Anak Campuran, Diskriminasi dan Bullying

Alvina V. B – Canada


Di bawah ini adalah kumpulan cerita dari anak-anak (antara usia 5-15 thn) dan orang tua mereka yang kena diskriminasi dan bullying. Kemiripan yang bisa saya lihat adalah mereka rata-rata adalah anak campuran yang sedang berusaha untuk belajar menerima keunikan latar belakang mereka dan mencoba untuk berdamai dengan diri mereka dan lingkungan yang memperlakukan mereka secara tidak adil. Nama diganti untuk asalan privacy dan tulisan ini adalah terjemahan bebas dari beberapa wawancara baik di sekolahan, museum atau cultural centre dari bahasa Inggris dan Perancis ke dalam bahasa Indonesia.

Annabel (Filipina-Kanada)

Saya anak campuran, ibu saya dari Manila dan ayah saya dari Kanada, kelahiran Inggris. Saya lahir dan besar di Canada, bersekolah dan berasosiasi dengan masyarakat yang multikultural. Orang tua saya menyekolahkan saya di sekolah negri di dekat rumah kami. Awalnya saya punya banyak kawan, tetapi suatu saat ada satu anak yang menyebarkan isu kalau ibu saya adalah seorang pembantu, saya sedih sekali mendengarnya, karena bagi saya, ibu adalah segalanya. Kalau saya susah dan senang, ibu selalu ada di sisi saya.

Lambat laun ada anak-anak di kelas yang mulai mendiskriminasi saya. Saya tidak pernah diundang lagi ke pesta ulang tahun, atau acara-acara lainnya. Saya bertanya kepada ibu saya, kenapa saya diperlakukan tidak adil? Ibu mengatakan kalau saya berbeda, cantik dan cerdas, jadi banyak yang iri dan ingin membuat saya sedih. Karena lambat laun nilai saya mulai turun dan saya mulai stress, akhirnya orang tua saya memutuskan untuk memindahkan saya ke sekolahan yang baru dan lebih jauh dari rumah.

Sekolahan yang baru tampaknya lebih baik dan anak-anaknya terlihat sangat toleran, saya melihat mereka lebih membaur dan tidak ada yang membedakan anak campuran seperti saya dengan anak yang lainnya. Saya bisa belajar menerima kalau saya memang berbeda dengan kebanyakan anak-anak di sekolahan. Saya bisa melihat saya memiliki kelebihan karena saya anak campuran, saya bisa belajar banyak hal dari kedua orang tua saya yang memiliki kultur dan adat istiadat yang berbeda. Pengalaman di sekolahan yang lama membuat saya lebih tegar dalam menghadapi masalah. Saya bisa mengerti dan membantu anak-anak lain yang mengalami nasib yang sama seperti saya.


Celia, Ibu Annabel

Suatu saat, anak saya, Annabel pulang menangis dan saya tanya kenapa. Annabel bilang ada kawannya yang menyebar gosip kalau saya adalah seorang pembantu. Saya tidak kaget dan marah, tetapi berusaha menenangkannya. Saya tidak mengatakan pada anak saya kalau ini bukan pertama kalinya saya dengar, karena di lingkungan suami saya bekerjapun ada banyak yang menganggap saya pembantu yang kawin dengan tuannya. Saya rasa saya kena stereotype karena banyaknya  pembantu RT di sini yang berasal dari Pilipina dan memang ada kasus pembantu yang menikah dengan tuannya. Banyak orang yang tidak tahu kalau saya adalah seorang apoteker dan bekerja di suatu farmasi.

Penampilan saya yang seadanya memang kadang tidak menunjang karir saya, karena saya tidak suka membubuhkan make-up atau berdandan layaknya seperti wanita lainnya. Bagi saya, saya harus rapih dan bersih, itu sudah lebih dari cukup dan suami tidak pernah berkeberatan, karena dia menyukai segala sesuatu yang natural. Setelah Annabel mengalami bullying dan diskriminasi di sekolahannya, kami memindahkan dia ke sekolahan yang lain yang lebih jauh dari tempat kami tinggal. Kami senang melihat perubahan yang terjadi dengannya. Annabel lebih riang dan banyak kawan. Memindahkan sekolah adalah keputusan yang sulit, tetapi dalam hal ini kami rasa tindakan yang tepat. Saya mau anak saya tumbuh dalam pergaulan yang sehat dimana dia bisa diterima apa adanya.


Eric (Nigeria-Kanada)

Saya adalah anak campuran, ibu saya Perancis-Kanada dan ayah saya dari Nigeria. Saya bangga dengan latar belakang saya. Dalam keluarga kami, toleransi harus dijunjung tinggi-tinggi. Saya merayakan semua perayaan dan tradisi yang ada dalam keluarga ada Kwanza, Natal, Paskah, dsb. Biasanya kami memakai pakaian tradisional untuk perayaan Kwanzaa. Kwanzaa berasal dari bhs Swahili yang artinya hasil buah pertama dari panen. Biasanya keluarga berkumpul pada hari ini, mengucap syukur atas berkat yang kita terima sepanjang tahun.

Beberapa tahun lalu, di dalam sekolahan saya ada murid baru yang sangat kasar/ kurang sopan dan berlagak superior sekali. Saya dianggapnya gay, hanya karena saya punya sopan santun dan membantu kawan dan guru yang membutuhkan bantuan. Bagi dia, saya kurang macho atau tidak seperti anak laki-laki yang lainnya yang kasar. Awalnya saya tidak peduli sama sekali, tetapi belakangan saya tahu kalau dia menyebarkan gossip di Facebook kalau saya ini gay. Saya berusaha sedapat mungkin utk tidak terpancing, tetapi karena berita tersebut meluas sampai hampir seluruh sekolahan tahu, saya bertindak. Saya laporkan kejadian ini ke guru pembimbing dan anak tsb dipanggil dan ditegur.

Ternyata teguran guru tsb tidak mempan dan dia semakin menggila dan saya tidak bisa tenang dalam pelajaran, karena ulahnya yang semakin menjengkelkan. Akhirnya saya malas untuk bergaul dan menarik diri dari pergaulan. Orang tua saya semakin prihatin dan mereka melaporkan ke sekolahan dan kali ini, sekolahan menanggapinya dengan dingin, malahan mereka pikir orang tua saya terlalu berlebihan dalam menanggapi masalah anak-anak. Orang tua saya lalu mengambil keputusan untuk mengeluarkan saya dari sekolahan tersebut. Ini bukan suatu kekalahan, tetapi mereka sudah berusaha tetapi sekolahan tidak mengambil tindakan yang tegas dan saya senang dengan sekolah yang baru saat ini, karena banyak anak-anak yang memiliki latarbelakang seperti saya.


Jean-Marc, Ayah Eric

Saya memiliki anak yang amat baik dan cerdas. Waktu kami tahu akan memiliki seorang laki-laki, kami sangat teramat bahagia. Dia adalah buah hati kami satu-satunya dan kami mengajarkan semua yang kami tahu sedikit demi sedikit sesuai dengan umurnya. Eric berkembang menjadi seorang anak yang sopan dan respek dengan orang yang lebih tua dari dia, yang saya rasa sangat kurang di dalam masyarakat saat ini. Suatu hari saya dikagetkan oleh gosip yang mengatakan bahwa anak saya gay. Saya tidak percaya begitu saja, saya tanyakan baik-baik ke anak saya dan saya bilang saya tidak akan marah kalau itu betul.

Saya bisa menerima dia apa adanya sebagai orang yang mengasihi dan terdekat dengannya. Lalu dia bilang ini gossip yang disebar oleh kawan laki-lakinya di sekolahan dan malah sudah sampai ke jaringan network sosial Facebook. Saya dan istri saya akhirnya mengadap ke kepala sekolah dan memberitahukan apa yang terjadi. Kami sangat kaget dan kecewa, ternyata sekolahan tidak menanggapi masalah ini secara serius dan malahan kami dianggap terlalu protektif terhadap anak kami. Tidak ada jalan lain, kami harus menarik anak kami dari sekolahan tersebut, walaupun banyak orang bilang sekolahan itu salah satu yang terbaik, tetapi tidak buat anak saya.

Saat ini saya lihat anak saya lebih senang dengan sekolahannya yang baru, dia mulai banyak kawan dan guru-gurunya pun lebih perhatian. Nasehat saya bagi orang tua yang anaknya kena bullying di sekolahan, haruslah bertindak sebelum terlambat. Hati kami sangat sedih mendengar banyak anak di America yang bunuh diri karena dituduh gay atau kena bullying karena alasan yang hampir mirip dengan anak saya; kemungkinan mereka sangat sopan dan lain dari kebanyakan anak laki-laki yang tidak sopan dan kasar.


Zeida (Libanon-Palestina)

Saya baru berusia 11 tahun, ayah saya Kristen asal Libanon dan ibu saya Muslim dari Palestina. Saya lahir dan dibesarkan di Montreal. Tidak seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya, di rumah kami tidak ada radio, TV atau komputer. Saya dibesarkan dalam lingkungan yang menghargai buku, kesenian dan karya orang lain, jadi perpustakaan dan museum adalah kedua tempat dimana saya menghabiskan waktu saat weekend atau liburan. Saya disekolahkan di sekolahan swasta yang berbagai bangsa ada di sana. Saya tahu dari orang tua saya kalau saat ini bangsa mereka distereotype sebagai teroris. Saya tidak mengerti dan marah pada kenyataan ini, terlebih setelah ada salah satu guru yang selalu melihat saya dengan sebelah mata.

Berapapun jerih payah saya mengerjakan pekerjaan rumah atau melakukan project di sekolah, selalu dinilai lebih rendah dari kawan-kawan saya yang berambut pirang dan berwajah putih bersih. Terkadang saya ingin sekali kulit coklat saya menjadi lebih putih, jadi kalau keluar rumah saya selalu menutup seluruh badan saya supaya tidak tersengat sinar matahari, terutama di musim panas. Sebentar lagi kami akan pindah ke kota lain, setelah saya lulus sekolah. kata orang tua saya, kami akan pindah ke kota yang lebih baik bagi pendidikan dan pergaulan saya. Semoga di kota yang baru, tidak ada guru yang seperti guru saya saat ini.

Saya sebetulnya capek menghadapi diskriminasi yang ada di sekolahan dan juga di masyarakat di sini. Sekali waktu kami berbelanja dan ada orang tua berambut putih mengatakan ke saya untuk pulang ke negara asal kami. Saya tidak mengerti karena saya lahir dan besar di sini dan saya tidak pernah menginjakan kaki di Libanon atau di Palestina, jadi inilah negara saya yang saya cintai di mana saya lahir dan dibesarkan.


Sarah, Ibu Zeida

Saya punya anak perempuan satu-satunya yang sangat saya kasihi. Tidak seperti kebanyakan keluarga barat di sini, kami tidak menyuguhkan film kartun di TV pada malam hari atau main game di komputer sampai larut malam saat akhir pekan. Kami lebih banyak membaca buku dan mengunjungi perpustakaan dan museum dimana kami punya waktu. Saya tidak ingin anak saya melihat konflik Palestina-Israel yang berkepanjangan di TV dan juga mendengar berita di dunia yang selalu negatif dan terkadang menakutkan bagi kita org dewasa.

Anak saya sering mengeluh kalau gurunya kurang adil dan sangat subjektif sekali dalam menilai projeknya di sekolahan. Saya percaya kl anak saya adalh anak yang cerdas, tetapi dia tidak mendapatkan angka yang semustinya diberikan kepadanya.

Suami saya adalah profesor di salah satu universitas perancis di Montreal dan kebetulan namanya seperti nama wanita di sini. Dia sering mendapat surat atau memo dengan Mde. (madame-nyonya), walaupun banyak rekan-rekannya tahu kalau dia adalah seorang pria. Perlakuan kerabat kerjanyapun tidak jauh berbeda dengan perlakuan guru di sekolahan anak saya. Suami saya mempunyai gelar Phd/ doktor di bidangnya, tetapi hal ini tidak menunjang karirnya sama sekali. Banyak rekannya yang hanya bergelar master mendapatkan kontrak penelitian/ pekerjaan yang lebih baik kondisinya dari suami saya. Sedangkan saya pribadi sudah tidak memiliki pekerjaan setelah anak kami lahir, sulit untuk bekerja kembali dengan boss yang sangat rasis dan memberikan pekerjaan tambahan yang bukan bidang saya. Dulu waktu saya masih belum punya anak, saya masih bisa menerimanya, tetapi saat ini saya mau fokuskan perhatian ke keluarga dari pada membawa masalah dari kantor ke rumah. Kami berencana akan pindah ke kota lain setelah anak kami lulus sekolah dasarnya.


Vladimir (Rusia-America)

Saya lahir dan dibesarkan di Montreal, walaupun ayah dan ibu saya dilahirkan di tempat/ negara yang lain. Saya sangat bangga mereka bisa toleransi satu dengan yang lain, walaupun pandangan politik dan agama mereka jauh berbeda. Saya diajarkan untuk toleran, sportif  dan tidak pernah meremehkan orang lain karena mereka berbeda dengan kita. Salah satu jalan untuk belajar toleran, dan sportif, mereka memasukan saya dalam club ice-hockey yang sangat populer di sini. Awalnya, saya sangat menyukai team junior ini, tetapi lambat laun saya merasa dikesampingkan kl ada pertandingan, saya lebih banyak duduk di kursi cadangan.

Saya rasa, saya tidaklah terlalu buruk dalam pertandingan. Apakah hal ini disebabkan karena latar belakang saya yang berbeda dgn anak-anak yang kebanyakan Perancis-Kanada atau karena saya kurang suka kalau dirangkul mesra oleh coach kami. Saya tidak tahu, yang pasti makin lama coach saya makin kasar dan galak kalau melatih saya di lapangan ice-hockey. Karena hal tersebut sering terjadi, saya minta dipindahkan club ke org tua saya. Tadinya mereka tidak mengerti, tetapi sekali waktu, saya menyuruh ayah saya untuk menjemput saya lebih dini dan dia melihat sendiri bagaimana saya diperlakukan. Setelah itu saya keluar dan bergabung dengan club hockey yang lainnya. Di club yang baru saya senang sekali dan skill saya berkembang dengan cepat, secepat musim pertandingan di sana-sini, dan saya merasa lebih dihargai. Tahun ini saya berharap dapat bertanding lebih banyak lagi di group junior elite yang ada.


Sergey, Ayah Vladimir

Anak laki-laki saya sangatlah artistik, tetapi karena kegiatan kesenian dianggap hanya buat laki-laki yang flamboyan, kami masukan dia di club ice hockey untuk mendapat kegiatan lainnya supaya berimbang. Kami repot sekali membawa anak saya berlatih dan bertanding, terutama selama masa pertandingan berlangsung. Lambat laun, saya perhatikan anak saya lebih banyak duduk di bangku cadangan dan saya kurang mengerti kenapa, karena anak saya salah satu pemain yang cukup aktif dan baik. Akhirnya saya tanyakan kepada dia sebabnya. Dia bilang dia juga kurang mengerti karena coachnya bertambah kasar dan sering membentak-bentak waktu dia berlatih dan hal ini saya dengar sendiri pada waktu saya menjemput dia lebih pagian. Akhirnya saya pindahkan dia ke club yang lain dan di sanalah dia mulai berkembang dan bermain lebih baik lagi. Saya rasa lingkungan yang penuh intimidasi/ bullying, tidak baik untuk perkembangan anak, jadi ada baiknya orang tua juga memperhatikan dengan baik, lingkungan di mana anaknya bergaul.


Rani (India-Kanada)

Saya lahir dan dibesarkan sampai usia 5 tahun di Montreal. Waktu saya masih kecil, saya sering di ejek teman saya di sekolahan, katanya saya bau kari dan kotor. Saya tidak mengerti tadinya kenapa bau kari menyebabkan saya dijauhkan oleh kawan-kawan di sekolahan, jadilah saya kena diskriminasi hanya masalah sepele tersebut. Lama kelamaan saya baru tahu kalau kebanyak orang di sini tidak suka mencium bau-bauan asing, bagi mereka cukup tidak menyenangkan kedatangan orang kulit berwarna, tetapi harus mencium aroma yang asing, mereka tidak biasa. Ayah saya professor di salah satu perguruan tinggi di Kanada dan dia sangat menyukai sejarah India, mungkin saja karena itu, dia menikahi ibu saya yang berasal dari India.

Mereka bertemu saat mereka kuliah dulu dan pernikahan antar bangsa ini tidak direstui kedua belah pihak karena mereka berlainan kultur dan agama. Sampai saat ini hubungan kedua keluarga tidaklah akur, yang satu merasa sebagai pihak yang dijajah dan yang lainnya mereka pihak yang terjajah. Saat ini kami tinggal di Toronto dan komunitas India di sini cukup besar dan saya merasa lebih di terima di sini. Saya melihat banyak anak campuran India-Kanada di sini dan beberapa dari mereka mengalami apa yang saya alami waktu mereka masih kecil. Saat ini kami belajar untuk belajar lebih banyak lagi untuk menerima perbedaan, karena berbeda itu indah.


Gita, Ibu Rani

Saya bangga dengan latar belakang saya dan saya berusaha tanamkan ke anak saya, karena dia bagian dari kehidupan saya. Dulu Rani sering menangis kalau diejek India bau kari/ kotor, tetapi saat ini dia tidak pernah mengeluarkan air mata lagi kalau ada yang mengejeknya lagi. Dia bangga dengan latar belakangnya dan hal ini membuatnya lebih kuat sebagai seorang anak hasil perkawinan antar bangsa. Tidak pernah saya bayangkan dulu kl saya tidak memiliki anak, karena dari anak saya banyak belajar untuk lebih sabar dan lebih mengerti untuk mengatasi masalah perbedaan di dalam dan di luar keluarga.

Dulu saya terbiasa mendengar kritikan yang berbau diskriminasi walaupun kedengerannya seperti tanggapan biasa, ini karena ketidaktahuan mereka. Walaupun saya dilahirkan di Kanada, saya memiliki kulit yang gelap dan sering kali ini menghalangi saya untuk menempati posisi yang lebih tinggi dari rekan-rekan saya yang berkulit putih di dalam pekerjaan saya di salah satu instansi pemerintahan setempat. Saya juga sudah terbiasa dengan segala stereotype yang diberikan oleh kawan, kenalan, ipar dan saudara suami saya. Bagi saya, yang terpenting adalah anak dan suami bahagia dan saya tidak mau mengeluh terlalu banyak.


Dewi- (Indonesia-Kanada)

Saya lahir dan besar di Canada dari kedua orang tua yang berlainan bangsa, bahasa dan adat istiadatnya. Saya cukup memiliki banyak kawan di sekolahan yang lama, tetapi ada beberapa orang yang kurang menyukai saya. Bagi anak-anak Asia, saya terlihat bule karena saya anak campuran, tetapi bagi anak-anak bule saya kelihatan lebih asiatique. Pada awalnya, saya tidak disukai anak-anak Asia yang ibu bapaknya asli dari Jepang dan Korea, tetapi lambat laun mereka mulai mengenal saya dan perlakuan mereka sedikit membaik.

Tetapi saya tetap tidak bisa bergaul bebas dengan anak-anak bule di sekolahan saya, karena banyak hal yang mereka tidak sukai dari anak-anak Asia. Belakangan saya tahu kalau ini adalah pengaruh dari pandangan orang tua mereka. Orang tua mereka biasanya tidak membaur dengan orang tua anak-anak Asia atau dengan orang tua yang kawin dengan bangsa lainnya. Mereka punya club sendiri yang berusaha mempertahankan kesuperioran bangsa berkulit putih. Suatu saat ada anak yang mulai membenci saya tanpa saya tahu jelas duduk persoalannya.

Awalnya hanya dengan kata-kata saja, tetapi kemudian dia mulai berani memukul kepala saya. Saya akhirnya laporkan ke orang tua saya dan mereka bicara dengan kepala sekolahan saya tentang insiden tersebut. Untungnya kepala sekolahan sangat tanggap dan anak yang memukul saya dipanggil dan disuruh meminta maaf atas perbuatannya dan berjanji tidak akan berbuat lagi. Saya tidak pernah diganggu lagi, tetapi dia mengganggu anak yang lainnya. Saya menyaksikan hal ini berulang kali dan orang tua saya beranggapan dulu saya korban dari bullying, tetapi kemudian saya tetap menyaksikan bullying di depan mata saya.

Karena banyak kasus bullying di sekolahan tersebut, orang tua saya memutuskan untuk memindahkan sekolah saya untuk kepentingan saya pribadi. Tadinya saya sangat sedih karena kehilangan kawan baik saya, tetapi lambat laun saya mendapatkan kawan baik di  sekolahan yang baru dan kesedihan itu mulai berkurang dengan berjalannya waktu.


Kartika, Ibu Dewi

Suatu hari anak saya mengeluh sakit perut sebelum berangkat ke sekolah dan saya anggap mungkin ini hal biasa di pagi hari. Tetapi lama kelamaan sakit perutnya semakin menjadi-jadi. Saya membawanya ke dokter untuk diperiksa apakah ada sesuatu yang menggangu pencernaannya atau ada hal lainnya yang patut untuk diperhatikan. Setelah menjalani banyak test, dokter tidak menemukan apa-apa dalam perut dan tubuh anak saya. Dokter menyarankan anak saya untuk cukup beristirahat dan menghindari stress. Setelah ke dokter, penyakit perutnya hilang tetapi datang kembali keesokan harinya. Saya mulai curiga, mungkin ada sesuatu yang terjadi di sekolahnya. Akhirnya setelah saya tanya baik-baik, anak saya menangis dan dia bilang kalau dia sering kena bullying dari kawannya di kelas dan puncaknya adalah pemukulan di kepala pada waktu di gymnasium.

Mendengar hal ini, saya hampir tidak percaya, karena kami sering kali mendengar berita bullying di sana-sini, terutama di sekolahan, tetapi tidak pernah terbayang atau terpikirkan kalau anak saya menjadi salah satu korban bullying juga. Lalu kami menemui kepala sekolah anak saya dan melaporkan apa yang terjadi. Untungnya kepala sekolah tersebut cukup tanggap dan berjanji akan menyelesaikan masalah tersebut secara tuntas.

Belakangan saya tahu kalau anak yang sering mengintimidasi anak saya adalah produk dari keluarga broken home dan ibunya sering memukul serta menyiksanya. Setelah permasalahan tersebut selesai, anak saya tidak mengalami bullying lagi, tetapi anak tersebut mencari korban yang lainnya, sehingga anak saya masih melihat adanya bullying di sekolahan tersebut. Selain murid, ternyata orang tua dan guru juga mengalami bullying di sekolahan tersebut. Karena bulllying sudah mengakar di sekolahan tersebut, kami memutuskan untuk memindahkan anak kami dari lingkungan yang tidak sehat tersebut. Saat ini anak kami berkembang dengan baik dengan kesehatan yang baik juga.

…………………………………………


Di atas hanyalah sebagian kisah nyata yang saya dengar secara langsung di sini. Tidak pernah mimpi kalau anak saya juga mengalami bullying di sekolahannya yang menjunjung tinggi nilai multikultural. Pada waktu anak saya mengalami bullying tsb, saya akhirnya berpikir “ENOUGH IS ENOUGH”- saya mengambil keputusan untuk mencari tahu apa yang terjadi di balik tembok sekolahan di sini.

Karena susahnya orang tua untuk melihat secara langsung ke dalam sekolahan, kecuali kalau ada pertemuan dengan guru, inipun kalau dibutuhkan, maka saya mengambil inisiatif utk membawa projek seni ke sekolahan dalam bentuk membatik. Banyak orang menanyakan kenapa dalam bentuk ini, karena dengan membatik, anak-anak dilatih untuk memilik kesabaran (banyak tingkatannya) dan juga kreatifitas yang tinggi.

Mereka tidak hanya membatik dan lalu selesai, tetapi dari hasil design batik mereka, kita buat kartu dan kartu post yang nantinya kami jual kepada orang tua dan sekolahan mereka. Uangnya dikumpulkan sekolahan masing-masing untuk kegiatan sosial di sekolahan tersebut atau dikirim ke tempat/ sekolahan di negara lain yang membutuhkan bantuan mereka. Anak-anak belajar untuk berbagi, memberikan kasih dan harapan bagi anak-anak lainnya melalui karya seni mereka. Dengan ini, mereka mempunyai nilai positif dan mempunyai pikiran yang lebih baik dari pada bullying kawannya di sekolahan dan dalam lingkungan di mana mereka berada.

Setelah banyak sekolahan swasta dan negri yang berpartisipasi, project ini mulai masuk dalam aktivitas sosial di museum dan cultural centre,  yang tujuannya adalah mengurangi Bullying, dan dalam jangka panjang untuk menghapuskan Bullying. Tentunya pada awalnya project ini tidak diterima dengan mudah oleh beberapa sekolahan, terutama yang memiliki kasus bullying, mereka menggangap sekolahan mereka tidak pernah bermasalah.

Karena pertimbangan inilah akhirnya kita beri judul projek seni tersebut LA PAIX, L’AMOUR ET ESPOIR (PEACE, LOVE AND HOPE = DAMAI, KASIH DAN HARAPAN), tanpa memasukan kata-kata anti-bullying. Awal bulan ini, projek seni membatik tsb terpilih dalam projek PEPSI Canada -REFRESH EVERYTHING, dalam kategori seni dan budaya -5K. Saat ini sudah menduduki ranking ke 13th dan berharap rating tersebut akan naik menjelang akhir tahun. Pengumuman finalistnya tgl 1 January 2011 y.a.d. Linknya :
http://pep.si/9a0pwP

Jangan terlalu kaget kalau bullying saat ini seperti ‘new culture’ di sekolahan karena Bullying berkembang pesat di mana-mana saat ini, baik di sekolahan negri atau swasta yang terbaik sekalipun di Canada, US dan Eropa. Kalau di Asia, negara Jepang sebetulnya sudah mengenal Bullying sudah lama sekali tetapi tidak pernah disorot media karena sistem sekolahannya yang tidak terbuka. Menurut statistic di sini, satu dari 5 orang anak sekolahan akan mengalaminya dalam kehidupan mereka. Di US, hampir sama satu dari 4 anak mengalami Bullying, sehingga Departemen Pendidikan di US dan President Obama mengeluarkan pernyataan tentang bullying baru-baru ini:

White House Focuses on Bullying

The U.S. Department of Education recently sent Dear Colleague letters to schools to support educators in ending bullying. The letter clarifies when student bullying may violate federal education anti-discrimination laws, provides examples of harassment and explains how a school should respond to bullying. The White House also released a video from President Barack Obama that urges victims of bullying to seek help and encourages young people to embrace their differences.

P.S. Bullying mungkin kl diterjemahkan bebas dalam bahasa Indonesia= intimidasi


Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung Alvina. Make yourself at home. Ditunggu artikel-artikel yang lainnya ya…

(welcome note’nya ketinggalan…hihi)


4 Comments to "Anak Campuran, Diskriminasi dan Bullying"

  1. Alvina VB  21 March, 2017 at 23:39

    Belum ada saat ini, tetapi akan dibukukan setelah research saya rampung di sini ttg topik tsb. Butuh proses pengkajian and support dari banyak pihak. Tetapi kalau ttg project itu sendiri – Peace, Love & Hope, bukunya akan terbit thn ini di awal bulan December, akan diterbitkan dlm 3 bahasa- Inggris, Perancis dan Indonesia.

  2. soleh  21 March, 2017 at 10:49

    kalau buku yang membahas mengenai judul tersebut ada gk yah

  3. Alvina VB  4 October, 2011 at 12:06

    Numpang kampanye di sini, he..he…

    Tolong Voting di: http://www.avivacommunityfund.org/ideas/acf11257

    Mohon register dulu baru voting. Thanks.

  4. alvina  3 January, 2011 at 14:26

    Trims utk semua komentarnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *