Aku Bermain Api

R. Siska Perez


“Hi” hanya itu aku tulis buatmu setelah sekian tahunnya kita berpisah, dipisahkan hanya oleh jarak dan waktu tapi bukan kematian.

Aku sebenarnya sih tidak berharap engkau membalas itu, aku juga menulis itu hanya karena aku lagi badmood, kurang kerjaan dan hati lagi memang ga tau deh sulit ngungkapinnya pada saat itu.

Kau balas suratku dengan bermacam pertanyaan bla.. bla.. bla.. tentu saja kau merasa surprise, sekian tahun sudah berlalu whats- up gitu lho? Kali aja pikirmu aku kesurupan tapi dont care ahh.., kan aku juga bisa seperti jailangkung datang tak diundang pergi juga tak bilang bilang..Berdua kita semasa waktu itu sama-sama seakan ditelan bumi walau kita punya koneksi internet, telephone tapi kan memang atas dasar kemauan masing masing, sama-sama kita bersemedi cari wangsit dengan keinginan masing masing.

Nah lho.. sekarang siapa yang memulai aku kah? Dirimu kah? Ahhh pusing ini ga perlu dijabarkan intinya kita surat-suratan lagi, kita berbincang mesra tapi berbatas, so sweet seakan merasa aku kembali ke masa-masa ABG (bukan angkatan babe gue), life is beautiful deh judulnya makan ingat kamu, tidur ingat kamu cuman bayar utang aja ga ingat kamu, abis ingat juga blom tentu kan dibayarin. Pertemuanpun kita rencanakan, setelah beberapa bulan ke depan tapi aku minta satu syarat sebelum bertemu kirim dong foto terbarumu at list kalau “macho”mu berkurang kan aku punya alasan ngebatalin pertemuan kita ^-^,tapi dasar dewi fortuna berpihak dengannya, aku lihat dirimu makin aja, makin ganteng makin semua deh kali aja juga yang di bawah makin panjang jempol kakimu.

Tanpa basa-basi kumendatangimu kekotamu, pertemuan itu membuat magnet rasaku bergetar kencang, aku kikuk, aduh melihat bibir merahmu yang tersenyum lepas itu, aku ingin langsung mendaratkan ciuman mesraku tapi kan aku jual mahal dulu toh, aku menanti moment itu maksudnya kan loe laki laki ya kamu duluan dong yang nyosor aku, kan aku sudah kasih signal dengan selalu membasahi bibirku, masa sih aku harus ajarin lagi? Tapi yang kunanti aku hanya mendapatkan pelukan hangat darimu serta cium pipi kiri kanan uhhhh…

Kita menghabiskan waktu duduk di sebuah café di pusat kota, aku sudah pesan minuman hangat beberapa kali, kita ngobrol ngarol ngidul yang tidak penting, selalu menilai penampilan orang yang lalu lalang dari hadapan kita, betul-betul kurang kerjaan, dari A sampai Z, dari kenalan pertama kali sampai masa di mana kita saling menghilang semuanya terkupas dengan tuntas, tidak ada lagi rasa malu,sungkan, dan tidak ada lagi satupun yang tersembunyi dari hati kita masing masing.

Dan kemudian kita diam membisu dengan perasaan masing masing, kau menyentuh jari manisku tentu saja ada sebuah cincin melingkar di sana, kau pun tidak terkejut dengan menyentuhnya saja aku tau kau ingin bertanya bagaimana dengan perkawinanku, dan kau juga tau sebelumnya tapi kau tau kan sebelum kita sama sama bersemedi cincin itu belum melingkar di jari manisku.

Ahhh.., aku belum sanggup bermain api karena persediaan air yang kubawa tidak banyak, aku masih takut terbakar oleh api yang kumainkan sendiri, aku juga belum sanggup melukai hati seseorang yang tulus mencintaiku dalam hidupku, No….. aku tidak sekejam itu dan akan berapa hati yang akan terluka oleh karenaku.

Ku peluk erat dirimu dan aku katakan aku bahagia dengan diriku yang sekarang, dan dengan kehidupanku maafkan aku yang telah sengaja iseng membuatmu hampir terluka juga, don’t worry kamu masih macho dan muda kog pasti banyak yang ngantri deh, klise hanya senyum simpul yang kudapat.

Ku kembali ke kotaku, berderai air mata itu pasti, ah dasar wanita cengeng kayak di sinetron aja nangis mulu, tapi please deh aku juga kan manusia beneran bukan jadi -jadian apa salahnya nangis bila memang aku sedih batinku dalam hati minimal beban ku akan lebih ringan itu menurut anggapanku.Jailangkung.. ohhhh….jailangkung….aku mau pergi lagi dari hidupnya tanpa berkata apa apa……..

Note:

Cerita fiksi, imaginasi dan hayalan.


Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.