Kucing Kiyoko Dan Cerpen Kompas Pilihan 2009

Rama Dira


Bermula dari Seekor Kucing yang Terluka

Di suatu pagi, bulan Januari 2009

Hujan tumpah pagi itu. Saya sudah membuka kantor tempat bekerja (bangunan kantor menjadi satu dengan tempat tinggal saya). Teman-teman satu kantor belum berdatangan, justru seekor kucing kecil yang mendahului mereka. Kucing itu mengeong-ngeong dan mencakar-cakar pintu kantor. Karena saya memang tak begitu suka dengan kucing, saya cuek saja sampai teman-teman sudah berdatangan dan hari menginjak siang.

Hujan masih saja tumpah dan hawa dingin makin menggigilkan tulang dan kucing itu semakin letih dalam harapannya untuk sekedar diberi kehangatan. Ia terus mengeong-ngeong dan mencakar-cakar pintu.

Lebih karena tak ingin terus terganggu oleh suaranya, saya akhirnya berinisiatif membuka pintu dan memasukkan kucing itu. Karena ia basah kuyup dan berlumur lumpur, saya angkat supaya tak mengotori lantai kantor. Saya membawanya ke belakang, tempat tinggal saya bersama istri saya dan dua malaikat kecil kami, Maneka (3 thn) dan Garsia (2 thn).

Sampai di dalam, istri saya kaget melihat saya kok mau-maunya membawa seekor kucing. Ia tahu dengan pasti bahwa saya tak menyukai kucing. Saya berikan kucing itu padanya dan memintanya untuk mendiamkannya. Setelah itu saya masuk kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang hari itu lumayan menumpuk.

Setengah jam kemudian, istri saya masuk ke kantor dan memberi tahu saya bahwa kucing itu ternyata memiliki luka di pinggang sebelah kirinya. Luka itu, luka lama, sudah bernanah, sepertinya luka akibat tusukan benda tajam. Saya bergegas mendapati kucing yang ternyata sudah dimandikan oleh istri saya dan sudah ia berikan handuk pula. Ia menempatkannya dalam sebuah kardus bekas mie instan. Saya perhatikan, luka itu terus saja mengeluarkan nanah busuk. Akhirnya saya berinisiatif untuk menanyakan sekaliguas membelikan obat yang cocok untuk luka kucing itu meski hujan belum kunjung berhenti. Akhirnya, saya menembus badai hujan dan membawa pulang salep chlorempenicol yang direkomendasikan penjaga sekaligus pemilik sebuah apotek tua di ujung kota.

Di rumah, saya sudah mendapati anak saya bahagia dalam tawa-tawa kecil mereka. Dua-duanya bahagia berkat kehadiran kucing mini itu. Saya bergegas mengoleskan salep itu setelah terlebih dulu mengompres luka itu dengan air hangat. Saya juga memberinya semangkuk susu dan nasi yang saya campur dengan potongan-potongan ikan. Kucing itu lahap dalam makan dan minumnya, anak saya dan istri saya makin gembira melihat keadaannya yang mulai membaik.

Keesokannya, kucing itu sudah bisa berlari ke sana kemari, meski dengan terpincang-pincang. Saya perhatikan, lukanya masih bernanah namun nanah yang keluar semakin berkurang.

Kedua anak saya tertawa lepas, berlari mengejar berputar-putar kucing yang sadar dirinya disukai kedua anak saya itu. Kini, penghuni rumah kecil kami bertambah. Dialah si kucing mini yang ternyata tidak menjengkelkan sebagaimana yang sering saya perkirakan.

Di hari ke lima, kondisi kucing itu sudah benar-benar membaik. Lukanya sudah kering, tak lagi bernanah. Ia juga sudah bisa berjalan normal. Di hari ke enam, ia mulai berani bermain-main di luar (di belakang rumah), ketika dua anak kami sedang tidur siang. Jika Maneka dan Garsia sudah bangun dan memanggil-manggilnya, ia akan melompat masuk melalui jendela dapur dan bermain-main bersama kedua anak saya itu lagi.

Siang itu, di hari ketujuh, kedua anak saya tidur dan si kucing bermain di belakang rumah. Sorenya, ketika mereka berdua bangun dan mencari-cari kucing itu, mereka tak menemukannya. Mereka berdua pun menangis sejadi-jadinya, kehilangan kucing yang begitu mereka sayangi itu. Saya dan istri tak mempu berbuat apa-apa. Saya dan istri hanya mendoakan dengan penuh harap supaya tak ada hal buruk yang menimpa kucing itu.

Meski tak pulang sampai sore hari, kami tetap berharap kucing itu akan kembali. Namun, sampai keesokan harinya, ia tak kunjung kembali.

Malamnya, istri dan anak-anak kehilangan gairah. Kegembiraan dan keceriaan mereka meluap bersama kepergian si kucing mini. Saya sebagai orang yang mulanya sama sekali tak menyukai kucing, tiba-tiba dihinggapi perasaan sentimentil saat itu juga dan tiba-tiba saja saya merasa telah ditinggalkan oleh seseorang, padahal dia hanyalah seekor kucing. Serta merta saja perasaan kehilangan yang begitu dalam itu menggiring saya untuk segera berada di depan komputer kantor.

Mulanya saya hanya bermaksud menulis semacam catatan curahan hati, namun dalam prosesnya, jemari saya tak henti mengetik kata demi kata yang kemudian menjelma cerita. Dalam proses penulisan, setelah paragraf pertama rampung, saya tiba-tiba teringat sebuah artikel yang pernah saya baca tentang alat musik petik shamisen yang katanya penutup pada bagian kepala nya terbuat dari kulit kucing atau kulit anjing. Kemudian, saya juga tiba-tiba teringat seorang kawan yang sempat merantau ke Jepang dengan menumpang kapal barang dari Surabaya. Di Jepang, ia bertahan hidup dengan bekerja sebagai tukang cuci piring dan tukang masak.

Ide ini yang membuat saya memutuskan untuk mengambil Kyoto sebagai setting cerita. Karena saya tak pernah ke Kyoto, saya memerlukan bantuan Google Earth dan Google untuk seluk beluk informasi yang berhubungan dengan kota Kyoto.

Semua kejadian dan ingatan saya akan pengalaman-pengalaman di lain waktu itu menjelma menjadi satu dan tak saya sadari dalam waktu kurang lebih tiga jam, lahirlah sebuah cerpen yang kemudian saya beri judul : Kucing Kiyoko.

Berulang-ulang saya baca lagi cerpen yang sudah lahir itu, saya timbang-timbang dan dengan penuh percaya diri, saya merasa saya telah melahirkan sebuah cerita pendek yang secara kualitas dan keunikan ide melebihi cerpen-cerpen yang pernah saya buat selama ini.

Dengan penuh percaya diri pula, cerpen tersebut langsung saya kirimkan ke Kompas, sebuah koran yang belum berhasil saya ‘tembus’ semenjak saya mulai berproses, tahun 2002 (terhitung tak kurang dari 30 judul cerpen sudah saya tawarkan ke Kompas).

Saya sempat menunggu selama seminggu. Dalam kurun waktu itu, hampir setiap waktu saya mengecek email saya. Entahlah, apa yang membuat saya percaya diri dan yakin kalau cerpen itu memang akan dimuat.

Suatu pagi, tepat pada hari ulang tahun saya (4 Februari 2009), saya mendapat email dari redaksi Kompas yang memberitahukan bahwa cerpen saya memenuhi kriteria layak muat. Sehabis membaca itu, dada saya langsung bergemuruh. Sungguh sebuah hadiah ulang tahun yang manis.

Tiga minggu setelah pemberitahuan, cerpen itupun muncul di Kompas minggu dengan ilustrasi magis berukuran lumayan besar.

 

*****

Sekitar bulan April, sekretariat Kompas menelpon saya dan memberitahu Kucing Kiyoko terpilih dalam Cerpen Kompas Pilihan 2009. Untuk itu, saya diundang ke Jakarta menghadiri acara penganugerahan Cerpen Pilihan Kompas 2009 bertepatan dengan perayaan ulang tahun Kompas ke 45.

Seusai menerima telpon itu, saya bersuka cita. Saya beritahukan kabar baik itu pada istri. Istri saya ikut bahagia dan mendadak kami sama-sama teringat kucing mini yang menjadi pemantik imajinasi saya untuk menulis cerpen itu. Di mana dia sekarang? Kami pun diam dalam kenangan masing-masing.



Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.