Biji Dadap

R. Wahyu


(kenangan sewaktu kecil)

Jadwal tidur siang menjadi momok mengerikan setiap harinya, waktu seakan berlalu dalam hitungan detik, tanpa kegiatan apa-apa. Padahal ada banyak rencana yang mengunung di dalam otakku, menguras parit dan mengambil seluruh penghuninya, ada belut, wader, ikan sepat, kepiting sawah, kul kul dan kalau beruntung ikan gabus anakan sebesar jempol tangan, lumayan pakai lauk makan sore hari. Biasanya juga main bekel dengan teman perempuan yang sok usil, genit dan sungguh bukan grup bermain yang terlalu mengasyikkan bagiku.

Padahal umur mereka sebaya, sekelas juga. Aneh, apa karena Bapak dan Ibu menginginkan anak laki-laki sehingga namaku pun seperti nama anak laki-laki. Tidak tomboy juga sih, hanya memang koleksi bajuku hanya selembar rok merah kotak-kotak dan atasannya, sering dipakai kalau ikut acara kantor Bapak, biar centil seperti cewek plus rambut keriting sebahu, itulah daya tarikku yang lucu. Selebihnya hanya kaos dan celana panjang, itupun hanya beberapa biji. Kupikir karena banyak sesuatu yang muncul di otakku sehingga main dengan cewek hanya standart itu-itu aja tidak ada tantangan, makanya geng cowok yang kupilih.

Dengan mengendap-endap tanpa bersuara, kututup pintu kamar, meninggalkan buku-buku yang berserakan di atas tempat tidur, sedikit meninggalkan kesan bahwa sudah melaksanakan tugas belajar setelah pulang sekolah. Mengulangi pelajaran yang tadi dipelajari dan mengerjakan pe- er sekolah, malamnya adalah agenda belajar untuk esok hari. Benar-benar tugas harian yang melelahkan dan tidak mengasyikkan. Mengapa orang tua selalu tidak mengerti maunya anak, belajar dan belajar itulah tugasnya, padahal kalau mereka mau ikutan berpetualang denganku, umur mereka bisa mundur 10 tahun, seru dan mengasyikkan.

Di bawah jendela mushola sebelah rumahku telah menunggu sahabat-sahabatku, di situlah markas terdekat kami. Surau yang dibangun ditanah waqaf milik mbah Min, salah satu orang tertua di kampungku. Di sebelah surau terdapat gundukan pasir bekas galian tanah untuk membuat batu bata, hangat untuk alas duduk padahal ada banyak timbunan kucing kucing liar yang menyembunyikan hajatnya, tak terkira baunya sekarang.

Tapi entah kenapa tak kuingat masalah sekecil itu menghalangi kami berembug menyusun rencana siang ini, setiap hari kalau aku bisa lolos dari kurungan jadwal tidur siang. Untungnya dari seminggu selalu sukses dalam tujuh harinya. Untungnya pula, tak pernah ada masalah dengan kegiatan belajarku, sehingga 6 tahun masa SD ku selalu sukses dengan juara pertamanya.
Hari ini kami sepakat memanen biji-bijian merah sebesar kelereng yang tumbuh di belakang rumahku, biji dhadap katanya. Buahnya berderet seperti petai, pohonnya sebesar pohon jati tua, bersebelahan dengan beringin tua yang menaungi kakus kakus rumahan yang tersembunyi dibalik rimbunnya.

Ada dedemit yang menghuninya kata orang-orang sekitar, tapi selama kami tak menjumpainya kami masih suka main petak umpet di sana, kalau malam hari barulah tak seorangpun berani mengunjunginya kecuali kalau ada tujuan ke kakus, itupun ditemani Bapak atau Ibu dengan senter di tangan. Siapa yang memperoleh biji terbanyak itulah pemenangnya. Ada perdebatan serius kemarin, perlu diselesaikan hari ini. Tidak mengenakkan rasanya kalau masih menyimpan perdebatan di antara teman, agar tetap solid semua harus dibuktikan dengan benar sehingga bisa menyelesaikan masalah.

Fokus kami kali ini adalah, siapakah yang mempunyai lubang hidung paling besar. Kemarin di sekolahku ada pelajaran tentang bentuk (shape), di antaranya lingkaran. Kami tidak sekelas, bahkan tidak satu sekolah, sehingga materi yang kami dapat berbeda-beda. Kadang-kadang metode pengajarannya berbeda, maklum kalau berbeda penerimaannya pula.

Bukan mengacu kepada materi sih, hanya berdebat bagaimana cara mengukur lingkaran. Tak pernah sedikitpun kami membahas tentang sekolah, sudah cukup di sekolah saja kami memutar otak yang sudah penuh ini, hanya kelakar ringan yang menyerempet yang menjadi topik petualangan disiang hari, mengendorkan saraf  otak yang setengah harian milik sekolah.

Lingkaran hidung itulah pertaruhan kali ini.

Setumpuk biji merah sudah di depan mata, bergantian kami mengukurnya dengan cara memilih biji yang sesuai dengan ukuran lubang hidung kami, jika jalan masuknya sudah susah berarti itu ukuran yang sesuai. Sebenarnya akulah yang paling penakut, maklum juga karena akulah makhluk perempuan sendiri di antara teman2ku, tapi aku juga tak mau kalah. Kupilih biji yang menurutku paling sesuai, pelan-pelan aku masukkan ke hidungku.

Satu tak sesuai, terlalu mudah masuknya, mencoba lagi dengan ukuran yang lebih besar, belum juga sesuai. Pilihan ketiga aku putuskan memilih yang paling besar di antara temuanku hari ini. Seukuran biji kacang merah yang sudah membengkak akibat direbus, kalau di Sumatra terkenal dengan es Kacang Merah, atau di buat sup Kacang Merah, namun biji ini agak lebih keras. Tak apalah mungkin ini pilihan terakhirku.

Dengan posisi agak menunduk, takut kalau masuk beneran, ternyata agak susah juga memasukkannya, tapi dengan sedikit memaksa akhirnya sang biji masuk ke lubang hidungku. Itu berarti ukurannya cocok. ”Hore… yes”, berhasil juga, kataku setengah memekik. Tak ada yang bersorak, malah mereka berlarian terbirit-birit meninggalkan aku dan biji merah di lubang hidungku. Ternyata ada Bapak di belakangku. Secepat kilat kumasukkan lebih ke dalam biji merah jauh kepersembunyiannya dalam hidungku, aku takut ketahuan.

”Ayo… tidur siang, nanti malam temannya datang malah ketiduran duluan”, kata Bapak. Setiap malam banyak teman-temanku sekelas belajar kelompok di rumah, yang rumahnya lain desa terpaksa tidur juga di rumah kalau tak ada keluarganya menjemput, desa kami rawan pencuri dan begal.

Kadang kehadiran mereka membantuku juga untuk sekedar berhasil belajar malam hari, Bagaimana tidak, mereka selalu mengerjakan tugas rumah dari sekolah mengekor pekerjaanku, mereka juga langganan bertanya, bak seorang guru aku biasanya menjawab sekenanya, anehnya mereka selalu percaya. Tapi ini memang rahasianya, semakin banyak kita berbagi ilmu, bukannya berkurang ilmu kita tapi aku merasa jadi tambah banyak. Alloh sudah menjanjikan itu.

Bapakpun punya alasan lain dengan menjadikan rumahku jadi tempat belajar kelompok, beliau bisa mengawasiku benar benar  belajar. Ternyata punya anak sepertiku repot juga ya??.

Hari pertama, biji merahku masih aman-aman saja. Siang ini rasanya malas untuk melanjutkan petualanganku, rencananya kami mau menyusuri sungai di sebelah masjid desa agak jauh ke barat, mencari ikan tentunya. Aku merasa harus mengeluarkan biji merah itu dari hidungku, sebelum ketahuan Bapak, apalagi Ibu. Di depan cermin kucoba intip, ku hirup nafas panjang dari lubang yang hidung satu lalu kukeluarkan lewat lubang yang buntu keras-keras. Sekali dua kali kok ternyata susah juga. Tidakterasa hampir sore, masih belum bisa juga. Was-was menyelimuti pikiranku, bagaimana kalau tidak mau keluar, mungkin biji itu merasa hidungku adalah tempat teraman persembunyiannya.

Bapak menyangka aku pilek, dilihatnya hidungku agak memerah, bolak balik aku juga berusaha mengeluarkan ingus dari hidung, “Jangan banyak main dulu ya. . ” pesan Bapak. Kali ini aku serius menyetujuinya. Badanku memang terasa ada yang aneh, agak meriang dan ups, hidungku sakit kalau tersentuh sesuatu. Terpaksa hari ketiga setelah petualanganku aku bolos sekolah.

Esoknyapun sama, hidungku tambah memerah dan agak membengkak. Tak karuan marahku ketika Ibu berusaha memegangnya. Sudah jadi kebiasaan, aku adalah type anak yang anti segala bentuk perawatan dan pengobatan, apalagi yang namanya ketemu dokter, wuih. . serem banget.

Dengan segala bujuk rayu Bapak dan Ibuku dan dengan jurus cerita-cerita anak yang tanpa hidung karena diamputasi dan sejenisnya, akhirnya aku setuju untuk menyerahkan nasib percobaanku pada dokter. Tak terbayang rupaku tanpa hidung, atau minimal ada hidung tapi salah satu lubangnya harus ditutup akibat kesalahanku menerapkan percobaan yang gagal, berarti gagalku bakalan menyertaiku seumur hidup.

Tak apalah aku mencoba menyerah kali ini, atau jangan-jangan pak dokter mengambil alih penemuanku, bahwa lubang hidung bisa diukur dengan biji merah yang tumbuh di belakang rumah.

Dengan berusaha mengalihkan perhatianku dari penjepit-penjepit dan sakitnya hidungku, Bapak, Ibu dan Pak dokter memancing cerita di balik kejadian mengapa ada biji merah bersembunyi dalam hidungku. Saking pinternya pancingan pertanyaan mereka akhirnya rahasiakupun terbongkar, tentang sibuknya aku dan teman-temanku setiap harinya ketika berlaku jadwal tidur siang, suksesnya aku lolos dari pantauan mereka berkat onggokan batu bata di bawah jendela kamar dan teka-teki sering hilangnya pancing Bapak. Melihat senyum mereka sepertinya Bapak dan Ibu sudah mengetahuinya diam-diam.

Untungnya tak ada infeksi yang serius, hanya karena sering dikorek memakai benda-benda yang tidak steril semacam lidi, penjepit rambut sampai gagang sisir yang sudah tiga harian kupakai sembunyi-sembunyi dalam kamar, yang membuat ada luka gores dalam hidung, pembengkakan diakibatkan karena biji merah masih belum kering benar, karena sering kena air yang kucoba-coba masukkan, berharap bisa menolongku melancarkan proses pengeluarannya, membuat si biji membengkak, setengah matang sepertinya. Ada perasaan menyesal mengapa percobaanku tak selancar dugaanku.

Tapi jadi sedikit pelajaran bahwa memasukkan biji atau benda-benda lain walaupun tidak berbahaya, adalah tindakan usil yang ceroboh. Ternyata keingintahuan bisa terpuaskan dengan sedikit saja berusaha, besok aku tak ingin mencobanya lagi.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.