Kumpulan Sajak

Fahri Asiza



TADI ADA YANG MATI

Tadi ada yang mati

Dikafani sepi

Ditikam bumi


Dua iring tekukur menggayuti matahari, pendar bayang menggaris nadi

Ya, kulihat dirimu disana

batas hampa, kering :

senyap gigit menggigit, rintih merintih


Tadi ada yang mati

Entah pagi atau malam hari

Yang pasti embun telah menari


Kujumput dupa kusirami melati

Adakah memang kau yang mati, Wahai Nurani?



SELEPAS BAYANG

Bayang dalam bayang benarkah bayang

Tarik bayang buang bayang siapakah bayang

Bayang sayang bayang meradang salahkah bayang

Bayang o, bayang

Memang adakah bayang-bayang?



MUSIM MENGKHIANATI MUSIM

Pagi itu kaudatang padaku lewat segumpal kabut, dan keras mengetuk pintuku. Segera kupakai celanaku, karena aku malu kau melihat rahasiaku. Kau bertanya, apakah benar ini diriku? Entahlah, aku tak tahu. Tunggu sebentar, barangkali, bila kukenakan pakaianku kau akan mengenaliku. Matamu entah mengapa tiba-tiba memutih dan melihatku bagai  malaikat pemimpi. Sebentar, izinkan kukenakan dasi warna merah jambuku. Keningmu berlipatlipat. Ah, letih aku, tapi tunggu sebentar, biar kuperlihatkan tanda kebesaranku. Kaupun tersenyum, lalu membayarku dan pergi. Darahku merona, musim ini aku tetap kayaraya meski menjual darah di sebuah ruang gagah perkasa.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.