Lelaki Yang Menunggu

Ary Hana


Sudah lama dia menunggu. Lelaki itu, naik mobil bak terbuka. Setengah tua, tubuhnya kurus, kulitnya hitam, rambutnya ikal pinang.

“Bapakmu sudah pulang?” tanyanya. Ada senyum jemu di wajahnya yang tirus.

Aku menggeleng. Bapakku jarang di rumah. Kalau datang pun tak pasti waktunya. Setiap saat bisa pergi, terbang sesuka hati.

“Ada telpon dari kantor. Pengamanan,” begitu katanya saat makan malam. Membuat ibuku cemberut, tak senang.

“Kapan pulangnya?”

Bapakku tak menjawab. Ia sibuk membersihkan senjatanya, mengambil selongsong peluru, memasukkannya, lalu menyelipkan bedil itu di sela perutnya. Selalu agak ke kiri. Mungkin takut terkena pelirnya.

“Tugas Pak?” tanyaku. Ia mengangguk.

“Hati-hati di rumah, ya. Jaga ibu baik-baik.” Dia mencium rambutku, lalu pergi. Meninggalkan remah-remah pasir dari sepatu pedeha-nya.

Lelaki itu masih menunggu. Berdua dengan anaknya yang jadi sopir. Gelisah nampak wajahnya. Berkali melirik arloji di kanan tangannya.

“Siapa itu Bu?” tanyaku ingin tahu.

“Pak Bolang, orang ambon yang dulu diperiksa bapakmu,” jawab ibuku.

“Kenapa mencari bapak?” Aku heran.

“Mau setor mungkin,” ibuku berlagak sok tahu.

Setor? Setor apa? Beberapa kali kulihat lelaki itu datang ke rumah. Kadang sebulan sekali, kadang tiga bulan sekali. Yang dibawanya pun macam-macam. Kadang durian satu pick-up, kadang ketela pohon juga satu pick-up. Kadang malah tak membawa apa-apa. Upeti durian atau ketela itu lalu dibagi-bagi bapak ke tetangga di seluruh asrama. Kata bapak sih lelaki itu sedang panen kebunnya. Wow, durian se pick-up, tentu luas kebunnya. Pasti kaya dia.

“Dia siapa sih Bu?” lagi-lagi aku ingin tahu.

“Huh, kamu ini anak kecil mau tahu saja.” Ibuku mulai kesal.

“Kasihan sedari pagi sudah menunggu di luar. Kenapa nggak ibu ajak masuk dan dibuatkan minum. Mereka kan haus.”

“Nggak usah, kalo haus atau lapar kan bisa ke warung,” ibuku mendelik.

“Tapi mereka kan tamu,” bantahku.

“Bukan, mereka itu mantan gestapo.” Aku bergidik. Sebuah lalat menampar mukaku.


Note Redaksi:

Selamat datang dan selamat bergabung, Ary Hana. Make yourself at home. Ditunggu tulisannya yang lain ya…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.