Kecubung

Anwari Doel Arnowo


Saya pernah “PUNYA” seekor atau se “orang” (?) Orang Utan di Kalimantan Tengah di tengah hutan belantara. Saya pelihara sejak kecil sekali, sekecil bayi kucing. Saya berikan nama dia Kecubung, nama yang biasa dipakai sebagai nama batuan alam berwarna ungu di daerah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Kecubung ini saya “beli” dari seorang suku Dayak yang mendatangi saya untuk menwarkan kepada saya dan membelinya. Saya amat kasihan melihat kondisinya yang kurus dan matanya ketakutan terbeliak ke sana dan ke sini. Kepalanya luka di dua tempat yang satu sudah mengering darahnya dan yang satu lagi masih basah darah. Badannya juga lecet-lecet di beberapa tempat.

Saya beli dengan harga yang lumayan mahal, saya tidak menawar dan tidak menanyakan mengapa luka-luka seperti itu. Kemudian sekali baru saya tau, diberitau oleh salah seorang karyawan, bahwa Kecubung yang masih bayi ini sedang digendong oleh ibunya di atas sebatang pohon, bergantung ke sana dan bergantung ke sini, melompat-lompat dari dahan ke dahan dari pohon satu ke yang lain. Bercanda ria?

Bukan. Ibunya sedang ketakutan karena dikejar oleh beberapa orang Dayak yang membawa sumpit, yang diberi “peluru” beracun. Bukan peluru logam tetapi sesuatu yang runcing, dibentuk seperti tombak kecil dan ditembak dengan cara meniup kuat melalui sumpit. Smbil menahan rasa sakit, sang ibu menyempatkan diri menempatkan Kecubung di sebuah dahan yang kuat, sebelum dirinya roboh dan mati. Tetapi tubuhnya jatuh tidak sampai ke tanah, akan tetapi tersangkut di sebuah dahan kuat yang lain.

Para pemburu orang Dayak ini, terpaksa, karena malas, memotong pohonnya hingga rebah untuk mengambil sang Ibu. Saya tidak mau mendengarkan lagi lebih lanjut bagaimana nasib sang Ibu ini. Pedih rasa hati saya membayangkan sifat manusia yang tidak bisa menyayangi makhluk hidup lain.

Ada sekitar dua tahun saya membesarkan Kecubung, bercanda seakan dia ini seorang anak manusia. Kalau saya memasuki hutan lebat naik sepeda motor Yamaha RX King, ke arah menjauhi Camp saya,  meskipun tanpa satu orang pengawalpun, saya hanya ditemani Kecubung, yang saya sayangi. Dia tersenyum kepada saya sering sekali, meski bentuk senyunya itu seperti manusia menyeringai. Saya senang karena memang begitulah cara dia tersenyum, senyum Orang Utan.

Waktu itu tahun 1989 sampai 1991, masih ada majalah Selekta yang selalu covernya muka perempuan cantik. Kalau cover majalah ini saya dekatkan ke muka Kecubung, maka dia selalu mencium cover tersebut tepat di bagian mulut atau pipi, tidak perduli gambar kepala siapa.

Tetapi apabila saya berikan gambar muka laki-laki biar ganteng seperti Roy Marten, dia  melengos dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya sambil menggaruk-garuk bagian atas kepalanya. Bila gambar tidak saya jauhkan maka dia melingkarkan dirinya seperti bulatan dan memalingkan serta menyembunyikan mukanya.

Kalau saya berjalan kaki, dia selalu memeluk lengan tangan atas kanan atau kiri saya, menggantung. Para karyawan sering mengganggunya dengan kata-kata macam-macam, tetapi dia tetap menggantung di lengan tangan saya itu.

Tempat favourite yang disukainya di sepeda motor adalah di atas tanki bensin, atau di betis kaki kiri saya dekat mesin motor, mungkin terasa hangat di situ. Saya juga memberi makan yang mungkin  semahal makan seorang karyawan, berupa susu atau nasi dengan gula atau kecap serta sedikit serta amat jarang sekali yang berbentuk daging. Buah-buahan kebanyakan dia suka. Makanan di dalam hutan itu bisa 50% bahkan 100% lebih mahal dari yang dijual di kota Sampit. Bensin yang di Jakarta satu liternya RP. 300, – saja, di Desa Pasir Putih di dekat Camp saya itu harganya sekitar 1000 sampai 1200 Rupiah per liter. Itupun harus hati-hati karena mungkin sudah tercampur atau sengaja dicampuri air.

Akhirnya saya bisa membiarkan dia, si Kecubung, tanpa saya ikat dan atau dimasukkan ke dalam kandang, tetapi selalu ada di sekitar saya. Saya pernah berusaha melepaskannya di dekat hutan, agar bisa bebas kembali ke habitatnya. Riang gembira dia naik ke atas pohon yang tingginya 20 meteran. Saya pikir inilah kali terakhir saya melihat dia. Saya duduk saja merenung, mengenang dia dan menangisinya, di dalam batin saja. Kurang dari satu jam saya di situ, dia muncul kembali dan langsung duduk di atas tanki bensin Yamaha RXKing, sambil mencuri-curi pandang ke arah muka saya.

Binatang hutan ini yang kita sebut Orang Utan ini, mencintai saya.

Meskipun saya senang berada di hutan Kalimantan, yang di Propinsi manapun, saya terpaksa tidak mungkin lagi bisa berlama-lama berada di dalam hutan. Pekerjaan saya membawa ke bisnis yang meminta waktu saya pergi ke daerah-daerah di seluruh Indonesia dan malah ke negeri-negeri lain.

Mengapa Kecubung tidak saya bawa saja ke tempat tinggal saya di Jakarta ??

Meskipun saya melihat banyak orang yang mem“punya”i binatang peliharaan langka, sekedar untuk status symbol, saya merasa terhalang oleh peraturan yang ada, apabila saya meniru-niru kelakuan seperti itu. Peraturan yang asal mulanya dilakukan oleh kaum pecinta Lingkungan Hidup: membawa seperti Kecubung akan dikenai denda 100 juta Rupiah atau hukuman kurungan. Pastilah bukan saya yang sesungguhnya, apabila ikut-ikutan melakukannya seperti itu.

Saya takut melanggar peraturan.

Anwari Doel Arnowo

Toronto 25/11/2010


Ilustrasi: http://baltyra.com/2009/10/02/orangutan-dalam-lensa/

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.