Menyambut Tahun Baru Islam (1 Muharram 1431 H)

Cechgentong


Tahun Baru Islam yang diperingati setiap tanggal 1 Muharram  atau lebih dikenal dengan 1 Suro besok. Seperti tahun-tahun sebelumnya penulis memperingatinya di Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran milik kakek buyut saya yang berlokasi di Sumedang.

Tahun Baru Islam yang ditandai dengan hijrahnya Rasulullah SAW dari kota Mekkah yang banyak didiami kaum Quraish ke kota Madinah. Kaum Quraish di kota Mekkah pada saat itu sangat menentang ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW yaitu Islam. Penentangan keras yang dilakukan oleh kaum Quraish yang cenderung menggunakan kekerasan membuat Rasulullah SAW mengambil keputusan untuk hijarah ke kota Madinah dimana penduduk Madinah lebih toleran terhadap kehadiran Rasulullah SAW dan ajaran Islam. Di kota Madinah inilah Rasulullah melakukan syiar Islam dan berkembang dengan pesatnya (yang nantinya Madinah menjadi pusat kegiatan Islam di tanah Arab).

Saya tidak akan mengupas lebih detil tentang sejarah Hijrah Rasulullah karena saya yakin para pembaca sudah banyak mendapatkan informasi dari mana-mana. Penekanan tulisan ini hanya sekedar berbagi ilmu dan pengalaman untuk merenungkan dan memaknai hijrah dalam kehidupan yang nyata. Di samping itu juga ingin mengajak seluruh umat Islam beramai-ramai merayakan Tahun Baru Islam dengan suasana kebatinan yang Islami. Sungguh ironis melihat bagaimana sebagian besar masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam lebih memfokuskan dan melakukan pesta besar-besaran pada saat Tahun Baru Masehi (1 Januari) dibanding Tahun Baru Islam yang lebih banyak hikmahnya  lewat perjuangan Rasulullah menyebarkan ajaran Islam yang sangat dimuliakan Allah SWT.

Hijrah artinya pindah, dari hal-hal yang tidak baik menjadi hal-hal yang baik dan pengertiannya bukan hanya sekedar fisik seperti pindah tempat, rumah, kantor atau yang lain. Intinya adalah peningkatan kualitas mulai dari hitungan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun dan terus-menerus dilakukan dengan landasan istiqomah dan Rahman Rahim.

Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran


Lambang Kerajaan Galeuh Pakuan Pajajaran


Lambang Penyatuan Galeuh Pakuan Dan Pajajaran (Cap Kerajaan)


Sebagai Muslim yang menjunjung tinggi budaya peninggalan para leluhur (sunda: karuhun) maka setiap tahun secara konsisten selalu mengikuti acara Tahun Baru Islam ini. Banyak acara yang dilaksanakan di padepokan Uyut saya. Mulai dari ziarah ke makam para karuhun. tawasulan, pertunjukkan seni budaya Sunda (jaipongan, gamelan dan lain-lain). Semua kegiatan tersebut mengarahnya kepada ucapan syukur kami kepada Allah SWT, Rasulullah SAW (Imam dan Teladan kami), Karuhun (yang melahirkan kami) dan makin mempererat ikatan tali silaturahmi antar umat manusia.

Berikut berbagai acara rutin yang dilakukan dalam memperingati Tahun Baru Islam tahun lalu :

Tawasulan (Mendoakan Para Karuhun) Pada Malam Tahun Baru Islam


Makam Prabu Guru Aji Putih (Pendiri Galeuh Pakuan)


Makam Ratu Inten Dewi Nawang Wulan


Makam Dalem Santapura


Makam Raja dan Keturunan Sumedang Larang


Makam Pangeran Santi (Raja Sumedang Larang I)


Makam Prabu Lembu Agung (Raja Tembong Agung)


Berdoa Di Makam Prabu Tajimalela (Raja Galeuh Pakuan I)


Semboyan Prabu Tajimalela


Berdiskusi Tentang Perkembangan Padepokan


Jaipongan Menyambut Tahun Baru Islam


Foto Bareng Setelah Acara Selesai


Dari semua kegiatan Tahun Baru Islam oleh padepokan dijadikan pijakan bagi kami untuk Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah terutama sejarah para karuhun yang telah banyak meninggalkan kebaikan, karya dan  warisan seni-budaya yang luhur sehingga saya makin yakin kepada Allah SWT, yakin kepada diri sendiri dan selalu ingat pesan orang tua khususnya dalam  memaknai Hijrah secara hakiki.


SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM 1432 HIJRIAH. SEMOGA KEHIDUPAN SELURUH UMAT MANUSIA MENJADI MAKIN BAIK DAN BERMANFAAT…


7 Comments to "Menyambut Tahun Baru Islam (1 Muharram 1431 H)"

  1. Rd Mbun setra  10 March, 2017 at 11:23

    Kgiatan yg sangat bgus skali..
    Sy trtarik untk ikut serta dlm kgiatan” di padepokan nya..salam santunn para karuhun sunda

  2. walangsungsang cakrabuana  21 March, 2014 at 17:07

    sampurasun

  3. Handaka  17 December, 2013 at 23:18

    Ass ,pingin ikutan ziarah ,,saya sudah lama di sumedang tapi belum pernah jiarah ke makam prabu tajimalela .,, dan pingin sekali ziarah ,, sumedangnya di kec,darmaraja ,desa apa kang?

  4. eka  19 January, 2013 at 20:27

    saya salut kepada keluarga besar Galuh yang masih menjaga dan melestarikan kebesaran keluarga di tatar sunda . salam kenal.

  5. widy  25 March, 2011 at 18:04

    Kerajaan Sunda (669-1579 M), menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Saka Sunda (669 M). Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah di cipakancilan bogor

  6. wisata gosip  23 March, 2011 at 22:09

    trimaksh inpo sumedang

  7. wisata gosip  23 March, 2011 at 21:48

    trimaksih atas inponya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.