Hujanlah yang Membawaku Kepadamu

Rama Dira


(Pernah Dimuat Media Indonesia, 17 Januari 2007)

Catatan : Cerpen ini adalah salah satu cerpen yang akan mengisi Kumpulan Cerpen saya : Cerutu Terakhir Milik Tjoe Boen Tjiang yang Insya Allah akan diterbitkan dalam waktu dekat.

HUJAN selalu membawaku pada kenangan. Di situ ada kamu bersama kebahagiaan dan keperihanku. Akhir-akhir ini selalu turun hujan. Setiap hari, dalam satu minggu ini. Hujan-hujan yang turun, selalu sama. Ia bukanlah jenis hujan deras yang mencurah hanya sebentar, ia adalah hujan gerimis, merintik dalam waktu yang terhitung lama, kadang betah sepanjang hari. Jika demikian adanya, tentu engkau tahu, aku akan mengenangmu selama itu.

Kaulah perempuan pencinta hujan. Kau selalu girang jikalau turun hujan. Kau pasti menarik tanganku, mengajakku berlari masuk ke dalam helai-helai hujan yang ditumpahkan dari langit oleh para malaikat penyiram hujan. Meski awalnya kukira kau mengidap kelainan, pada akhirnya aku justru menjelma satu-satunya pengikut setiamu. Jadilah aku sebagai lelaki pencinta hujan.

Memang, yang tertinggal darimu hanyalah kenangan. Pada suatu senja yang jauh itu, kau memutuskan meninggalkanku dan memintaku tak lagi mencarimu. Waktu itu juga hujan. Sebelumnya, kau menelpon dan memintaku datang untuk menjemputmu. Kukira kau ingin mengajakku menikmati hujan, sehingga aku bergegas datang dengan membawa segunung kebahagiaan dan langsung duduk dalam hujan, menunggumu di sebuah bangku kayu yang ada di depan pasar tepat di seberang restoran tempatmu bekerja.

Kau keluar dari restoran dengan menampilkan wajah yang terlihat gundah. Kau memang tersenyum, setelah kita tak lagi berjarak. Namun, senyuman itu mengandung sesuatu dan perkiraanku kemudian benar bahwa kau akan mengabarkan sesuatu yang menyakitkan.

Kau duduk di sampingku. Tak seperti biasanya, kali ini kau membawa payung. Kau seperti takut seragam kerjamu basah, meski hanya terkena sedikit tempias hujan. Sementara aku, masih berlaku sebagai lelaki pencinta hujan. Sekujur badanku kubiarkan semakin kuyup terkena hujan. Melihatmu seperti itu, aku meyakini, telah terjadi sesuatu denganmu. Kau tak lagi menjadi perempuan pencinta hujan.

Tak perlu waktu yang lama untuk menyampaikan kabar itu. Kau langsung mengatakan bahwa kau ingin kita benar-benar berpisah dan itu bukanlah keinginan tanpa alasan. Kau telah memilih lelaki lain. Kau memutuskan untuk berjalan di rel nasib pilihanmu, demi menyelamatkan masa depanmu. Dialah pemilik restoran itu, lelaki yang mengajakmu menikah. Dialah yang menurutmu bisa menjadi lokomotifmu untuk menuju masa depan yang kau inginkan. Aku hanya diam, tak menanggapi apa yang kau katakan bahwa lelaki itu memang tak lagi bermasalah dengan uang, tak lagi bermasalah dengan angan-angan kesuksesan. Sementara aku, masih terus bergulat dengan nasib tanpa kepastian, sebagai penulis yang masih tertatih-tatih dalam upaya untuk menggapai kesuksesan yang tak kunjung tergapai, hingga kau pun tak lagi bisa menungguku.

Aku tak dapat mengelak. Aku tak bisa menahanmu untuk tetap bersamaku sebab tak satupun kenyataan yang bisa kugunakan untuk meyakinkanmu agar tidak meninggalkanku waktu itu. Tidak ada! Begitulah akhirnya, kau berjalan meninggalkan aku yang duduk sendirian di bangku depan pasar ini, tempat biasanya kita duduk menghabiskan waktu, sehabis jam kerjamu. Sampai kau telah jauh meninggalkanku, masih menggelantung pikiran gundahku mengenai keputusanmu yang tiba-tiba saja datang menyerang itu. Aku tak juga segera menyentuh sedikitpun nasi bungkus yang sengaja kau bawakan dari restoran. Aku justru berjalan lemah meninggalkan bangku depan pasar ini dengan membawa serta nasi bungkus pemberianmu yang masih terasa hangatnya di kedua tapak tanganku.

Semenjak kejadian itu, aku memutuskan untuk tak lagi datang ke daerah ini. Sekedar melintasi jalannya saja aku tak mau. Tapi, itu dulu, bertahun-tahun telah lewat. Kini aku sudah bisa berdamai dengan perasaanku.

Di bangku depan pasar inilah aku acapkali menghabiskan waktu akhir-akhir ini, semenjak musim hujan datang. Satu hal yang harus kau tahu : aku tidak menunggumu. Tak ada maksud atau harapan agar engkau tiba-tiba muncul dari dalam pasar atau dari arah restoran, atau terjatuh dari langit, atau darimanapun juga, kemudian duduk menemaniku di sini. Bukan pula berharap akan ada perempuan lain yang tiba-tiba saja datang menghampiriku, memperkenalkan diri sebagai perempuan pencinta hujan dan sudi menemaniku karena akulah lelaki pencinta hujan yang dicarinya selama ini. Tidak! Sungguh, tidak ada pikiran semacam itu yang melintas dalam kepalaku. Aku duduk di sini, basah dalam guyuran hujan, hanya sekedar ingin merasakan serakan kenangan yang pernah kita lalui di sini. Karena bagaimanapun juga, dalam hidup ini, aku tetap membutuhkan hiburan. Dan hiburan yang kuanggap masih bisa kunikmati adalah kenangan tentangmu yang terjalin dalam helai-helai hujan, meski dalam kenangan itu tetap menyertai pula keperihan.

Kegiatan di pasar itu terhenti segera setelah hujan tumpah. Tak terlihat pembeli. Tukang parkir sudah tertidur pulas di posnya. Becak-becak berjejer rapi dan para pengayuhnya sedang terlelap pula. Hanya ada beberapa orang yang lalu lalang dengan membawa payung terkembang. Sementara aku, tak lebih dari seseorang yang terlihat bodoh, karena mau duduk di bangku tanpa naungan, merelakan diri dibasahi hujan, terasing dan benar-benar merasa asing, tak ada yang memedulikan. Aku menganggap hal itu wajar saja. Di kota ini, memang tak bakalan ada yang memedulikan suatu tindak laku aneh seseorang. Waktu bersamamu dulu pun tak ada yang menghiraukan kita duduk dalam hujan di sini, bukan?

Andai saja engkau ada di sini (perlu kuingatkan lagi, ini hanyalah pernyataan bukan harapan) kau bisa menyaksikan bahwa segala sesuatu yang ada di sini masih seperti dulu. Lihatlah gerobak penjual bubur ayam itu. Masih ingatkah kau dengan semangkuk bubur ayam yang dulu?

Waktu itu, akhir bulan. Tulisanku tak ada yang dimuat bulan itu dan kau pun belum menerima gaji dari restoran tempatmu bekerja. Dalam saku celanaku hanya ada beberapa uang logam. Oh, ya, aku hampir lupa, waktu itu juga hujan. Kau kelaparan, aku juga kelaparan. Aku menghampiri bapak penjual bubur ayam itu. Kutanyakan padanya berapa harga semangkuk bubur ayamnya, dia bilang seribu limaratus. Aku rogoh saku dan mulai menghitung berapa jumlah uang logam yang tersisa. Ternyata seluruhnya hanya ada seribu seratus. Karena tak cukup uang itu, aku kembali menuju ke arahmu. Tapi bapak itu memanggilku dan memberikan semangkuk bubur ayam, lantas mau saja menerima uang yang hanya seribu seratus jumlahnya itu. Anggap saja sebagai pelaris, katanya. Memang, semenjak pagi, belum ada yang membeli bubur ayamnya. Aku kembali menghampirimu dengan membawa semangkuk bubur ayam yang masih mengepul-ngepul asapnya itu. Kita makan semangkuk berdua setelah berteduh di samping pos tukang parkir. Anehnya, setelah aku membeli bubur ayam itu sebagai pembeli pertama, berdatangan pembeli-pembeli lainnya yang kemudian membuat dagangan Pak Bubur Ayam itu habis. Setelah bubur ayamnya habis terjual, Pak Bubur Ayam mendatangi kita dan mengucapkan terima kasih, lantas memberikan semangkuk bubur ayam lagi sambil berkata, semangkuk bubur ayam itu memang sengaja ia tinggalkan untuk kita karena kita telah berjasa membuat dagangannnya habis hari itu. Karena kita berdua memang masih lapar, kita menerima saja pemberian Pak Bubur Ayam itu. Dan selalu, setelah itu, jika kita makan di sini, Pak Bubur Ayam tak mau dibayar.

Gerimis hujan masih juga tumpah. Aku semakin kuyup. Pak Bubur Ayam sudah pergi bersama gerobaknya, meski dagangannya belum habis terjual. Sebenarnya semenjak tadi, aku ingin saja menghampirinya, sekedar menyapa, dan dia tentu masih mengingatku. Namun, aku kembali menimbang, aku tak ingin ia menggratiskan dagangannya itu. Sudah terlalu sering ia berbaik hati pada kita dulu.

Tak hanya penjual bubur ayam itu. Tukang parkir, ibu-ibu penjual gudeg, penjual kain batik, penjual gorengan, adalah juga orang-orang yang dulu. Tapi aku menghindar untuk berinteraksi dengan mereka. Aku takut mereka bertanya : ”Dimana kekasihmu yang pencinta hujan itu?” Sungguh, aku takut. Pertanyaan itu membutuhkan jawaban yang panjang dan sekali lagi, aku takut!! Itu akan membuatku tak lagi bisa berdamaian dengan keperihanku dulu. Dan pertanyaan itu juga bisa membuat sia-sia upayaku yang datang ke sini, sekedar ingin mengenang bagian yang manis dari kenangan tentangmu, yang bisa mendatangkan kebahagiaan yang tiada taranya padaku.

Gerimis masih juga turun kala malam menjelang. Lampu-lampu di tiang listrik, lampu-lampu pasar, lampu-lampu pada kendaraan mulai menyala. Aku memutuskan menyudahi kegembiraanku dalam mengenangmu. Aku ingin pulang. Masih banyak tulisan yang harus kuselesaikan. Namun, ketika baru akan beranjak, kau tiba-tiba datang dari arah Selatan. Sebuah kedatangan yang sungguh-sungguh  mengejutkan tentunya.

Kau tak seperti dulu. Kau kelihatan lebih tua, dengan badan yang kurus tak terurus. Ada memar membiru di sekitar mata kananmu. Bekas apa itu?  Meski terjadi banyak perubahan padamu, dengan yakin aku masih bisa mengenalmu. Kali ini kau tak sendiri. Kau bersama seorang bocah laki-laki. Mungkin itu anakmu. Ah, sungguh, perasaanku kacau balau. Ada kegembiraan yang perih kurasa menyerang tiba-tiba.

Kau duduk di sampingku. Tapi, kau sungguh-sungguh telah berubah. Kau tak lagi peduli denganku. Akupun tak sanggup untuk terlebih dulu menyapa. Bocah itu duduk di samping kirimu. Kalian duduk dalam naungan payung besar. Kau menatap tajam ke depan, ke arah jalan. Tiba-tiba engkau menangis dan bocah di sampingmu memandang dengan ekspresi lugu.

“Mama, kenapa menangis, Ma?”

Engkau tetap saja menangis. Sebenarnya aku ingin sekali menenangkanmu, tapi aku merasa tidak enak pada bocah yang pasti adalah anakmu sebab ia memanggilmu dengan sebutan Mama. Tak berapa lama, kau menyudahi tangismu. Kau berlagak akan mengutarakan sesuatu padanya. Sekejap kemudian, sangkaanku benar. Kau berujar padanya, “Mama ingin engkau tahu, dulu Mama sering menghabiskan waktu di sini bersama seorang laki-laki. Dia baik. Sampai sekarang pun, Mama masih mencintainya.”

Aku mendengarmu tentunya. Dan aku merasa bahagia sekaligus heran. Mengapa kau mau menceritakan perasaan cintamu pada laki-laki lain sementara yang mendengarnya adalah anakmu, buah hatimu bersama suamimu?

“Siapa laki-laki itu, Ma? Dimana dia sekarang?” Anakmu bertanya dengan penuh keingintahuan.

“Dia penulis cerita. Sejak Mama meninggalkannya, Mama tak tahu lagi dimana dia.”

Ketika kau usai mengatakan itu aku tersenyum. Ingin rasanya aku segera berteriak bahagia mengatakan bahwa aku ada di sampingmu, aku juga masih mencintaimu.

“Jadi Mama tidak mencintai Ayah?”

“Tidak!”

Aku tak mengira, anakmu tersenyum dan mendukungmu dengan mengatakan: “Aku juga tidak mencintai Ayah. Dia jahat. Dia suka memukul Mama.” Ia lantas memelukmu dan kau pun membalas pelukan hangat itu dan aku pun jadi terharu. Aku tidak bisa menahan kesedihanku setelah mendengar kabar mengenai perilaku suamimu itu. Kau tentu begitu menderita dibuatnya.

Kalian bangkit beberapa waktu kemudian. Aku heran, sampai pada detik itu, tak sedikitpun kau mau berpaling padaku. Padahal, kau tentu masih mengenalku. Kalian pun mulai berjalan, terus melangkah ke arah Selatan. Aku mengikuti dari belakang. Gerimis belum juga berhenti. Aku basah, kau basah dan bocah itu juga basah, karena kau menutup payung atas permintaan anakmu itu yang ingin merasakan apa yang dulu biasa kita rasakan sebagai pasangan pencinta hujan. Kalian tertawa menikmati hujan dan aku kini tertinggal di belakang kalian.

Aku memutuskan, inilah saat yang tepat untuk memberikan kejutan padamu. Aku memanggil namamu. Berkali-kali. Lima kali. Enam kali. Bahkan sampai berpuluh-puluh kali kupanggil namamu sambil terus mengikuti langkah kaki kalian, tak juga kau mau menoleh padaku. Ketidakpedulianmu itulah yang memaksaku untuk berlari kencang menyalip kalian dan aku langsung berbalik. Kau tetap tidak peduli. Aku tegak berdiri menghadap ke arahmu dan kau bersama si bocah terus saja berjalan dan tubuh kita tak bisa saling bersentuhan. Kalian berlalu begitu saja melintasi tubuhku yang tak lagi nyata….

Sambil menatap malam yang telah menelan kalian, aku mencoba mengingat peristiwa apa yang menimpaku setelah engkau pergi meninggalkanku pada senja yang jauh itu hingga membuatku menjadi seperti ini.

Waktu itu, aku juga menatapmu yang makin menjauh ditelan malam yang tiba-tiba turun dan kau pun lenyap seketika. Dalam kekosongan diri dan kehampaan segenap semesta, aku melangkah ringan meninggalkan bangku depan pasar. Ke mana langkah kakiku menuju, tak lagi dalam kendaliku. Aku terus berjalan, menyeberang jalan tanpa lihat kiri kanan. Sampai di tengah badan jalan, sebuah bis kota yang melaju menghantam badanku. Aku ambruk. Nasi bungkus hangat pemberianmu masih kupegang erat di tangan. Aku sempat memanggil-manggil namamu. Namun, dalam hitungan detik semata, aku tak lagi nyata. Aku mati. Mati dalam siraman hujan, meski kenanganku padamu akan hidup selamanya, wahai perempuan pencinta hujan!


Zamrud Khatulistiwa Jogja, 27 Desember 2006, 7:00 PM- 7:50 PM

RAMA DIRA, lahir di Tarakan, Kaltim 30 tahun yang lalu. Pernah merantau ke Jogjakarta, Pangkalpinang, dan Muara Enim untuk kuliah dan bekerja. Saat ini menetap dan bekerja di Samarinda.

14 Comments to "Hujanlah yang Membawaku Kepadamu"

  1. Gambulano Aph  5 January, 2011 at 23:36

    ok bro………

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.