Satu Kali Dua Meter

Endah Raharjo


Dada Lastri kembang kempis dipenuhi rasa girang bukan kepalang. Matanya berbinar-binar memandangi parit di dekat rumahnya yang selama ini menganga dan berbau busuk itu, kini bagian atasnya telah tertutup dak beton.

Lastri berlari menyusuri gang-gang yang becek karena hujan deras habis mengguyur kampungnya dan seluruh kota. Hampir saja ia menabrak anak tetangganya yang sedang belajar naik sepeda. “Wooo, jelalatan kayak setan!” pekik bapak si anak.

Di kampung yang terletak di pinggir sungai itu orang terbiasa memaki dan tak ada yang peduli. Penghuninya sebagian besar pendatang dari desa atau kota lain yang menganggur atau bekerja serabutan jadi buruh bangunan, pedagang asongan, penjaja makanan keliling, pelacur, hingga pencopet. Yang terakhir itu pun diakui sebagai sebuah profesi karena selain membutuhkan ketrampilan, kegiatan hina itu juga mampu menghidupi. Kampung itu juga menjadi salah satu langganan tetap penggerebekan polisi.

Sungai yang melintas di pinggir kampung itu terbelah menjadi dua dan kembali bertemu di ujung selatan kampung. Anak sungainya yang kecil selebar sekitar dua meter, seperti parit, masuk meliuk ke dalam kampung. Orang-orang menyebutnya Kali Bathang karena limbah rumah tangga yang disalurkan ke parit itu menimbulkan bau menyengat seperti bangkai. Selain itu anak-anak kecil dan laki-laki dewasa sering buang hajat besar dengan cara langsung berjongkok di tebingnya.

Di sepanjang Kali Bathang ada jalan kecil yang selalu dipadati pengendara motor karena mereka bisa menghemat waktu sampai 10 menit untuk menuju ke jalan utama lingkar selatan.

Tiga bulan lalu kampung itu mendapat dana bantuan yang disalurkan ke kampung-kampung oleh pemerintah kota. Sebagian warganya yang sering membaca koran di halaman kantor kelurahan tahu bahwa dana itu sebenarnya tidak tepat disebut sebagai bantuan karena merupakan hutang dari luar negeri yang angsurannya dibebankan itung gundul pada semua rakyat.

“Dananya untuk nutup Kali Bathang saja, Pak RT!” Begitu salah satu usulan yang dilontarkan oleh para warga yang rumahnya berada di sekitar parit. Setelah melalui beberapa kali rapat warga, maka tak lama kemudian jadilah Kali Bathang ditutup dengan pasangan beton.

Selain bau bacin hilang, di atas parit itu kini ada ruang kosong selebar sekitar dua meter sepanjang parit hingga ke ujung kampung, kira-kira 200 meter. Dan Lastri ingin memanfaatkan sebagian dari ruang yang dianggap tak bertuan itu.

***

“Kita bisa jualan, Kang! Kita jadi bikin kios, Kang!” setengah menjerit Lastri menubruk tubuh suaminya yang tergolek di lantai beralaskan kasur tipis usang. Wajahnya berbinar-binar memandangi mata suaminya yang terpejam sembari bibirnya menggumamkan doa. Di kampung itu Lastri sekeluarga merupakan bagian dari minoritas yang masih percaya pada doa.

Tiga tahun lalu, karena jatuh dari atas atap bangunan lantai tiga, Diman, suami Lastri yang buruh bangunan itu lumpuh total. Sejak itu, perempuan buruh cuci itu menjadi tulang punggung keluarga dan memilih berteman dengan kesusahan hidup, karena setiap kali mencoba melawan, ia selalu terkalahkan.

Salah satu angan-angan yang dipendamnya sejak lama adalah memiliki kios untuk berjualan bensin, rokok, majalah dan pulsa. Namun Lastri tidak punya koneksi untuk mengkapling kakilima yang terdekat dari kampungnya. Hidup di kota semakin keras saja, bahkan untuk berdagang di kakilima perlu koneksi untuk menyewa atau membeli kapling satu kali dua meter.

Kini di kampungnya ada ruang gilar-gilar di pinggir jalan kecil yang ramai, yang tidak ada pemiliknya. Angan-angan Lastri untuk memiliki kios segera menjadi nyata.

Darto, anak sulungnya yang lulusan SMP dan tidak bisa meneruskan sekolah berharap bisa menjaga kios itu sementara pagi hingga sore Lastri bekerja. Sore hingga malam, Lastri bisa menggantikan anaknya. Punya kios sendiri pasti untungnya lebih besar, pikir Lastri.

“Darto suruh pulang ke gunung saja,” pinta emak Lastri yang masih kuat menanam singkong, jagung, kacang dan apa saja yang bisa tumbuh di ladang di atas gunung yang menjadi gantungan hidupnya.

Darto menolak. Pikirnya untuk apa bekerja di ladang yang tampaknya segunduk gunung tapi hasilnya jauh lebih sedikit daripada satu kali dua meter tanah di pinggir jalan di kota. Dengan kios ukuran satu kali dua meter Darto yakin bisa mendapat minimal 25.000 rupiah bersih tiap hari. Berlipat kali lebih banyak daripada menanam singkong di gunung yang setelah beberapa bulan hasilnya belum tentu bisa ditukar beras.

Sejak lulus SMP Darto tiap malam bekerja sebagai pencuci piring pada tetangganya yang berjualan mi dan nasi goreng. Hasilnya cukup untuk membiayai diri sendiri dan sedikit membantu adiknya membeli buku sekolah.

“Aku mau, Mak, bikin kios buat jualan pulsa,” kata Darto. “Uangnya buat beli sepeda motor, ya, Mak.” Belum-belum pemuda kurus tujuh belas tahun itu sudah bermimpi.

Kalau punya sepeda motor, tiap pagi dia bisa mengantar adik perempuannya ke sekolah dan kenalan dengan teman-temannya yang manis-manis itu. Mungkin dia bisa sekali-kali memboncengkan salah satu di antara mereka. Angan-angan anak sulung Lastri melambung tinggi.

“Aku mau utang sama Yu Minah, Kang. Buat bikin kios,” gumam Lastri sambil ngeluk boyok, meluruskan punggungnya karena penat seharian mencuci dan menyeterika. Sambil mengelus-elus kaki lumpuh suaminya, Lastri memandangi Darto yang menggelesot di sampingnya, menonton TV yang layarnya buram.

Walaupun bila dirasa-rasakan hidup Lastri cukup pahit, tapi ia rajin bersyukur karena dua anaknya berperilaku manis. Begitu tahu tidak bisa meneruskan sekolah, Darto langsung bekerja serabutan. Apa saja dia kerjakan yang penting halal dan bisa menghasilkan uang.

Pernah pada musim liburan di bulan Desember, ketika hujan mengguyur kota setiap hari, dia menggenjot sepeda ke pusat pertokoan terbesar di kota sejauh 5 kilometer untuk menjadi ojek payung. Tapi kegiatan itu ia hentikan karena preman di sana tidak mengijinkan anak-anak dari luar ikut masuk ke daerah kekuasaan mereka.

“Aku punya celengan sedikit, Mak, bisa dipakai dulu,” Darto menawarkan tabungannya. “Nggak usah pinjam sama Yu Minah. Nanti nyicilnya repot. Kalau kita bolong sekali saja rentenir itu tiap hari pasti teriak-teriak di depan rumah.”

Darto bangkit mengambil celengan yang disimpan di ruang sebelah yang biasa dipakai tidur Lastri dan anak perempuannya. Rumah kecil itu punya tiga ruangan dan yang paling kecil dipakai untuk dapur. Mereka tidak punya kamar mandi. Setiap hari mereka harus ke sumur umum milik kampung untuk mandi, buang hajat dan mencuci. Setiap hari pula Lastri dan Darto bergantian membantu Diman mandi dan buang hajat. Lastri lebih sering mandi di rumah majikannya. Untuk masak dan minum, sepulang kerja Lastri selalu menggendong dua galon penuh air yang diambil dari sumur atau ledeng majikannya.

Kontraktor yang dulu mempekerjakan Diman memberinya kursi roda. Setiap hari ia membantu Lastri menyeterika cucian kering yang dibawa pulang. Sambil memejamkan mata Diman membayangkan calon kios kecilnya yang di dalamnya harus diberi kursi dan tikar agar dia bisa ikut menjaga bergantian dengan Lastri dan Darto. Senyumnya terkembang. Digenggamnya tangan Lastri yang tengah memijit-mijit lututnya, tangan-tangan yang kering dan kasar.

***

Dengan susah payah Diman keluar dari rumah. Kursi rodanya tersangkut pada kusen pintu. Ketika Darto hendak membantu dari belakang, tiba-tiba kursi roda itu terpental kembali ke belakang diikuti dengan hardikan.

“Kamu jangan coba-coba nyuri milikku ya!!!” Seorang laki-laki dengan wajah penuh bekas luka berkecak pinggang di depan pintu.

Ia adalah Roy Codet, gembong preman yang menguasai hampir seluruh preman dan pencopet yang beroperasi di bagian selatan kota. Seisi kampung mengenalinya karena seminggu sekali laki-laki berotot itu datang mengunjungi salah satu simpanannya yang tinggal di kampung itu. Kedatangannya ke kampung itu selalu didahului oleh suara knalpot motornya yang menggelegar menggetarkan kaca-kaca jendela rumah-rumah kampung yang berhimpitan itu.

Salah satu kakinya yang terbungkus sepatu boot kulit dengan kancing logam berderet-deret menekan bagian depan kursi roda Diman. Wajah Diman pucat pasi dan kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Kamu harus beli kapling di atas parit itu kalau mau jualan!” teriaknya di sela-sela kepulan asap rokoknya. Ia menyebut sejumlah angka. Kemudian sebelum pergi sekali lagi ditendangnya kursi roda Diman hingga laki-laki lumpuh itu nyaris terjungkal.

***

“Aku sudah lapor Pak RT. Katanya semua orang boleh naruh kios di atas parit. Yang penting ngisi kas seminggu sekali buat keamanan dan jangan mepet-mepet ke jalan. Gitu katanya.” Lastri tidak mau mendengarkan ketika Diman memberi kabar buruk tentang Roy Codet.

“Di sini yang punya kuasa Roy Codet, Lastri. Pak RT cuma ngurus administrasi kampung, nggak tahu aturan main di luaran. Nggak berani dan nggak bisa ngatur Roy Codet,” kata Diman. “Kita nggak punya uang buat beli kapling,” tambah Diman.

“Nggak! Nggak bisa!” Bantah Lastri. “Aku mau bilang Roy Codet kalau Pak RT sudah kasih ijin.”

Perempuan itu bukannya tidak pernah mendengar omongan orang tentang Roy Codet. Ia juga sering miris mendengar bagaimana kejamnya laki-laki itu kalau sampai ada orang yang mencoba menentang aturannya. Tapi ketika aturan itu menghalangi mimpinya yang sebentar lagi menjadi nyata, Lastri tidak mau menyerah begitu saja.

Ia ingin Darto bisa punya sepeda motor dan mengantarnya kemana saja dirinya dan anak perempuannya pergi. Darto juga bisa memboncengkan bapaknya jalan-jalan keliling kota. Sudah lebih tiga tahun suaminya tidak pernah keluar kampung karena tidak ada angkutan umum yang mau berhenti begitu melihat ada orang berkursi roda mencegat di pinggir jalan. Mau naik taksi sudah pasti tidak punya biaya karena mereka bukan orang kaya.

Lastri tak mau mimpinya buyar karena lelaki bernama Roy Codet. Ia berlari keluar rumah dengan wajah marah. Diman khawatir sekali. Darto disuruhnya menyusul emaknya.

Di antara suara radio, televisi, dan tangisan bayi yang berasal dari puluhan rumah yang saling berhimpit itu Darto mendengar emaknya dan Roy Codet adu mulut di depan rumah gundik Roy Codet yang terletak dekat sungai.

Dibantu beberapa tetangganya dengan takut-takut Darto mencoba menghentikan Lastri. Namun perempuan itu seperti sudah kehilangan akal sehatnya. Suaranya lantang menantang.

Saking marahnya, tiba-tiba tangan berotot Roy Codet terangkat dan mendarat di pipi Lastri. Perempuan itu terpental ke belakang dan mengaduh panjang. Darto mencoba melindungi emaknya.

Roy Codet mendekat dan menarik paksa tubuh Darto yang telungkup di atas tubuh emaknya. Dengan sekuat tenaga Roy Codet melempar tubuh kurus itu ke samping. Terdengar suara benturan keras. Kepala Darto menghantam batu besar yang biasa dipakai duduk-duduk anak-anak kecil sehabis bermain-main di sungai.

Suasana berubah senyap. Tubuh Darto tergeletak tidak bergerak. Lastri merangkak mendekati tubuh Darto. Dilihatnya darah segar mengalir dari bawah kepala anaknya dan pelan-pelan merembes ke tanah. Lastri melolong panjang dan pilu, gemanya terbawa aliran sungai hingga ke ujung kampung.

***

Wajah Lastri membeku. Pipinya lebam biru. Dengan sorot penuh duka matanya tak berkedip memandangi lubang satu kali dua meter, sedalam sekitar dua meter, yang tengah ditimbun tanah oleh para tetangganya yang mengubur jenazah Darto.

*******


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.