De Snackerij dan malas masak

Nunuk Pulandari


Setiap ibu rumah tangga khususnya yang tinggal di Belanda setidaknya pernah dihinggapi rasa enggan dan malas untuk masak. Juga para bapak rumah tangga yang kebagian tugas masak.  Yaaaa, para bapak (terutama orang Belandanya) dalam berbagi  hal-hal kerumahtanggaan  lebih cenderung memilih masuk dapur dan masak daripada harus membersihkan kamar-kamar yang ada.

Malas masak  termasuk  salah satu  “penyakit” yang kadang menyerang para ibu/bapak rumah tangga .  Berbagai alasaan bisa menjadi penyebabnya. “Aduuuh, aq nggak punya waktu untuk masak”: Kata salah satu teman ngajar. Yang lain berbisik: ”Nuk, kom je bij mij eten? Maar ik kan niet koken”- Nuk, makan dirumahku yuuuk, tapi saya nggak bisa masak.  Teman di Amsterdam mengundang tapi dengan wanti-wanti: “Saya malas masuk dapur jadi kita makan di luar aja yaa”. Salah satu teman berenang berkata: ”Nuk, kita masak dan makan sama-sama di rumahku yuuuk” dll, dll.

Seperti teman-teman di Baltyra ketahui, kami di Negeri Barat rata-rata per hari makan “panas/ berat” hanya satu kali. Biasanya malam hari.  Pagi hari makan roti, minum teh, jus d’orange. Sengaja saya tidak menulis “jus”, karena kata “jus” dalam bahasa Belanda berarti kaldu / air daging.  Siang hari ya makan roti lagi. Atau kalau bosen makan roti ya makan buah atau soep. Memang ada keluarga-keluarga, seperti di banyak daerah Belanda Utara yang makan “panas”nya tidak malam hari tetapi tengah hari.

Seorang teman saya di kota Gees ( di provintie Drenthe, di utara Belanda) selalu makan “panas/berat” siang hari mengingat pekerjaan mereka. Petani. Jadi siang hari Henk alm. selalu pulang dari ladangnya naik traktor untuk makan siang dan beristirahat.Setelah beristirahat sebentar, ya pergi lagi ke ladangnya sampai sore hari.  Dan untuk kami-kami yang tinggal di perkotaan dan bekerja di perkantoran biasanya makan “panas/berat”nya malam hari.

Nah, untuk mempersiapkan dan menyelesaikan urusan makan “panas/berat” ini  kita harus melakukannya sendiri . Maksud saya tanpa bantuan pembantu. Yang jelas untuk  menu makan malam sehari-hari  biasanya selalu diusahakan ada salah satu jenis bahan makanan yang mengandung hidrat arang seperti  kentang/ pasta/nasi  dan salah satu jenis proteinnya seperti daging/ikan / tahu/tempe  dan salah satu sayur  serta makanan penutupnya seperti  vla/ijs.

Biasanya di tengah acara makan malam dalam kesehariannya kita tidak minum.  Biasanya minuman disajikan dalam weekend. Jumlah makanan yang kita masak tidak pernah berlebihan dan . Jadi banyaknya masakan yang dimasak selalu dipertimbangkan, misalnya untuk berapa hari  ( kadang kita masak untuk 2 kali makan malam), untuk berapa orang . Masak secara berlebihan dan berlimpah ruah seperti di Indonesia sangat dihindari karena tidak ada  pak Supir, Mbok Wen, kang Ranu tukang kebon  atau Mak Onah yang akan menghabiskan atau membawa pulang makanan yang berlebih . Jadi untuk makan malam sehari-hari kita hampir tidak pernah masak secara “uitgebreid”,  banyak jenis masakannya  seperti yang kita lakukan di Indonesia dan biasanya hanya dicukupkan untuk satu hari saja.

Saya juga termasuk kelompok ibu-ibu yang kadang dihinggapi rasa malas untuk masuk dapur. Apalagi setelah kedua “buntut”saya tidak tinggal di rumah lagi. Kebetulan konco ngajeng dalam hal makan juga tidak rewel. Jadi kalau sedang malas masak yaaaaa makan di luar. Gampang khan…Hanya satu yang jadi masalah. Kemalasan  ini bukan hanya sekali atau dua kali….Tapi cukuuuu p dan memang cukup sering menimpa saya…Ha, ha, haaaa. Dan karena terlalu sering malas masak, kami kadang bingung menentukan mau makan apa dan makan dimana. Memang cukup banyak i restaurant yang bisa kita kunjungi. Yang jadi masalah adalah isi kantong yang kadang menjerit-jerit: “Hampir jebol, hampir jebol” ….. Ha, ha, haaaa… Grapje, just joking.

Lagi pula seperti teman-teman di Baltyra ketahui, makan malam di luar, di Negeri Belanda gampang-gampang susah. Terutama kalau kita samakan dengan situasi dan keadaan di Indonesia. Restaurant di Indonesia bisa  buka hampir 24 jam sehari.  Lha wong jam 23.30 masih bisa makan malam di restaurant dan jam 03.30 sudah bisa makan bubur ayam yang super duwer ueeeeenaknya. .. Sedang di Belanda sering kali restaurant baru buka menjelang makan siang dan sudah mulai menutup  pintunya setelah jarum pendek jam menunjukkan ke angka 21.00. Tentu disana-sini ada kekecualiannya. Dalam hal ini tidak termasuk restaurant saji cepat. Jadi kalau sedang malas masak, biasanya siang hari sudah mulai rasan-rasan untuk makan di luar saja. Dan menjelang jam enam/setengah tujuh biasanya kita sudah duduk di restaurant yang kita tuju.

Teman-teman, salah satu restaurant kecil  yang menjadi langganan tempat makan malam letaknya tidak jauh dari rumah saya. Namanya “De Snackerij”.  Disebut “De Snackerij” karena di belakang- samping restaurant ini ada semacam “snackbar” yang menjual  minuman dan makanan kecil , sampai makanan setengah besar seperti patat, ayam/ikan goreng, salade dll.

“Snackbar” ini mempunyai pintu tersendiri. Sedang  restaurantnya ada di bangunan utama dan  mempunyai kapasitas kursi untuk plus minus 50-75 orang dan dilayani hanya oleh 2 atau 3 orang (kalau sedang ramai).

Restaurant ini mempunyai ruang makan yang “sfeervol” mempunyai gaya tersendiri dan  terasa penuh  kekeluargaan. Kalau kita duduk makan di restauran ini, kita bisa relaks dan merasa nyaman.

Suatu restaurant yang “goed en betaalbaar”  menyajikan makanan dengan rasa yang enak dan tidak terlalu menguras kantong. Menurut saya juga menyediakan cukup banyak makanan pilihan.  Hanya makanan jenis pasta yang tidak bisa kita pesan di restaurant ini.  Daaaan yang lebih penting lagi pelayanan di restaurant ini sangat baik dan ramah. Untuk saya  restaurant kecil ini mempunyai nilai tambah dan sering menjadi pilihan karena  di depan-samping restaurant juga tersedia satu tempat parkeer yang luas…. Dan gratiiiissssss.

Minggu yang lalu saya dan seorang teman makan malam di sana. Oya teman-teman, specialisatie restaurant ini adalah ikan. Sambil menunggu pesanan minuman saya membuka-buka buku menu.  Agak bingung juga mau pesan makanan apa….

Rasanya semua jenis masakannya pernah saya coba. Daaannn di tengah kebingungan ini mata terantuk pada menu yang ada di atas meja.  “Pittige gamba salade”,  salade dengan udang besar yang rasanya agak pedas… Wouuuu,  udang besar! Udang adalah salah satu makanan kesukaan saya. Tanpa pikir panjang lagi saya memilih “pittige gamba salade”  sebagai  “vooraf” makanan pembuka.. Jadi meskipun dalam menu “gamba salade” ini disajikan dalam kombinasi dengan “Gemarineerde Biefstuk” daging biefstuk yang dibumbui, toch kita bisa memesannya secara “apart” tersendiri.   Udang besar ini disajikan di atas irisan beberapa jenis sayuran segar, dan sepotong roti bakar krokant. Setelah makanan “vooraf” udang besar yang rasanya enaaak, saya masih memesan satu porsi  kecil  ( porsi untuk anak-anak)  menu “kibbeling” ,  ikan  goreng krokant (ada kriuk, kriuknya kalau digigit) dengan “patat” dengan saus ravigotte dan salade (termasuk dalam menu).

Satu lagi nilai tambah dari restaurant ini, kita (orang dewasa yang tidak bisa makan banyak) bisa memesan menu dengan porsi anak-anak. Dan sebagai “toetje”,  makanan penutupnya  saya minta dibuatkan satu gelas  “café glacé” tanpa “slagroom” tapi ditambah ijs cremenya.  “Café glacé” tidak termasuk dalam menu restaurant tetapi saya bisa minta dibuatkan khusus.

“Café glace” terdiri dari koffie expresso yang disajikan dengan 3 scoop ijscreme ( vanille atau coklat) dengan toppingnya berbagai jenis kacang sangrai , sebagai  “toetje” penutupnya….Hmmmmm. Untuk dua orang kita mengeluarkan uang tidak lebih dari E 32.00…Incl. fooi E 3.00. Murah meriah dan tidak capai dan tidak perlu cuci-cuci piring dan schaal segala….. Heerlijk…. Tot weer schrijven en eet smakelijk.

*Salju sudah berjatuhan sejak weekend kemarin. Jauh lebih dini dibandingkan dengan tahun yang lalu. Temperatur minus 5 derajat celcius. Ditambah anginnya yang agak kencang …Brrrrrrr, dingiiiiin*



Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.