Dari Peramu Menjadi Petani Yang Mandiri

Handoko Widagdo – Solo


Pengalaman World Education mendampingi Suku Punan di Hulu Kelay, Berau, Kalimantan Timur


Orang Punan Kelay

Orang Punan Kelay (mereka lebih suka disebut sebagai Orang Mapnan) menghuni Dataran Tinggi Kelay. Mereka tersebar dalam 6 desa, yakni: Long Gie (173 KK), Long Duhung (22 KK), Long Keluh (32 KK), Long Pelai (19 KK) , Long Lamcin 23 KK) dan Long Suluy (65 KK). Rata-rata pendidikan mereka adalah tidak lulus SD. Desa-desa ini berada dalam satu aliran sungai, yakni Sungai Kelay. Sungai adalah satu-satunya sarana transportasi untuk menjangkau desa-desa ini. Memerlukan waktu 2 jam (Long Duhung) sampai 9 jam (Long Sului) perjalanan dengan ketinting (perahu kecil dengan pendorong mesin 15 pk) dari Kampung Long Gie.

Orang Punan Kelay baru mengenal pertanian kira-kira 25 tahun yang lalu. Mereka belajar bertanam padi ladang dari Suku Dayak Kenyah yang datang ke wilayah mereka. Namun sampai dengan tahun 2003, saat program dimulai, mereka belum menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian utama. Mereka menanam padi ladang dengan cara membuka hutan dengan membakar, menyebar benih dan meninggalkan begitu saja. Baru kemudian ketika saat panen mereka kembali untuk memanen. Jika panen gagal, mereka akan ke hulu untuk mencari sagu. Mereka masih hidup sebagai peramu (memanfaatkan apa yang disediakan oleh hutan).

Kehidupan sehari-hari mereka masih tergantung dengan berburu binatang hutan dan mencari buah hutan. Sedangkan untuk kebutuhan uang kas mereka masih mengandalkan sumber-sumber dari hutan, meliputi: emas, gaharu, kayu, madu, binatang hutan dan ikan. Dalam memungut hasil dari alam dan hutan untuk menunjang perekonomiannya mereka masih menggunakan pelaralatan yang sederhana, seperti tombak untuk berburu, alat dulang dari kayu untuk mencari emas, tali rotan untuk memungut madu dll.

Sumber kas lainnya adalah dana kompensasi dari perusahaan HPH. Seiring dengan masuknya pihak luar untuk memanfaatkan sumberdaya hutan (kayu) yang ada di Hulu Kelay, ketersediaan potensi sumber daya alam dan hutan untuk mendukung kehidupan masyarakat Punan Kelay semakin berkurang.

Orang Punan Kelay adalah sangat pemalu. Mereka kurang berani menyampaikan pendapatnya kepada pihak lain. Jika diajak berbicara mereka akan menjawab: ‘tidak tahu’.


Peran Hutan di Hulu Kelay dan berbagai upaya dari berbagai pihak

Hulu Kelay masih ditutupi hutan. Dari Kelay ini mengalir Sungai Kelay ke Kota Berau (Kabupaten Berau, Kalimantan Timur). Sungai Kelay adalah sumber air bersih untuk Kota Berau. Saat ini hutan di hulu Kelay telah dimanfaatkan oleh beberapa perusahaan HPH yang memanen kayu.

Selain sebagai sumber air bersih dan daerah tangkapan hujan, hutan hulu Kelay juga masih sangat kaya dengan keragaman hayati. Hutan hulu Kelay adalah salah satu habitat orangutan yang ada di Propinsi Kalimantan Timur. Itulah sebabnya di hulu Kelay ada program konservasi yang diprakarsai oleh salah satu LSM konservasi internasional yang bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Berau. Selain mengembangkan program konservasi, LSM konservasi internasional ini juga memberikan pelayanan sosial, seperti kesehatan dan air bersih.

Dari upaya-upaya yang telah dilakukan berbagai pihak di hulu kelay tersebut, upaya untuk mengembangkan masyarakat Punan masih sangat kurang. Upaya pemberian dana kompensasi dari HPH, dukungan kesehatan dan air bersih masih belum memadai bagi orang Punan untuk mengembangkan kehidupan mereka, jika suatu saat hutan mereka tidak lagi mampu menopang cara hidup mereka yang masih dijalani seperti sekarang ini. Dalam kontek seperti inilah World Education Indonesia, dengan dukungan dari USAID, mengembangkan program pemberdayaan masyarakat dengan entry point pertanian berkelanjutan.


Tanaman kakao sebagai entry point

Ketika World Education pertama kali datang ke desa-desa orang Punan Kelay, kami mendapati bahwa mereka masih sangat bergantung pada kehidupan di hutan. Rata-rata mereka hidup di hutan (meinggalkan kampung bersama seluruh anggota keluarga) selama 133-240 hari per tahun. Pertanian belum menjadi pekerjaan utama mereka. Namun kami menemukan bahwa di kampung mereka sudah ada tanaman kakao yang sama sekali tidak dipelihara.

Melihat kondisi yang demikian, World Education mulai dengan mengajak beberapa keluarga untuk melakukan pemeliharaan terhadap tanaman kakao mereka. Pemeliharaan ini tidak rumit. Karena mereka hanya perlu melakukan pemangkasan tanaman dan mengurnagi pohon-pohon yang menaungi tanaman kakao mereka. Pemangkasan hanya membutuhkan waktu 2-3 hari saja. World Education juga mengajak mereka untuk berkunjung ke desa tetangga yang sudah mengembangkan kakao secara intensif. Hasilnya, enam bulan sesudah pemangkasan, mereka mulai panen kakao. Dan ternyata buah kakao tersebut sangat mudah dijual. Hal tersebut menarik minat mereka untuk menekuni tanaman kakao.

Pada tahun kedua World Education mulai melakukan pelatihan berkebun kakao dengan menggunakan pendekatan sekolah lapangan. Kami mengelompokkan peserta menjadi tiga kelompok, yakni: kelompok masyarakat yang sudah mulai memanen kakao dan memerlukan pelajaran tentang pemeliharaan yang lebih intensif (termasuk pencegahan hama dan penyakit), kelompok masyarakat yang sudah mempunyai tanaman kakao tapi belum melakukan pemeliharaan sama sekali, dan kelompok masyarakat yang berminat untuk menanam kakao baru. Teknik-teknik budidaya kakao yang diberikan oleh WE sama sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia.

Selain menyelenggarakan pelatihan bercocok tanam kakao dengan menggunakan pendekatan sekolah lapangan, WE juga melatih masyarakat untuk bertanam sayuran dan kacang-kacangan. Hal tersebut terutama dilakukan dengan ibu-ibu. Kacang tanah ternyata membawa manfaat yang sangat besar dalam menghasilkan uang kas. Sementara sayuran belum terlalu berhasil karena mereka merasa bahwa sayuran bukan jenis makanan yang biasa mereka makan.


Dari kakao ke kebun agroforestry dan pemasaran

Pada tahun ketiga, kami menambah satu kategori kelompok lagi, yakni kelompok pemasaran. WE mengajak mereka untuk melakukan survai pasar, menganalisis tataniaga kakao dan kacang tanah, mulai dari kampung sampai ke kota Berau. Mereka menyimpulkan bahwa mereka harus memasarkan kakao dan kacang tanah secara bersama-sama. Dengan demikian mereka bisa menghemat biaya transportasi. Mereka juga menyadari bahwa volume kakao yang mereka hasilkan masih terlalu sedikti sehingga belum memadai untuk menarik pembeli. Oleh sebab itu mereka mulai mengembangkan lebih banyak kebun kakao.

Selain mengembangkan kebun kakao, WE juga mengajak masyarakat untuk membuat kebun agroforestry. Kebun campuran ini dipromosikan sebagai antisipasi apabila suatu saat terjadi kemerosotan harga kakao. Di kebun agroforestry masyarakat menanam kakao, tanaman buah lokal, tanaman pohon dan juga gaharu. Kabupaten Berau adalah salah satu penghasil gaharu dengan mutu tinggi. Namun saat ini sudah semakin sulit untuk mencarinya. Itulah sebabnya tanaman gaharu menjadi salah satu tanaman yang dianjurkan ditanam di kebun agroforestry. Untuk mendukung pengembangan tanaman gaharu, WE memberi pelatihan bagaimana melakukan inokulasi buatan s`ehingga setiap gaharu akan menghasilkan gubal (bagian kayu yang terinfeksi jamur yang dijual dengan nilai yang sangat tinggi). Saat ini sudah banyak kebun agroforestry yang dikembangkan.


Pelatihan organisasi dan kepemimpinan

Selain dari pelatihan teknis pertanian, WE juga memberikan pelpenguatan dibidang keroganisasian dan kepemimpinan. Hal ini dirasa sangat penting karena mereka harus bisa bernegosiasi dengan pihak-pihak yang saat ini memanfaatkan dan mengkonservasi sumberdaya hutan yang mereka tempati. Penguatan keorganisasian dan kepemimpinan dilakukan melalui berbagai pendekatan, yakni: kaji tindak, pelatihan khusus dan asistensi. Pendekatan kaji tindak dilakukan dengan mengajak masyarakat untuk melakukan analisis terhadap kehidupannya dan kemudian membuat perencanaan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Misalnya mereka melakukan perencanaan tanaguna lahan di kampung; mereka membuat perencanaan pembangunan di kampung yang meliputi berbagai sektor (pertanian, kesehatan, pendidikan, kepemerintahan, dll.) Berdasarkan rencana kerja tersebut, WE memberikan pelatihan-pelatihan teknis yang dibutuhkan untuk menjalankan perencanaan. Misalnya, jika dalam tataguna lahan yang mereka buat ternyata bersinggungan dengan wilayah HPH, maka beberapa tokoh masyarakat dilatih untuk melakukan negosiasi. Jika dalam perencanaan mereka memerlukan tambahan sumber daya, misalnya bidan atau guru, mereka belajar bagaimana caranya membuat proposal kepada Dinas di tingkat kabupaten. Dalam melakukan negosiasi dan berhubungan dengan dinas, staf World Education memberikan asistensi. Kadang-kadang menemani mereka untuk menghadap pihak-pihak tersebut.


Hasil

Sampai dengan pertengahan tahun 2008 beberapa hasil telah dicapai. Berikut adalah beberapa hasil yang telah dicapai:

Land use planning tingkat desa. Semua desa telah memiliki tataguna lahan dan telah diakomodasi baik oleh HPH maupun rencana konservasi. Wilayah-wilayah yang penting bagi masyarakat, seperti beberapa wilayah (belum semua) sumber air bersih, kuburan, pohon madu dan wilayah tempat berburu telah diakui untuk tidak diekspoitasi. Dalam menentukan wilayah yang akan dikonservasi, saatini juga telah mempertimbangkan tempat-tempat yang mempunyai nilai sosial, ekonomi dan kultural. Bahkan masyarakat dilibatkan dalam menentukan lokasi-lokasi yang menurut mereka penting dengan GPS (geographical posisioning system).

Kakao yang mulai menghasilkan. Luasan kebun kakao telah meningkat dari 77 ha (tak terpelihara) pada tahun 2003 menjadi 241 ha (produktif) saat ini. Kebun ini telah menghasilkan dengan baik. Beberapa pembeli dari Kota Berau sudah datang ke kampung untuk membeli kakao.

Kebun agroforestry sudah mulai berkembang. Beberapa gaharu juga sudah menunjukkan menghasilkan gubal, meski belum bisa dipanen (memerlukan waktu kira-kira 6-7 tahun untuk mendapatkan gubal yang berkualitas).

Dinas-dinas di Kabupaten berau saat ini telah memberikan dukungan dalam pengembangan desa-desa yang ada di Hulu Kelay. Sebelum program ada, tidak pernah ada pejabat kabupaten yang berkunjung ke Hulu Kelay. Saat ini, dengan dukungan dari program, dinas sudah memberikan dukungan yang besar kepada rencana pembangunan di kampung-kampung di hulu Kelay.

Lebih bertani daripada ke hutan. Saat ini jumlah hari yang mereka hasbikan di hutan sudah sangat berkurang. Jika pada awal program mereka menghabiskan 133-240 hari dalam setahun di dalam hutan, saat ini mereka hanya menghabiskan 48-73 hari saja. Hal ini karena kesibukan mereka memelihara kebun sudah sangat tinggi. Penghasilan mereka pun telah meningkat secara signifikan. Jika di awal program penghasilan mereka rata-rata Rp 229.444/bulan (sebagian besar dari dana kompensasi), kini mereka berpenghasilan sebesar Rp 730.144/bulan.

Ketrampilan dan minat bertani ini sangat penting bagi mereka karena kualitas hutan dimana mereka tinggal tak akan mampu mendukung cara hidup yang mereka lakukan sekarang ini.


Foto 1. Pesemaian kakao dengan dukungan dinas (Handoko Widagdo)

Foto 2. Tanaman gaharu di kebun agroforestry Pak Daud (Handoko Widagdo)

Foto 3. Panen kakao (World Education)

Pernah terbit di Majalah Salam (Low External Input Sustainable Agriculture/LEISA) Nomor 25 Tahun 2008

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia.

Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *