Yang Penting Untuk Disampaikan

Anwari Doel Arnowo


Semua orang semestinya masih ingat apa-apa yang paling berkesan dari orang tua kandungnya sendiri, misalnya perbuatannya, kata-kata di dalam nasihat-nasihat dan pitutur-pitutur serta petunjuk-petunjuknya. Biarpun orang tua kandungnya meninggalkan harta teramat banyak jumlahnya, maka di dalam waktu kesendiriannya, seseorang akan berdialog dengan dirinya sendiri, dan teringatlah dia akan kata-kata orang tua kandungnya itu.

Otomatis maka kata-kata yang diingatnya adalah yang baik-baik saja, itupun wajar, karena kebiasaan baik adalah membicarakan yang baik-baik saja, terhadap siapapun yang telah almarhum dan terutama adalah terhadap mereka yang kita hormati.

Kalau sudah cukup tua umur kita, dalam mengenang dan merenungkan yang seperti di atas, ada rasa menyesal, mengapa orang tua kita dulu tidak terlalu suka memberikan petuah, nasihat dan pitutur serta petunjuknya dalam bahasa yang lugas dan benar serta menggunakan kata-kata sehari-hari yang mudah diterima oleh telinga para pendengarnya, yang nota bene kaum yang lebih muda dan merupakan anak cucunya sendiri.

Saya menyadari ada banyak di antara anggota rukun keluarga yang mengenal saya sebagai orang yang agak keras dan kasar dalam berkata-kata, itu sebabya antara lain karena saya kurang suka menggunakan kata-kata bersayap, kata-kata kiasan dan terlalu banyak perumpamaannya.

Sekarang anak-anak kami yang lima orang sudah menikah semua dan cucu-cucu yang telah lahir ada enam orang. Semuanya dalam kategori baik-baik saja dan kelihatannya masa depannya akan banyak bisa ditentukan oleh mereka sendiri, karena saya lihat bakat dan kemampuan mereka akan cukup untuk keperluan itu. Hal ini menurut pengelihatan saya, apabila saya berkeyakinan seperti itu, sama sekali tidak ada salahnya.

Oleh karena umur istri saya dan saya sudah sama-sama 70 tahun, maka kami merasakan perlunya perhatian yang lebih kepada diri kami sendiri berdua. Saya pernah minta dengan sangat kepada istri saya untuk tidak mencampuri urusan Rumah Tangga anak-anak kami. Kalau cucu kami mau di sekolahkan di sekolah yang religion oriented – berorientasi keagamaan atau sekolah Negeri biasa, saya minta agar kami berdua tidak menyuarakan suara yang bernada tidak menyetujui terhadap yang mana sekalipun.

Sekolah dengan orientasi agama apapun juga. Itu adalah kebijaksanaan domestik anak kami dan menantu kami. Kalau ada cucu yang sakit, mau diberi obat tertentu, kami tidak akan memberi alternative lain, kecuali obat pilihan mereka itu akan bisa menimbulkan bahaya tertentu. Yang pokok adalah tidak ikut campur. Saya menghomati hak azasi anak saya agar mendapatkan wibawa sebagai orang tua dan respect yang tinggi dari anak-anak mereka, yang sesungguhnya adalah cucu kami juga.

Perhatian mengenai kesehatan adalah utamanya. Itulah sebabnya mengapa saya amat sering secara blak-blakan, berterus terang berkata-kata dan mengatakan sesuatu dengan keyakinan yang biasa-biasa saja, tidak terlalu menggebu-gebu. Sering saya tambahi dengan kata-kata ….”itu menurut pendapat saya sekarang, karena apa yang saya katakan ini belum tentu benar seratus persen.

Terserah anda pada suatu saat nanti, akan datang yang disebut kebijakan pribadi anda, dan anda akan bisa mengambil keputusan terhadap bagaimana dan apa yang akan anda katakan dan perbuat.”….. Begitulah pilihan pola berkata-kata saya, selalu dengan mengingat karena telah pernah diberitau oleh seseorang yang mengatakan bahwa: “Apa yang kita percayai sebagai benar pada hari ini, bisa saja menjadi tidak benar pada esok harinya”. Jadi dalam hal ini saya secara sengaja mengenyampingkan siapapun pendengar yang saya hadapi itu, apakah orang lain atau keluarga sendiri, anak sendiri atau bahkan cucu sekalipun.

Pada suatu saat saya membaca kata-kata: Jangan pernah berdusta kalau menerangkan sesuatu biar kepada anak kecil sekalipun. Dia akan ingat meskipun belum tentu dia mengerti seratus persen pada waktu kita terangkan kepadanya. Terangkanlah dengan sejelas-jelasnya, bahwa petir atau kilat di angkasa, di udara di atas kita waktu musim hujan itu, adalah aliran listrik, yang arahnya dua arah, ke atas, ke arah angkasa dan ke bawah, ke arah tanah.

Anda tau bahwa umur anak tiga tahun itu tentunya belum mengerti listrik itu apa, dan mengapa justru ada listrik keluar dari tanah menuju ke atas dan sebaliknya. Ketika medan listrik menjadi kuat di angkasa maka muntahan/luapan listrik terjadi di dalam mega atau di antara mega-mega dan permukaan tanah. Menyerang bagian-bagian udara yang telah berubah menjadi konduktip, mengubah elektron dan ion positif dari molecul udara saling menarik dirinya menjauhi yang lain dan mengalir ke arah yang berlawanan.

Keluaran listrik dimuntahkan dengan cepat dan menyeruak udara menmbulkan panas yang tinggi dan waktu membelah itu menyebabkan di udara ada gelombang suara yang besar dan terdengar sebagai guntur. Kalau kedengaran ada suara yang seakan-akan berjalan kearah menjauh atau mendekat itu adalah karena rambatan suara yang terjadi. Biar kedengaran sulit dan rumit seperti ini, tetapi kalau memang cara anda menerangkannya seperti itu, maka sang anak mungkin akan terheran-heran.

Itu kesempatan baik agar sang anak mau mengagumi alam dan dalam hidupnya nanti akan berpikir dua kali sebelum melakukan perusakan. Tetapi sang anak biasanya akan terdiam karena tau kapasitas otaknya belum bisa mengikuti.

Ingatlah kata-kata kita akan diingat oleh si anak sampai dia menjadi tua. Kalau anda atau saya tidak tau apa jawabannya terhadap pertanyaan anak kecil yang datang secara tiba-tiba, janganlah anda atau saya lalu berbohong dan membuat cerita yang tidak benar, atau mengatakan sesuatu seperti yang biasa kita dengar dalam dongeng. Misalnya: Wah itu ada Dewa Tanah yang sedang batuk, keluarlah lidah api yang bisa mencapai langit.

Sang anak yang tiga tahun umurnya itu, pada suatu saat akan bisa mengakses komputer dan melanglang ke dunia cyber serta mendapat jawaban-jawaban yang akurat dari misalnya mesin pencari yang namanya Google dan Ask Yahoo! serta Alta Vista atau lainnya. Dia membandingkan penemuannya sendiri dengan keterangan mengenai Dewa Tanah yang batuk, dia akan pasti terkejut dan kecewa, mengapa orang tuanya sendiri atau bahkan kakeknya, telah berbohong kepadanya. Bukankah lebih mudah kalau dia itu diberi keterangan yang tegas: bahwa anda atau saya itu tidak bisa menjawab saat itu, dan akan berusaha mencari jawabnya kemudian?

Menginjak dewasa anak-anak akan memasuki dunia lain yang biasanya para orang tua akan merasa belum mampu untuk mengikuti pola berpikir anak muda. Waktu anak-anak saya belajar di SMA, saya selalu ingat memberi duplikat anak kunci pintu masuk depan rumah tinggal kami.

Karena anak saya yang pertama hanya satu orang yang laki-laki, dan semua adiknya adalah perempuan, perbuatan saya itu kurang disetujui, pertama-tama justru oleh istri saya waktu saya berikan kuncinya. Saya bilang ada konsekuensinya, mari kita berlakukan jam batas dibolehkan datang paling lambat pada malam hari. Disepakati jam sepuluh malam. Saya memerlukan waktu istirahat karena pagi hari sekali saya sudah harus meninggalkan rumah ke tempat saya bekerja. Saya kurang suka untuk bangun pagi tetapi masih dalam keadaan mata mengantuk, hanya oleh karena menunggu anak gadis saya yang belum pulang jua sampai jam sekian. Saya berikan kepercayaan dan sekaligus permintaan kedisiplinan. Saya tau kemudian dari teman-teman saya, bahwa mereka banyak yang tidak sependirian dengan saya dalam hal begini, tetapi hal itu telah saya jalankan dan saya tidak menemui masalah besar karenanya.

Nah tiba masa mereka meningkat dewasa dan menjalani masa pacar-pacaran dan menuju ke pernikahan. Orangtua-orangtua jaman ayah saya dulu, sudah sering mengutip kata-kata mereka yang jauh lebih tua dari nenek dan buyut saya. Ada patokan yang amat perlu di ulang-ulang sepanjang masa. Kata-kata bobot, bebet, bibit atau apalah saya sendiri sudah lupa urutannya, dari pihak calon besan harus diperhatikan.

Dalam pengertian saya, ini semuanya tidak jelas, karena bobot bibit dan bebet itu sebenarnya cuma pekerjaan detektip yang menyelidiki kondisi Sang Calon Besan. Apakah mereka yang di sebelah sana itu orang baik-baik, atau ada yang mempunyai indikasi sakit jiwa, swastakah atau pegawai pemerintah, kaya atau miskin, ada cacat tubuhnya dan keturunan siapa dia dan sebagainya dan sebagainya.

Karena sebagian hidup saya berada di era orde baru yang lalu, maka saya siarkan pikiran saya kepada dan dengan semua pihak sini, seluruh keluarga sendiri, mula-mula berbisik, lama-lama dengan suara lantang. Isi pikiran saya itu tentang yang perlu dicari keterangannya adalah: apakah pihak calon besan itu anggota Partai Komunis Indonesia, atau tidak “bersih lingkungan”, apakah mempunyai keluarga yang tidak disukai oleh pemerintah orde baru dan apakah mereka itu tinggalnya tidak di propinsi Guang Zhou di seberang Hong Kong sana, apakah mengidap sakit sejenis HIV atau tidak?

Kalau-kalau jawabannya banyak iyanya, saya belum tentu akan menolak perbesanan, tetapi harus diberikan toleransi sampai batas mana, agar semua pihak bisa lancar melaksanakan maksudnya. Saya tidak akan keberatan mempunyai sepasang besan yang anggota maupun simpatisan PKI, asal saya tidak ikut dimusuhi oleh pemerintah karenanya. Urusan politik adalah urusan seseorang pribadi biarpun dia itu besan saya dan bahkan anak saya sekalipun. Demikianpun agamanya karena agama itu amat pribadi.

Dengan cara berpikir saya itu, maka saya bisa menghadapi banyak persoalan perbesanan dengan mengurangi rasa tegang yang tidak perlu. Bagaimana dengan adanya Panitia Perkawinan? Meskipun saya mempunyai rasa anti terhadap Panitia Perkawinan yang banyak mencantumkan jabatan dan nama-nama (apalagi lengkap dengan gelar tètèk bengèk menandai kebangsawanan dan kesarjanaan), saya tidak mencegahnya dengan terus terang, karena siapa tau di seberang sana ada “orang kuat”, semacam God Father, yang ditakuti dan disegani, yang tidak sepandangan dengan saya. Kasihan calon pengantinnya, bisa nanti terjadi ketegangan dan bisa bertengkar satu sama lain, karena membela kaumnya masing-masing.

Khusus untuk masalah pernikahan, yang saya selalu tekankan kepada semua orang adalah bagaimana kita menyikapi acara pokok: legalnya pernikahan atau akad nikah. Masih saya tambahkan bahwa Penghulu bukan yang Punya Gawé. Di dalam adat Jawa, yang mempunyai hajat mantu adalah pihak pengantin perempuan, jadi yang dibebani kewajiban menikahkan, membuat pesta dan membiayainya adalah pihak pengantin wanita. Penghulu juga hanya saya tempatkan di tempat semestinya, yakni hanya tukang catat administrasi kantor Agama.

Yang menikahkan anak perempuan saya, adalah saya sendiri atau wali sahnya, bukan Penghulu. Sekali lagi Penghulu hanya tukang catat administrasi, memimpin jalannya upacara, tetapi dia bukan ayah pengantin perempuan dan bukan pula yang mempunyai hajat mantu. Bagi saya pesta hanya soal kedua atau bahkan ketiga, karena yang nomor satu ialah pernikahannya sendiri.

Demi masalah inilah, yang pertama-tama saya urus, bahkan pada sebelum acara lamaran, saya pastikan bahwa semua surat-surat, Kartu Tanda Penduduk, Kartu keluarga, Surat Tanda Lahir dan semua surat yang dibutuhkan harus jelas dan beres. Termasuk Surat Numpang Ijin Menikah. Tetapi saya berbisik-bisik juga agar kedua calon mempelai kedua-duanya memeriksakan kesehatan secara menyeluruh kepada dokter-dokter dan laboratoriun, tidak kepada dukun-dukun apalagi peramal. Setelah bagian-bagian terakhir ini saya ketaui akan beres, saya tidak mau campur soal pesta, pemilihan gedung, caranya bagaimana dan pakaian serta catering yang bagaimana saya angkat tangan sebisa-bisanya, kecuali membayar semua biaya yang telah disetujui. Begitu saja. Beres.

Dengan demikian bagi diri saya beban telah menjadi minimum, dan biasanya kasihan istri saya yang tidak bisa selalu persis seperti saya. Yang seperti istri saya itu adalah sesuatu yang biasa di kalangan semua wanita. Yang memang lain itu, saya sadari, adalah saya sendiri.

Biar sajalah … biarpun saya hands off untuk pesta tetapi saya bisikkan yang saya paling tidak suka, yaitu: Barisan penyambut tamu yang berderet dan berseragam. Saya bilang saja feodal!! Banyak yang marah kepada saya karena saya bilang seperti itu. Pakaian orangtua-orangtua kedua mempelai harus bebas, tidak usah seragam. Boleh memakai pakaian daerah masing-masing, tidak apa-apa, saya juga tidak memaksa.

Dan yang seperti itu juga tidak terjadi. Tetapi saya berhasil juga memakai pakaian Suroboyoan, asal ayah saya, dan saya katakan saya tidak suka pakaian Jawa yang asal Solo atau Yogya, hanya karena saya bukan asal dari kedua tempat itu. Salah satu anak saya ada yang minta tidak mengundang teman-teman saya dan ibunya, hanya teman-teman kedua pengantin. Tidak mau dipakaikan pakaian pengantin, apalagi dihias-hias dan didudukkan dikursi khusus. Hiasannya dari bambu dan kawan-kawannya, berikut daun-daun, semua dari tanaman asli. Lagu yang boleh diputar hanya orkestra lagu klassik dari Compact Disk dengan suara volume tertentu saja. Kendaraan dari rumah ke Masjid: sebuah andong Yogya yang rebuilt dan dengan seekor kuda yang gagah.

Yang juga saya bisikkan bahwa