Gejala Apa Ini?

Anwari Doel Arnowo


Diam-diam saya mengamati, dan diam-diam pula saya berpikir sendiri.

Sekarang saya kemukakan dengan cara tertulis, semoga tidak menimbulkan rasa kurang nyaman bagi para pembaca.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Saya pernah membaca tulisan seseorang yang tinggal berdiam di kota Seattle di Negara Bagian (State of) Washington, Amerika Serikat. Dia orang Indonesia yang menceritakan kesusahannya untuk mencari tempat agar bisa melakukan ibadah berjamaah agama yang dianutnya: Islam. Bukan karena ada larangan beribadah, bukan pula karena takut adanya intimidasi tertentu. BUKAN.

Hal itu semata-mata karena tidak adanya tempat di mana dia bisa melaksanakan niatnya itu. Entah bagaimana asal mulanya, pada akhir upayanya, dia bisa  melaksanakan niatnya itu di sebuah gereja di kota itu, Seattle. Pemakaian gereja itu atas dasar suka sama suka dan dengan pembebanan membayar sewa, seperti layaknya. Kemudian sekali diketaui bahwa ternyata tempat tersebut telah digunakan oleh umat Islam yang asal dari negara lain yang bersamaan tinggal di kota itu. Mereka melakukan tarawih atau yang lain seperti kegiatan kaum Muslim lainnya di situ.

Itulah saya ketika pertama kalinya menaruh perhatian terhadap adanya toleransi berkeyakinan dan beragama di mana-mana. Menggelitik juga timbulnya pertanyaan di dalam batin saya: Sejauh mana umat Islam bisa memberi fasilitas penganut agama lain untuk melaksanakan ibadahnya? Saya tidak menunjuk ke arah penggunaan sebuah mesjid atau surau untuk maksud itu.  Bagaimana misalnya ruang olah raga atau tanah lapang milik seseorang yang kebetulan Islam agamanya, misalnya??

Sebenarnya bukan soal boleh atau tidak, terasa itu kurang relevan untuk dikemukakan di sini. Bukankah Masjid Istiqlal itu dirancang oleh perancang bangunan arsitek tersohor bernama Ir. Friedrich Silaban, yang juga yang merancang Tugu Monumen Nasional? Silakan buka link berikut: http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/f/friedrich-silaban/index.shtml Dia bersama puluhan bahkan mungkin lebih, anak-anak buahnya yang semua Nasrani agamanya, yang secara fisik berhasil merancang bahkan membangun masjid kebanggaan kita: Istiqlal.

Kejadian yang ingin saya kemukakan pada sekitar empat tahun yang lalu, adanya sebuah bekas gereja yang terletak di Avenue Road di Toronto, yang sekarang sudah dibeli oleh pihak yang melakukan kegiatan agama (atau kepercayaan?) lain, yang dituliskan di luar dindingnya: Krisna.

Dugaan saya mereka adalah orang-orang asal India. Avenue Road adalah sebuah jalan yang panjang dan lebar dua jurusan masing-masing dua jalur. Saya tertegun karena di seluruh bangunan waktu itu sedang dilakukan perbaikan besar-besaran dari kondisi lamanya yang kurang terpelihara. Yang saya lihat pada seminggu yang lalu adalah sebuah bangunan yang bagus dan indah dan terpelihara dengan baik, tetap dengan tulisan Krisna.

Ada beberapa gereja lagi, terletak tidak jauh dari yang ada di atas, terletak dekat dengan perempatan daerah elite Bloor dan Bay Street. Saya, pada suatu hari Minggu sedang  berjalan di atas trotoar di depan pintu masuk dari gereja tersebut, tiba-tiba saya digamit oleh seseorang yang tidak saya kenal. Ini tidak biasa, karena menurut penampilannya dia ini adalah pastor. Saya memang kurang jelas apa persis yang dikatakannya, tetapi saya paham sekali gerak tubuhnya yang menyilakan saya untuk memasuki gerejanya. Yang terdengar adalah sepotong kalimat bagian akhirnya “ …. House of God” . Eh, saya cepat bereaksi mengangkat tangan saya, tersenyum sedikit, serta melambaikannya dengan isyarat yang membuat dia mengerti bahwa saya tidak akan mengikuti anjurannya.

Ini adalah sebuah tanda tanya besar bagi diri saya!

Bukan kebiasaan umum kalau kita dijamah orang lain apalagi tidak pernah  mengenalnya. Di Toronto, itu bisa dianggap tidak sopan. Lha ini kan seorang pendeta pastor. Batin saya bertanya, begitu susahkah “mencari” ummat sampai harus berbuat seperti telah dilakukan kepada saya tadi??

Dari perempatan ini hanya dalam jarak kurang dari satu kilometer ada dua gereja yang berhadapan, kedua-duanya adalah bangunan megah dan indah pada jamannya, tetapi terlihat kurang terpelihara dengan baik, kalau tidak mau dikatkan kumuh, waktu saya lalu di situ.

Gejala apa ini??

Lalu saya mencoba mencari informasi di Paman Google dan dapatlah link yang berikut ini:

http://www.iciworld.net/servlet/result?ft=ntce&prop.Subject_lk=church&direction=DESC&sorton=prop.pricelo|Price|money

Ini adalah daftar gereja-gereja di Toronto yang siap dijual, baik dalam keadaan masih sedang aktif digunakan atau sedang tidak aktif. Juga daftar gereja yang sudah terjual dan tercantum harga jualnya.

Di Indonesia saya tidak menengarai apalagi mengetahui jual beli bangunan yang fungsinya adalah rumah ibadah, apakah itu Kristen, Katholik apalagi masjid. Kebetulan saja saya belum mendengar, mungkin ada juga, siapa tau? Di Queen Street East, Toronto, kira-kira hanya kurang dari satu kilometer dari tempat tinggal saya, amat sering melalui sebuah gereja yang selalu tutup, hari Minggu sekalipun demikian.

Kira-kira sekitar 3 bulan yang telah silam tiba-tiba saya lihat beberapa pekerja sibuk di dinding luarnya gereja itu, lengkap dengan heavy crane truck (truk dengan derek berat), memasang sebuah papan ukuran besar berupa reklame yang menggambarkan maksud merancang bangun ulang gereja itu, untuk diubah mejadi sebuah sarana rumah tinggal berbentuk condominium. (photo-photo  terlampir). Kemarin saya lihat bertambah banyak papan, dan semuanya berbentuk iklan-iklan yang berbunyi sama isi dan maksudnya.

Nah dapatkah anda membantu saya menjawab, gejala apa ini, karena terjadi juga, kata orang, di Amerika Serikat. Lihat apa yang bisa anda dapat di link:

http://www.loopnet.com/Churches-For-Sale/ .

Ada pertanyaan lain.

Apakah penjelasan dari penjualan asset-asset yang “katanya” milik Angkatan Perang kita dan juga Polisi, berupa asrama dan markas-markas, yang kemudian dijual dan disulap menjadi Mall, menjadi apartemen dan condo serta fasilitas umum, menjadi milik swasta. Itu sah? Ya tentu saja orang juga sudah melupakan bagaimana asal muasalnya asset itu bisa jatuh ke tangan para hulubalang kita yang TNI dan Polisi itu. Tidak pernah terdengar ada anggaran belanja bagi peruntukan seperti ini, yang sekarang telah menjadi asset Departemen Keuangan di lapangan Banteng (sebelumnya adalah Markas Siliwangi TNI AD). Bagaimana dengan Kompleks Perbelanjaan Roxy?  Dan lain-lain.


Anwari Doel Arnowo

Toronto, 22-11-2010


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.