Vita Est Militia: Kisah Pedagang-Buta dan Penjual-Renta

Tarsisius Sutomonaio


“Krupuk, rasa ikan. Gurih, renyah rasa krupuk”! Saban hari saya mendengar suara itu melalui pengeras suara. Awalnya, saya tak tertarik.  Menurut saya saat itu, pengeras suara hanya sebuahlah trik pria penjual krupuk itu. Makin keras dan luas jangkauan suaranya, makin laris manis pula dagangannya. Pria itu sedikit kreatif tapi saya kira dia bukan satu-satunya. Saya juga bukan penggemar krupuk meskipun kadang-kadang menikmatinya saat menyantap nasi goreng. Karena itu, saya tidak terlalu peduli dengan si penjual krupul dan jualannya.

Suatu kali, saya sedang berada di depan teras kontrakan, jaraknya hanya dua meter atau lebih sedikit dari jalan kecil yang membelah deteran rumah di kompleks kami. Persis di saat yang sama, saya mendengar suara khas pria penjual krupuk itu. Sepintas saya memperhatikan gayanya. Pria itu kira-kira berusia 40 tahunan. Memakai topi dan kaca mata hitam. Ia menjajakkan dagangan dengan menggunakan sebuah tongkat pikul. Krupuk yang terbungkus plastik transparan diletakkan di kedua ujung tongkat tersebut. Sekali lagi ia bersuara menawarkan dagangannya, “krupuk, rasa ikan. Gurih, renyah rasa krupuk”!

Di waktu berikutnya, saya berhadapan langsung dengan si pedagang krupuk. Astaga! Saya terkejut sekaligus kagum. Apa pasal? Ia sangat berbeda dari pedagang lainnya, bukan hanya karena menggunakan pengeras suaranya. Bukan juga karena ia berkeliling sepanjang hari; pagi segera setelah fajar terbit, siang di bawah sengatan terik, atau sore menjelang malam tiba. Bukan pula karena topi dan kacamata hitamnya. Hal yang amat berbeda adalah ia masih menggunakan tongkat lain selain tongkat pikulannya.

Sementara tangan kirinya menahan tongkat pikulan dan pengeras suara. Tangan kanannya menguasai sebuah tongkat terbuat dari  besi berwarna perak agak mengkilap. Panjangnya tak lebih dari 120cm. Tongkat itu bergerak menyilang mendahului langkahnya atau bergerak di kedua sisinya. Tongkat itu adalah mata. Memastikan bahwa tak ada sesuatu yang membuatnya terantuk. Menuntun langkah-langkah bergerak pelan tapi pasti. Ya, pria itu pedagang istimewa justru karena kedua matanya buta. Dan ia berkeliling bermodal tongkat dan pengeras suara.

Pedagang-buta itu tak biasa di kota seperti Jakarta. Rekan-rekan senasibnya (yang catat) banyak yang memilih –meskipun kadang kala bukan pilihan mereka sendiri- untuk duduk di jembatan penyeberangan, jembatan busway, di perempatan atau pertigaan lampu merah, di pinggir toko, di pintu atm, dll. Kawan-kawan sepenanggungan itu mengadu belas kasihan. Menadahkan tangan, topi, atau kaleng menanti tangan-tangan yang menyulurkan lembaran atau kepingan uang. Kadang orang buta lainnya dituntun seorang normal untuk meminta ”sumbangan” dan sejenisnya. Pria pedagang-buta itu makin terlihat istimewa. Ia gagah berjalan melawan kekurangannya.

Saya jadi teringat salah satu film favorit saya, The Knight’s Tale. Bercerita tentang seorang anak berasal dari rakyat biasa namun bercita-cita menjadi ksatria. Sebagai dukungan ayah sang anak memberi nasihat bijak berikut “change your star and follow your feet”. Tidak perlu ragu untuk bercita-cita dan yakinlah dengan langkahmu. Sang anak mematri pesan bijak itu dalam memorinya. Kelak -saat anak itu sudah menjadi ksatria dan di saat yang sama ayah sudah menjadi buta- kata-kata yang sama menjadi password sang anak  agar tetap mudah dikenali ayahnya.

Ya, mungkin si pria pedagang-buta tak (akan) pernah menyaksikan The Knight’s Tale tetapi sesungguhnya ia sedang berproses menjadi seorang ksatria. Tongkat penuntunnya berubah menjadi pedang yang membelah setiap lorong dan jalan yang dilalui. Ia sedang mengubah bintangnya (nasib) dan percaya pada langkah kakinya bisa menuntunnya pergi dan kembali dengan selamat. Ia berjuang untuk hidupnya dan mungkin orang lain. Secara tak langsung ia telah menolak menjadi alat orang lain, misalnya menjadi pengemis demi memperkaya orang lain.

Pria itu benar-benar ksatria. Ketangguhan menjalankan hidup bisa m.enjadi inspirasi rekan-rekan senasibnya. Lebih daripada itu, ia telah menginspirasi saya, mudah-mudahan Anda semua juga, bahwa hidup adalah sebuah perjuangan untuk mengubah ”bintang”. Melawan kekurangan, sekaligus mengubahnya menjadi kelebihan. Pantang menyerah. Dari ”krupuk, rasa ikan. Gurih, renyah rasa krupuk”, kelak pedagang-buta itu menikmati hidup ”se-gurih dan se-renyah” krupuk yang dijualnya….

***

Di jalan-jalan yang sama, di saat yang nyaris tak berselisih, suara yang tak kalah lantang menggema di udara. ”Kue…Kue…Kue Neng!” Pemilik suara itu adalah seorang wanita, tapi bukan semangat seorang anak muda atau paruh baya.  Ia seorang nenek dengan tentengan di kedua tangannya. Tubuhnya kelihatan kecil dibalut kebaya. Lebih kecil daripada dua keranjang yang bawaannya. Saat melangkah, punggungnya lebih tinggi daripada kepalanya, bahkan kelihatan seperti seorang yang sedang melakukan gerakan olahraga ”mencium lutut”. Wanita tua sudah sangat bungguk. Mungkin sudah berusia 60 tahun atau lebih.

Pernah sekali waktu, saya dan seorang teman membeli kue jajakannya. Lumayan rasanya. Sayang sekali, saya tak terlalu hafal nama jajanan itu. Sejenis getuk atau mungkin benar-benar getuk. Saya lupa. Kue itu dibungkus daun pisang, tak terlalu rapih. Wanita itu sudah tak cekatan lagi bekerja. Ketrampilannya sudah dimakan usia. Kami sabar menungg, sambil memperhatikan sang penjual kue. Teman saya berbisik, ”Kasihan ibu ini. Ke mana anak-anak atau cucu-cucunya”. Saya hanya mengangguk kecil.

Setelah transaksi kecil sore itu berakhir, kami tak langsung beranjak dari tempat transaksi. Berdua tetap memperhatikan wanita tua itu melanjutkan perjalanannya. ”Kue…Kue…Kue Neng!”, wanita tua itu coba mencari pembeli berikut. Sebuah pertanyaan iseng terlontar dari mulut saya, ”Kenapa nenek itu hanya menawarkan kuenya kepada wanita?”. ”Dari mana kamu tahu?”, ujar teman saya. ”Lha, kan, akhiran…kue Neng!”, sambar saya. Kami pun tertawa. Ya, si nenek tak pernah menyebut kata-kata sapaan yang merujuk pada pria, semisal mas, bang, pak atau  lainnya.

Sang nenek sudah sangat bungkuk dan nampak semakin bungkuk karena beban di kedua tangannya. Ia sudah terlalu renta untuk berjalan jauh apalagi di tambah bawaannya. Cukuplah ia mengerjakan pekerjaan ringan di rumah saja. Namun, sang nenek telah melawan semua lelahnya dengan cara yang cukup mengharukan. Berjarak hanya yang berapa meter setelah ia bersama kami, sang nenek nampak lelah dan berusaha mengumpulkan tenaga. Ia duduk beberapa saat. Melanjutkan perjalanan. Sebuah pola yang hampir selalu berulang  dalam jarak tidak lebih dari 30 meter.

Saya sempat merenungkan bisikan teman saya tadi, ”Kasihan ibu ini. Ke mana anak-anak atau cucu-cucunya?”. Tanpa diduga, bisikan itu ternyata awal serangkaian pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan mulai merambat dalam benak. Ke manakah keluarganya? Ke mana para tetangganya? Ke manakah para perangkat desa, kecamatan, dan kabupaten? Ke manakah negara untuk orang-orang seperti ini? Bukanlah seharusnya sang nenek sudah menikmati hari tuanya?

Adakah ia sendirian atau berapa banyak lagi orang seperti sang nenek di negeri ini? Mungkinkah sang nenek menjadi korban ”sesuatu” di republik ini? Semua pertanyaan berujung pada diri saya sendiri, ”Apa yang bisa saya lakukan?”.  Ah, sejauh ini, saya hanya punya dua hal. Pertama, catatan  kecil ini. Kedua, kekaguman pada sang wanita tua. Berani menjalani hidup tanpa mengenal usia. Dua hal yang saya miliki ini (mungkin) tak membantunya sama sekali. Maafkan saya, Nek!

Saya tak tahu apakah pekerjaan itu sebagai sumber penghasil utama, dipaksakan keadaan? Atau, mungkinkah sang nenek mencari tambahan; melakukan pekerjaan ini semacam hobi. tak tahan untuk tidak bekerja, terbiasa dengan otot-otot yang selalu aktif. Atau, adakah hal di luar dirinya memaksa demikian? Entahlah. Saya terkesan. Sang nenek telah menjadi ksatria dengan caranya. Ia adalah inspirasi berikutnya! Knight’s Tale lainnya.

***

Baik kisah film Knight’s Tale, kisah pedagang buta, maupun kisah penjual-renta mungkin bisa diranggum dalam adagium romawi kuno Vita est militia. Hidup adalah sebuah perjuangan. Mungkin moto inilah yang menjadi pedoman mereka dalam menjalani hidup. Dan, mereka pun telah menjadi ksatria dengan caranya masing-masing…. “change your star and  follow your feet”!…


november, 13 2010

07:01 WIB

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.