d’ Red Ngatini

Dian Nugraheni


d’ Red Ngatini, bisa bayangin gak, apa.., siapa..?

Bagi aku, ini adalah cerita tentang ‘terus belajar’, tentang ‘terus berusaha’ tentang ‘usahakan selalu semangat’, tentang ‘kalau bisa jadilah sinergi buat lingkungan terdekatmu’.

Tentu saja, ini bukan cerita hebat, biasa saja, dibaca sembari menghirup kopi hitam dengan sedikit gula… sruuppp…nuikmat …!

Ketika itu, aku dan 2 anak perempuanku yang masih kecil-kecil, ditinggal suamiku merantau ke luar negeri. Kami punya mobil sedan, namanya Nissan Cefiro, warna Silver. Tampak luar, mobil built up ini tampak gantenge poorr (keren, gitu), meski waktu itu usianya tidak lagi muda.

Seperginya suamiku, kerjaanku terhadap mas Cefiro ini adalah manasi mesinnya tiap hari, ngelap bodinya bila luang waktu, dan kadang-kadang ya aku naiki dalam keadaan berhenti di car port. Hmm, ngungun (melamun sambil bersedih) rasanya, karena aku gak bisa nyetir mobil dan waktu itu aku masih tinggal di Jakarta.

Hitung punya hitung, hidup di Jakarta, aku sudah berhenti kerja, hidup sendiri bersama anak-anak yang masih kecil, tanpa suami, masih ditambah nanggung ‘didongkroki’ si Mas Cefiro yang tidak ada gunanya, akhirnya aku pulang kampung ke Purwokerto, tinggal bersama Mamah Mertua yang tinggal sorangan. Anget.. Apalagi Mamah Mertuaku trengginas (gesit) bener, dia nyetir mobil sejak usia belasan, akhirnya Si Mas Cefiro jadi open-open Mamah Mertua. Berarti, satu beban terkurangi.

Berpikir untuk tidak mau terlalu merepotkan Mamah Mertua, yang kala itu masih belum pensiun dari profesi sebagai Pengajar, maka untuk kepentingan transportasi, terutama antar jemput sekolah anak-anak, aku mengandalkan Pak Kriting alias Mang Engkos, Tukang Becak yang mangkal dekat rumah, dan dia gak pernah bisa diam, selalu ngobrol berapi-api di antara ‘krenggosannya’ mengayuh becak, membawa tiga manusia, aku dan 2 anakku.

Berhitung lebih lanjut, bahwa becak akhirnya tidak ‘mobil’ dan judul hitungan pengeluaran transport jadi lebih mahal, ketika suamiku pulang (dia pulang setahun sekali), aku ngotot minta diajari nyetir mobil. Dan kami pun belajar di dekat Stadion Mini yang berdampingan dengan sawah, di kota kami.

Hasilnya, mobil masuk sawah…! Blusss..! Aku putus angsa lah… Kembali aku menghiba pada Pak Kriting, bawa kemana pun daku perlu…

Di sekolah anak-anak, komunitas Mamah-Mamah Penunggu Anak Sekolah, dengan nyinyir, jelas-jelas mengkritikku, “gene hare, ga bisa naik motor.., beli tuh motor otomastis, ga pake gigi-gigian, tancep aja langsung berr …”

Aku bilang, “aku gak mungkin naik motor lah, Bu, anakku 2, tas bukunya gede-gede. Aku juga takut, nek celaka, ketabrak depan aku yang kena, nek ketabrak blakang, anak-anakku yang jadi taruhannya”.

Mamah-Mamah yang lain berpendapat, ” lha nek mikire gitu, ya cocoklah kalo Njenengan setia kemana aja sama Pak Kriting, he-he-he.”

Tahun berikutnya suamiku pulang, aku ‘adreng’, ngotot, minta mobil ‘kecil’..,karena setelah aku pelajari, kenapa sih aku gak ‘match’ sama Si Mas Cefiro, atau mobil Honda Accord tua yang ada di rumah.., ternyata karena kakiku terlalu pendek. Kalo mau naiki mereka, aku harus cari ganjel bantal segala. Heleh, arep kepenak kok ribet amat.

“Wes, pokokke, tulung aku digoletna mobil sing cilik, dadi parkire gampang, dan kakiku nyandak ke pedhal, mobil bekas aja, wong aku belum mahir nyopir” begitu aku bilang sama suamiku.

“Lha dirimu wes iso nyetir po?” tanya suamiku.

“Aku mau kursus, ambil yang 12 kali pertemuan..” jawabku mantap.

Hari berikutnya di sekolah anak-anak aku koar-koar mau nyetir mobil. Karuan mereka pada ketawa, “numpak motor be ora becus, kok malah arep numpak mobil. Umurmu piro, Bu…, gene hare mulai nyupir..,ya jam terbangnya terlalu rendah,” (Heleh, yo ngerti aku wes tuo, meh patang puluh, mau empat puluh tahun..).

“Ya wes, dalam 2 minggu ini nek aku nganti gak iso nyupir, ya memang nasibku harus berdua terus sama Pak Kriting,” jawabku loyo.

Di kursus setir mobil, 10 menit setelah berdua dengan si Mas Instruktur, aku diminta bawa mobil sendiri.. “Wohh.., lha penjorangan (main-main) kiye si Mas..”

Ya meski adem semua tubuhku, aku bawa aja tuh mobil, 10 km/jam…Baru sepuluh menit jalan, aku sudah ‘semuten’ saking stressnya. Jadilah sessi pertama kursus, aku cuma jalan-jalan sama si Mas Instruktur.

Sessi berikutnya si Mas Instruktur bilang, “Bu, kalo ntar Njenengan cuma minta jalan-jalan tak supiri, aku emoh.”

“Ya.., ora, enggak, Mas. Hari ini aku siap mental,” gitu aku bilang.

Sessi kedua, 20 km/ jam.. Lumayan.

Sessi ketiga, si Mas Instruktur bilang, “ayo,Bu, tambahi, 40 km/ jam..”

Tapi aku cuma berhasil 30 km/ jam.

Sessi ke empat si Mas Instruktur malah ngenyek, ngecengin aku, “Bu, kalau perkembangannya kursus kaya gini, besok Ibu punya mobil, ya tetep butuh sopir”, alias, si Mas Instruktur bilang aku tidak mampu bawa mobil sendiri di jalan raya.

Weleh.., sessi ke lima dan seterusnya aku jalani sambil njaprut, cemberut, sebel. Sesi ke tujuh, aku wes mlokek, sudah muak, emoh kursus. Mbuh lah..

Singkat cerita, suamiku sudah dapat mobil sekenan, Katana merah.. Wuihh.., keren bener…Wes, langsung tak coba was wes, bar ber.., tapi ya alon-alon, pelan-pelan, tetap maksimal 30 km/jam. (Kursus gak aku lanjutin! Jadi aku belum belajar setengah kopling, parkir, masuk garasi. Biarin, ah, nanti kan bisa sendiri, gitu pikirku).

Dan benar, dari hari ke hari, aku membawa Red Katanaku alias Red Ngatini, maksimal 30 km/jam, tapi lebih sering sekitar 20 km/jam. Yang di belakangku sudah than thin than thin, sebel, “Ini mobil di depan jalan mepet kanan kok lambat amat”, gitu pikir mereka.. Aku cuek lah…

Aku meminimalkan parkir di tempat umum, takut ‘gak berhasil’. Kalau pun harus, ya itung banget biar bisa mudah parkir. Malah satu hari karena aku ‘gagal’ parkir, aku turun aja, bilang sama Tukang parkirnya, “Mas tulung jejegke (luruskan) parkire, aku belum bisa…” Wakakak..!!

Di tanjakan, yang harus jalan pelan atau harus berhenti dan harus pakai setengah kopling, berulang-ulang ‘mati di tempat’, sampai aku pasang lampu kelip-kelip emerjensi, turun ke jalanan, dan bak Polisi Pengatur Jalan Raya, aku teriak kepada pembawa mobil-mobil di belakangku, “jalan dulu aja, Mas, aku macet, nih”…Kemringet…Jadi tontonan.

Dua anakku di mobil ikutan panik “Mamah sebenere bisa gak si bawa mobil ?”

“Lhah…nduk cah ayu, anak-anakku yang baik, sabar yo.., ini revolusi, sayang..Dan pengorbanan dalam sebuah revolusi adalah hal biasa.” (Tentu saja anak-anakku gak mudeng. Ben, biarin, tetep cuek lah, namanya juga usaha…)

Sampai pada suatu hari.., aku tuh mau masuk gigi 2, keliru gigi 4, (untung pas sendirian, ga sama anak-anak) lha kok jalannya mak wuss…hoahhh.., takutku setengah mati, mana lewat jalan Kampus krodit banget.., Gusti Allah…Tapi lha kok rasane malah puenak? Terus aja aku laju, sampai ada kesempatan turun ke gigi dua, blesss.., alon-alon, pelan-pelan, kemudian aku berhenti. Gemrobyos, keringat dingin…

Asem ki.., aku langsung minggir parkir, ngatur nafas. Bajindul.. bajindul.., Alhamdulillah, untung slamet nggak nabrak-nabrak… Kejadian itu cuma berlangsung sekian menit, dan itu menjadi titik di mana aku mulai berpikir bahwa “melaju cepat” alias ngebut itu enak juga yaa.., he-he-he..

Besoknya, besoknya, dan seterusnya, teriakan anak-anakku sudah beda lagi, “Mamah jangan ngebut, Mamah awas ada motor ntar ketabrak,”. Aku jawab aja, “Tenang, Nduk, Mamahmu sekarang sudah sehati dengan Red Katana ini”.

Ya, dengan Bismillah, akhirnya aku bersyukur Alhamdulillah, satu lagi berhasil usahaku, berdamai dengan ketakutanku, yang dulunya nggak pernah berhasil bawa mobil, sekarang bisa berkawan akrab dengan Red Ngatini.

Semoga cerita ini bisa menjadikan inspirasi bagi teman-teman yang pengen bisa nyetir mobil..tapi masih belum berhasil berdamai dengan kekhawatiran dan kecemasan-kecemasan yang terlalu banyak dibayangkan. Jangan dibayangkan thok, ya.., coba aja langsung, semoga berhasil..!


Virginia,

NH. Dian

(Kisah lama, aku kemas ulang buat teman-teman di Baltyra…)



Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *