Suka Duka Jadi Penulis

La Rose Djayasupena – Belanda


Aku tidak pernah bercita-cita atau bemimpi menjadi  seorang penulis apalagi sampai menerbitkan sebuah buku. Mataku rasanya tidak percaya memandang  buku berwarna pink dengan gambar sebuah mata sedang terpejam ketika aku berada di dalam sebuah toko buku di Indonesia. Aku bengong dan terharu memandang buku hasil karyaku. Dengan nama penaku tertulis jelas di depan sampul buku itu. Aku memegangnya dan mengusap buku itu dengan mata tidak berkedip  dan wajahku tersenyum puas.

Menengok ke belakang sejarah perjalananku sebagai penulis. Awalnya aku mulai  menulis hanya coba-coba saja dan mengirimkannya ke media online. Tadinya hanya sebagai pembaca di sebuah kolom yang bernama Kolom Kita. Yang akhirnya malah mencoba mengirimkan tulisanku. Entah tulisan yang ke berapa yang aku kirim ke moderator yang mengasuh kolom tersebut. Aku sendiri tidak ingat sama sekali. Sudah begitu banyaknya tulisanku yang di buang ke tong sampah oleh moderator. . hahaha…

Tetapi toh, tidak membuat aku putus asa. Aku menulis dan menulis terus  mencobanya tanpa putus asa. Yang akhirnya malah lama kelamaan sejak artikel pertamaku dimuat,   setiap tulisanku selalu dimuat terus tidak pernah dibuang ke tong sampah lagi oleh moderator. Makin semangat saja aku menulis. Setiap saat otakku jalan mencari-cari ide tulisan. Segala apa yang aku lihat aku menjepretnya dan coba-coba menulis cerita foto. Pertamanya sulit juga aku menulis cerita foto karena harus disesuaikan dengan gambar hasil jepretanku. Tetapi lama-lama aku makin lancar saja menulis cerita foto.

Sampai akhirnya aku ingin menulis hal-hal lain daripada yang lain. Lalu berubah haluan menjadi penulis seksologi di kolom tersebut dan aku menikmatinya sampai saat ini. Idenya aku menulis tentang seks karena aku prihatin dengan kolom Love. Ceritanya curhat penderitaan para wanita yang tidak bahagia dengan kehidupan rumah tangga dan percintaan-nya. Sampai dadaku sesak sekali setiap membacanya. Sepertinya di dunia ini nggak ada wanita yang berbahagia dari itu aku menulis sesuatu yang lain dari yang lain yaitu  tentang kebahagian seks bersama pasangan hidup untuk mendobrak tabu.

Karena cara aku menulis di kolomseksologi  tersebut terlalu blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling. Bahkan untuk sebagian pembaca kesannya terlalu vulgar. Aku memang suka menulis seperti itu mengalir apa adanya ketika aku menulis tanpa harus memikirkan reaksi pembaca saat itu. Yang mana akibatnya berakhir dengan hujatan pembaca di kolom tersebut. Tetapi tidak mematahkan semangatku untuk menulis walau banyak yang menghujat, itu memang sudah resiko aku menjadi penulis. Kalau tidak siap kena hujat dan kritikan. Ya, sebaiknya jangan menjadi penulis bukan begitu?  Menurutku jika pembaca menghujat tulisanku berarti aku telah berhasil menjadi penulis kontroversi.

Tidak kusangka kalau tulisan-tulisan ringanku disukai pembaca. Semua tulisanku menceritakan pengalaman aku tinggal di Belanda yang kadang tulisanku itu lucu. Kadang tulisanku itu bikin pembaca terharu dan kadang malah tulisanku bikin pembaca jengkel  ketika membacanya. . hahaha…Makin hari aku makin giat menulis. Sampai hari ini tidak pernah aku hitung berapa totalnya berapa tulisanku sampai saat ini aku sendiri tidak pernah menghitungnya deh.

Setiap penulis pasti punya cita-cita agar karyanya bisa di terbitkan menjadi buku, sehingga mendapat apresiasi  dari pembaca. Untuk mewujudkan semua itu banyak sekali kendalanya misalkan naskah kita di tolak dengan alasan karena naskah kita tidak sesuai dengan visi misi penerbit. Dari itu sebelum kita mengirim naskah ke penerbit sebaiknya kita mencari tahu dulu visi misi setiap penerbit apa sesuai dengan naskah kita.

Aku bersyukur akhirnya ada penerbit yang tertarik dengan tulisanku. Dibantu oleh teman baikku yang juga redaksi Baltyra, Sophie, menjadi editor buku perdanaku, akhirnya terwujudlah impianku selama ini, menerbitkan buku perdana yang isinya lebih banyak mengulas tentang seks, cinta dan kehidupan.

Yang aku dapatkan dari penerbitan buku ini adalah kepuasan batin aku, bukan uang hasil dari buku tersebut apalagi aku sampai mencari makan atau penghasilan dari buku ku ini sama sekali tidak. Aku juga tidak munafik kalau  hidup itu memerlukan uang. Hanya kalau itu sih aku sudah punya penghasilan sendiri lebih dari sekedar cukup tanpa aku harus berharap banyak dari hasil bukuku. Kalau pun buku bisa jadi bestseller tentu aku seneng sekali berarti aku bisa beramal dengan uang bukuku disamping uang bukuku bisa aku pakai untuk dugem sama Soph…Soph. . di Jakarta… hahaha…LOL.

Ternyata setelah penerbitan buku, tanggung jawab penulis tidak hanya sampai di situ. Kita masih harus menjalani launching buku, memperkenalkan buku kepada masyarakat, apa isi buku dan juga misi dari buku tsb. Oleh penerbit dijadwalkan launching buku aku pada tanggal 8 October hingga 10 October di kota Semarang, Solo dan Jogja.

Launching buku yang aku pikirkan ternyata tidak semudah itu. Bagi aku menulis biasanya hanya menghadapi sebuah computer, launching buku harus menghadapi khalayak ramai, harus siap menjawab pertanyaan yang diajukan oleh masyarakat. Bagi aku yang tidak bisa menghadapinya, pada hari pertama mengalami demam panggung. Aku tidak siap menghadapi publik, mulutku terkunci, kakiku gemetar, aku menjadi nervous. Untung saja diatas panggung aku dibantu oleh Editorku, dan perwakilan dari pihak penerbit. Dari pihak penerbit, aku mendapat info, ternyata bukan hanya aku yang mengalami demam panggung, ada banyak penulis yang juga mengalami problem yang sama. Bahkan ada yang mulutnya terkunci sama sekali. Menulis memang lebih mudah daripada berbicara.

Selain launching buku yang diadakan di 4 toko gramedia, masih ada talk show di 5 station radio. Talk show di radio agak berbeda dengan di toko buku. Di radio lebih santai, tidak usah menghadapi masyarakat ramai. Di studio hanya berhadapan dengan penyiar, ditemani oleh Sophie dan perwakilan dari penerbit. Tanya jawab dilakukan melalui telepon yang masuk ke studio, suasana yang santai dan akrab menjadikan aku lebih rilek.


Groetjes

LRD

About Audry Djayasupena

Dulu dikenal dengan nama La Rose Djayasupena, kemudian menggunakan nama Pingkan Djayasupena dan sekarang menjadi Audry Djayasupena. Tinggal di Negeri Kincir Angin. Pemikirannya yang 'progresif' terlihat dari artikel-artikel dan buku-bukunya. Sudah menerbitkan karyanya berupa beberapa buku, di antaranya yang cukup 'sangar' judulnya adalah "Bedroom Fantasy".

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.