25 Days (4 Negara, 11 Kota) – Part 4

Lani – Kona, Hawaii


21 Agustus 2010 : GOSLAR

Hari ke 4, kami ke luar kota menuju ke tempat wisata bangunan tua dengan patung Hercules di pucuk menaranya, berdiri tegak menjulang tinggi, telanjang. Bangunan itu terbuat dari batu, boleh dinaiki oleh pengunjung hanya saja tidak bisa sampai ke puncak di tempat patung bertengger.

Foto: IMG 5549 kompleks bangunan Hercules Kaskaden/tampak patung Hercules membelakangi di puncak


5552 lantai dasar halaman kompleks bangunan patung Hercules


5560 foto yang sama dengan pengambilan yang berbeda


5653 foto patung Hercules


5660 patung Hercules tampak dari dekat (Anu, adakah kerusuhan di sini?)

Menurut suami teman, tiap hari Minggu dam dibuka, airnya mengalir di bebatuan dari tingkat paling atas, gemericik sampai ke kolam di bawah. Karena kami datang pada hari Sabtu, jadi tempat itu kering.

Dari komplek bangunan utama kami menuruni tangga batu, yang entah jumlahnya beratus, mungkin mencapai ribuan, dari komplek bangunan utama pemandangan kelihatan sangat indah, semua kelihatan hijau, tata kotanya sangat canggih, teratur sekali, di kejauhan kelihatan gedung museum tegak dengan megahnya, dengan halaman padang rumput menghampar bak permadani, di sisi kanan kelihatan bangunan castle, yang menurut suami “K” bukan bangunan kuno, akan tetapi bangunan baru yang dibuat kelihatan kuno. Saya tanya suami “K”, apakah ada jalan lain/pintas untuk nanti kembali ke bangunan utama? Jawabannya: tidak ada, nanti kembali lewat jalan yang sama. Pikirku: alamak! Modiaaaaar kaki bisa seperti tukang becak (kaki gebug maling) hahaha….

Sesampainya di lantai dasar, kami masih berjalan lagi, tempatnya sangat luas, seperti hutan, rindang, sepanjang mata memandang hanya kehijauan, sangat menyejukkan. Tujuan pertama ke castle, sesampainya di lokasi, kami menggelar tikar, istirahat sejenak, sambil makan bekal bawaan dari rumah, serta satu termos teh yang masih panas mengebul.

Foto: 5594 tikar digelar istirahat setelah menuruni tangga, dengan latar belakang castle yang kami kunjungi

Setelah itu beli karcis untuk ikut tour memasuki castle, terlihat dari rombongan kami orang Cina, kebanyakan turis local. Pemandu wisata hanya berbahasa Jerman, tidak ada audio dengan bahasa asing, akan tetapi suami “K” menterjemahkan buatku, bonus guide pribadi hehehe

Castle itu terbagi beberapa ruang, masuk ruang pertama terasa dingin, baunya apek, karena isinya barang-barang kuno zaman Romawi, seperti baju perang terbuat dari besi, rantai (baju zirah?), perlengkapan perang, pedang, tombak, trisula, sayangnya tidak boleh diambil fotonya, tidak bisa berbagi di sini, foto-foto di dinding. Ruang kedua dipajang foto-foto, benda-benda antic, seperti lemari, meja, kursi.

Ruang ketiga kami harus menaiki tangga kayu, ternyata ruang tidur, dengan tempat tidur dilapisi beludru merah darah, foto-foto ditempel di dinding, diperlihatkan pula toilet kuno, bentuknya seperti toilet duduk, akan tetapi di bawahnya ada ember sebagai penampung, hasil buangan. Pikiranku langsung mengatakan, wuiiiiih nggilani! Ruang keempat seperti kapel/gereja kecil, dengan bangku untuk berdoa, serta beberapa patung. Kemudian kami harus keluar untuk menuju ruang kelima, yang isinya semua peralatan perang hanya lebih detail, termasuk kaos tangan berduri, terbuat dari metal, hanya kaos tangan saja yang boleh dipegang dan dicoba, di tengah ruang ada patung serdadu memakai perlengkapan baju perang menaiki kuda, lengkap dengan pedangnya. Selesai sudah tour di castle.

Kami melanjutkan perjalanan melihat museum yang loaksinya tidak jauh dari castle, di sana kami menggelar tikar di atas rumput, “K” beraksi jeprat-jepret, klak-klik.

Foto: 5613, 5615 foto-foto kami dengan latar belakang museum dengan hamparan rumput bak karpet nan hijau


5619 tampak bangunan museum secara keseluruhan, bangunannya luas memanjang.

Selesai istirahat, dimulailah perjalanan paling berat karena kami harus berjalan menaiki tangga yang entah ratusan, bahkan ribuan jumlahnya, sama persis ketika kami menuruni tangga itu, sempat aku itung mencapai hitungan ke 500, aku berhenti menghitung, sudah tidak mampu lagi karena harus focus pada nafas yang ngos-ngos-an, pelan tapi pasti kami menaiki tangga tidak berhenti, hingga sampai ke bangunan utama, mandi keringat gojos-gojos.

Dari sana masih harus jalan menuju ke tempat parkir, kaki lemes rasanya, begitu sampai di mobil lega bisa duduk.

Kesan dari perjalanan hari ini, sangat menyenangkan walau bikin kaki gempor amiiiiir!


22 Agustus 2010 : SELAMAT DATANG DI BERLIN

Pagi ini bangun agak pagian, karena jam 7:30 sudah harus jalan kaki ke stasiun kereta api, ditempuh 20 menitan, sesampainya di stasiun membeli karcis di mesin seharga Euro 37/round trip/orang.

Tepat jam 8 pagi kereta datang, mulailah petualanganku ke Berlin, ganti beberapa kereta, perjalanan ditempuh selama 4 jam, karena hari Minggu jadi suasananya sepi.

Sesampai di Berlin keluar dari stasiun, kami berjalan kaki menuju ke beberapa tempat wisata, kotanya bersih, dengan bangunan gedung-gedung tua, berukir indah. Mengunjungi museum, kami tidak masuk karena tidak cukup waktu, bayar butuh waktu lama untuk bisa melihat semua isi museum, jadi kami melihat taman di sekitar dan di belakang museum yang sangat luas, indah dengan bunga bermekaran, ada air mancur serta kolam, melihat anak perempuan kecil berenang bersama anjingnya yang bermain bola, ada-ada saja.

P 1200211 tampak betapa luasnya taman di belakang komplek museum


IMG 5672 pucuk menara gedung museum, di dalam museum ada toko souvenir, semuanya serba mahal amit-amit, ada juga toilet harus bayar 50 cent sekali masuk dijaga oleh orang tua

Istirahat makan siang, duduk dibangku di komplek bangunan museum, kami membawa gemblong yang sudah kami campur dengan parutan kelapa, dan crubuk kedelai, air minum.

Kami tinggalkan taman, perjalanan kami lanjutkan dengan naik bus, aku baru tahu kalau karcis kereta juga berlaku untuk naik bus, kami turun karena melihat keramaian seperti pasar malam, dengan beraneka pertunjukkan, permainan anak-anak dengan memasuki bola plastic besar transparan, yang dimasukkan ke kolam, mereka bisa berjalan dan menggelindingkan bolanya tanpa harus basah, ada pertunjukkan sulap dengan music yang menggelegar, tak ketinggalan tenda-tenda penjual aneka souvenirs seperti tas, topi, barang konsumsi turis pada umumnya, penjual makanan serta aneka juice segar.

1200215 penghibur sedang beraksi mengerjain salah satu pengunjung, orangnya lucu, menirukan moonwalk dr MJ, dancing salto, membuat geli pengunjung diiringi dengan music yang menggelegar memekakkan telinga.


P 1200216 nampak anak-anak bermain di dalam bola di atas kolam renang buatan, mereka berjalan, merangkak, tanpa harus basah

Puas melihat festival, perjalanan kami lanjutkan menuju tempat seperti lapangan, banyak kereta ditarik dengan kuda Belgia, kudanya tinggi, besar, bisa disewa entah berapa ongkosnya. Aku berjalan mendekati pintu gerbang di depannya ada 2 orang berpakaian polisi lengkap dengan semua pangkatnya, ternyata baru ketahuan mereka polisi aspal hahaha. Turis boleh berfoto bersama mereka ongkosnya Euro 2.00, aku termakan iklan dan ikutan foto bersama mereka, sempat ditanya darimana? Aku jawab aja Indonesia hehehe, yang penting sudah ikut mejenk. Tak jauh dari polisi aspal, ada satu petugas imigrasi aspal, duduk, di meja banyak stempel, ternyata itu stempel orisinil immigrasi zaman dulu, kalau paspor ingin dicap harus bayar Euro 2.00, selain aku tidak bawa paspor juga tidak tertarik, bagiku hanya memenuhi lembar paspor saja.

5743 sang PM palsu sedang memberikan paspor salah satu pengunjung yang telah selesai distempel sambil bercanda ria..

Tiba-tiba aku ingat ingin mampir ke lokasi reruntuhan tembok Berlin, aku balik bertanya kepada 2 polisi aspal apa nama dan di mana tempatnya, dijawab Check point Charlie, jaraknya hanya 10 menit dari lokasi ini. Dengan terburu-buru karena waktu yang tidak mencukupi, kami naik metro, begitu keluar seperti diuber setan mencari lokasi tersebut, akan tetapi tidak ketemu, kecewa…

Lain kali kalau balik ke Jerman, aku akan ke sana.

Kami harus kembali menuju stasiun kereta api menempuh perjalanan ke Goslar selama 4 jam, sampai di Goslar jam 10 malam, suami “K” menjemput di stasiun, begitu keluar dari kereta api disambut dengan udara dingin, untung langsung masuk ke dalam mobil.

Kesan, Berlin yang indah tak cukup waktu untuk melihatnya dalam sehari saja, paling tidak butuh waktu 3 hari.


23 Agustus 2010 : Goslar

Hari ke 6, hari ini aku diajak keluar kota melihat bangunan castle yang berbeda. Mengendarai mobil hampir sejam, sampai disana castle sudah ditutup, hanya berkeliling di luar castle, di sekeliling castle sangat luas banyak yang bisa dilihat, jalan di hutan, rimbun, jalan setapak terbuat dari bebatuan disusun kotak-kotak, hal umum di Eropa jalanan tidak semua mulus aspal.

P1200344, ditaman dengan latar belakang bangunan castle

Sebelum matahari tenggelam ditelan sang malam, kami sempat ambil foto-foto.

Dari ketinggian bangunan castle, kami bisa melihat pemandangan perumahan di bawah sana, indah, teratur, dengan kerimbunan pepohonan.

Kami tinggalkan castle, berjalan menuju taman, dengan pepohonan di kiri kanan jalan berbaris rapi, banyak daun kering berserakan, ditimpa mentari senja keemasan, sinarnya menyeruak di antara pepohonan, indah sekali. Anganku melayang, alangkah cantiknya jika musim gugur, karena warna daun yang berubah secara drastis, akan tetapi ketika hal itu saya tanyakan ke “K”, dia mengatakan tidak secantik perubahan warna di east coast, America.

Akhirnya kami tinggalkan castle, dengan janji akan kembali sebelum jam tutup.


24 Agustus 2010 : HAMBURG

Kusambut dengan penuh semangat naik kereta dengan tujuan HAMBURG, di anganku terpatri, ah ST. PAULI, kata yang sudah kukenal sejak aku masih tinggal di Indonesia.

Tujuan “K”, ke Hamburg karena ada beberapa toko mengadakan sale, discount, obral, aku ngikut saja, sekedar ingin tahu, karena aku tidak suka wisata belanja, bukan type orang shop till drop hehehe.

Akhirnya tiba juga di Hamburg, kota pelabuhan, yang kami tempuh hampir 4 jam. Keluar dari kereta disambut dengan udara dingin, angin menusuk ke tulang sumsum brrrrrrr

Foto: P1200256 keluar dari stasiun KA-Hamburg brrrrrrr…….disambut udara dingin

Kotanya ramai, sibuk, banyak sekali toko-toko bertebaran, kami keluar masuk toko. Naik turun escalator dari satu lantai ke lantai lain, kesanku harga masih mahal dibanding dengan di America, walau sudah discount, bukan itu saja style fashion di Jerman bukan seleraku, karena masih terlalu tebal untuk bisa dipakai di Hawaii, dua hal itu sudah cukup untuk mengerem nafsu untuk beli, cuci mata sudah lebih dari cukup. Dengan keluar masuk beberapa toko, jalan cepat, bisa disamakan dengan berolahraga.

Puas keluar masuk toko, kami ke St. Pauli, ternyata oh ternyata sangat berbeda dengan yang ada di anganku, sepiiii.

Menurut “K” hanya malam hari St. Pauli menggeliat, ramai

Foto: P1200316 jalanan di St. Pauli


P1200314, gedung pertunjukkan esex2


P1200322 salah satu pojok jalan di St.Pauli

Banyak bertebaran, restoran, club, night club, theatre, gedung bioskop, juga tempat-tempat untuk nonton semua yang berhubungan dengan ESEX-ESEX, bisa melihat langsung, video, film, bayar pakai coin dst, dsb, dll, termasuk SEX SHOP tentu saja.

Aku yakin tanda-tanda kerusakan, kerusuhan, artikelku dimulai di sini, terutama rombongan 4 pendekar baltyrawans, tak perlu disebutkan namanya semua sudah maklum……

P1200318, 1200310, etalage sex shop, nampak bermacam sex toys dengan berbagai bentuk dan warna.

Semua SEX TOYS dipajang di etalage toko, dengan vulgar, baik untuk wanita, pria, bentuk, warna, style, YOU NAME IT!

Melihatnya saja sudah risih, sungkan banget, tapi “K” mengatakan : hey, ini bukan di Indonesia, hayooo masuk ajaknya…

Akhirnya aku sanggupi ajakan “K”, masuk ke salah satu toko sex, pintu masuk toko dihias dengan rumbai-rumbai seperti bulu berwarna-warni (jadi ingat NEV, yang bengok-bengok minta ampun karena takut digelitik menggelepar lemezzzz kkkk).

Sampai di dalam, alamak tobat Gusti, paringono ngapura (alamak, ampun Gusti, berikanlah pengampunan), terpajang dengan rapi segala macam onderdil pemuas SEX, mulai dari foto, majalah, DVD, segala macam minyak pelumas, eatable undies, parfum, komplit-plit. Buatku yang sangat menarik adalah aneka bentuk private parts pria, bentuknya dari yang pendek, sampai ukuran maut hahahah, warnanya, sampai lekuk-lekuknya, seperti eluk keris saja hehe…

Ada yang digerakkan dengan batere, ada juga dengan pompa, bisa diset ukurannya ayak-ayak ae! Ada yang aneh, tidak hanya sekedar bentuk alat pria saja, tapi ada tempelan di sisi alat itu, aku kira sudah banyak yang ngerti buat apa? hehehe. Please use your imagination…….

Belum lagi bentuk private part wanita, haduh biyung, dari warnanya, wis nggilani tenan, selain itu berbagai model celdam yang bolong sana sini, wah apa gak masuk angin lesus? Bra dengan berbagai macam style, semua serba tembus pandang.

Prinsipnya semua yang dijual di toko ini untuk memuaskan fantasy sex. Yang jelas sex toys aman dibanding dengan yang asli, kenikmatan sejenak ditebus terkena STD, blaikkkk

Selama berkeliling, melihat, sambil senyum simpul, mesam-mesem sendiri jengah untung tidak ada pengunjung lain, ada keinginan kuat untuk bisa memegang, meremas, merasakan seperti apa rasanya, tapi hal itu tidak mungkin karena semuanya dibungkus di dalam kotak transparan, jadi hanya bisa diliat tapi tidak bisa dibuka, dipegang apalagi dirasakan, hanya bikin gemes saja.

Puas melihat, kami keluar terasa sangat ringan mak-ploooong, karena di dalam terasa sumpek melihat pemandangan itu.

Dari sana perjalanan kami lanjutkan ke dermaga kapal, banyak café, restoran di tempat terbuka bau ikan membuat perut ini menggelepar, toko souvenir, aku sempat masuk, tidak ada yang menarik, kebanyakan barang buatan China, harganya selangit lagi.

Banyak kapal pesiar bersandar di dermaga, dilengkapi dengan ruang makan.

Burung camar bercericit beterbangan, bercengkerama di udara sore itu, angin kencang, akan tetapi kali ini tidak dingin karena udara hangat.

Hampir jam 7 malam kami tinggalkan Hamburg naik kereta balik ke Goslar.

Kesannya? Kota Hamburg seperti kota pelabuhan pada layaknya, ramai, sibuk, tidak menarik selain bagi yang menyukai belanja. Berlin bagiku lebih menarik, banyak yang harus dan layak dilihat/disinggahi.

Sampai di Goslar hampir jam 11 malam, keluar dari kereta disambut bulan purnama, sangat terang, langit cerah tanpa awan, tentu saja dingin menggigit, suami “K” kebetulan pulang dari kerja, naik sepeda, mendampingi kami, aku berjalan seperti dioyak setan agar badan merasa hangat.


25 Agustus 2010 : Hari terakhir di Goslar

Sejak pagi langit mendung, angin kencang sampai kedengaran bunyinya wuuuuut…wuuuuuut…

Hari terakhir, kami tidak keluar jauh, setelah makan siang, cuaca membaik, kami keluar jalan kaki kelapangan beberapa hari yang lalu kami kunjungi, hanya belum sempat ambil foto, sore ini kami puaskan untuk berfoto ria. Ada kejadian lucu, ketika kami sedang berfoto ria di trotoir sepasang turis tua datang mendekat, yang pria tertawa-tawa melihatku sedang bergaya ria bak model, dengan penuh semangat dia ngomong: bolehkah aku ikut berfoto denganmu? Aku jawab: sure… Sang istri hanya melihat ulah suaminya dari seberang jalan dengan manyun hehehe

Mentari menggelinding ke ufuk barat, kami jalan balik ke rumah.

Sampai di rumah, malam itu aku mengepak koper, karena besok harus ke airport melanjutkan perjalananku ke Brussels-Belgium.


Bersambung…………

Sampai jumpa di BRUSSELS-BELGIUM

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.