Sahabatku, Agustinus dan Selimut Debu

Nuchan


Kami memang kumpulan orang-orang yang “kurang beradab”

Kalau aku dan semua sahabat-sahabatku yang biasa gokil dan kacau sedang berkumpul dalam sebuah acara pesta, maka bisa dipastikan pesta itu akan riuh dengan derai tawa kami  bahkan bisa  huru-hara kayak orang sedang berantem. Padahal memang kalau kita sedang ngobrol itu seringkali kita berbicara melebihi batas ambang dengar kategori normal untuk manusia yaitu pada intensitas 0-25dB (decibel).

Aku sendiri tak pernah bener-bener mengukur berapa dB sich kalau kita lagi ngobrol ramai-ramai begitu. Tapi kalau dengar riuhnya teriakan mereka sedang berbicara bisa jadi antara 26-30dB hahaha. . Kayak manusia yang pada rusak pendengarannya hahaha. Edan banget.

Betapa menyedihkan sahabat-sahabatku ini yang sudah susah-susah dididik dan dibiayai oleh perusahaan mereka masing-masing untuk mengikuti “Effective Communication and Interpersonal Skills Training Courses and Seminars” di Dale Carnegie Training. Tapi hasilnya ya begini, tak jelas. Hahaha. Kalau mereka baca tulisanku ini, alamat aku akan dilempari telur busuk sama mereka karena menghancurkan reputasi mereka semua hahaha.

Memang betul, ketika sedang bisnis mereka terlihat sangat anggun dan persuasif sekali. Tak terlihat tanda-tanda kalau mereka semua perempuan-perempuan aneh dan cenderung kacau hahaha. Begitu rapi dan cantiknya gaya mereka saat menjalankan bisnis. Nyaris sempurna. Terlihat sangat terdidik, elegan dan bermartabat hahaha. Tak bisa dibayangkan betapa kacaunya mereka saat melepaskan identitas mereka dalam dunia bisnis hahaha. Bener-bener liar dan tak terkendali hahaha. Ancur minah!

Satu kali dalam sebuah acara ulang tahun salah satu sahabatku, kami diundang untuk menghadiri pesta ulang tahunnya tapi di rumah saja katanya. Biar irit. Selain itu sahabatku sudah berpikir kalau kami adakan di restoran kasihan pengunjung yang lainnya pasti akan terganggu. Ditambah lagi kami punya kebiasaan kumpul berlama-lama sampai berjam-jam ngobrol ngalor-ngidul nga karuan. Jadi mungkin lebih baik dirayakan di rumah sajalah.

Ketika aku memasuki rumah sahabatku, suara riuh derai tawa sudah terdengar dari depan pintu rumahnya.   Pasti suasana di dalam rumah itu sudah tak terkendali. Aku kebetulan datang telat 30 menit dari waktu yang sudah disepakati. Aku sudah membayangkan serangan mereka yang bertubi-tubi menyerangku. Aku sudah pasrah kalau mereka memaki-maki dan menjahili aku.

Biasa kalau ada yang telat pasti jadi sasaran empuk buat mereka. Jadi bulan-bulanan dan dijadikan bahan guyonan. Bagi orang luar yang tak biasa bergabung dengan kami akan tersontak kaget dan cenderung stress dengan bahasa yang mereka gunakan menyerang siapapun yang dijadikan guyonan atau bahan bulan-bulanan. Tapi bagi aku dan sahabat-sahabatku itu merupakan guyonan segar yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal sampai jumpalitan.

Justru guyonan gokil dan kacau itu yang membuat kami semakin akrab dan lengket kayak lepat dan daun pisang. Mereka tak segan-segan memanggil aku “Nyet” alias monyet atau “bodat” alias monyet juga sich tapi dalam bahasa Batak. Segala kata yang haram dan tak lazim di telinga orang normal sering kali kami gunakan dalam percakapan informal ini. Tapi kami sudah TST alias tahu sama tahu. Bahkan ditelingaku dan sahabat-sahabatku,   itu sudah seperti ungkapan bahasa unik yang mengikat tali  persahabatan di antara kami tapi untuk orang luar mungkin saja itu sangat kasar dan terdengar “kurang beradab“. Dan kami memang kumpulan orang-orang yang “kurang beradab” hahaha.

***

Menjadi bulan-bulanan

Seperti yang sudah kuduga, begitu memasuki ruangan aku segera disambut dengan berbagai makian. Aku cuma senyum-senyum simpul melihat kesadisan mereka. Untuk melerai sahabat-sahabatku yang sudah makin ganas menebar makian, sahabatku yang berulang tahun langsung menyeret aku ke meja makan dan mempersilakan aku untuk mengambil makanan yang aku suka.

Gila menu yang tersedia lumayan komplit. Ada beberapa masakan Medan seperti sayur tauco Medan, ikan teri balado dan rendang daging sapi. Ada juga masakan Sunda yang lezat-lezat. Hmm cukup menerbitkan selera makan. Sambil makan, aku bergabung kembali dengan semua sahabat-sahabatku. Kali ini karena aku sedang makan, mereka jauh lebih jinak dan membiarkan aku menikmati santapan siang yang lezat ini. Aku sengaja makan lama-lama agar mereka lupa untuk menyerang balik diriku. Ternyata strategi itu berhasil. Mereka sudah menghentikan serangannya. Aku merasa lega.

Tak lebih 5 menit, aku bernafas lega, tiba-tiba Riri sahabatku bertanya begini :

“ Nuchan, udah baca kisah si Agustinus Wibowo belum?”

Aku yang belum berkumpul nyawanya, tiba-tiba bertanya bingung:

“Siapa itu Agustinus Wibowo?”

Kali ini bukannya mendapat jawaban yang sesungguhnya, justru serempak sahabat-sahabatku tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaanku. Aku segera mengerutkan keningku lebih bingung lagi. Lalu meneruskan dengan mencoba menebak-nebak siapakah gerangan Agustinus Wibowo ini. Aku lalu menebak begini : Koruptor kali? Atau pemenang hadiah Nobel Perdamaian kali?  Emang kenapa?

Kali ini sahabat-sahabatku sudah tak bisa mengendalikan rasa gemes dan geli mereka di hadapanku. Sambil ngrundel tak karuan  sahabatku Tina ngomong gini: “Gila, kemana aja lho, Nyet? Kayaknya lho doang dech yang nga tahu siapa Agustinus Wibowo. Emang nga baca koran apa?”

Lalu dengan polos aku jawab : “Nga. Nga baca koran. ” Kenapa juga aku mesti baca koran. Kepalaku sudah sumpek dengan berbagai informasi. Jadi nga perlu amat aku harus menjejali kepalaku dengan berita-berita di koran”.

Tambah jengkel sahabatku Tina bilang gini lagi : “Yah, emang di kantor nga baca berita di Kompas Online tidak?” Aku jawab : “Tidak”. Dengan sedikit belagu dan sok sibuk aku jawab gini : “Gila, kerjaan gue aja sudah sejibun, gimana mau baca Kompas Online”.

Kali ini tak puas dengan jawabanku serempak mereka koor bilang gini : “Nuchan, Nuchan, sadar nak! Sadar! Kamu lagi mati suri yah? Sampai nga tahu berita yang super heboh?”

Sekarang gantian aku balas nyeletuk dengan sengit begini : “Taelah, repot amat sich lho pade-pade menyerang gue. Mendingan lho kasih tahu deh siapa itu Agustinus Wibowo. Capek khan, lho maki-maki gue juga, secara gue nga kenal siapa tuch Agustinus Wibowo. Lagian penting amat apa, gue mesti kenal si Agustinus? Emang kalau gue kenal dia, apa juga untungnya? Reseh banget sich”. Sekarang mereka tertawa terbahak-bahak melihat aku merepet panjang lebar. Memang itu yang mereka tunggu. Gaya khas aku kalau merepet panjang lebar tanpa titik koma. Alamak!!!

Riri lalu menjelaskan kalau Agustinus Wibowo itu seorang backpacker yang sudah menembus Afghanistan dan  melanglang buana ke negara-negara yang berakhiran “stan” jelasnya. Lalu Riri bilang lagi, kalau pengen tahu buka aja Kompas Online, di bagian travel, cari Sang Petualang Agustinus Wibowo. Ceritanya bersambung, dan tayang dari Senin-Jumat katanya. Kayaknya semua orang Indonesia yang ada di jagat raya ini dan yang baca Kompas Online pasti sudah pada tahu deh siapa itu Agustinus Wibowo. Kamu aja yang aneh nga tahu siapa Agustinus Wibowo ( dalam hati aku ngrundel, apa pentingnya gue tahu si Agustinus Wibowo. Saudara bukan. Pacar bukan. Kenapa pulak gue mesti tahu. Dasar aneh! )

Walaupun Riri sudah menjelaskan dengan berapi-api tapi jauh di lubuk hatiku, aku sama sekali nga mudheng dengan celotehannya tentang Agustinus Wibowo ini. Demi azas sopan santun, aku berpura-pura serius mendengarkan kotbahnya tentang Agustinus Wibowo. Lagian aku takut kalau diserang lagi sama sahabat-sahabatku. Jadi aku sok-sok serius mendengarkan penjelasan mereka.

Dan di akhir kotbahnya Riri bilang gini : Jangan lupa baca Kompas Online. Jangan bikin malu kami tahu. Masak punya sahabat kuper kayak elho. Lagian elho doang yang  nga tahu si Agustinus Wibowo. Setelah puas berkotbah tentang Agustinus Wibowo, mereka baru melanjutkan dengan topik lainnya. Syukurlah aku terselamatkan. Bosan aku mendengar kotbahnya tentang Agustinus Wibowo itu. Dalam hati aku masih terus ngerundel. Edan banget. Apa hebatnya Agustinus Wibowo ini? Sampai-sampai aku harus panas telinganya mendengar cerita tentang dia.


Berkenalan dengan serial Sang Petualang Agustinus Wibowo

Setelah selesai acara kumpul-kumpul ini, aku sudah lupa total itu tentang kisah si Agustinus Wibowo. Malah tak terpikir sama sekali untuk mencari tahu beritanya. Aku kembali sibuk dan tenggelam dengan kesibukan rutin di kantorku. Sampai suatu hari, aku mendapat email dari sahabatku yang bertanya begini :

Riri : “Udah baca belon?”

Nuchan : “Baca apaan?”

Riri : “Agustinus Wibowo, Nyet. Taelah, Nuchan. Ngapain aja sich lho?”

Nuchan : “Maaf. Belon baca. Maaf ya Ri. ”

Aku sebenarnya kesal banget dengan pertanyaannya yang bertubi-tubi itu tapi berhubung sahabat sendiri jadi aku tak punya nyali untuk marah. Meskipun jengkel tetap dijawab dengan senyum.

Sambil merepet Riri bilang gini via email : “Halah, kau ini memang perempuan malas! Sekarang cek ya di Inbox kamu ada  forward email dari aku, kata Riri. Itu artikel terbaru si Agustinus Wibowo. Jangan lupa baca sekarang. Jangan pakai alasan sibuk atau lupa atau apalah katanya merepet panjang lebar. Lalu dengan senyum lagi, aku jawab : “ Beres boss. ”

Ini artikel yang dikirimkan sahabatku Riri ke Inbox aku tertanggal 07 Nov 2008 http://travel. kompas. com/read/2008/11/07/0759172/Titik. Nol. . 70. :. Perjuangan. Demi. Visa. Pakistan

Aku buru-buru baca artikel ini karena tak mau diomelin lagi sama sahabatku Riri. Walaupun sedikit jengkel. Begitu mulai membaca kalimat demi kalimat, aku sudah langsung terbuai dengan untaian kalimat yang ditorehkan oleh Agustinus. Setelah selesai baca artikel ini, aku malah tergoda membaca artikel-artikel Agustinus di hari-hari sebelumnya. Kali ini aku bener-bener terkesima dan melongo, tak menduga bahwa kisah-kisah yang diuraikan oleh Agustinus ini bener-bener bisa membuat aku tersihir dan tak bisa berhenti untuk membaca dan membaca terus seluruh serial Sang  Petualang itu sampai tuntas ke Titik Nol  (1).

Bisa dibayangkan hari itu aku harus menuntaskan seluruh artikel ini sebanyak 70 artikel yang sudah tayang. Capek deh! Tak berhenti sampai di situ saja, aku pun ketagihan mencari seluruh berita yang terkait dengan Agustinus Wibowo via Mang Google.

Hari-hari berikutnya menjadi rutin diisi dengan pencarian berita-berita terbaru tentang Agustinus Wibowo. Tiada hari tanpa berita Agustinus. Entah sudah berapa banyak artikel Agustinus ini terkumpul di satu folder di laptop aku. Mungkin saat itu aku lebih hapal kalimat-kalimat di artikel Agustinus dibandingkan dengan ayat-ayat suci. Betapa murtad dan gilanya aku saat itu. Dasar perempuan aneh!

( Satu hal yang disesalkan ayahku adalah aku lebih sering baca literatur buku-buku, yang notabene tak penting dan tak cukup berharga untuk membangun kualitas hidupku dibandingkan dengan membaca kitab suci. Betapa kasihan ayahku, menghabiskan dana besar untuk mengantarkan aku menjadi perempuan terdidik, dengan harapan aku menjadi perempuan mandiri dan berguna bagi masyarakat disekitarnya. Tapi apa yang terjadi, aku hanya terdidik secara akademis, tapi nilai-nilai agama dan moralnya  merosot tajam dan cenderung terjun bebas. Dibutakan oleh ilmu2 duniawi yang menyesatkan kata ayahku.  Sungguh menyedihkan!)


Selimut Debu

Setelah kisah Sang Petualang dengan judul Titik Nol di Kompas Online berakhir, maka tak lama berselang, berakhir pulak kebiasaan aku mencari berita tentang Agustinus Wibowo. Sampai kemudian aku dikejutkan kembali dengan berita peluncuran buku perdana Agustinus Wibowo dengan judul  “Selimut Debu” di bulan Januari 2010.

Alamak sudah tak sabar pengen langsung beli, tapi saat itu aku sedang tidak di Jakarta. Ada di negeri antah berantah. Maka harus sabar. Bulan Juni 2010 aku baru bisa beli buku Selimut Debu ini di Gramedia Plaza Semanggi Jakarta.   Sempat jengkel juga cari buku ini. Begitu sampai Gramedia, aku langsung tanya ke penjaga tokonya, mau beli buku Selimut Debu, penulis Agustinus Wibowo, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.

Penjaga toko hanya bilang begini : “Mbak, cari saja di deretan novel-novel yang ada di sana ya”. Sambil bergegas menuju rak yang ditunjuk dan mengamati satu per satu novel yang dipajang di situ tapi tak ketemu. Cari ulang lagi dengan teliti tapi tetap tidak ketemu. Mulai jengkel. Gila masak buku bagus begitu, bisa nga ketemu sih. Balik lagi ke penjaga toko yang sedang duduk mantengin kompi.

Dengan nada sedikit jengkel bertanya ulang ke penjaga toko. Mbak, stok buku Selimut Debu itu beneran masih ada khan? Tanpa bicara dia balik lagi mengecek di layar kompinya, dan terlihat di sana stoknya masih ada sisa 10 buah. Dia jawab : masih ada kog 10 buah lagi. Halah, kog tadi di cari tak ketemu ya. Balik lagi ke rak semula, kali ini aku berjongkok sambil meneliti ulang setiap novel yang ada di situ. Setelah jengkel beneran, baru deh ketemu itu buku Selimut Debu.

Sampul bukunya berwarna suram, bergambar Buzkashi yaitu olah raga berkuda yang sangat popular di Afghanistan. Pantesan susah dicari, wong warna sampulnya saja kurang eye-catching. Mungkin si Agustinus ini tak niat jual bukunya kali yah hahaha. . Habis aku udah keburu jengkel hahaha. Tapi anehnya setiap kali berurusan dengan Agustinus ini selalu dimulai dengan rasa jengkel dan marah. Walaupun nantinya jadi tergila-gila atau gila beneran sih membaca bukunya hahaha. Aneh!

Sampai di rumah, masuk kamar, nyalakan lampu baca, langsung tenggelam dalam bacaan Selimut Debu. Kali ini aku sudah lupa dengan kejengkelanku tadi mencari buku ini. Lembar demi lembar dibaca dengan seksama. Kadang-kadang aku baca sampai 2X lembar yang sama. Seolah-olah aku takut kurang paham dengan isi atau makna tulisannya. Hampir setiap lembar aku menemukan kata-kata yang unik dan kalimat-kalimat yang menggugah hati dan pikiranku. Takut lupa dengan butir-butir penting dari isi buku ini, maka setiap ketemu ada kalimat yang bagus, maka  aku segera memberi label Post-It warna-warni. Alamak repotnya baca buku Selimut Debu ini, setiap 2 lembar aku pasti ketemu kalimat penting, pasang Post-It. Baca lagi 2 lembar ketemu lagi kalimat penting, pasang lagi Post-It. Habis satu bundle Post-It warna-warniku gara-gara baca buku Selimut Debu ini. Bener-bener menimbulkan biaya baru. Payah! Kayaknya aku mesti tagih biaya Post-it ini ke Agustinus saja. hahaha.

Membaca buku Selimut Debu ini membuat saya larut dan seolah-olah turut merasakan semua petualangan gila Agustinus ini. Hampir setiap jengkal dan setiap jejak yang dilalui oleh Agustinus penuh dengan kesuraman, kepedihan, kegetiran dan penderitaan hidup yang tak pernah terbayangkan dalam otakku. Negeri yang miskin dan berkubang debu itu menjadi negeri impian yang ingin dijelajahi oleh Agustinus. Bagiku, itu tak lebih dari sebuah kekonyolan belaka. Aku tak habis pikir, bagaimana  mungkin bisa tertarik menjelajahi negeri yang miskin, penuh debu dan dilanda perang pulak. Hanya Tuhanlah yang tahu apa yang menggerakkan kaki Agustinus menuju negeri yang berselimut debu ini…

Banyak butir-butir penting yang saya dapatkan melalui buku ini. Melalui buku ini, saya sedikit memahami sejarah, budaya, warna  kehidupan dan berbagai kebiasaan unik orang Afghanistan. Membaca catatan perjalanan Agustinus Wibowo seperti membaca kitab kehidupan. . bahwa kalau ada 6 milyar manusia menuliskan catatan perjalanan hidupnya . . maka tak ada satupun yang persis sama kisah atau memoarnya.

Agustinus sudah membuat catatan yang mungkin banyak menginspirasi kaum muda yang rindu bertualang, tapi lebih dari segalanya Agustinus sudah melintasi batas agama yang sering menjadi bahan pertengkaran atau peperangan dari abad ke abad. Menurut aku Agustinus memiliki jiwa spiritual melebihi orang rata-rata dan hampir setiap lembar dari buku ini diisi dengan berbagai kontemplasi-kontemplasi hidup dari Agustinus. Buku Selimut Debu ini sudah saya baca 5X, bahkan aku hapal isinya bab demi bab. Tak ada satu kalimat pun yang membosankan. Semuanya menarik. Semuanya indah. Walaupun terkadang membacanya hanya menimbulkan  derai  air mata dan tawa silih berganti.

Sepenggal kisah lucu di halaman 310-311 dalam buku Selimut Debu ini yang bikin aku ngakak-ngakak dan tertawa-tawa jumpalitan, malah nangis saking lucunya.

Kami baru mendekati Herat menjelang langit gelap. Enam puluh kilometer sebelum Herat, padang pasir ini tahu-tahu berubah menjadi jalan beraspal. Memasuki kota,   masih ada pos pemeriksaan polisi lagi. Seorang polisi gendut memerintahkan semua orang turun, berbaris ditepi mobil. Ketika tiba giliran saya, ia meraba-raba tubuh saya sambil menginterogasi .

” In chi ast? Ini apa?”

“Kamera. “

“Chi ast?”

“Dompet. “

“Chi ast?”

Saya terpekik kaget . Sempat-sempatnya polisi ini meremas kemaluan saya. Ia menyeringai penuh kemenangan.

Hahaha Nuchan tertawa terpingkal-pingkal  jumpalitan baca ini. Bagaimana tidak, ini si Agustinus  bener-bener gila dan bodor banget. Berani banget menulis yang detail banget tentang pengalamannya  di sana hahaha. . . bikin imajinasiku  jadi liar banget bacanya hahaha.

Aku hanya mau bilang buku Selimut Debu ini sangat layak dibaca semua kalangan, baik kaum muda, kaum tua, selebritis atau rakyat jelata, semuanya harus baca yah! Muaachhh!!!


[email protected]01122010

Life is so beautiful

About Nuchan

Apa yah isinya hehehe

Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.