Menulis Serius, Serius Menulis

Ucique Klara


Sudah cukup lama tak menulis lagi. Saya iri dengan produktivitas beberapa teman yang rutin menulis dan mengisi blog mereka dengan berbagai artikel menarik nan asyik pun cerdas dan meninggalkan kesan “uih hebat sekali mereka bisa menulis seperti ini” di dalam hati. Sementara saya hampir vakum beberapa bulan (gaya ni ye…) dengan alasan klise: komputer rusak. Padahal dari asal katanya saja tulis bukan ketik, sehingga harus bergantung sama komputer/laptop atau mesik tik. Praktisnya, menulis hanya butuh kertas dan pena. Selanjutnya memulai kata pertama dan lama kelamaan akan mengalir dengan mudahnya. Setidaknya begitulah menurut saya.

Memang saya tidak seperti Margurite Duras yang pernah mengatakan bahwa alasannya menulis adalah untuk bernafas: merasakan kebebasan, dimana ketika ia menulis ia bersembunyi, bertutur dalam kesunyiannya- tapi paling tidak saya punya alasan yang sangat sederhana dan subyektif: menulis itu menyenangkan. Lantas saya pun sadar ternyata saya tidak menulis selama beberapa waktu belakangan ini karena setelah melihat blog saya yang memang jarang diperbaharui (ya..bagaimana bisa dibaca / dikunjungi?) dan melihat kembali isi tulisan saya, ternyata hampir semua tulisan saya isinya hanya cerita-cerita mirip obrolan. Jangankan isi, tampilannya pun sangat tak menarik (sadarnya telat). Topik dan tema paling itu-itu saja selain banyak “hahaha” atau “hehehe” –nya. Saya sendiri juga merasa tak berkembang. Mungkin saya harus mencoba membuat sesuatu yang agak “serius”, dengan tema yang (ehem..) lebih cerdas, alur yang lebih rapi sehingga lembar demi lembar yang saya hasilkan ada mutunya, meski sedikit.

Ya, saya merasa apa yang saya tulis sebelumnya tidak bermutu dan isinya hanya semacam curhat. Bukannya rendah diri tapi belakangan ini kurang percaya diri dan memang, saya tidak mau dikenal sebagai penulis cerita joak di jejaring Facebook. Satu lagi: biar komentar yang masuk juga bisa bikin saya merasa penting dan jago karena  isinya tidak hanya bilang “lucu tu’ung cerita ho’o e..”atau” benar-benar cerita yang menarik” atau “ hahaha/hehehehe joak de hau Ucik..”. Maksudnya, biar kerenan dikit.

Banyak hal yang ingin saya ceritakan dalam tulisan saya namun kemudian mentok satu halaman karena ternyata susah juga mengorganisasikan pikiran dan ide ke dalam bentuk tulisan yang saya bilang agak “serius” tadi (“agak serius” saja susah, bagaimana dengan yang “serius”?). Bahkan kadang di paragraf kedua sudah kembali muncul ‘haha” , “hehe” dan bumbu-bumbu lainnya yang sebenarnya sangat tak penting dan tak perlu disertakan. Saya merasa tersesat dan merasa sedih karena saya tidak seperti yang saya pikir: bisa menulis.

Saya pun membaca beberapa artikel pedoman penulisan yang baik di internet. Bahkan dalam salah satu sesi siaran bersama Mbak Tia, kami pernah mengangkat tema tentang menulis dan menyampaikan ide dan saya menikmati betul informasi apa saja yang dibagi Mbak Tia, termasuk dasar-dasar penulisan 5W 1H. Namun seperti sebuah tag line salah satu produk mobil practice makes perfect, harus banyak latihan, sementara saya hanya menunggu mood saya bagus. Meski ide muncul namun kalo lagi tak semangat, hanya jadi rencana belaka.

Tak lupa makanan penulis adalah  membaca. I read it somewhere: 60% proses penulisan adalah membaca. Pantas saja saya saya tak bisa menulis tema yang agak mutu, bacaan saya hanya urusan jalan-jalan dan senang-senang. Jadi tak heran saya mungkin mencoba menuangkan apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan punya gaya yang sama dengan apa yang saya baca meski berbeda 5W 1H-nya. Ada yang pernah bilang :  “eh, saya melihat buku yang kamu ceritakan itu di toko  buku dan rasanya kok cara penceritaan-nya persis sama ya?”. Saya bingung, entah senang karena artinya ada juga yang baca apa yang saya tulis, atau merasa tersindir karena ada tuduhan meniru dan tidak menjadi diri sendiri.

Ya sudahlah, seperti kata Bondan Prakoso yang penting saya sudah mencoba menulis dan akhirnya menjadi haus untuk banyak hal dalam dunia penulisan (jadi ingat tulisan kecil di tiap lembaran buku tulis merek tertentu: you’ll never know until you try). Apalagi Mbak Tia juga turut memberikan semangat dan membuat saya senang karena menjadi salah satu orang yang membaca draft buku-nya sebelum diterbitkan (ceritanya Mbak Tia mau minta pendapat sama saya yang sangat amatir dan hanya mau bersenang-senang ini).

Kritik sah sah saja, asalkan membangun. Berkali-kali saya dengar kalimat ini bahkan mengucapkannya juga kepada orang lain. Padahal kadang sulit memang untuk menerima kritik dengan hati yang lapang karena merasa sudah melakukan yang terbaik dan sebisanya, sudah cek sana, cek  sini, tata bahasa, penggalan kalimat, dan sebagainya. Setelah lewat beberapa waktu setelah dikritik dan menemukan kebenaran kritik, barulah saya sadar bahwa memang kritik yang datang kepada saya adalah dukungan dan motivasi biar saya rajin praktek menulis.

Bahkan tak urung ada yang bahkan mau memberikan masukan mengenai teori penulisan yang baik (setelah sebelunya dikritik tentu saja) kepada saya, ada Ape, Ka Armin, Mbak Dewi, Mbak Tia dan ka Celus. Tak lupa untuk yang jujur bilang ke saya: malas baca tulisanmu, terlalu panjang!, sehingga saya mencoba untuk tidak terpengaruh untuk menceritakan hal yang lari jauh dari tema hanya karena ada kata yang mengingatkan saya dengan sesuatu yang lain. Nyambung tak jelas dan kalimat yang terlalu panjang plus banyak tambahan dalam kurung jadi kebiasaan buruk saya kalau menulis (kelihatan kan?). Yang pasti untuk semua yang peduli, terima kasih seribu (seperti menulis ucapan terima kasih skripsi ya?).

Akhirnya saya mengerti kenapa Duras merasakan kebebasan saat ia menulis. Setiap orang bebas menulis apa saja dan memilih paket 5W 1H yang disukai, bahkan yang paling aneh sekalipun. Saya sepakat dengan Duras, namun ada tambahan karena menulis itu menyenangkan (soalnya belum ketemu alasan yang keren bermuatan filosofis untuk menjelaskan apa makna menulis bagi saya).

Be your self, ungkapan klasik ini juga berlaku saat ingin menuangkan ide dalam aksara tulisan ternyata (kecuali dalam menulis berita kali ya? Soalnya kan harus objektif). Jadilah saya tidak berkecil hati lagi karena hanya mampu bercerita dengan banyak “haha”-“hehe”. Saya tak perlu bertransformasi menjadi Lusia yang memaksakan diri menulis apa yang tidak dipahaminya, namun serius menulis apa yang ingin saya ceritakan kepada orang-orang. Syukur-syukur ada yang bilang ada makna dan nilai dibalik rangkaian kata dan kalimat saya. Kalau ada yang tidak suka? Terserah- siapa suruh baca tulisan saya? hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha

  1. lucu tu’ung cerita ho’o e (Manggaraian): cerita ini benar-benar lucu
  2. joak de hau Ucik.. (Manggaraian): kau hanya membual, Ucik

Doa:

Tuhan jagalah dan lindungilah semua penulis juga blogger atau yang hanya bisa numpang di FB karena tak punya blog. Karuniakan semangat  untuk yang rindu menulis tapi tak pernah bisa merangkum ide dan menyelesaikan satu tulisan singkat sampai selesai. Amin.

Ayo menulis!


Ucique Klara


15 Comments to "Menulis Serius, Serius Menulis"

  1. chandra sasadara  13 May, 2013 at 21:30

    Manulis itu asyik… urusan diterima ato tdk oleh orng lain itu urusan nanti kata tutor dlm pelatihan jurnalistik dulu..

  2. Handoko Widagdo  13 May, 2013 at 20:39

    Saya menulis maka saya ada

  3. Ucique Klara  13 May, 2013 at 16:00

    halo mas yohanes dan mas ferdy, saya bukan mas, tapi mbak.. hehehe

  4. ferdy  13 May, 2013 at 15:44

    bagus ko tulisannya abang,tulisannya penuh dengan humoris,tapi banyak juga manfaat yang didapat pembaca
    terima kasih mr.Armin…)

  5. Yohanes Octa  13 May, 2013 at 15:41

    Teruslah menulis Bang, jangan kuatir dengan pendapat seseorang. Meskipun tidak menyenangkan bagi orang lain setidak-tidaknya bagi diri sendiri

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.