Dongeng Buat Anil

Ana Mustamin


PROLOG

Mengingat-ingat dongeng yang pernah dikisahkan nenek semasa kita bocah, mana yang paling berkesan? Si Kancil yang cerdik? Bawang Merah dan Bawang Putih? Atau Cinderella?

Apa pun jawabmu, tak soal. Yang jelas, kita pasti sepakat jika dongeng-dongeng itu mengajarkan hal yang sama: bahwa dalam hidup ini selalu ada Si Jahat dan Si Baik. Dan bahwa Si Jahat jika diperhadapkan dengan Si Baik, akan kalah, akan bernasib sial. Ya, apa nggak? Kalau nggak, dongeng nenekmu pasti ngawur deh. Ha-ha.

Eh, tapi sesungguhnya, adakah dongeng yang nggak ngawur? Adakah hidup akan seadil dan selugu kisah-kisah yang dituturkan orang-orang tua kita dulu? Sungguhkah bumi ini hanya dihuni dua jenis manusia: Si Hitam dan Si Putih – tanpa nuansa lain?

Dan yang terpenting, benarkah nasib baik akan selalu berpihak pada mereka yang selalu berikhtiar menyetiai kebaikan?

***

Sungguh! Pada mulanya aku berharap menerima surat dari fans. Secarik kertas berisi penuturan klise: ‘Mas Jo, saya kagum lho ama cerpen-cerpen Mas. Nggak salah dong kalau kita ngefan berat. Boleh kenalan, kan?’

Sekali ini aku keliru. Karena sepucuk surat yang datang, menohokku dengan pertanyaan, “Mas, sesungguhnya, apa sih yang pantas diburu dan didamba dalam hidup ini?”

Dan aku tertegun sekian detik.

… Aku Anil, masih remaja, SMA. Dan sebagaimana laiknya usia demikian, pertanyaan demi pertanyaan bergaung silih berganti, menanyakan kenyataan-kenyataan yang tertemui dalam perjalanan. Pertanyaan itu, kadang kabur dan terkubur sendiri, karena tak kunjung mendapatkan jawaban.

Nah, untuk pertanyaan Anil di atas, akhir-akhir ini semakin kerap menjenguk, menuntut jawaban segera. Memang, sekerat demi sekerat Anil mencoba mencari jawaban dengan pengertian-pengertian yang secuil pula. Namun ketidakpuasan segera kembali bersarang, menunggu pendapat dari ‘kacamata’ orang lain yang lebih mapan….

Sekarang aku percaya, khayalanku menemui wujudnya. Aku pernah mencipta sosok Violeta dalam salah satu cerberku. Sosok yang demikian menyetiai kesendiriannya: kecemasan, ketakutan, keraguan, impian, sekaligus ketegaran. Kendati ia menatap hidup dengan serba ungu – warna kemurungan.

Di tengah gegap-gempita dan hura-hura kehidupan remaja, tokoh rekaan tersebut pernah membuatku merasa demikian naif: tidakkah Violeta sungguh-sungguh seorang tokoh fiktif yang selamanya akan tetap fiktif? Dan aku… tetap sebagai si pendongeng sejati! Menyodorkan kisah-kisah sedih yang didramatisir sedemikian rupa, mengeksploitasi penderitaan untuk sebuah popularitas dan uang ….

… entahlah! Tapi Anil begitu terkesan akan sosok Violeta dalam “Kidung Ungu”nya Mas Jo. Padahal, cerber itu terpublikasi tahun 1987 silam. Suatu waktu yang cukup lama kukira, tapi mengapa hingga kini sosok itu masih tertambat di hati?

Mas Jo, kadang aku merasa begitu sibuk sendiri. Kadang pula dijenguk oleh kesadaran, bahwa ia hanya semata fiksi. Tapi semuanya serasa hidup, lekat, dan akrab: ketika ia berdiri di koridor sekolah, berjalan sendiri, memandang hujan, berimajinasi. . . dan aku menemukan gambaran diriku di sana – di pikiran-pikirannya, sikapnya….

Aku masih mengenangnya dengan baik. Pada sebuah Februari yang basah, suratnya terhenti. Dan sebagai gantinnya ia berdiri di pintu. Ya, ‘Violeta’ itu menjelma nyata dalam kehidupanku.

“Mas Jo?” matanya mengerjap ragu.

Aku mengangguk sembari tersenyum.

“Saya, Anil!” Suaranya terdengar lirih, malu-malu.

Kulitnya putih bersih. Dengan rambut lurus sebahu, berponi halus di dahi, ia nampak demikian imut-imut. Sepintas, orang akan lebih menebaknya sebagai pelajar SMP ketimbang seorang siswa SMA kelas dua.

Sejak pandangan pertama itu, aku mulai kewalahan membujuk perasaanku untuk tidak jatuh cinta padanya. Matanya yang bagai bintang kecil seperti menyimpan kedalaman misteri. Sesekali berpendar gemerlap. Namun di waktu lain berubah suram, seolah berlarik-larik mendung menyaputinya. Mata itu, sungguh, memancarkan daya magnetis luar biasa, mengaduk-aduk batinku yang memang gampang terusik.

Ia masih terlalu putih, Jo! hujat batinku senantiasa. Kehidupannya ibarat kubah lazuardi yang biru bening, tanpa awan-awan yang menodainya.

Dan aku tersenyum kecut mengenangnya. Hari-hariku yang lampau seolah terpeta jelas. J-o-h-a-n, don juan kampus, yang terbang dari gadis yang satu ke gadis yang lain tanpa pertimbangan berarti. Dan kini, betapapun besar keinginanku untuk belajar mencintai seorang gadis dengan benar, aku tidak akan pernah ingin menjadikan Anil sebagai kelinci percobaan. Aku masih begitu kerap dilibat keraguan akan keyakinanku. Aku belum bisa mempercayai sepenuhnya bahwa aku akan mampu meranggaskan penyakit isengku sampai ke akar-akarnya.

Hari-hari berikutnya, pada akhirnya memang jadi hari yang menyiksaku. Aku terus berupaya menjaga dan memelihara perasaanku terhadap Anil. Seperti Mama yang menjaga demikian telaten menjaga guci-guci porselennya. Seolah ada kekhawatiran jika aku menyentuhnya, ada salah satu bagiannya retak, atau bahkan pecah.

Tidak enak memang. Aku tidak memungkiri jika hari-hari itu tak selamanya mulus. Ada di antara detik, saat menampak sosoknya, timbul keinginan untuk merengkuhnya, melindunginya, memilikinya, utuh penuh. Namun setiap kali perasaan itu tiba, hati kecilku melarang.

Mata Anil yang bulat bening, polos laksana bayi, adalah tirai yang senantiasa menghadirkan jarak. Dalam keadaan demikian, aku hanya mampu menghela napas. Sampai suatu ketika, sebentuk kesadaran lain menggodaku.

“Nil, kenapa tak mencoba menulis di media massa?”

“Jadi penulis?” Matanya melebar.

Aku mengangguk.

“Menyaingi Mas Jo?” Tawanya mengintip.

“Kenapa nggak?”

Di luar, angin bertiup kencang. Kudengar gadis itu tertawa berderai.

“Ada-ada saja. Mas Jo ngeledek!”

Aku mencengkeram lengannya. “Heh, kali ini Mas Jo serius.”

“Tapi Anil merasa nggak berbakat.”

“Kamu berbakat. Cuma nggak merasa aja!”

“Tapi. . . .”

Aku membungkam ‘tapi-tapi’annya dengan memperlihatkan setumpuk surat-suratnya.”Kertas-kertas ini yang berbicara. Kamu sesungguhnya penulis cerdas, Adik Manis!”

Tapi ia tetap tak percaya, tetap menganggapku ngeledek. Dan aku tidak putus asa. Entah kenapa, ada dorongan lain yang memaksaku, lebih dari sekadar perasaan cinta. Seolah aku begitu yakin, lewat tangannya akan lahir karya-karya monumental.

Pada salah satu suratnya, aku mencopot puisi yang konon diciptakannya khusus untukku. Dan ketika sebulan kemudian puisi itu hadir pada salah satu majalah remaja, ia tercengang….

“Mas Jo?” Matanya mengerjap ragu, seperti pada awal pertemuan kami dulu.

Dan kali ini pun aku menyambutnya dengan sebuah senyuman. “Sekarang Anil percaya, kan?”

Wajah yang biasanya sendu itu, kini dibauri rona cerah. “Makasih, Mas jo!” Bisiknya. “Sekarang Anil ingin lebih banyak belajar pada Mas Jo…”

***

Berapa musim sudah aku tak berjumpa dengannya? Enam? Tujuh? Dua tahun di Amerika menghabiskan beasiswa, dengan hari-hari yang sarat dengan ceramah dan debat, kuliah tentang American Political Behaviour, American Foreign Policy dan sebangsanya; nyaris menyita habis waktuku. Sekalipun sekadar menikmati party, atau suasana hippies lainnya.

Kembali ke Tanah Air, dengan benak yang direcoki habis pemikiran-pemikiran Barat, membuatku harus rela kehilangan duniaku yang dulu. Diskusi-diskusi dan seminar makin menjeratku. Dan kegemaranku yang dulu – menulis cerpen, kian meremang di kesilaman.

Aku hampir melupakan obsesiku untuk menyaksikan seorang penulis cerdas menetas, ketika mataku menampak sebuah tulisan di harian daerah beberapa hari lalu:

MOMEN KEREN. TATAP WAJAH PLUS NGERUMPI BARENG DENGAN CERPENIS IDOLA KAMU: ANIL. . . .

Segenap isi dadaku rasanya berpesta. Sengak oleh kegembiraan sekaligus kekangenan dalam yang membuncah. Secepat itu ia bisa meraih sukses?

Ruangan besar pada salah satu hotel berbintang itu demikian riuh. Remaja dari berbagai sudut kota numplek. Pada sebuah sudutnya, aku ikut berdiri berdesakan, memandang dari kejauhan. Saat start dari kampus tadi, kupikir kedatanganku paling awal. Ternyata masih ada yang lebih kesetanan untuk menjumpai Anil. Apa boleh buat, kekangenan itu kutelan bulat-bulat.

Nun, Anil nampak demikian ceria. Seolah paham betul jika hari itu miliknya, dan semua mata menyorotinya penuh kekaguman. Aku beringsut, lebih ke tengah. Hm, wajahnya kini lebih jelas. Ia sudah jadi gadis matang rupanya. Cantik, dan tidak malu-malu.

Dari jajaran kursi bagian depan, seorang gadis berseragam abu-abu mengacungkan tangannya.

“Kalau boleh tahu, Anil nulisnya sejak kapan?”

“Kelas dua es-em-a. Tapi sebetulnya tuh, Anil udah merasa bisa menulis sejak es-em-pe,” sahutnya tangkas.

“Oh ya, selama ini siapa yang mendorong Anil menulis?”

“Banyak. Teman-teman, saudara, dan terutama Papa-Mama!”

“Ada yang membimbing, nggak?”

“Nggak, tuh. Anil cuma merasa belajar dari karya orang lain. Semacam otodidak.”

Dan, aku tersedak.

Cowok yang berdiri di sampingku kemudian ikut nanya. “Gimana tuh tentang bakat? Katanya untuk jadi penulis harus punya bakat?”

Anil senyum ringan. “Menurut saya, ya, itu kan tergantung pribadi kita aja. Biar punya bakat, tapi nggak punya kemauan, ya sama aja bo’ong. Pokoknya, kalau punya kemauan, semuanya jadi mudah, deh.”

“Enak nggak jadi cerpenis?”

“Ya, enak dong. Populer sih. . .,” kali ini terdengar pongah.

“Bagi-bagi resep dong, Nil, gimana agar tulisan kita juga nembus di majalah!”

“Aduh, sebetulnya itu perkara gampang…”

Aku surut perlahan, hampir tanpa cakap.

Sungguh! Aku meninggalkan ruangan itu bukan lantaran udara yang kian pengap dan riuh. Pun bukan lantaran secuil pun Anil tak mengingatku lagi. Aku hanya merasa terpencil di tengah keramaian itu. Aku merasa terasing di antara pemuja Anil. Aku sadar, aku telah kehilangan Anil-ku yang dulu: ‘Violeta’ku. Seperti aku sadar, bahwa obsesiku yang dulu tak selalu harus berakhir sama denqan harapanku.

Langkahku kian panjang, keriuhan kian sayup. Lamat-lamat, “Diamku Gemuruh”nya Anil – puisi pertamanya di media massa yang kukirim dulu, bergema kembali.

denting hati kusetiai sendiri

sebab pada akhirnya suara menguap pergi

tak berbekas!


EPILOG

Ketika cerpen ini kumulai, terasa ada kebingungan menyergap. Bukan apa-apa. Kemarin, aku bertemu dengan Anil di toko buku. Ia menyapaku, sekadar basa-basi, tak lebih baik dari menghadapi fans-nya yang lain. Ia hanya bercakap-cakap beberapa detik. kemudian berlalu ketika seorang cowok gagah menggandengnya ke sebuah Mazda putih yang diparkir tepat depan toko itu. Pacarnya kukira.

Aku kecewa, pasti.

Semua bisa berubah, oleh keadaan dan waktu. Barangkali, yang kuyakini tidak berubah adalah perasaanku pada Anil: untuk pertama kali aku merasa yakin tengah mencintai seorang gadis dengan benar.

Kalau kini, aku tetap termangu, disergap ragu, itu karena aku tidak tahu bagaimana harus mengakhiri cerpen ini. Aku teringat dongeng nenek dulu, yang selalu membela dengan gigih ‘tokoh putih’nya agar bernasib baik pada akhir dongengnya.

Tapi eh, ngomong-ngomong, aku ini ‘tokoh putih’, ya? Ha, pasti ge-er. Dan kamu, pasti menuduhku sengaja mendiskreditkan Anil agar kamu bersimpati padaku. Iya, kan?

Udah, deh. Cerpen ini kamu selesaikan aja sendiri. . . . ***

(kangen buat Anil: kamu percaya kalau ini dongeng?)


(majalah ANITA CEMERLANG, 1989)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.