1 Suro

F. Rahardi


Malam 1 Suro

Bagi para penganut Kejawèn, malam 1 Suro adalah malam paling sakral. Mereka akan tirakatan semalam suntuk. Melarung (menghanyutkan) sesaji ke Laut Selatan, ke Hargo Dalem (Gunung Lawu), Suroloyo (Pegunungan Menoreh), menjamas (mencuci) pusaka, melantunkan tembang Macapat, dan di Surakarta (Solo), diadakan “Kirab Pusaka” dengan “Cucuk Lampah” Kerbau Kyai Slamet.

Pas Malam 1 Suro, pernah saya ke Hargo Dalem (Lawu), Suroloyo (Menoreh), Kemukus (Surakarta), bukan ikut ritual, melainkan mengamati, agar bisa menulis dengan lebih baik. Saya memang bukan penganut Kejawèn, tetapi meyakini kebenaran slogan ini: “Suro Diro Joyoningrat, Lebur Dening Pengastuti” (ketangguhan…, keberanian, dan kemenangan, kalah oleh perbuatan baik).


Kerbau Kyai Slamet
Tiap tanggal 1 Suro, di Kasunanan Surakarta, ada “kirab pusaka” (pawai pusaka), dengan “cucuk lampah” (pembuka jalan), kerbau (keturunan) Kyai Slamet. Kerbau Kyai Slamet berawal dari zaman Pakubuwono II (abad 18). Ketika itu ibukota kerajaan masih di kartasura. Terjadilah pemberontakan masyarakat Cina… yang kemudian melibatkan Pangeran Cakraningrat dari Madura di pihak VOC, dan Raden Mas Said di pihak Masyarakat Jawa. Kartasura jatuh, dan Pakubuwono II mengungsi ke Ponorogo. Di sinilah Bupati Ponorogo memberi hadiah sepasang kerbau bulai kepada Sunan, sebagai pengawal Pusaka Kyai Slamet, yang tak kelihatan. Konon, hanya sunan dan para pembantu terdekatnya yang bisa melihat Pusaka Kyai Slamet. Hingga awalnya sepasang kerbau bulai dari Ponorogo ini disebut sebagai “Kerbau Pengawal Pusaka Kyai Slamet”.

Kerbau Kyai Slamet yang sekarang ini, adalah keturunan sepasang kerbau bulai hadiah Bupati Ponorogo.




Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.