Hong Kong Dalam Lensa: Mong Kok

Josh Chen – Global Citizen


Note:

Pagi ini sekitar jam 08:00 sampai dengan sekitar 13:30 server Baltyra menjalani unexpected maintenance, karena beberapa alasan teknis tiba-tiba terjadi gangguan. Hal ini menyebabkan penayangan artikel hari ini sangat-sangat terlambat dan keseluruhan jadwal penayangan artikel yang sudah diatur sampai akhir pekan ini harus disusun ulang susunan artikelnya.

Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terima kasih untuk perhatian dan pengertiannya.


Yang pernah ke Hong Kong pasti tahu Mong Kok. Apalagi yang sering ke Hong Kong, nama Mong Kok pasti sudah sangat akrab.

Mong Kok, pengucapan dalam Cantonese (dialek dari Canton, selatan China yang digunakan di Hong Kong), literally berarti busy corner/flourishing corner atau lebih pas adalah prosperous corner. Dalam bahasa Mandarin diucapkan Wang Jiao (pinyin, dibaca: wang ciau, 旺角).

(http://en.wikipedia.org/wiki/Mong_Kok)

Mong Kok terletak di Kowloon Peninsula dan merupakan salah satu tempat tersibuk di Hong Kong. Daerah ini terkenal akan surga belanja barang murah. Di wilayah ini bisa dilihat perpaduan gaya bangunan tua kolonial dan bangunan modern. Bisnis utama daerah ini adalah retail, restoran (termasuk banyak fast food) dan entertainment. Mong Kok sangat dikenal dan disukai para wisatawan yang berlibur ke Hong Kong.

Menurut Guinness World Records, Mong Kok adalah tempat terpadat di dunia. Dengan tingkat kepadatan mencapai lebih dari 150.000 manusia per km2. Dengan kondisi ini tidaklah mengherankan jika bangunan tempat tinggal bertingkat bertebaran dan menjulang tinggi di Mong Kok.

Mong Kok masih memertahankan ciri khas tradisional bentuk tempat usaha di Hong Kong. Jajaran kios, warung makan, pasar bertebaran di seluruh penjuru Mong Kok. Yang paling diingat dan menjadi semacam ‘trade mark’ Mong Kok adalah Women’s Street, literally dari 女人街, nu ren jie).

Nu Ren Jie sebenarnya bernama Tung Choi Street, yaitu satu ruas jalan di Mong Kok yang isinya para pedagang kaki lima yang berjajar rapat di kanan kiri jalan dari ujung sampai ujung satunya. Semua barang dijual di sini. Dari ujung rambut sampai ujung kaki ada di sini. Jepit rambut, anting, gelang, kalung, kaos kaki, kaos oleh-oleh dengan gambar-gambar ciri khas Hong Kong, sepatu, arloji (asli dan KW super, imitasi dengan kualitas mendekati aslinya), pakaian modern, tradisional, lukisan, Rubik’s cube, apa saja – you name it ada di sini. Dari siang hari sampai tengah malam Women’s Street terus menggeliatkan kegiatan ekonominya.

Di sekitar Women’s Street daerah ini dikelilingi berbagai jenis toko. Toko barang bermerek dan asli, camera, CD, elektronik, sports, musik, arloji, makanan dsb. Yang sangat menarik adalah jajaran penjual makanan di hampir semua sudut jalan. Mie dengan berbagai gayanya, kudapan, fast food, kebab, pasta dan pizza, Chinese food, Indian food bertebaran di seluruh penjuru Mong Kok.

Untuk mencapai Mong Kok sungguh sangat gampang. Rasanya tak ada orang di Hong Kong yang tidak tahu Mong Kok. Taxi ada di mana-mana, bus tingkat, MTR (di Singapore disebut MRT), semuanya dapat mencapai Mong Kok.

Jangan pernah bilang sudah pernah ke Hong Kong jika belum pernah ke Mong Kok…

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

46 Comments to "Hong Kong Dalam Lensa: Mong Kok"

  1. Kine Risty  1 January, 2011 at 23:05

    saya bosan Om , tiap minggu ke mongkok
    tapi mongkok memang pusat belanja yg paling murah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *