Dongeng Sebelum Tidur

P.  Chusnato Sukiman


saya memulai cerita ini saat terjaga dari tidur…

Untuk keperluan “mengorek” data–sebagai pelengkap untuk keperluan buku biografi Drs Suyadi atau yang biasa dikenal dengan nama Pak Raden (dalam serial Si Unyil) yang sedang saya susun ini–saya menghabiskan lebih dari sembilan bulan membuntutinya. Mulai dari “mengintip” dia melukis, merekam tahapan saat dia ber-make up, bagaimana ia merawat empat kucingnya, ikut melihat proses pembuatan boneka “Si Unyil”, melihat proses rekam suara Laptop Si Unyil di Trans TV, mengantarnya ke sejumlah teman lamanya untuk sekadar mengingat-ingat remahan peristiwa, jalan-jalan mencari DVD (bajakan) film Pinokio, sampai terkantuk-kantuk menemani dia makan (yang lamanya melebihi secangkir kopi hitam gelas belimbing , tiga batang rokok Dji Sam Soe itu, dan mengirim sekitar 8 SMS…)

“Apa yang membuat mas Chus begitu telaten membuntutinya?” tanya adik bungsu saya.

“Dia tak banyak uang, dan banyak sekali dongengannya…” seloroh saya.

“Kalau dia ternyata berlagak miskin padahal punya banyak uang?” seloroh balik adik saya itu.

“Ini baru dongeng yang sebenar-benarnya…”.

***

Saya besar dalam keluarga yang “tenggelam” dalam dunia dongeng. Ibu saya, terutama, dialah pendongeng sejati. Belasan dongeng Jawa Kuna kerap ia sajikan untuk kami semua anak-anaknya. Berbeda sedikit dengan orang lain, ibu saya kerap mendongeng di kala kami beraktivitas, bukan menjelang tidur. (Mohon dibaca sebagai : bekerja membantu beliau entah mengupas kelapa, menyiangi ikan, menimba/mengisi air bak dari sumur, mengaduk dodol, menyuci piring, membuatkannya wedang jahe, atau memijitinya). Dia duduk di kursi rodanya mendekati kami yang sedang bekerja, beberapa jenak, kami paham, sebuah dongeng akan melantun indah.

Karena kami semua di rumah gemar dengan dongengan ibu, maka kami semua terbilang anak anaknya yang rajin.

Kembali ke soal sembilan bulan saya membuntuti Pak Raden, terekam lebih dari 68 dongeng asli yang saya transkrips. Dan boleh saya cantumkan lagi sekitar 136 dongeng tentang keseharian…. (Benar-benar banjir dongeng, bukan?)

Dan, salah satu yang sangat saya suka adalah saat dia mendongeng di depan anak-anak. Meriah. Atraktif dan penuh kejutan! Dia berpakaian lengkap dengan ala Pak Raden berikut blangkon dan kumisnya. Selain dengan boneka, tentunya yang membuatnya berbeda dia adalah salah satu pendongeng di Asia yang pertama kali mendongeng sambil menggambar.

Mengapa saya selalu membuntutinya meski setelah sembilan bulan berlalu saya masih ikut jika Pak Raden ada hajatan mendongeng?

Tujuan semula adalah melihat-mencatat-merekam-mengamati aktivitasnya, yang siapa tahu ada remah-remah data yang bisa saya angkat dalam buku nantinya. Tapi, setelah saya rasa cukup pun, saya tetap ngintilin dia… (Ini kebutuhan lain, sayanya saja yang mau…)

Tak bisa ditolak, jika pada akhirnya saya sering dijadikannya “asisten” dadakan.

Mulai dari persiapan dongeng, membantu membawakan property, menyiapkan boneka yang akan diperagakannya, membawakan spidol dan gulungan kertas,

Di menit pertama saya bersikap waspada, karena saya asistennya!

Lalu dimenit-menit berikutnya saya tak ubahnya menjadi “pendengar” setia ketimbang membantunya bekerja. (sering kali saya lupa boneka mana yang harusnya saya ambil dari tas besar yang berisi boneka-boneka itu, karena saya terhanyut dongengannya itu…)

Suatu hari, beberapa bulan silam, ketika ia diundang mendongeng di sebuah sekolah dasar di Jakarta Selatan saya juga ikut membantu….

“…hampir seratus anak yang masih mau mendengar dongengan saya… Kok mereka masih mau, ya mendengarkan dongeng saya…?” katanya sumringah.

Saya tersenyum. Ditambah satu lagi, pak, kata saya dalam hati.

Kali itu saya terlihat mengantuk (sekaligus terhanyut)….

Selain baru mendarat di Jakarta pukul 8 pagi selepas tugas dari Ambon yang memelahkan itu, lokasi dongengnya kali itu pun di sebuah sekolah yang nun jauuuuhhhhh…. di pelosok Ciputat sana.

Kali itu dongeng tentang Si Meylan yang tersesat di hutan…..

Karena ibu saya berada di kampung, maka saya jadi lebih mudah mengantuk.

Inilah yang membuat saya lebih mengambil sikap sebagai seorang cucu yang siap didongengi sebelum tidur…

Zzzzzzzzzzzz….


Slipi, 01/09/09 [email protected] Holistic Writer

Foto-foto: Dokumentasi Chusnato

(kok mana ya boneka yg dia pinta?)


(saya bingung kok riuh banget ya?)


(siap… saya siap carikan boneka si Meylan…)


(saya menjadi asistennya, di menit pertama, di menit ke sekian… saya seperti di dongengi…)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.