Romeo Juliet Complex

Alfred Tuname


Tiba-tiba dalam sebuah perbincangan santai seorang orang adik dari Manggarai  bercerita. Sebuah cerita duka nan tragis bahwa seorang perempuan tetangganya meninggal. Perempuan itu masih masih muda. Ia seorang gadis manis. Gadis itu memilih mati dengan cara yang ekstrim. Konon kisah tragis yang menimpa gadis bermula dari persoalan asmara.

Semua teman yang mendengar sebab musabab tragedi itu kemudian tersenyum-senyum. Kadang, ada pihak yang menertawakan kisah asmara ini. Banyak orang akan  tertawa sinis jika sebuah kejadian sedih tragis bermula dari masalah asmara. Tetapi itulah masalahnya. Asmara, percintaan, pacaran dan lain-lain bisa diibaratkan dengan sebuah revolver yang ada di tangan seseorang.

Jika tidak bermasalah maka gun fire tersebut akan berfungsi sebagai pelindung diri. Tetapi jika bermasalah maka orang yang memegangnya akan menjadi pembunuh berdarah dingin bahkan membahayakan hidupnya sendiri. Ya, jika salah menggelolanyanya, asmara dapat menjadi pembunuh berdarah dingin.

Seperti kata Chairil Anwar, “ hidup hanyalah menunda kekalahan” jika represi terjadi dalam kisah asmara. Bukankan sejarah perang Troya dan perang Dunia Pertama bermula dari sekelumit kisah asmara?

Jika demikian, jangan sampai sebuah percintaan dalam kisah asmara adalah sebuah cara hidup yang “vivere pericoloso”, hidup dengan menyerempet bahaya. Pelan-pelan orang digiring ke tempat “berbahaya”. Orang yang pernah dan sering mengalami sakit hati akibat asmara pelan-pelan dan tidak secara sadar menaruh bayi harimau dalam ruang hati dan pikiranya. Seekor harimau berbahaya dalam ruang bawah sadarnya.

Ia akan mengiringnya kemana pun ia akan pergi. Dalam perentangan waktu ia akan bisa menjadi ganas dan menimbulkan korban. Kalimat-kalimat sumpah serapah pun sering muncul sebagai akibat peristiwa patah hati tersebut. Sumpah yang sering muncul itu antara lain “dasar laki-laki buaya”, mata keranjang  atau “dasar wanita nakal”, matre dan lain-lain. Sumpah seperti ini adalah bahasa korban yang sakit hati dan kecewa. Bahayanya jika seorang yang sering mengalami kejadian sakit hati akan menimbulkan trauma dan sering menyalahkan orang lain.

Kejadian-kejadian seperti ini sering terjadi di kalangan muda. Lebih ekstrim lagi jika sampai seseorang mengakhiri kehidupannya sendiri atau orang lain. Sebuah tindakan kekalahan yang fatal. Kekalahan fatal akibat kelelahan tekanan psikologis yang tidak mampu ditanggung. Kejadian ini seperti sebuah fenomena gunung es.

Kelelahan psikologis itu seperti hantu-hantu masa lalu yang datang mengganggu kehidupan. Kelelahan itu adalah wajah masa masa lalu yang tidak berani menghadapi perubahan. Seperti sebuah lagu Veinte Años, “hoy represento al pasado, no me puedo conformar”.

Sahabatku itu mengisahkan bahwa seorang gadis tetangganya meninggal dengan melakukan “Romeo-Juliet” complex alias bunuh diri dengan persoalan asmara sebagai stressor. Ia terpaksa menghabisi riwayat hidupnya akibat perilaku represi orang tuanya atas kisah asmaranya dengan seorang pria yang sangat ia cintai.

Gadis cantik itu tidak kecewa karena cintanya tetapi karena persilatan kepentingan dan beban-beban orang tuanya yang harus ditanggungnya. Beban orang tua terlacak dari represi mereka melarang seorang perempuan memilih (jodoh) jalan hidupnya sendiri. Tindakan intervensif ini sangat paradox. Mana mungkin di zaman yang sedemikian menghargai hak hidup seseorang, masih saja ada orang tua yang melakukan tindakah interventif terhadap hak hidup seorang manusia dewasa apalagi ia (sudah) memiliki pendidikan yang layak?

Pertanyaannya adalah apalah artinya menyekolahkan anak “sampai ke negeri Cina”? Bukankah seorang  anak dewasa sudah memiliki cara berpikirnya sendiri untuk menentukan pilihan-pilhan hidup yang harus dia jalani? Orang tua yang baik adalah orang tua yang mempercayakan anaknya menentukan pilihannya sendiri. Kebijakan orang tua dapat dilihat dari laku mereka untuk menahan diri. Persilatan kepentingan orang tua tidak boleh diletakan di atas pundak anak. Mencintai anak harus disertakan dengan sikap adil terhadap mereka.

Adalah benar bahwa selain kita meminta orang lain adil terhadap kita, kita pun harus adil terhadap diri sendiri. Tindakan bunuh diri dapat dilihat sebagai sikap tidak adil pada diri sendiri. Ada banyak cara ke Roma. Komunikasi yang baik dapat menyelesaikan masalah meski dengan konsekuensinya sendiri. Tetapi komunikasi malah sering mengalami dead lock. Anak malah sering terperangkap dalam situasi terdakwa. Beban besar pun harus ditanggung si anak.

Kejadian “budi” seperti yang diceritakan sahabatku tadi bisa jadi akibat komunikasi yang dead lock dan cenderung satu arah. Dapat juga diduga bahwa kisah asmara yang mentok hanyalah casus beli dari sekian rentetan kekewaan dan beban yang ditanggung anak. Fenomena gunung es pecah dalam tragedi ini.

Kita pun tidak bisa berkata seperti Abdurizal Bakrie semasa menjadi pejabat negara, “i don’t care!”. Ik het laal halemal! Hantu “Romeo-Juliet” Complex dapat menggelembung pada siapa saja dan kapan saja. Ia tak terkendala status, golongan atau pun tempat. Sikap bijak dengan tindakan preventif dari perilaku destruktif terhadap diri dan mencintai hidup dalam diri sendiri sangat penting.

Memilih sikap untuk pro life adalah pilihan yang sangat mulia dan benar. Berkaca dari tragedi di atas, komunikasi yang baik dan manis antara anak dan orang tua harus selalu diperhatikan. Sebuah pepatah Latin, amare parentes prima natura lex, mencintai (menghormati) orang tua adalah hukum alam yang paling utama.

Dan orang tua pun harus lebih bijak dan adil terhadap anaknya. Hidup adalah pilihan yang mulia dan benar. Dan kepada sesama teman-teman muda, marilah kita berseru dan lantang bersuara  bersama sajak Ibrahim Ferrer, “!Oigame company! No deje el camino por coger la” (Dengar kawan! Jangan lepas dari jalan yang benar).


Djogja, 25 November 2010

Alfred Tuname

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.