Sarjana Ekonomi

Mutaminah


Hari ini pemilu dilakukan di sebuah lapangan rumput dekat kantor kelurahan. Lima bilik suara telah siap. Meja panitia pun telah ditata rapi. Tempat duduk untuk para calon diletakkan di salah satu sisi TPS.

Pukul 8 pagi, orang-orang mulai berdatangan. Sedangkan kedua calon lurah telah duduk di tempat yang telah disediakan.

Sulaiman berkeringat dingin. Mukanya tegang. Ia was-was menunggu hasil pemilu. Maklum, dalam seminggu terakhir, semua harta keluarganya habis untuk biaya kampanye. Mulai dari sawah, kebun, hingga ternak. Beberapa dijualnya dan beberapa lagi hanya digadaikan. Tak hanya itu, jumlah hutangnya pun telah membludak tak terkendali, mencapai ratusan juta rupiah. Jika sampai dia kalah, mungkin dia dan keluarganya akan menjadi gelandangan.

“Tenang saja, Le. Aku yakin sampean akan menang.” ujar Mahmud melihat gelagat adik iparnya itu.

Hari semakin siang, TPU mulai sepi. Hanya tinggal segelintir orang ada di sana. Mungkin, perhitungan hasil suara bisa dilakukan satu jam lagi.

Tiba-tiba Sulaiman beranjak meninggalkan tempat duduknya diikuti oleh Mahmud. Mereka menghampiri seorang lelaki tua yang berdiri di tengah terik menyaksikan jalannya pemilu.

“Mbah, bagaimana ini? Saya yang akan menang kan, Mbah?” tanya Sulaiman gusar.

Lelaki tua itu tersenyum tipis. Memandang Sulaiman meremehkan. Tangannya menepuk-nepuk punggung Sulaiman perlahan.

“Ahh sampean ini. Lihat saja nanti.” jawabnya tenang sembari terkekeh.

“Kenapa begitu Mbah? Katanya mantra itu sangat ampuh?” Sulaiman semakin panik mendengar jawaban tak pasti dari lelaki yang ia panggil mbah itu.

“Sudahlah, sampean duduk saja di sana.”

Dengan terpaksa Sulaiman kembali ke tempat duduknya. Berkali-kali dia menyeka keringat yang mengucur di dahinya dengan sehelai sapu tangan. Jelas sekali dia sedang gugup.

****

“Suara terakhir. Sulaiman.” Kemudian seseorang menuliskan sebuah garis kecil di papan tulis.

Sulaiman tegang. Ternyata meski suara terakhir itu miliknya, tapi jumlah suaranya tetap tak bisa mengimbangi jumlah suara Syamsudin. Kalah. Sulaiman kalah.

Sorak sorai pendukung Syamsudin yang memenuhi TPS terdengar seperti ejekan bagi Sulaiman. Ditinggalkannya tempat itu tergesa. Setelah menstarter motornya dia melaju menembus jalanan kampung menuju rumahnya. Tak dipedulikannya teriakan-teriakan para pendukung yang memanggilnya.

****

Tiga bulan berlalu sejak hari kekalahan Sulaiman. Pemilu itu telah benar-benar berakhir. Menyisakan sakit hati yang mendalam di benak Sulaiman. Bukannya menyongsong kemenangan, dia malah terpuruk memprihatinkan bersama kemiskinan dan hutang-hutangnya.

Abah dan Uminya memarahi Sulaiman karena ia kalah dalam pemilu itu setelah menghabiskan seluruh harta keluarganya yang dikumpulkan dengan susah payah.

Parahnya lagi, hutang-hutang Sulaiman semakin membengkak dari hari ke hari karena yang dipinjamnya adalah uang dari rentenir. Tak hanya satu orang, tapi 5 orang sekaligus. Tragis.

Kini Sulaiman menjadi lebih pemurung dari biasanya. Tak seorang pun yang bukan keluarganya ingin ia temui, meski mereka telah datang jauh-jauh dari luar kota.

“Palingan mereka cuma ingin mengejekku.” ujar Sulaiman suatu hari ketika teman kuliahnya dulu yang kini telah sukses berkebun bakau mampir ke rumah Sulaiman untuk sekedar bersilaturahmi.

Meski begitu, diamnya Sulaiman penuh risau. Otaknya sibuk mencari jalan keluar agar hutang-hutangnya bisa terbayar. Tak ada lagi harta benda yang bias ia jual untuk menutupi hutang yang semakin melangit.

Abah dan Uminya sama sekali tak membantu, hanya merecoki dengan sumpah serapah karena Sulaiman yang susah payah disekolahkan di Jakarta itu, kalah orang Syamsudin yang hanyalah seorang pengusaha meubeul lulusan SLTA.

Sulaiman makin stress ditekan oleh segala pihak seperti itu. Beberapa kali terlintas di benaknya untuk bunuh diri, sayangnya keinginan untuk mempersunting seorang gadis yang belum juga terpenuhi hingga sekarang lebih kuat dari niat bunuh dirinya.

****

Sebuah baku tembak terdengar begitu bising di salah satu perkebunan jagung. Gerombolan polisi tengah mengejar seorang buronan yang telah nekad menggondol perhiasan senilai 50 juta rupiah dari sebuah toko mas dua hari lalu.

Akhirnya, polisi melayangkan sebuah tembakan yang telak mengenai betis si pencuri yang tunggang langgang. Seketika lelaki itu tersungkur jatuh. Darah mengucur dari betisnya. Berulang kali dicobanya untuk tetap melarikan diri, namun gagal karena rasa ngilu telah menjalar di sekujur tubunnya..

“Jangan bergerak!” gertak seorang polisi sembari memborgol tangan sang pencuri. Digiringnya paksa selayaknya menggiring hewan ternak.

Berita itu dengan cepat tersiar ke seluruh penjuru kampung, bahkan dengan bumbu yang macam-macam. Berita itu juga hinggap di sebuah rumah.

“Astagfirullahal’adzim. Ayo Abah kita segera ke kantor polisi.” seru seorang wanita paruh baya, panik.

Tak berapa lama, mereka sampai di kantor polisi. Langsung dihampirinya sosok pencuri yang kakinya terbalut perban yang duduk pasrah di balik bui.

“Sulaiman… kenapa kamu nekad sekali, Nak?” ujar ibu Sulaiman berurai airmata. Sedangkan Sang Sarjana Ekonomi dari Jakarta  hanya diam bergeming.


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.