Pahit Manis “Kayu Manis”

P. Chusnato Sukiman


hidup (kadang) mulai terasa manis setelah merasakan pahit…

*

Hidup bukan perjuangan. Mari ambil misal lain. Jutaan kata-kata mutiara yang paling melenakan hati, tak akan pernah cukup untuk melukiskan bagaimana sebuah kecintaan harus punya padanan lain.

Hidup di babak kedua, terkadang, lebih terdengar heroik. Tapi, jika Anda bertemu dengan sosok yang satu ini padanan apa yang cocok untuknya?

Hoerip Santoso Kertorahardjo, namanya. Saat dia lahir dulu, ibunya memberi nama itu karena ingin anaknya bisa “hidup” dengan “aman” dan “sentosa”.

Sekarang cukup panggil dia Pak Urip saja. Tak perlu mereka-reka apa arti nama besarnya tadi. Barangkali saat riwayat dimulai dulu, ada harapan kelak hidupnya akan aman dan sentosa.

Di kemeriahan bursa telepon seluler, ITC Roxy Mas, Jakarta, pernahkan terbayang ada sebuah legenda toko buku yang masih menyimpan denyutnya hingga puluhan tahun? Dulunya, sebelum nyelip di lautan toko henfon, ia membuka gerai toko buku di Jalan Kayu Manis III No. 45 Jakarta Timur. Itulah muasal nama toko buku yang menjadi salah satu toko buku legendaries di Jakarta sampai saat ini…

“Saya tidak pernah membayangkan harus berada dalam situasi apapun. Semuanya ngalir saja…” kata Pak Urip.

Tahun 1962, ia memulai penjualan retail, sampai akhirnya menjala ke dunia distribusi buku dengan toko sewaan di tempat itu. Sebagai warga peranakan, Pak Urip lebih memilih buku ketimbang jualan produk kebutuhan sehari-hari atau elektronik misalnya, yang menurutnya bisa lebih gampang kaya. Dia bilang buku itu cinta pertama.

Pepatah tak pernah salah. Cinta pertama dibawa sampai mati. (Meski dia belum punya ”jadwal” itu, dia kerap mengulang-ulang kalimat kalau saja nanti waktunya tiba saya mau…)

Maka dia geluti dunia buku sampai sekarang. Kisahnya, “asalnya dulu saya bekerja di Perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ngurusin buku setiap hari. Baca buku setiap hari. Kerjaannya pegangin buku, angkat buku dari yang setengah kilo sampai yang beratnya sama dengan anak balita…”

Dia juga bilang buku itu sahabatnya. “Saya sering merasa kehilangan kalau seharian belum ketemu buku…”

*

Memasuki tahun 1974, Kayu Manis terpaksa pindah ke tempat yang baru di Kramat II No. 48 Jakarta. Meski lokasi ganti, nama toko tidak diganti. Tak ada niatan untuk mengganti nama tokobukunya dengan yang lain. “Barangkali sudah jalannya seperti ini. Kayu Manis sudah bagian dari dunia buku. Saya pindah lagi ke Topas (Tomang Plaza Jakarta-red)-pun tetap dengan nama Kayu Manis. Orang sudah banyak tahu, kita jaga service dan mutu saja. Saya konsentrasi di buku pelajaran, sudah banyak sarjana, sudah banyak pelanggan saya jadi orang tua yang punya anak sekolah. Saya yakin mereka teman baik saya.”

Bagi para orang tua yang mempunyai anak di tahun 60-an dan 70-an, tentu punya kenangan yang dengan Kayu Manis. Seorang ibu yang sedang asyik memilih sejumlah buku untuk anaknya. “Dulu saya yang diantar ibu saya ke pak Urip, sekarang saya yang antar anak saya ke sini,” kata Mirta (39) yang berprofesi sebagai dokter gigi itu.

Sekarang Pak Urip sudah sepuh (lahir tahun 1929). Ia masih ingat judul-judul buku yang didisplay, berapa harga jual dan menjelaskan sejumlah bukupun masih sanggup. “Ini obat penghilang pikun,” katanya menunjuk deretan buku.

Setiap pagi Pak Urip bangun pukul 6 pagi. Langsung taiso. Cari keringat, katanya. Gerakan tangan 300 kali, dan kaki menendang 100 kali. “Ini bisa membuatnya kita ketagihan bekerja….” Katanya tawa terkekeh.

Setelah siap, ia membuka gerai pukul sepuluh pagi, lalu dijemput anak sulungnya pukul depalan malam. Ia masih kelihatan sigap bertanya pada pembeli. Yang paling sukit ia kerjakan hanya mengambil buku yang letaknya paling di atas rak buku. Mencari buku, atau menyarankan buku apa yang lebih pantas jika yang dicari tak ada dalam gerainya. (Masih bawel juga rupanya, dia). Pak Urip masih rutin membaca Kompas dan tabloid Bola. Baca berita politik itu bukan hobi saya, katanya melanjut, hanya saya harus tahu ke mana arah bangsa ini. ..” katanya dengan tersenyum lebar. (Saya sedang meraba, apa arti senyumnya itu…)

“Saya gemar menyibukkan diri, keringat itu sehat,” katanya. Maka tak heran jika ia masih telaten menerima pesanan lewat telpon. Menghitung laba, jangan ditanya soal ini. Melayani pembeli, dan sesekali memberi hadiah bonus buku bagi pelanggan. (Sejumlah buku lama yang masih layak jual sering ia jadikan sebagai hadiah). “Tak perlu harus jadi pelanggan lama kalau cuma buat dapet hadiah dari saya,” katanya memberi. Ia bertanya dulu sebelum memberi bonus apa yang dibutuhkan. “Paling puas hidup bisa menolong orang lain,” katanya sambil membubuhi stempel “bonus” bagi pelanggan. Kelembutan hati di tengah belantara Jakarta.

Tapi, memang terkadang hidup memang tak selalu manis.

*

Kayu Manis adalah salah satu tokobuku legendaris yang masih bisa bertahan hingga saat ini. “Kakak kelas”-nya, ada toko buku Tropen (di kawasan Pasar Baru Jakarta), misalnya, yang pernah berjaya di era 40-an sudah tak berjejak lagi. Selain itu ada toko buku Matondang (atau Martondoang?) yang nge-top di era 50-an juga punya nasib serupa,. Sedangkan toko buku legendaris lain, konon, Gabe Jaya (di simpang Kwitang Kramat) yang baru beberapa bulan silam (awal tahun 2006) menutup gerainya, lalu mengilokan bukunya sebanyak empat truk.

Masa perkembangan yang pesat pernah dirasakan Kayu Manis selama menempati lokasi baru di Topas Plaza. Selama tahun 90-an, Pak Urip sudah mempunyai lima lajur distribusi buku ke 28 titik sebar. Lebih dari 40 toko buku di seluruh Indonesia menjadi langganannya. Dan…

Denyut itu berhenti seketika ketika Tragedi Mei 98 telah meluluhlantakkan segalanya…

“Saya dan seorang pegawai saya diserang ratusan orang. Enggak ada yang bisa saya perbuat selain menyelamatkan leher saya ini. Api, api sudah mengepung. Saya cuma lihat asap, gak ingat apa-apa selain membayangkan semuanya hancur. Buku-buku saya dibakar. Saya takut, tapi saya enggak bisa nangis…

…Padahal buat apa mereka membakar semua buku itu? Saya sempat bingung. …

…Setelah itu saya bangkrut. Dalam hati saya nangis, saya menghibur diri. Habis ayam, habis bebek, habis kandang. Saya pulang tinggal kolor…”

*

Pak Urip bukanlah satu-satunya korban pembakaran Tragedi Mei 1998. (Buku-bukunya habis. Seperti penulis yang kedua tangganya diamputasi, katanya memberi gambaran pada saya). Tapi, semuanya sudah lewat.

“Mau kerja apa lagi?! Hidup saya sudah di buku… Saya tidak bisa mundur lagi!”

Katanya, kekecewaan dan rasa sakit hati itu hanya bisa diobati dengan membangun kembali toko bukunya dari awal.

Semuanya sudah sudah lewat, katanya mengulang kalimat itu bagai mantra. “Sekarang saya sehat. Mental dan spiritual sehat. Tidak ada perasaan dendam atau sakit hati.… kalau ingat itu malah saya lebih marasakan hidup yang sekarang ini jauh lebih bahagia.”

Sebagian besar korban penjarahan dari Topas Plaza mendapat prioritas menempati ITC Roxy Mas. Tadinya, kisah Pak Urip, Kayu Manis mendapat tempat “sarang ular”. Yang dimaksud tak lain dari lokasi yang tidak hoki. “Saya pilih sendiri di bawah eskalator seperti ini. Listrik dan sewa cuma bayar lima juta sebulan. Kalau saya kejar dari jualan alat tulis dan kantor (ATK) saja pasti nutup. Jualan buku untuk enggak cepat. Tapi, jualan buku itu seperti jualan cinta…” katanya berkata kias.

Berbeda dengan calon pembeli seluler, yang datang ke Kayu Manis biasanya mencari buku text book babon. Meski bukan buku bekas, Kayu Manis masih menyimpan sejumlah judul buku lama “Buku teks keluaran tahun lama justru banyak dicari orang. Barangkali isinya lebih dalam, atau entah nilainya semakin antik. Tapi, yang jelas, buku yang bagus tak pernah lekang oleh waktu.” Tuturnya. Mangkanya buku-buku keluaran tahun jebot yang kondisinya masih baru dijual di Kayu Manis.

Jika ditanya sampai kapan Kayu Manis akan bertahan. Ia tak menjawab apa-apa selain, “Saya hanya ingin berteman dengan buku, enggak punya target apa-apa…”

Kalimat yang sungguh manis.
***[email protected] Holistic Writer

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.