Kos di Singapura

Nia


Pertama datang di Singapura saya numpang di kos teman. Tadinya saya mau cari kos lain tapi ternyata teman saya ini dapat kerja di negara lain jadi saya bisa menempati kamarnya. Beruntung sekali saya bisa dapat kos tanpa harus bayar agen ^_^.

Pengalaman saya mencari kos tanpa agen benar-benar sulit. Iklan-iklan di koran dan di papan pengumuman pun kebanyakan iklan dari agen. Mungkin 1 dari 20 iklan sewa kamar yang langsung nego dengan pemiliknya. Saya memang menghindari agen karena kalau pakai agen saya mesti bayar setengah harga sewa sebulan untuk komisi agen. Misalnya harga sewa kamar $500, yang harus dibayarkan ke agen adalah $250. Saya yang datang di Singapura dengan modal mepet jelas tidak mampu bayar komisi sebesar itu apalagi bulan pertama mesti bayar deposit juga yang jumlahnya 1 kali harga sewa sebulan.

Waktu teman saya pindah ibu kos sedang berada di India jadi saya bayar uang deposit $500 dolar ke teman saya ini. Awal kos di sini saya senang sekali karena ibu kos tidak ada ^_^ tapi setelah ibu kos pulang aduuuhhh… hilang semua ketenangan berganti dengan teriakan dan omelan ibu kos di telfon. Entah sedang bicara dengan siapa. Hal ini terjadi hampir tiap malam dari jam 7 sampai jam 11 lebih.

Saya langsung sibuk cari kos baru. Tadinya saya bertekad mau dapat kos yang seburuk apapun saya mau yang penting pindah dari sini. Tapi susahnya cari kos memaksa saya harus bertahan di kos ini. Setelah beberapa bulan bekerja saya punya cukup uang untuk membayar agen. Saya lalu menelefon beberapa agen yang tahu kamar disewakan di sekitar tempat kerja saya. Rupanya cari kos pakai jasa agen juga tidak mudah. Sebagian besar menjawab kalau kamar yang dia iklankan sudah laku. Sebagian lain karena alasan RAS. Kalau kamar yang saya tanyakan masih tersedia, agen akan bertanya: “Are you Chinese?” atau “Are you Filipino?” Kalau tahu saya orang Indonesia, pertanyaan selanjutnya adalah: “Muslim?”

Selain status dan pekerjaan, agen harus menanyakan soal ras dan agama karena pemilik rumah sebagian besar lebih memilih menyewakan kamar pada orang dengan ras atau agama yang sama. Misalnya orang ras China lebih suka menerima penyewa yang China juga karena (diharapkan) bisa bahasa Mandarin jadi tidak repot berkomunikasi. Kalau ibu kos saya yang orang India malah mirip dengan orang Melayu, dia menghindari penyewa orang China karena takut kalau nanti masak babi di dapurnya.

Ada juga orang China seperti teman kerja saya yang tidak lancar berbahasa Inggris justru mencari penyewa yang lancar berbahasa Inggris biar anak-anaknya terbiasa bicara dalam bahasa Inggris di rumah. Saya pernah juga dicarikan oleh agen kos yang pemiliknya suka dengan orang Indonesia tapi ada kendala lain yaitu harus ditempati bulan depan. Ini yang saya heran dengan system per-kos-an di Singapura. Penyewa diharuskan bayar deposit artinya kalau mau pindah mesti kasih tahu pemilik 2 bulan sebelumnya. Misalnya bayar kos tgl 1 December untuk sewa bulan December jadi kalau pamit pindah ya bulan Januari tidak perlu bayar karena dibayar dengan uang deposit dan tgl 1 bulan Februari sudah harus pindah. Tapi kalau cari kos selalu saja harus segera ditempati bulan ini atau bulan depan. Lha kalau begini hilang dong deposit di kos lama.

***

“Sorry, can I talk to you?” tanya ibu kos.

Saya langsung menjawab: “Yes, sure Aunty.”

Saya perhatikan raut wajah ibu kos yang biasanya dingin kok kali ini agak lembut. Biasanya kalau begini ibu kos minta saya bayar kos lebih awal dari biasanya. Kali ini saya salah karena ternyata ibu kos mau kasih tahu kalau harga kos naik $100. Jadi mulai bulan January saya harus bayar $600 perbulan.

Tanpa pikir panjang saya langsung bilang kalau saya tidak mampu dan lebih baik pindah cari kos yang lebih murah. Ibu kos menjelaskan kalau dia mesti menaikan harga sewa karena tarif listrik, air dan gas semua naik. Ya, memang betul begitu. Tanpa melihat tagihan pun saya tahu karena teman-teman di kantor juga mengeluhkan hal yang sama. Selain tagihan yang terus naik harga properti di daerah kos saya juga makin tinggi karena dekat MRT (Mass Rapid Transportation) Station yang sudah jadi Intersection/ persimpangan 2 jalur jadi lebih mudah dan dekat kemana-mana. Selain itu Mall baru diatas MRT Station juga sudah buka dan ada pemasangan lift baru yang diperkirakan selesai bulan Februari tahun depan.

Sebenarnya harga sewa kamar $600 perbulan untuk Master Room dengan kamar mandi dalam termasuk murah. Tapi masalahnya bukan murah atau mahal. Masalahnya adalah saya mampu dan mau bayar atau tidak. Jangankan sekarang, 3 tahun yang lalu pun banyak yang mau bayar $600 untuk kamar yang saya tempati. Sayang sebenarnya kalau melepas kos saya ini tapi buat saya uang $100 bukan jumlah yang sedikit. Lebih baik saya kirimkan ke orang tua saya dari pada untuk ‘membeli’ kenyamanan.

Ibu kos bilang kalau dia tahu posisi saya sebagai tulang punggung keluarga tapi dia juga butuh tambahan untuk membayar tagihan-tagihan. Saya bilang ke ibu kos kalau saya sangat memahami kondisi keuangannya makanya saya lebih baik pindah jadi ibu kos bias mendapat penyewa baru yang pastinya mau bayar lebih mahal.

Selama bercakap-cakap dengan ibu kos sebenarnya pikiran saya kemana-mana. Saya membayangkan mesti cari kos dan angkut barang yang tidak sedikit. Membayangkan mesti menurunkan barang lewat tangga karena lift yang ada hanya berhenti di lantai 6 sedangkan kos saya di lantai 4. Membayangkan harus mengganti alamat tagihan handphone, internet, pajak dll.

Saya kira ibu kos mau bilang: “OK Nia… so December will be your last month here.” Ternyata saya salah besar. Benar-benar tidak saya duga ibu kos malah tanya: “How about increase $50?” Dia menjelaskan kalau uang bukan hal yang utama dan dia tahu saya anak baik dan tidak pernah buat masalah jadi kalau saya setuju bayar $550 dia iklas. Saya langsung setuju walaupun agak berat hati hehehe… tapi setidaknya saya bisa tenang untuk sementara. Sebenarnya saya ada keinginan untuk pindah kos sekitar bulan Maret setelah pembangunan lift selesai jadi lebih enak angkut barang. Tapi setelah tahu kalau di Mall baru dekat kos ada cinema-nya, keinginan untuk pindah langsung sirna hehehe…

Saya bersyukur masih diberi waktu lebih lama untuk berpikir apakah mau pindah tau tidak. Kalau di Jogja dulu saya sering sekali pindah kos. Tujuh kali pindah dalam waktu 4 tahun. Di Jogja banyak sekali papan “TERIMA KOS PUTRI” dan saya punya bala kurawa yang bias saya paksa membantu pindahan hehehe… tapi di sini semuanya lain. Semua harus saya lakukan sendiri. Saya juga harus berhati-hati jangan sampai tertipu agen atau pemilik yang sebenarnya bukan pemilik. Banyak lho orang yang menyewa 1 unit flat lalu menyewakan kamar-kamar yang tidak ditempati.

Kecocokan dengan pemilik kos juga hal yang susah didapat. Biasanya sih pemilik bersikap manis di awal tapi lama-lama mulai menerapkan aturan-aturan yang tidak masuk akal. Ada teman saya waktu pindahan melihat ada kasur tambahan di tempat tidurnya. Teman saya tidak bilang apa-apa ke pemilik kos. Tiap malam dia menurunkan kasur itu dan pagi-pagi ditaruh lagi di atas tempat tidurnya. Suatu ketika pemilik kos melihat kasur tambahan itu diturunkan lalu bilang ke teman saya: “I put the bed purposely so my new bed won’t get dirty.” Teman saya langsung ngamuk. Dia marah sekali karena merasa ditipu. Kalau waktu melihat kamarnya itu kasur sudah ada di situ dia tidak akan mau. Itu salah satu contoh hal sepele soal kasur saja dipermasalahkan.

Teman yang lain sial sekali dapat ibu kos yang super pelit. Kalau tagihan listrik naik dia akan minta anak kos bayar tambahan uang listrik. Selain itu ruang di lemari es pun dijatah pemakaiannya. Rak pertama untuk si A, kedua untuk si B dst. Lalu soal kebersihan dia seperti orang gila kebersihan. Ada anak kos diusir secara halus hanya karena lupa menutup shaft sampah jadi kecoak bisa masuk kedalam rumah.

Ada lagi teman saya yang kos di rumah pasangan muda orang India. Suami istri ini hobinya party di rumah sampai malam sekali. Tidak hanya itu, mereka dan teman-temannya kalau sudah mabuk lalu muntah di kamar mandi. Namanya orang mabuk mana ingat untuk membersihkan muntahan. Jadinya teman saya yang ketiban sial pagi-pagi mesti melihat pemandangan menjijikan seperti itu.

Saya juga kadang sebel juga sama ibu kos. Biasanya sih soal jemuran karena baju ibu kos kan kain sari yang panjang-panjang jadi mencuci sedikit saja jemuran pasti langsung penuh. Tapi kalau soal teriak-teriak sudah lumayan berkurang lagian telinga saya juga sudah terbiasa dengar teriakannya hehehe…

***

Begitulah pengalaman saya dengan dunia per-kos-an di Singapura ^_^ mungkin teman-teman Baltyra yang tinggal di Singapura bisa menambahkan atau membetulkan kalau ada yang salah ^_^

About Nia

Don’t judge the book by its cover benar-benar berlaku untuk Nia ini. Posturnya sama sekali tidak menggambarkan nyalinya. Blusukan sendirian ke seluruh dunia dilakoninya tanpa gentar. Mungkin hanya North Pole dan South Pole yang belum dirambahnya. Catatan perjalanannya memerkaya wawasan bahwa dunia ini benar-benar luas dan indah!

My Facebook Arsip Artikel

30 Comments to "Kos di Singapura"

  1. Sumi  3 December, 2017 at 15:29

    Apakah harga msh bs nego

  2. Sumi  30 November, 2017 at 21:14

    Opp yishun park to NAFA ditempuh brp lama?

  3. indri  19 November, 2017 at 19:55

    sis, kalau kosan untuk dua minggu ada ga di sana?

  4. nia  8 November, 2017 at 07:16

    Hi Leti,

    Carinya ntar aja bulan Mei-Juni 2018.

  5. Leti  7 November, 2017 at 20:50

    Halo nia
    Bisa bantu gak cari kos daerah nafa mulai kuliah agust 2018
    kira” harga kos berapa yah di sana
    Tolong email saya bisa cari di mana aja

  6. nia  12 August, 2017 at 07:41

    Halo Pak Hengkie, maaf balasnya lama.
    Good luck buat anaknya pak semoga sukses di Singapore.

    Bu Via, lowongan pekerjaan bisa dilihat di http://www.jobstreet.com dan http://www.jobsdb.com
    untuk aturan ketenagakerjaan bisa dilihat di http://www.mom.gov.sg
    kalo lulusan SMA setau saya tidak bisa kerja disini secara mandiri. perlu lewat agency. mungkin juga saya salah. maaf gak bisa bantu banyak

  7. Via  11 August, 2017 at 13:21

    Dear Nia,

    It’s so wonderful experience can go to abroad,
    Hadeuh, mbak Nia. Sata terobsesi pengen krja di sana, krn sy terkena phk, dg uag pesangan di bawah aturan pemerintah krn peryshaan pailit.
    Mbak tolong saran, apkh memungkin buat wy mdptkan pekkerjaan diu sana?
    Sedikit profile saya,sbb
    Umur: 41 th
    Meried
    Have one daughter (2years old)
    Pendidikan terakhir SMA
    Pengalaman kerja: admin penjualan, export dan lokal, collect payment,

    Klo memungkinkan, apa yg hrs sy persiapkan?

    Atas saran dan perhatiannya saya ucapkan erimakasih sebelumnya

  8. Hengkie  11 July, 2017 at 15:41

    Nia .anak sy adel rencana kuliah di sing..

  9. Hengkie  11 July, 2017 at 15:39

    Hebat…Nia..

  10. nia  6 January, 2017 at 15:12

    repost iklan dari temen saya. temen deket.

    Happy New Year to all!

    Buat temen-temen Indo-Sing yang nyari tempat tinggal baru sebagai New Year Resolution-nya, saya ada common room untuk disewa mulai February 2017

    [+] Lokasi : Opp. Yishun Park, 3 stops to MRT
    [+] Rental Fee: $700 monthly for 1 person, no agent fee.
    [+] One month deposit
    [+] No minimum period of staying
    [+] Fully furnished : Single trundle bed, big wardrobe, study table + chair, AC
    [+] Quiet location, 10 mins walk to hospital/Polyclinic, 2 mins walk to Hawker Centre (will be opened in Q1-2017), wet market, 24 hrs Fairprice, coffee shops, and Yishun Park is just accross the street with lots of Pokestops (eh masih jaman gak sih nangkep pokemon?).

    Facilities:
    [+] Internet (fibre broadband)
    [+] Water heater, Fridge, Washing Machine, etc.
    [+] Kitchen for light cooking.

    Your housemates:
    [+] Owner is Indonesian couple (no kids)
    [+] Adorable dogs. Please note that we prefer tenant who love dogs
    [+] Indonesian tenant (male)

    Please contact Andre – 8189 9491

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *