Nikah Siri

Hennie Triana


Beberapa malam terakhir ini aku terserang gangguan susah tidur, sulit sekali memejamkan mata. Sekarang aku bisa merasakan kekalutan fikiran saudara dan teman-temanku beberapa tahun silam. Melajang di usia seperti ini, apalagi sebagai wanita. Masih ada hal yang sedikit menghibur, aku tinggal di ibukota. Bayangkan kalau aku tinggal di kota kecil atau di desa, bakal dicap sebagai perawan tua, betapa menyakitkannya.

Dua tahun belakangan ini aku timbang-timbang ajakan pacarku untuk menikah. Lelaki asing ini aku kenal sembilan tahun yang lalu. Ranti, sahabatku adalah teman baiknya, dan secara berkelakar ingin memperkenalkannya padaku.
“Lisa, mau nggak aku kenalin ama temanku, dia lagi single nih, baru putus dari pacarnya”. begitu Ranti berkata padaku suatu hari.

Pada saat itu aku cuma tersenyum, kami memang senang sekali berkelakar. Mungkin sahabatku itu memang berniat serius mengenalkan lelaki ini.

“Bukannya dia ke sini karena mengunjungi pacarnya?” aku balas bertanya.
“Iya, sebenarnya begitu, tapi aku paksa dia putusin, soalnya si cewe ternyata punya pacar baru. Kasihan dia, jauh-jauh datang malah diabaikan”. begitu Ranti melanjutkan.

Aku hanya bisa ikut tergelak waktu Ranti bilang kenapa juga lelaki itu mengikuti sarannya.   Dua tahun kemudian aku menerima email dari Deniz, lelaki tersebut. Dia mengatakan akan mengunjungi kotaku dalam waktu dekat dan akan bertemu denganku, seandainya aku punya waktu luang. Ranti telah pindah kota mengikuti suaminya. Aku katakan pada Deniz, akan memberi kabar 3 hari kemudian.

Sore ini selepas kerja aku menuju ke cafe seperti yang telah disepakati. Dari jauh aku sudah lihat sosok yang selama ini hanya aku kenal lewat cerita sahabatku, dan tentunya email yang saling kami kirim. Deniz, persis seperti yang digambarkan Ranti. Lelaki Turki yang telah lama meninggalkan negaranya tersebut, sosok yang agak pendiam, tapi sangat lembut. Aku ingat kata-kata Ranti beberapa tahun lalu, 
“Deniz itu orangnya tinggi, agak pendiam tapi lembut sekali. Wajahnya lumayan, tapi penampilannya nggak keren Lis. Cuma jangan kuatir, penampilan seseorang bisa dirubah kok. Orangnya enak diajak ngobrol apa saja, nyambung”.

Sejak pertemuan itu, berkirim email dan telpon makin sering, begitu juga kedatangannya ke kotaku. Selain memang salah satu kerjaan yang membawanya berkunjung, juga tentu waktu untuk liburan dipakai beberapa hari untuk mampir menengok keadaanku.

“Lisa, aku ingin menikahimu. Aku mau mengaku sekarang, bahwa aku sudah berkeluarga.”
Pernyataan yang tiba- tiba tersebut seperti batu besar yang menimpa kepalaku. Terdiam dan terpukul, tak tahu harus menjawab apa. Aku tidak memberikan jawaban apapun, sampai beberapa hari yang lalu aku menerima pesannya lagi, dia akan mengunjungiku. Kali ini dengan tambahan bahwa kami berdua harus menghadap orang tuaku yang tinggal di kota lain. Nanti di sana, dia sendiri yang akan menyampaikan niat tersebut langsung pada orang tuaku.

Aku marah pada diri sendiri, bagaimana mungkin aku bisa cinta sekali dengannya. Padahal aku sudah tahu bahwa dia punya keluarga di negeri yang jauh di sana. Bagaimana mungkin aku tega diam-diam menerima tawarannya, sementara istrinya tidak tahu apa yang terjadi di sini.

Ibundaku sebenarnya telah tahu masalahku, dan beliau hanya menyerahkan semua keputusan di tanganku. Aku tahu, di balik sorot matanya, beliau sedih sekali. Tapi karen kasih sayangnya yang tak terbatas itu, beliau mendukung keputusanku untuk masa depan dan kebahagianku.

Ranti akhirnya aku kabari beberapa bulan yang lalu. Dia terkejut sekali dengan berita ini, karena dia tidak tahu apa-apa, dan aku tidak jujur dengannya bahwa sebenarnya aku akhirnya punya hubungan dekat dengan Deniz. Betapa buruknya aku sebagai sahabat. Padahal aku tahu Ranti selalu ada untukku, di masa-masa sulit dulu. Tapi Ranti seperti biasa, selalu tertawa dan menghiburku. Dia hanya berpesan bahwa aku harus tahu jelas-jelas bagaimana resiko sebagai istri yang dinikahi di bawah tangan. 

“Aku bahagia untukmu Lisa, apapun keputusanmu. Dan tolong kabari aku, berita baru apapun. Doaku buat kebahagian kalian, semoga langgeng ya.”

Menetes air mataku. Sahabatku yang satu ini paling bisa menguasai situasi, paling mengerti aku. Walaupun kami adalah dua pribadi yang bertolak belakang, tetapi sampai saat ini aku belum pernah punya masalah dengannya, kami bersahabat dari sama-sama masih sekolah dulu.

Mata ini tak bisa juga terpejam. Menjadi istri dengan cara menikah siri, sama saja dengan menjadi perempuan simpanan, apapun istilah yang digunakan. Aku ingin tertidur dan terlelap, berharap semua ini hanya mimpi.

De, November.2010 Terima kasih banyak buat redaksi, juga sabahat Baltyra yang telah mampir membaca. Salam hangat.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *