Musim Dingin dan Embel-embelnya

Nunuk Pulandari


Teman-teman di Baltyra,  kali ini saya tidak akan menulis tentang betapa menakjubkan dan indahnya  suasana di musim gugur dan di musim salju. Dalam tulisan ini saya hanya akan menuliskan sedikit tentang betapa beratnya beban yang harus dipikul oleh badan kita selama musim gugur dan musim salju.

Memasuki musim gugur  tidak hanya warna-warna dedaunan yang berubah tetapi  kebiasaan dan kehidupan kami-kami yang tinggal di daerah itu juga berubah.  Sebelumnya, please jangan berkomentar dengan: ”eigenschuld dikke bult” . Salah sendiri mau tinggal di Belanda. Soalnya kalau sudah bekomentar demikian hidup ini tidak akan nyaman lagi. Hobby nulis dan bercerita jadi mubaziiiirrrr…Ha, ha, haaaa…

Salah satu yang paling menyolok dari perubahan yang terjadi  di musim dingin misalnya tentang cara berpakaian kita.  Terjadi perubahan karena harus memakai pakaian yang berlapis-lapis. Di musim dingin seperti saat ini, yang sudah termasuk cukup dingin, paling tidak kalau hanya untuk di dalam rumah saja, kita perlu memakai pakaian dalam “hemd”,  sebuah “trui” , semacam  pullover tanpa kraag yang dipakai di luar “overhemd” kemeja kita. Terus pakai panty dan kaos kaki serta sepatu rumah.

Juga kaos kaki.  Nahhh  untuk  pakaian dingin di luar rumah, kita memang harus pilah-pilih. Paling tidak untuk saya. Jelas untuk di luar rumah kita perlu pakaian yang lebih hangat lagi. Mengenakan “jas” , mantel yang tidak tipis lagi dengan sebuah sjaal dan sepatu boot serta sarung tangan tebal  juga harus menyertai kita. Kadang sebuah “muts” , itu lhoo topi seperti yang dipakai bayi, atau topi cantik (kepala saya tidak cocok untuk pakai “muts”) memang diperlukan.  Banyak di antara kita yang juga memakai penutup telinga, terutama kalau kita harus bersepeda.

Berat badan saya yang biasanya hanya mencapai angka 53 / 54 kg, karena pakaian musim gugur yang saya  berubah menjadi plus minus 60 -62kg . Atau bahkan bisa lebih. Hal ini sangat bergantung pada berat  jas dan “trui” yang dikenakan.

Jadi bisa dibayangkan betapa beratnya semua atribut yang harus dipikul setiap harinya, hanya untuk memberikan rasa nyaman pada badan kita.  Dan sore hari , ketika jas dan sepatu boot sudah ditanggalkan, akan terasa sekali hilangnya beban yang harus dipikul oleh kedua bahu dan kaki di sepanjang hari ….. Rasanya bahu menjadi enteng sekali dan kaki tidak lagi terasa pegal  dibelit sepatu laars yang tinggi….

Banyak dari jas-jas musim dingin yang saya miliki rata-rata mempunyai ukuran ¾ panjang badan. Untuk memakai yang ukuran 4/4 panjang badan, saya hindari karena bisa-bisa badan saya hilang ditelan sang jas musim dingin. Kata jeng Lani, jangan-jangan nanti jadi buntelan yang tinggal digelindingkan saja…Maaak suuuuuuuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrr

Menentukan dan mencari warna jas yang sesuai dengan keinginan kita , ternyata juga sukar.  Sampai saat ini, misalnya anak saya Lei ingin sekali membeli jas warna kuning (yang cantik), belum pernah bisa menemukannya. Mango (toko pakaian) pernah untuk sesaat menawarkan warna kuning, hanya kuningnya bukan kuning kunyit, tetapi kuning ngejreng….. Terpaksa anak saya mengundurkan diri…

Teman-teman, dalam rak jas saya juga ada jas-jas pendek dari kulit. Biasanya jas-jas ini saya pakai kalau musim gugur. Jas ini lebih berfungsi untuk menahan hembusan angin dari pada menahan dinginnya udara yang ada.

Dalam musim salju yang berlama-lama seperti saat ini (mulainya lebih dini) sering badan menjadi pegal. Terutama di bagian bahu dan punggung. Rupanya beban mereka terlalu berat. Untuk mengatasinya biasanya setiap Sabtu pagi saya pergi berenang. 40 kali, plus minus 1km.  Lumayan karena di musim salju seperti saat ini saya tidak berani bersepeda. Terlalu licin. Karena rasa pegal ini saya menjadi lebih bersemangat untuk mengundang  teman saya yang bisa mengurut dengan ueeenak…. Diurut plus minus dua jam …. Aduuuuh, badan terasa jadi  lebih segar dan bugar kembali. … Yang menjadi beraaat kalau terlalu sering diurut ya dompetnya….ha, ha, haaa. Tapi itu cerita lain lagi.

*Di luar dingiiiii dan  luuuuiciiin sekali. Orang Belanda menyebutnya “spiegelglad” licin bagaikan kaca. Banyak terjadi tabrakan beruntun dan orang-orang yang terpeleset. Entah itu terpeleset karena sepedanya menginjak butiran es di jalanan atau terpeleset ketika sedang berjalan di trotoir. Memang ada petugas yang menebarkan garam-garam.

Tetapi di daerah perumahan biasanya hal ini dilakukan atas inisiatif para penghuninya sendiri. Jadi setiap kali mau keluar rumah yang namanya mulut ini kumat-kamit minta perlindunganNya dan berdoa semoga  dijauhkanNya.  Tapi kebetulan untuk beberapa hari ini saya harus mengurung diri di rumah  lha wong tumitnya baru “gelepeld” (disendokin) ditangani sama dokter bedah.  It is OK. Mudah-mudahan hobby nulis dalam beberapa hari mendatang bisa tersalurkan…. Betuuuul khan dimas Suhu…Ha, ha, ha*

Werkt ze, selamat berkarya. Nu2k

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.