Kios Pak Suparmin

Rina S – Bogor


Jika anda kerap melintasi jalan di belakang terminal Baranangsiang Bogor mungkin sosok berikut kios buku ini tidak lagi asing. Keberadaan kios buku dan majalah bekas ini bisa dibilang mencolok di antara deretan warung nasi, wc umum, tukang cukur rambut, penjahit, warung nasi, ps, tempat penitipan motor, tukang sate, bengkel dan pengamen jalanan yang biasa mangkal di sekitar sana. Jalan di depannya, yang memisahkannya dengan terminal Baranangsiang, kerap macet. Selain disebabkan banyaknya angkot, jalannya sempit juga jalannya bolong-bolong.

Tidak seperti kebanyakan kios buku dan majalah bekas yang biasa ditemui di hampir setiap stasiun atau terminal. Kios ini bisa dibilang apik, bersih dan cukup luas sehingga pembeli bisa memilih dengan leluasa. Sebelumnya, kios buku  dan majalah bekas ini terletak di sisi kiri pas jalan masuk terminal belakang. Sebuah petak berukuran kira-kira 2 x 3 dari sekatan triplek dengan warna coklat kusam dengan lantai plesteran. Namun sejak beberapa bulan ini pindah, selain tempatnya lebih lapang, luas, juga bersih karena berlantai keramik putih, tambahan lainnya, di bagian belakang kios yang di sekat triplek dan selembar gorden merah, jadi tempat tinggal sang pemiliknya bersama istri dan anaknya yang masih bayi.

Jadilah pada kesempatan yang beberapa kali harus tertunda (karena setiap sore di Bogor hujan deras) sepulang kerja saya mampir untuk mencari beberapa majalah dan buku bekas. Dulu saat masih kuliah di Bandung, saya selalu menyempatkan diri ke daerah alun-alun tepatnya pertigaan Dewi Sartika atau di depan gedung PLN Bancey atau pasar buku di pasar tradisional yang terletak di jalan Suci lantai dua, tempat buku dan majalah bekas digelar. Tanpa target buruan tertentu, artinya  hanya berbekal harapan menemukan buku bagus dengan kondisi layak dan isinya berkualitas. Beberapa buku yang saya dapat dari hasil berburu buku bekas ini diantaranya seri buku Rumah Kecil di Padang Rumput (walaupun Gramedia menerbitkan ulang buku ini, saya lebih suka edisi jadulnya, terasa lebih klasik), novel Gone With the Wind versi bahasa Inggris dan beberapa majalah National Geographic (waktu itu majalah ini belum ada edisi bahasa indonesianya).

“Silakan,” sapanya setelah membalas senyum saya.

Saya menanyakan seri buku parenting yang diterbitkan sebuah majalah parenting yang saya lihat beberapa hari yang lalu terdisplay menggantung.

“Sudah ada yang beli,” katanya.

Saya kecewa sekaligus menyesal, tidak datang kemari beberapa hari sebelumnya.

“Ada seri yang lain gak, Pak?”

“Ada, tapi sudah lama dan kurang bagus kondisi majalahnya.”

Lalu dia menyodorkan  buku yang dimaksud. Yang membuat kondisi buku berbentuk majalah ini terlihat jelek adalah umurnya. Halamannya masih lengkap dan tidak sobek begitu pun covernya. Dan themanya pun sepertinya tidak mengenal kadaluwarsa.

“Berapa, Pak?”

“Lima ribu.”

Saya langsung sepakat dan berkeliling melihat-lihat buku dan majalah lain. Naluri berburu buku  bekas saya muncul. Saya menambah sebuah majalah parenting yang masih terbungkus plastic dengan rapih namun terbitan 2 bulan seharga lima ribu. Mengingat  saat ini saya tengah menerapkan saving dalam rencana keuangan keluarga, rasanya pilihan membeli majalah bekas berthema Parenting yang terbit satu atau dua bulan ke belakang di sini jadi pilihan tepat. Yap, saya memutuskan untuk secara rutin kemari.   Terselip juga sebuah novel karya Naguib Mahfouz, seorang sastrawan mesir. Salah satu novelnya yang terkenal dan telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Lorong Midaq  dan telah difilmkan dibintangi Salam Hayek sebagai pemeran utama. Seharga lima ribu. Ehm….

Lalu kami terlibat obrolan singkat. Dari sana saya tahu, namanya Suparmin dan sudah lima tahun berjualan di sini.

Lima tahun di sini? Jika sudah bertahan selama itu artinya selalu ada yang membeli. padahal saya pikir pilihannya untuk berjualan di tempat ini salah karena kebanyakan pengguna bis di terminal ini adalah para komuter yang pergi subuh pulang malam dan dengan kondisi jalan dan tempat seperti saya tulis di atas, kurang nyaman untuk orang mencari sesuatu atau nongkrong lama-lama di sini, dugaan saya ternyata salah.

“Kenapa memilih berjualan buku, Pak?” tanya saya ingin tahu.  “Keuntungannya kan kecil apalagi buku bekas dan ya bukukan tidak seperti makananan yang selalu dicari dibutuhkan orang setiap saat.” Pertanyaan saya mungkin terlalu kasar ya. Maksudnya sich buku untuk kebanyakan masyarakat negeri ini,  bisa dibilang tidak termasuk kebutuhan, tidak dibudgetkan dalam pengeluaran bulanan, kecuali untuk golongan akademisi. Dan ini tentunya berkorelasi dengan omset dan margin penjual buku. Kecuali berjualan dalam skala besar atau jaringan.

“Saya suka baca, Mbak,” jawabnya. Sosoknya memang  tidak seperti kebanyakan pedagang buku dan majalah bekas yang biasa saya temui. Saya kerap melihatnya serius membaca saat menunggui dagangannya karena angkot yang saya tumpangi sepulang kerja selalu lewat jalan ini.

Jawaban yang sederhana dan terkesan idealis tapi bukankah itu yang membuat sebuah pekerjaan menjadi menggairahkan dan mempunyai nilai spirit, karena kecintaan.

3 Comments to "Kios Pak Suparmin"

  1. Marta  3 May, 2019 at 20:06

    Ka, saya boleh minta alamat lengkap toko ini ga?

  2. Vinci gitara yuda  17 September, 2018 at 14:30

    Saya menyukai buku..karna saya hoby baca..jadi apapun hal yang berhubungan dengan buku.aku suka aku cinta

  3. Maria  13 March, 2017 at 07:11

    Kak… ini boleh minta no hp-nya?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.