Siapa Tidak Bisa Memanjat Pohon?

Fire – Yogyakarta


Ada yang bilang memanjat pohon itu seperti belajar naik sepeda. Sekali sudah bisa, maka nggak akan pernah lupa caranya. Seperti halnya juga naik sepeda, memanjat pohon itu musti dipraktekin nggak bisa cuman teori doang, nggak mungkin seorang profesor doktor berteori mengarang disertasi mengenai memanjat pohon kalo beliau sendiri belum pernah memanjat pohon. Sampe botak tiga lapis juga nggak bisa disebut sebagai pakar memanjat pohon.

Pernah saya menantang seorang teman, yang kuketahui sudah bertahun-tahun nggak pernah memanjat pohon, jangankan naik pohon, naik tangga saja pasti sudah jarang. “Tuh, mangganya dah masak, kalo mau silakan ambil sendiri ….” Eh ternyata masih bisa dengan sigapnya memanjat. Dan habislah buah mangga di pohon itu, hanya menyisakan buat para codot (kalong) sebagian di pucuk-pucuk tertinggi yang susah dijangkau. Cuman satu hal yang bisa “mengalahkannya”, yaitu gigitan para semut angkrang yang merasa terusik teritorinya.

Ada yang bilang ketrampilan memanjat pohon itu berkaitan dengan gender. Terus terang saya kurang setuju. Karena waktu kecil, banyak teman-teman cewek yang dengan cepatnya bisa memanjat pohon. Tapi ada satu hal yang membuat anak cewek jadi malas memanjat pohon.

Tahu sendiri kan waktu itu kebanyakan manjat juga masih pake rok. Nah, anak-anak cowok senangnya ngisengin di bawah pohon sambil berteriak-teriak, “Wah …. coklat … coklat …. kelihatan ….”, yang lainnya menimpali, “Bukan …. tapi abang abang ….. (merah-merah)” Hahahak….. nakal ya …. Tapi ada lagi yang lebih jahil kalo si anak cewek dengan sigap “menutupi” sambil meledek, “Weee …. nggak kethok (kelihatan) …” , maka akan disahuti, “Jelas nggak kethok wong ora kathokan …..” (jelas nggak kelihatan wong nggak pake celana).

Memanjat pohon memang bagian dari ketrampilan masa kanak-kanak. Biasanya kita jadi bisa memanjat pohon karena melihat teman lain memanjat. Lebih tepatnya lagi merasa tertantang kalo nggak bisa memanjat pohon. Apalagi buat anak cowok yang gemar berpameran siapa yang bisa lebih tinggi memanjat pohon. Memanjat pohon pake dibantu tangga? Ah … ngisin-isini waktu itu …..

Tapi memang kalo sudah terlanjut gede akan susah rasanya belajar memanjat pohon, mungkin tubuh sudah tak lentur lagi, dan yang lebih-lebih ya malunya itu dong … apalagi kalo sampe jatuh … Perasaan sih nggak ada yang mengarang buku manual semacam “Memanjat pohon for Dummies”.

Tapi pernah juga sih saya radak trauma memanjat pohon, soalnya ada teman jatuh dari pohon sampe lengannya di-gips berbulan-bulan … Itulah resikonya kalo gemar “penekan” (bhs Jawa untuk main panjatan). Tapi ada juga sih yang sirik nggak bisa ikut manjat, terus komentarnya, “Wah kesuwen (kelamaan) menek (manjat) nganthi (sampe) metu (keluar) buntute (ekor) …..”

Entah kenapa ada juga ortu yang mengaitkan kenakalan anak-anak dengan urusan memanjat pohon. Padahal bisa memanjat pohon tak selalu identik dengan nakal… yak kan…? Tentu saja kecuali memanjat pohon tetangga sambil ngabisin buah jambunya nggak bilang-bilang. Atau memanjat pohon sambil ngintipin sepasang insan yang lagi indehoy pacaran … hihihik ….

Bukan saya loh …. Maksudnya kan di atas pohon ngintipin burung emprit yang lagi pacaran … wakakak …. Tapi yang paling konyol itu kalo memanjat pohon buat nyolong mangga, tetapi sandal jepitnya ditinggal di bawah …. wakakak … itu seperti meninggalkan “barang bukti” di TKP untuk dilaporkan sama ortu…

Ah enggak kok ya … paling banter yang manjat pohon buat ngambil layangan putus yang temangsang. Padahal sih layangannya juga dah robek-robek, tapi kepuasannya itu beda rasanya. Ada juga yang memanjat pohon untuk melihat keramaian atau tontonan, misal ada pertunjukan atau pertandingan sepakbola di stadion, biar nggak usah bayar, ya naik ke pohon di luar stadion.

Tapi kadang orang bisa memanjat pohon juga karena dipaksa oleh situasi dan kondisi. Lho? Lha iya, kalo dikejar-kejar anjing galak, takutnya rabies lagi, yah terpaksa nangkring di atas pohon. Jadi ketrampilan memanjat pohon ada hubungannya dengan kemampuan mempertahankan diri. Sialnya sih, kalo si anjing bukannya pergi malah ndekem di bawah pohon, terus gimana …. Kalo Tarzan cilik di pilem sih waktu dikejar harimau, nangkring di atas pohon, terus dikencingin tuh harimau …. ha ha …. Tapi sebaiknya jangan sembarangan yak kencing dari atas pohon, salah-salah bisa disunat sama demit penunggu pohon… wakakak …

Tiap-tiap pohon memberikan keunikan tantangan memanjat yang berbeda. Setelah saya bisa menaklukkan pohon jambu dan pohon mangga, maka saya coba melirik pohon kelapa. Satu dua tiga langkah … eh ternyata gampang ya … masalahnya begitu sampai tengah-tengah tak seperti pohon mangga tak ada dahan untuk gapaian atau diinjak … kok masih tinggi juga …

Sudahlah saya mentog nggak berani nglanjutin lagi, terlebih dengkul saya tidak diasuransikan seperti dengkulnya Jeniffer Lopez, hihihik ….. Tapi sebenarnya sih, khawatirnya nanti menimbulkan kekonyolan baru, yaitu bisa naik, nggak bisa turun … hihihikkk…. kayak judul pilem warkop aja.

Lho beneran lho, prosesi turun itu bisa memiliki kompleksitas yang lebih ketimbang naiknya. Meski sudah sering dibilangin, “nggak usah lihat bawah … ntar gamang ….” Tapi memang sensasi saat berada di puncak itu tak tergantikan, makanya nggak heran ada yang hobi memanjat dari memanjat gunung sampe memanjat dinding. Asal kalo dah sampe atas terus lihat ke bawah jangan sampe ayang-ayangen apalagi ngompol … hihihik….

Baiklah teman-teman apa pohon favorit panjenengan dalam memanjat? Apa, pohon taoge? Zingggg …..



About Fire

Profile picture'nya menunjukkan kemisteriusannya sekaligus keseimbangannya dalam kehidupan. Misterius karena sejak dulu kala, tak ada seorang pun yang pernah bertatap muka (bisa-bisa bengep) ataupun berkomunikasi. Dengan tingkat kreativitas dan kekoplakannya yang tidak baen-baen dan tiada tara menggebrak dunia via BALTYRA dengan artikel-artikelnya yang sangat khas, tak ada duanya dan tidak bakalan ada penirunya.

Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.