan pemain negeri sendiri. Mungkin semacam begini kurang lebihnya siaran pandangan mata dari penyiar radio nanti:

“Sergio van Diyk berikan umpan daerah jauh ke depan …. Dikontrol dengan baik oleh Christian Gonzales kutak-kutik sebentar …. Sodorkan kepada Boaz Solossa … shooting langsung ….. Masih dapat diblok oleh kiper ….  Bola muntah
disambar Irfan Bachdim …. dan …… gooooollllll …. saudara-saudara … timnas Indonesia berhasil unggul dari Thailand ……..”

Saya mengerti di antara para pembaca, ada yang bukan penggemar sepakbola, ada yang penggemar sepakbola tetapi hanyalah Liga Premier Inggris, Liga Spanyol, Liga Italia, Piala Dunia, pokoknya hanya yang di luar negeri sana. Ada juga yang penggemar sepakbola dan pendukung fanatik timnas, tetapi tidaklah sama antara pendukung timnas dengan pendukung (pengurus) PSSI. Pendeknya banyak sekarang yang bersemboyan, Timnas YES, PSSI NO. Sudah bukan rahasia umum kejengkelan terhadap tingkah polah pengurus PSSI, yang banyak berita, tetapi minim prestasi. Sampai ada joke bahwa di Indonesia para pemain sepakbola kalah terkenal dengan pengurus sepakbolanya (PSSI). Begitu ngototnya pula untuk bertahan di kursi kepengurusan, meski prestasinya kurus. Seperti potongan kata “pe”+”ngurus”, jadi tugas utamanya pengurus mungkin memang membuat kurus prestasi.

Sekedar intermezzo sedikit di tengah kesulitan memilih 11 orang dari 230 juta orang (+naturalisasi?), mari kita nikmati beberapa guyonan pendek berikut ini, sebut saja semacam Mati Ketawa Cara PSSI:

I. Siapa yang berhak mengatur wasit?
Dalam sebuah pertandingan sepakbola, seorang kepala kepolisian daerah dianggap melakukan intervensi karena meminta agar wasit yang memimpin pertandingan diganti, dengan pertimbangan untuk mencegah terjadinya kerusuhan dari para supporter yang memadati stadion karena tidak puas dengan kepemimpinan wasit:
A: “Wah, cuma di Indonesia saja, polisi bisa mengganti wasit?”
B: “Itu sih belum apa-apa, baru tahu kalau itu masih kalah sama Napi, cuma di Indonesia ada Napi yang sedang dipenjara bisa mengatur wasit”

II. Jose Mourinho for Timnas
Alkisah, suatu kali PSSI sukses menggaet Jose Mourinho menjadi pelatih timnas. Sayangnya meski sudah dalam dapukan “The Special One”, timnas masih tak mampu menelurkan prestasi membanggakan. Tentu saja hal tersebut diprotes oleh para pendukung timnas, mengingat Jose Mourinho sudah dikontrak cukup mahal.
A: “Masak sudah dengan pelatih sekelas Mourinho kok masih gagal?”
B: “Pelatihnya sih sekelas Mourinho, tapi pemainnya belum sekelas Messi, yang lebih parah lagi para pengurusnya (PSSI) sudah lama tinggal kelas …..”

III. Naturalisasi pengurus
Wacana naturalisasi pemain cukup santer dibicarakan belakangan ini. Banyak pemain yang memiliki darah Indonesia, beredar di klub-klub Eropa. Kesebelasan negara tetangga kita, Singapura, beberapa tahun ini disesaki para pemain hasil naturalisasi.  
A: “Wah, apa betul prestasi kita bakal melejit jika ikut menaturalisasi pemain asing juga?”
B: “Sebenarnya yang jauh lebih mendesak saat ini, adalah naturalisasi para pengurusnya (PSSI)”

IV. Indonesia merebut Piala Dunia
A: “Bagaimana caranya timnas Indonesia bisa ikut Piala Dunia?”
B: “Kalau jadi tuan rumah”
A: “Bagaimana caranya timnas Indonesia bisa merebut Piala Dunia?”
B: “official tim perlu diperkuat oleh dukun sirep dan dukun gendam”

V. Hukuman kegagalan
Kembali ke topik anggaran 1,4 trilliun.
A: “Jika sudah dapat gelontoran duit tapi masih gagal mencapai target, sangsi apa yang perlu diberikan kepada para pengurus PSSI?”
B: “Mengundurkan diri?”
A: “Ah keenakan ….”
B: “Jalan ingkling Jakarta-Surabaya pp”

VI. Anak SD diurus anak TK
A: “Seorang menteri berkomentar, pertandingan timnas Indonesia melawan Uruguay bagaikan anak SD melawan anak SMA”
B: “Itu belum apa-apa, yang mengurus sepakbola mungkin malah anak TK. Jadi yang terjadi adalah anak SD diurus oleh anak TK”

Kemarin berita televisi menyiarkan sebuah kejadian yang entah lebih pantas disebut sebagai memalukan atau memilukan. Dalam suatu pertandingan sepakbola Divisi 1, seorang wasit dipukuli sampai rusuknya patah. Akibatnya  4 orang pemain mendapat kartu merah. Pertandingan dilanjutkan dengan wasit pengganti. Ternyata cerita belum selesai sampai di sini, wasit pengganti dipukuli lagi, dan terpaksalah kartu merah keluar lagi. Endingnya pertandingan dihentikan, karena dari suatu tim dengan sebelas orang hanya tersisa 5 orang pemain. Ini mungkin contoh yang ekstrim, tetapi merupakan fenomena bahwa kewibawaan wasit dan juga kewibawaan PSSI sedang berada pada titik terendah.

Stamina pemain juga perlu mendapat perhatian khusus. Dalam beberapa pertandingan internasional, timnas Indonesia bermain cukup menawan di babak pertama, tetapi kedodoran di babak kedua. Satu pertandingan Liga Super sempat dihentikan karena salah satu tim tinggal bermain dengan enam pemain, gara-gara 1 kena kartu merah, sedangkan 4 cedera, sementara jatah penggantian sudah habis dipergunakan.

Belum lama, suatu kelompok pengusaha besar, mendeklarasikan Liga Premier Indonesia (LPI) yang diklaim bakal lebih menarik dan “lebih bersih”. Tentu saja ini membuat para pengurus PSSI bagai kebakaran jenggot. Satu hal yang menarik dari LPI adalah visi untuk memandirikan klub, dari selama ini seperti kita ketahui banyak klub yang sangat bergantung pada APBD yang mana bukanlah hal yang sehat bagi keberlanjutan klub. Bagi penikmat bola tanah air, sebenarnya keduanya (Liga Super PSSI vs LPI) bisa saling menjadi sparring partner yang baik, sehingga nanti akan tampak mana yang dikelola secara  lebih profesional.

Kabar terakhir, Christian “El Loco” Gonzales, sudah terpilih masuk skuad timnas AFF, setelah proses menjadi WNI beres. El Loco yang track-rekordnya cukup mengesankan dengan beberapa kali menjadi top scorer liga Indonesia, konon sampai tak mudik ke Uruguay selama enam tahun, demi agar bisa menjadi WNI. Sayang stok amunisi di lini depan bakal berkurang dengan dicoretnya Boaz Solossa, karena terlambat datang memenuhi panggilan pelatih Alfred Riedl. Hal yang menggembirakan adalah banyaknya talenta muda dalam skuad kali ini. Meski Bepe (Bambang Pamungkas) dan Firman Utina masih dipercaya oleh pelatih, karena kematangan dan visinya. Meski banyak juga yang berkomentar, “Bepe lagi … Bepe lagi ….”. Tetapi banyaknya potensi pemain muda di bawah usia-23, bahkan ada yang masih di bawah 20, cukup menjanjikan bagi prospek timnas untuk ajang SEA GAMES.

Para pembaca yang berbahagia, bagaimanapun juga prestasi timnas beberapa tahun belakangan ini, semoga timnas Indonesia bisa berbicara banyak dalam event-event selanjutnya yang sudah makin dekat, seperti Piala AFF dan SEA Games. Masih terlalu jauh menjadi macan Asia minimal bisa menjadi macan Asia Tenggara dulu. Harapan besar, prestasi timnas Indonesia bisa mengobati luka Ibu Pertiwi yang sedang dirundung duka.


Nuwun.


Ilustrasi:

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/1/16/2010_AFF_Suzuki_Cup_logo.png
http://1.bp.blogspot.com/_VE5NvpKGb-U/SdQaa8DzMLI/AAAAAAAACzA/MD7XSdEbXCU/s400/seagames.jpg
http://www.gelorabungkarno.co.id/wp-content/uploads/2010/10/timnas-indonesia.jpg
http://arenaku.com/wp-content/uploads/2010/11/el-loco-by-istimewa.jpg
http://static.republika.co.id/images/irfan_bachdim_100809193022.jpg


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.