Indonesian Art of Driving

Josh Chen – Global Citizen

 

Melengkapi yang ditulis oleh Pak Djoko di artikel Sirkus (http://baltyra.com/2010/11/23/sirkus/) inilah Indonesian Art of Driving. Tidak pengemudi mobil ataupun pengendara brompit (sepeda motor) kebanyakan di jalan memang sungguh piawai berlalulintas. Ya maklum sih, lha wong SIM’nya saja bisa dikatakan mayoritas tembakan. Siapa bilang sekarang bikin SIM tidak bisa nembak? Sempat memang membaik sebentar, tapi sekarang coba lihat, di setiap tempat bikin SIM, selalu ada saja entah itu makelar ataupun oknum petugas yang menawarkan untuk “membantu”. Jadi prinsipnya adalah semua “bisa dibantu”.

Beberapa kredo untuk pengendara kendaraan bermotor di jalanan:

Untuk motor:

  • Jangan pernah takut dengan mobil, truk, container, tronton, dsb. Jika terjadi tabrakan, srempetan, senggolan, serudukan, apapun itu, sepeda motor tak pernah salah (biar mati sekalipun).
  • Jika melihat ada mobil menyeberang atau memberikan lampu sein tanda berbelok, gas’lah motor lebih cepat untuk sebisa mungkin menghalangi, memotong atau melaju di depannya sebelum berbelok.
  • (Khusus untuk Medan). Traffic light hanyalah asesoris. Hijau jalan terus, kuning putar gas, merah tengok kanan kiri. Tidak ada istilah stop, hanya buang-buang waktu.
  • Kolong fly-over, kolong jalan tol, kolong jembatan penyeberangan adalah tempat berteduh jika hujan, peduli amat dengan pengendara lain, sudah mending disisakan satu jalur.
  • Trotoar adalah jalur tambahan dan bukan untuk pejalan kaki. Kalau ada pejalan kaki, klakson kencang-kencang, jika tak mau minggir, makilah, pelototilah bila perlu senggollah.

 

Untuk mobil (dan truk, bus, angkot):

  • Jalur di jalan tol tak ada artinya. Kalau ingin melaju di jalur paling kanan dengan kecepatan 30-40 km/jam sah-sah saja.
  • Kalau ada mobil di belakang menglakson atau memberikan tanda lampu ingin mendahului, peduli amat, itu urusan dia mencari jalur yang kosong untuk mendahului.
  • Jika terus-terusan menglakson, makilah si pengendara.
  • Bus, truk boleh melaju di jalur mana saja di jalan tol. Kendaraan lebih kecil carilah sendiri jalurmu.
  • Bahu jalan adalah jalur tambahan, bukan jalur darurat.
  • Kecepatan tanggung, pelan tidak, kencang tidak, kiri tidak, kanan tidak, suka-suka gue lah, mobil juga mobilku.
  • Setiap ruas jalan adalah perhentian angkot untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
  • Ngetem penumpang sah-sah saja mau 2, 3, 4 lapis ke tengah jalan, yang penting masih tersisa satu jalur atau ¾ jalur untuk pengendara lain. Itu semua demi mengejar setoran dan sesuap nasi.

 

Setelah sedikit memahami kredo pengendara di atas, marilah pelajari lebih lanjut ilmu-ilmu di bawah ini:

Kondisi A: motor ingin berbelok ke kiri atau ke kanan

Untuk berbelok ke kiri, saliplah mobil di depan anda dari kanan dan potonglah ke kiri. Demikian sebaliknya, jika ingin berbelok ke kanan, saliplah mobil di depan anda dari kiri dan potonglah ke kanan.

 

Kondisi B: mobil di depan anda ingin berbelok ke kanan atau kiri, dan anda ingin lurus atau ke kanan atau kondisi sebaliknya (motor akan berbelok ke kanan)

Jika mobil di depan anda sudah memberikan tanda belok ke kiri, segeralah gas motor anda lebih kencang, salip dari kiri kemudian potong untuk terus lurus atau potong ke kanan sesuai arah tujuan anda. Jangan takut tersenggol, terserempet atau tertubruk, motor tak akan pernah salah.

Demikian sebaliknya untuk mobil yang ingin berbelok ke kanan.

 

Kondisi C: di perempatan atau roundabout, mobil dari kanan anda ingin memasuki jalan di kiri anda

Putar gas motor anda lebih kencang, salip dari depan mobil dan potong untuk kembali ke jalur anda. Sekali lagi jangan takut, motor tak akan pernah salah. Kepiawaian anda memotong adalah tantangan tersendiri, jika anda tak tersenggol dan pengemudi mobil misuh-misuh, itulah letak kebanggaan akan kepiawaian anda.

 

Kondisi D: di pertigaan (bisa di dalam kompleks perumahan, bisa di jalan umum, bisa juga pintu keluar dari kompleks atau cluster)

Anda ingin berbelok ke kanan, langsung saja putar setir ke kanan, ambillah lintasan terpendek untuk mendukung gerakan penghematan bahan bakar, dibandingkan dengan lintasan warna merah yang jarak tempuhnya lebih panjang.

 

Anda dari jalan besar, ingin berbelok ke kanan memasuki cluster anda, ambillah jarak tempuh terpendek. Tidak usah pedulikan mobil yang dari dalam, dia harus berhenti memberikan anda jalan. Kalau tidak mau berhenti, klaksonlah, nyalakan tanda lampu dim untuk minta jalan, bila perlu buka jendela dan makilah.

Perlu selalu diingat, anda adalah raja di jalan, anda adalah pengguna jalan dan yang lain hanyalah pelengkap di jalan. Anda sudah beli mobil atau motor pakai uang anda sendiri (entah kalau si Gayus dan Gayus-gayus yang lain), bayar pajak kendaraan bermotor, urus SIM juga dengan “dibantu”, pajak jalanan juga bayar, jadi anda punya hak penuh atas apapun mau anda.

Dan inilah hasilnya…

 

Lengkaplah sudah…

Moral of the story: jika anda menguasai semua teknik mengemudi/mengendarai di atas, anda sudah lulus ujian untuk mengemudi atau berkendara di mana saja.

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.