Angka Sepuluh

Bamby Cahyadi


AKU baru saja terbangun dari tidur di pagi yang dingin. Hawa sejuk merembes masuk melalui celah jendela kamar yang tak sepenuhnya tertutup. Di luar gerimis jatuh dari langit kelabu. Jam digital di rak buku menunjukkan pukul 07.11 WIB. Salat subuhku terlewat. Aku muslim, tapi tak begitu taat. Seperti biasa, apabila salat subuhku tertinggal, sepanjang hari aku tak salat. Itu prinsipku. Maafkan aku. Oh ya, untuk Tuhan.

Pagi ini usiaku genap 35 tahun. Aku masih lajang, bujangan. Tapi jangan kau kira aku tak pernah tidur dengan perempuan. Aku belum menikah bukan karena tak mau, apalagi tak mampu. Aku malas berkomitmen, itu saja. Seperti halnya meninggalkan salat, aku pun tak segan berbuat dosa-dosa untuk hal-hal lain. Namun, aku percaya ada surga dan neraka. Jadi, aku bukan tokoh jahat, aku hanya manusia biasa, bukan setan, juga bukan malaikat. Artinya aku bisa berbuat suatu kekhilafan, tapi aku pun bisa berbuat suatu kebajikan. Aku yakin, urusan besar kecil dosa dan pahala, hanya Tuhanlah yang boleh menakar, dan memberinya ganjaran. Kelak.

Sebenarnya aku tak suka terbangun dari tidur. Aku selalu berharap rohku tertahan di alam tidurku, di alam mimpiku yang selalu bisa kukenang setelah aku terbangun. Aku tahu, itulah kematian. Aku telah banyak menyaksikan kematian. Kematian orang-orang terdekatku: ayahku, kakek dan nenekku, sahabatku, pelacur langgananku, guru mengajiku, dan orang-orang terkenal di Tanah Air dan di seluruh belahan dunia. Tentu aku hanya menyaksikan dan mendengar kabar kematian itu. Paling tidak, tidur–menurut agama dan pendapat beberapa ahli dan ulama, adalah kematian kecil. Jadi kematian kecil ini yang kualami, berkali-kali dalam setiap tidurku.

Aku menciptakan tidur lelap dengan menelan obat tidur dosis tinggi, tentu dengan resep dokter. Sejak 10 tahun lalu aku menderita insomnia akut. Dua tahun terakhir obat tidur itu mampu membuat mimpiku semakin indah. Siklus tidur biologisku, kukira terganggu saat aku berusia 25 tahun, dan dua tahun lalu suatu penyakit hampir saja merenggut nyawaku. Penyakit akibat kurang tidur, maka sejak saat itu aku menemui dokter secara rutin untuk mendapatkan obat tidur yang ampuh dan tentu aman bagiku.

Perlu kau ingat, aku menemui dokter bukan karena aku takut nyawaku direnggut oleh kematian. Tapi aku masih gairah menikmati kematian-kematian kecil yang kualami saat aku tertidur pulas. Kini, aku tak perlu menunggu mengantuk untuk tidur, cukup menenggak dua butir obat tidur, maka tak berapa lama setelah itu, aku tertidur nyenyak dan masuk dalam dunia mimpiku.

Pukul 07.20 WIB. Aku masih termangu di pinggir tempat tidur, melihat dengan gamang sekeliling kamarku. Aku malas bangun, malas pula untuk melanjutkan tidur. Kukira, efek obat tidur itu sudah lenyap dari kelenjar melatoninku. Aku kembali mengedar pandangan ke seluruh penjuru kamar apartemen sederhana tipe studio yang kubeli dari royalti novelku yang laris manis seperti kacang goreng di pasar malam. Aku penulis paruh waktu. Pekerjaan utamaku…, tak perlu kuceritakan, agak rahasia sifatnya.

Kamar apartemenku berada di lantai 9, entah kenapa aku suka angka 9, ketimbang 1 atau 10. Apartemen ini berlantai 9, maka tentu saja aku berada di bagian tertinggi gedung apartemen ini. Aku teringat tentang angka 9 yang dianggap–mungkin juga dikeramatkan oleh Presiden SBY. Tanggal, bulan, dan tahun kelahiran Presiden SBY kemudian dijadikan nomor kotak pos dan SMS di Istana: 9949, yakni 9 September 1949. Aku suka hal-hal klenik, tapi aku tak begitu suka seorang presiden percaya akan hal-hal klenik. Menyedihkan! Tak perlu heran, apabila nomor kamar apartemenku pun bernomor 9. Ya, apabila perlu, cukup mencariku di lantai 9 kamar 9 di apartemen sederhana di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Hanya ada satu unit lift di apartemenku, dan sudah dipastikan tak beroperasi 24 jam. Lift beroperasi mulai jam 7 pagi, ketika orang-orang berebutan dan bergegas keluar untuk pergi bekerja atau melakukan aktivitas sangat penting, agak penting dan tak penting. Lift akan ditutup jam 10 malam, ketika sudah tak ada hal penting yang harus diurus oleh penghuni apartemen ini di luar sana. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Lift itu selalu dijaga oleh seorang pemuda bertampang lugu tapi selalu menyungging senyum yang tulus.

Nama pemuda penjaga lift itu, Markum. Aku cukup akrab dengan Markum, walaupun aku bukan penumpang lift yang setia. Sebagai penghargaan atas kesetiaan Markum menjaga lift, aku pernah membuat sebuah cerita pendek dengan tokoh Markum sang penjaga lift, cerpen itu lalu dimuat di sebuah koran nasional. Markum begitu girang ketika aku membacakan kisah dalam cerpen itu padanya, namun ia begitu tampak sedih dan binar di bola matanya meredup, ketika mengetahui bahwa ia hanyalah sesosok hantu lift dalam cerpen itu. Tapi mata Markum kembali berbinar, ketika kukatakan, honor cerpen itu untuknya. Ia merampas koran itu dari tanganku, lalu menciumnya berkali-kali.

Terus terang, aku lebih suka menapaki anak-anak tangga apartemen ketimbang berebut antre untuk turun dan naik menuju kamarku atau suatu tujuan tertentu. Delapan tahun tinggal di apartemen ini membuatku hafal betul lekuk-lekuk anak tangga yang kutelusuri setiap hari. Bahkan aku sangat akrab dengan suasana di setiap lantai apartemen ini, hingga aku menapaki anak tangga terakhir di pelataran lantai dasar, atau lorong lantai 9 ini.

Pukul 07,30 WIB, lampu kecil berwarna merah pada jam digital di rak buku berkedip-kedip diikuti suara bip-bip yang berbunyi agak pelan, sedikit keras dan akhirnya memekakkan telinga. Rencananya, aku akan bangun jam setengah delapan pagi ini. Tapi nyatanya aku terbangun pukul 07.11 WIB. Ya, sudah.

Dengan langkah malas aku menuju kamar mandi, mengambil handuk yang tersangkut di atas komputer dan meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Kulihat layar ponsel, ada 23 pesan yang belum kubaca dan beberapa panggilan yang tak kujawab. Pasti ucapan selamat ulang tahun dari beberapa perempuan dan teman-teman akrab, juga dari rekan penulis dan sanak saudara. Aku letakkan kembali ponselku di atas meja dan buru-buru ke kamar mandi. Aku ingin buang hajat dan sekaligus mandi.

Aku suka berlama-lama di kamar mandi. Duduk di kloset sambil membuang hajat besar dan merokok. Menghabiskan dua-tiga batang rokok sambil melamun. Sebungkus rokok kretek selalu tersedia di kotak toiletris. Setelah itu aku bercukur, mengerok bulu-bulu kasar di sekeliling mulut dan daguku dengan pisau cukur modern sambil memandang wajahku di cermin kecil yang tertempel di kotak toiletris itu.

Ya, ya, wajahku tampan. Alis mataku tebal, hidungku mancung, tatapan mataku tajam, gigi-gigiku rapih walaupun sedikit kuning akibat nikotin. Banyak perempuan yang telah kulumat mulutnya dengan mulutku. Bahkan, banyak puting payudara yang telah kujilati dan kukulum dengan lidah dan bibirku. Sudahlah, aku tak mau membayangkan adegan percintaanku dengan Gladis, perempuan yang kemarin malam mendesis-desis dan mengerang-ngerang karena orgasme berkali-kali. Cukup luka bekas gigitan Gladis yang kukenang di bagian tengkukku.

Selesai bercukur, gosok gigi. Memandang nanar ke cermin yang memantulkan wajahku. Oh, apa rasanya berada di balik cermin sana. Apakah rasanya sama dengan di sini? Mungkin sama, mungkin juga tidak.

Mandi. Ah, air berasa dingin sekali mengguyur sekujur tubuhku. Sabun cair berbusa-busa kugosok-gosok pada setiap lekuk tubuhku. Bersyukur, tanpa fitnes tubuhku tumbuh atletis. Pantaslah Tante Mona, begitu keranjingan menyuruh aku telanjang. Alasannya untuk sebuah momen seni fotografi berkualitas. Tentu kau tahu apa yang kulakukan selesai sesi pemotretan. Sudah lupakan dulu penggalan kisahku dengan Tante Mona, aku masih mandi. Rambutku sedang kukeramas dengan sampo antiketombe. Saat-saat mandi hal-hal liar dan menggairahkan sering terlintas dalam benakku. Aku sangat imajinatif, membayangkan Gladis dan Tante Mona, kelaminku meremang. Aku sudah malas bermasturbasi. Itu kegiatan seks anak baru gede. Ah, sudahlah. Aku bergegas menyelesaikan ritual mandi, membilas rambut dan tubuhku dengan air dingin, berhanduk, dan membebatkan handuk pada bagian perut. Handuk menutupi pusarku hingga lutut.

Keluar dari kamar mandi, jam digital di atas rak buku menunjukkan pukul 08.52 WIB. Ya, begitulah. Aku bisa menghabiskan waktuku di kamar mandi satu sampai dua jam, lama bukan?

Aku menoleh ke arah jendela. Langit Jakarta masih abu-abu, pagi benar-benar jatuh di peraduan awan kelabu yang menutupi cahaya matahari. Gerimis sudah berhenti.

Pukul 09:00 WIB. Aku telah rapih. Mengenakan polo T-shirt warna hitam, celana jins warna biru dan menyiapkan tas selempang warna hitam berisi laptop. Aku menutup lemari pakaianku yang masih terbuka, sekilas kulihat tumpukkan beha dan celana dalam perempuan warna-warni dengan bentuk-bentuk yang seksi. Maaf, itu bukan punyaku. Beha dan celana dalam perempuan itu milik Gladis, Tante Mona, Tiwi, Effi, Nikky dan Mbak Putri. Nama yang kusebut terakhir adalah tukang cuci di apartemen ini. Bagaimana perangkat pakaian dalam perempuan itu berada di lemariku? Tak akan pernah kuceritakan.

Perutku terasa melilit ketika jam digital menunjukkan pukul 09:10 WIB. Apakah ada makanan tersisa di kulkas berukuran mini yang teronggok di pojok dekat pintu kamar mandi itu? Pikirku. Rasa lapar menyergapku. Aku membuka kulkas, mengeluarkan sebungkus kecil kopi instan dan menyeduhnya dengan air panas dari dispenser air dalam kemasan galon. Aku menyeruput kopi itu, rasanya cukup menghangatkan. Lalu, kuambil beberapa iris roti tawar dan mengolesnya dengan selai rasa cokelat kacang. Memakan dua tangkup roti berselai cokelat kacang dengan lahap sekaligus.

Seseorang mengetuk pintu kamar apartemenku. Pasti tukang koran. Aku terus menyeruput kopi dan melahap potongan roti terakhir dalam kunyahan. Tukang koran menyelinapkan koran pagi di bawah celah daun pintu. Aku melangkahkan kakiku menuju daun pintu. Membungkuk mengambil Koran Tempo yang tergeletak di lantai, membuka pintu sejenak, barangkali saja tukang koran itu masih berada di lorong apartemen ini. Menjulurkan kepala, menoleh ke kiri, ke kanan. Tak ada siapa-siapa di lorong itu. Cepat sekali tukang koran itu berlalu, padahal aku bermaksud membayar koran-koran beberapa hari yang lalu yang belum sempat kubayarkan padanya.

Sebuah koran edisi hari Minggu 10 Oktober 2010 segera kubaca. Kasus Bibit-Chandra menjadi headline news. Masalah Deponeering Berisiko Politik, kata koran ini. Halaman berikutnya, KPK Akui Sulit Mengejar Anggoro Widjojo. Sebenarnya tak sulit-sulit amat kok, batinku. Berita banjir di Wasior, Papua. 30 truk tangki NATO dihancurkan di Afghanistan. Kubuka halaman berikutnya, membaca sekilas rubrik Topik. Lembar berikutnya. Aih, resensi buku: Ada Klenik dalam Politik SBY.

Apakah kebetulan yang tak disengaja tentang angka 9 yang kubahas tadi? Entahlah. Halaman berikutnya, wawancara dengan Panglima TNI yang baru, Laksamana TNI Agus Suhartono. Lembar berita olahraga kubaca, lagi-lagi cukup sekilas. Tiba pada lembar yang kusuka pada koran ini: Sastra, cerpen Sungging Raga yang imajinatif. Puisi Esha Tegar Putra yang ekspresif. Halaman-halaman iklan otomotif, berita-berita kecil yang tak penting. Artikel tentang kesehatan, Tak Cuti, Cepat Mati. Ah, apa iya? Tanyaku bergumam. Halaman kuliner kulalui. Membaca Pada Mulanya Kata, ”Sementara aku tahu diri sebagai ciptaan Tuhan, aku juga berkewajiban menyadari serta mengingat bahwa setiap orang lain dan segala sesuatu yang lain juga ciptaan Allah,” begitu kata Maya Angelou, seorang penyair asal Amerika.

Oh! Cukup tersindir aku dan kau dengan pernyataan Maya Angelou yang baru kukenal itu. Saat membaca halaman terakhir koran terbaca judul provokatif, Tutup Mulut Politikus. Pintu apartemenku kembali diketuk oleh seseorang dari luar. Jam digital yang terletak di rak buku tepat pada angka 10:00.

Aku lipat koran yang selesai kubaca dan melemparkannya di atas tempat tidur begitu saja. Lantas berjalan pelan menuju pintu dan membuka daun pintu. Seseorang berdiri gelisah di depanku, raut wajahnya menyiratkan ketegangan yang amat sangat. Aku tahu siapa lelaki separuh baya itu. Aku kenal ia. Aku sangat kenal. Pak Sam, tersangka korupsi sebuah bank besar di Jakarta. Kasusnya sedang kutangani. Istri lelaki itu bernama Mona dan anak gadis semata wayangnya bernama Gladis.

Dengan cemas ia menyeruak masuk ke dalam kamar apartemenku, tanpa permisi. Apalagi basa-basi.

“Maaf Pak Sam, bukan di sini tempat Bapak menemui saya,” tegurku.

“Hentikan kasus saya!” katanya memohon. Aku menggeleng.

“Kita bertemu di Kuningan saja, besok,” jawabku pendek.

“Tidak bisa! Hentikan kasus korupsi saya, atau kubunuh kau!” Pak Sam mencabut pistol yang ia simpan di saku celananya.

Aku kembali menggeleng dan mengangkat kedua tanganku. Saat itulah aku mendengar suara letusan pistol. Dada kiriku terasa panas, seketika aku terjerembab di atas karpet warna merah yang membalut lantai kamar apartemenku, tak bisa kubedakan lagi mana warna merah karpet, mana warna merah darahku. Samar-samar kulihat jam digital menunjukkan pukul 10:10 WIB, lantas jam itu berhenti berkedip. Mati.

Aku terbangun pada pukul 10:10 waktu Indonesia entah bagian mana, di suatu tempat yang tak asing bagiku. Di sinilah hidup baruku bermula bersamamu. Kukira aku mulai suka angka 10.

Jakarta, 10 Oktober 2010

——–

Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Menulis cerpen di koran nasional dan lokal. Kumpulan cerpennya, Tangan untuk Utik (Koekoesan, 2009).

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

43 Comments to "Angka Sepuluh"

  1. ch anam  1 April, 2012 at 21:02

    @lhamdulillah, sepuluh menit bersama tulisan Anda, saya terlena….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *