Sunat Massal 3 Pria Serumah

Osa Kurniawan Ilham


Menurut keyakinan Kristen, sunat pertama kali dilakukan oleh Abraham setelah disuruh oleh Tuhan Allah sebagai tanda perjanjian adanya penebusan oleh Allah terhadap dosa manusia. Paska peristiwa kebangkitan Yesus, sunat bukan lagi dipandang sebagai sebuah ritual keagamaan karena menurut keyakinan Kristen sunat yang sebenarnya sudah dilakukan oleh Yesus yang melalui pengorbananNya di kayu salib sudah menebus dosa manusia.

Bagi mayoritas orang Kristen, sunat tetap dilakukan hanya karena alasan kesehatan, tidak lebih dari itu, karena secara ritual sudah tidak bersifat wajib lagi. Tapi saya tidak bermaksud mengulas lebih dalam tentang perkara agama dan keyakinan itu di sini, saya menulisnya sebagai pembukaan asal Anda tahu saja kalau kelak sekali waktu Anda sempat ngobrol dengan sesama yang menganut iman Kristen.

Saya ingin berbagi kejadian lumayan lucu yang pernah saya temui saat berkunjung ke Jakarta bulan Juni 2010 saat liburan bersama keluarga yang lalu. Ada informasi bahwa ada anak seorang teman (kebetulan seorang Tionghoa) yang baru saja disunat pada pagi harinya. Saya pun mengunjungi teman ini bersama teman pendetanya yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri di Jakarta.

Saat sampai di rumah, kami pun tertawa terbahak-bahak saat mengetahui bahwa di rumah itu tidak hanya seorang pria saja yang baru saja disunat, tapi ternyata ada 3 orang. Yang pertama adalah sang anak yang sudah kuliah, berikutnya sang anak yang baru kelas 4 SD dan berikutnya adalah sang bapak.

Sang bapak ?! Benar he..he….ceritanya begini. Sang anak yang sudah kuliah ternyata disunat lebih dahulu. Seminggu kemudian karena memasuki masa liburan sekolah sang anak yang masih di SD ditantang sama papanya bagaimana kalau sekalian disunat juga. Ternyata sang anak setuju tapi dengan mengajukan satu syarat, yaitu papanya harus ikut disunat juga.

Nah ini hebatnya sang papa yang adalah teman saya itu. Setelah berunding dengan sang istri (nggak tahu merundingkan perkara apa ya ?! he..he..) sang papa setuju menemani anaknya untuk disunat. Nah kenyataan inilah yang akhirnya saya temukan di rumahnya kala berkunjung bulan itu. Ada 3 pria yang sedang meringis-ringis kesakitan dirawat oleh sang mama yang perhatian dan sang anak cewek yang terus menerus tersenyum dengan kejadian tersebut.

Teman saya cerita kalau kemarin anaknya yang disunat lebih dulu sementara dia menunggui untuk memberi semangat. Setelah anaknya selesai, gantian dia yang disunat sementara sang anak takut melihat papanya disunat sehingga memilih untuk menyingkir kala menunggui papanya disunat.

Selesai disunat mereka berdua pun segera kembali pulang ke rumah dengan naik mobil yang dikemudikan oleh papanya sendiri. Teman saya ini cerita kalau selama menyetir itu dia nggak pakai safety belt karena masih terasa sakit dan karena itu dia sudah siap mental kalau sampai ada razia polisi. Saya tanya bagaimana strateginya kalau ada razia polisi.

Dia menjawab, bahwa kalau Pak polisi nanya dia akan menjawab bahwa mereka berdua baru saja disunat. Kalau pak polisinya nggak percaya dia akan menunjukkan kuitansi dari Rumah Sakit. Kalau masih nggak percaya juga, dia akan tunjukkan ke pak polisi hasil sunatnya tersebut he..he…

Dan kami pun tertawa saat membayangkan seandainya sang papa lupa mengerem kalau ada lubang atau polisi tidur di jalan. Pasti mereka berdua akan berbarengan menjerit AUHHH he…he…

Akhirnya saya pun berbagi pengalaman saat disunat dahulu. Saya cerita kalau di kampung saya dulu menyunatnya memakai batu tajam, setelah itu menggunakan pisau dari bambu. Sedangkan saya sendiri disunat saat sudah kelas 2 SMP, itu pun masih menggunakan gunting sehingga harus mengalami berdarah-darah pula saat disunat tersebut sehingga Pak Mantri memberi 5.000 rupiah kepada saya sebagai angpao. Lain dengan model sunat sekarang yang menggunakan gunting hanya pada potongan pertama lalu dilanjutkan dengan peralatan sejenis solder sehingga mengurangi terjadinya banyak pendarahan.

Sebagai ayah dari 2 anak laki-laki, saya pun berbagi pengalaman saat anak pertama saya disunat tahun lalu. Lumayan repot sih tapi menarik juga. Saya puji keluarga teman saya ini, pengalaman mereka hari itu lucu, menegangkan sekaligus menghibur kami semua. He..he…


(Osa Kurniawan Ilham, Balikpapan-Jakarta, 28 Juni 2010)


PS: wah, sempat bingung juga Redaksi cari fotonya… hahaha…

2 Comments to "Sunat Massal 3 Pria Serumah"

  1. Tinus  2 January, 2018 at 19:11

    Saya tertarik dengan ayah yang solider menemani anaknya disunat. Meski tidak diharuskan oleh agama sang ayah, tetapi sang ayah menunjukkan solidaritasnya kepada anak

    Saya beragama Katholik dan disunat di usia 24 tahun. Bukan karena keharusan agama atau tradisi keluarga (ayah dan kakak-kakak saya disunat, tapi bukan keharusan). Saya disunat setelah berembug dengan calon istri (yang beragama Katholik dan bertradisi Jawa). Jadi, saya mengikuti tradisi Jawa dengan disunat sebelum menikah

  2. sEm  27 January, 2011 at 17:41

    Wao..Lucu juga ya…
    thank atas Gambarnya….hehehe

    see my blog
    ini hasil postingan gambarnya http://semsolata.blogspot.com/2011/01/sunat-sebagai-tanda-perjanjian-allah.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *