Aku Mirip Pitekantropus Erektus

Bamby Cahyadi


Seandainya Eugene Dubois tidak menemukan manusia Jawa Purba, yang kemudian ia namai dengan Pitekantropus Erektus, tentu saja aku tak akan segeram ini. Tak akan aku sampai semarah ini. Aku benar-benar murka, tercabik-cabik harga diriku. Tersinggung dan terlecehkan martabatku oleh Kurowanto. Si Manajer Personalia yang sok ganteng di kantorku ini.

Aku tahu mungkin pahala ibadah puasa Senen-Kemisku berkurang banyak. Tapi, aku serahkan semuanya pada Tuhan. Biarlah, Tuhan yang menilai. Aku tetap melanjutkan puasa walaupun aku masih mencak-mencak penuh emosi.

Semua ini terjadi, gara-gara aku membuat segelas kopi yang terlalu manis untuk Kurowanto. Hari ini memang ia terlihat bete semenjak masuk kantor tadi pagi, katanya habis bertengkar dengan istrinya. Dasar! Masak, kekesalannya diumbar padaku. Lantas dengan seenaknya Kurowanto mengataiku seperti Pitekantropus Erektus. Aku tahu, ia sengaja mengatai aku dengan sebutan itu, agar derajatku sebagai manusia moderen jatuh hingga sama dengan manusia zaman purbakala itu.

”Kurang ajar sekali si Kurowanto! Jangan mentang-mentang kamu manajer, kamu bisa sewenang-wenang memberi stempel manusia purba kepadaku!”  Darahku bergelegak dan mendidih, wajahku merah padam menahan amarah yang memuncak. Sepertinya setan telah mengipas dan ikut-ikutan menyulut api amarahku. ”Astaghfirullah!” Batinku.

Aku lantas beristighfar. Berulang-ulang, berkali-kali, hingga sedikit demi sedikit kemarahanku kian surut. Entah karena aku mengguyur kepalaku dengan air dari kran wastafel atau memang murkaku sudah reda. Aku menyeka wajahku yang kuyup oleh air dengan kedua telapak tangan. Sambil masih menyeka muka yang basah, aku perhatikan wajahku yang terpantul dari cermin di atas wastafel.

“Sedemikian buruk kah aku?” Aku bertanya kepada pantulan wajahku di cermin itu. Diriku yang di sebelah kaca bening itu hanya mengatakan hal yang sama dari bibirnya. Aku menepuk-nepuk pipiku, menghilangkan sisa air yang masih menempel. Dengan menggunakan selembar toilet tisu, aku mengeringkan wajahku. Aku rasa emosiku sudah redam. Aku bersenandung, bersiul dan sedikit bersisir dengan tangan.

“Tidak terlalu buruk, ganteng juga…” gumamku, melihat sekilas pantulan diriku di cermin dan kemudian aku berpaling menuju Ruang Personalia. Aku akan menemui si Kuro. Aku akan menyatakan protes atas penghinaan yang telah ia lakukan. Aku akan menggugatnya, karena ia telah melecehkan derajat kemanusiaanku. Kemudian, aku akan memaksanya untuk minta maaf secara terbuka. Biar orang-orang tahu, aku punya harga diri.

Kurowanto tak kutemui di Ruang Personalia, seorang stafnya mengatakan bahwa Pak Kuro sakit perut mendadak sehabis minum kopi. ”Kopi kemanisan buatanku tadi kah yang membikin perutnya mulas mendadak?” Aku hanya tersenyum, menyumpahinya dan kemudian tertawa. “Hahaha, puas kamu!”

“Mas Buncoro, ada urusan apa mencari Pak Kurowanto?” Tanya Dona staf personalia yang lain.

“Ah, tidak ada apa-apa kok Mbak Dona. Kalau begitu saya pamit dulu,” jawabku tergeragap. Bukan karena aku kaget, tetapi yang menegurku adalah seorang Dona. Aih, Dona adalah karyawati di kantor ini yang paling cantik dan seksi. Harum tubuh Dona selalu membangunkan fantasi liarku. Aku jadi malu. Aku lupa lagi, aku kan sedang berpuasa. Cobaanku bertubi-tubi rupanya, selain marah-marah, kecantikkan Dona menggodaku.

“Kayaknya dia tadi memarahi Mas Buncoro ya? Kenapa?” Tanya Dona seperti penasaran dengan urusanku. Dona tidak menyebut lagi Kurowanto dengan kata Pak, tetapi dengan sebutan Dia. Aku pikir pasti mereka juga, staf yang ada di sini, merasa senang si Kuro pulang karena sakit perut. Karena tidak ada orang bawel dan egois yang bikin mereka stres hingga jam pulang kantor nanti.

“Ya, Mbak. Tadi saya membuatkan kopi untuknya, katanya kemanisan. Lalu saya dikatai…” belum sempat aku menuntaskan perkataanku. Dona dan staf personalia yang lain berbarengan mengatakan: ”Pitekantropus Erektus! Hahaha…!” Pecahlah tawa mereka. Bahkan aku lihat, saking gelinya Dona mengeluarkan air mata sambil bahunya terguncang-guncang, ia tertawa terkikik-kikik.

”Sialan! Ternyata mereka juga sama saja dengan Kurowanto,” batinku kesal, sambil keluar dari ruangan personalia dengan darah kembali mendidih. Aku membanting pintu.

Aku kembali ke dalam toilet dengan wajah sendu. Berdiri terpaku di depan cermin di atas meja wastafel. Sesaat kemudian aku membasuh wajah dengan air kran. Segar rasanya! Dengan saksama aku perhatikan raut wajahku di cermin itu. Di sana terpantul seraut wajah dengan tulang dahi menonjol, tulang hidung melesak ke dalam alias pesek dan mulut sedikit monyong karena struktur gigi yang tidak merata, dan tentu saja menonjol ke depan. Ada lagi, tulang pipiku sangat keras dan menjendol juga, kayak bisul yang bergelayut di pipi.

Pantaslah, memasuki usiaku yang kepala empat, aku belum pernah memiliki kekasih, memiliki perempuan yang dengan tulus  mencintaiku sepenuh hati. Pantaslah, Kurowanto mengataiku sebagai Pitekantropus Erektus. Karena aku memang mirip dengan gambaran manusia jawa purba yang ditemukan oleh Eugene Dubois itu. Rasanya aku ingin menangis meraung-raung.

Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam toilet. Lelaki itu tampak tergesa-gesa, mungkin ia sudah kebelet ingin buang air kecil. Aku membungkuk padanya dan memberi senyum, aku tak kenal lelaki itu. Mungkin tamu yang datang ke kantor ini, pikirku.

Ia lantas memunggungiku, dan menunaikan hajatnya, membuang air kecil. Beberapa saat kemudian lelaki itu membetulkan posisi celana dan pakaiannya. Saat ia berbalik dan memandangku, wajahnya begitu sumringah.

”Ahaaa… akhirnya ketemu juga!” katanya hampir melonjak kegirangan. Aku tentu terheran-heran.

”Ketemu saya?” Tanyaku heran. ”Memang, Bapak kenal saya?” Lanjutku bertanya lagi.

”Begini Mas, saya ini produser dan sekaligus sutradara sinetron religi yang sedang melakukan syuting di sekitar sini. Kebetulan sekali, wajah Mas ini sangat cocok dengan salah satu karakter dalam sinetron saya itu. Apakah Mas mau bergabung menjadi salah satu pemain dalam sinetron religi saya?”

Tentu saja tawaran itu aku terima dengan senang hati. Mana mungkin rezeki main sinetron aku tampik. Dan, setelah lelaki itu menjelaskan segala macam tetek-bengek yang berurusan dengan perjanjian kontrak kerja dan honor, maka besok aku harus memulai syuting sinetron.

Aku benar-benar menangis lagi di dalam toilet itu ketika lelaki produser dan sutradara sinetron itu pergi, sambil menitipkan sebuah amplop berisikan uang tunai sebagai honor yang dibayar di muka kepadaku.

Kali ini aku menangis bahagia, aku lantas mengambil air wudhu dan menunaikan shalat Ashar. Dalam doaku pada Tuhan, tak henti-hentinya aku berucap syukur atas segala pemberian Tuhan padaku. Termasuk pemberian wajah jelekku ini. ”Alhamdulillah,” kataku dalam hati berkali-kali. Berulang-ulang, sambil berlinang-linang air mata bahagia.

Apakah Anda sering menonton tayangan sinetron religi di televisi selama ini? Pernah kah Anda melihat seseorang berwajah jelek macam Pitekantropus Erektus sedang berjalan-jalan di mal? Ya, itulah aku! Ya, aku tahu Anda pasti sedang tertawa terkikik-kikik melihat aktingku, terutama wajah jelekku. Aku tak peduli peranku dalam sinetron itu, yang penting aku mendapat rezeki berlimpah dari wajah jelekku ini.***


Jakarta,  15 Agustus 2010

Dimuat di Harian Global, Sabtu 13 November 2010

13 Comments to "Aku Mirip Pitekantropus Erektus"

  1. ina mayda  22 February, 2012 at 15:16

    haha,,
    lucu juga sih ..

    tapi, kamu santai aja ..

    didunia ga ada yang sempurna kok ..

    teman ku juga ada yang bgtu ,,
    tapi, dia menganggap nya hanya lelucon aja ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.